Istikharah Menyatukan Kita

Istikharah Menyatukan Kita
Diusir Mama


__ADS_3

Hari ini usia Farhan tepat tiga bulan. Farhan adalah anak yang sangat baik, jarang sekali rewel.


Aku lalui hari-hariku masih seperti dulu saat sebelum melahirkan, bahkan masa-masa berpantang aku lalui tanpa sedikitpun bantuan Mama. Alhamdulillah semuanya berjalan lancar meskipun hati ini menangis darah.


"Aduuuhhh. Kenapa ini? Sakit sekali rasanya." batinku. Lalu aku memegang bekas operasi sesar tempo hari. Terasa seperti basah saat aku menyentuh baju di bahagian perut.


Aku lalu bergegas masuk ke dalam kamar, aku singkap bajuku dan aku lihat ada cairan yang keluar dari bekas operasi. "Ya Allah, kenapa ini?" rasanya semakin nyeri dan sakit.


Aku ingin minta tolong pada Mama, tapi tiba-tiba Farhan menangis. Aku terpaksa harus menahan rasa sakitku dan menyusui Farhan terlebih dahulu.


Ntah mengapa hari ini Farhan rewel banget, tidak seperti biasanya.


"Farhan kenapa? Dari tadi nangis mulu." ucap Mama saat tiba-tiba membuka pintu kamar dan terus masuk.


"Tidak tau, Ma. Padahal sudah Mea susui." jawabku.


Mama memegang kepala Farhan, mungkin khawatir kalau Farhan demam.


"Ma, bisa tolong temani Mea ke bidan, Ma? Mea mau periksa, ini keluar cairan dari bekas operasi." ucapku memohon pada Mama.


"Tidak bisa, kamu pergi saja sendiri sana. Mama yang akan menjaga Farhan." jawabnya lalu mengambil Farhan dari pangkuanku.


"Baik, Ma." ucapku lesu.


Saat rasa sakitnya sudah mulai berkurang, aku berjalan perlahan-lahan menuju bidan.


Sesampainya di bidan, aku di tolong oleh seorang perawat, ia menggandengku dan membantuku berjalan menuju ruangan pemeriksaan.


"Ada keluhan apa, Bu?" tanya Bu bidan padaku.


"Ini, Bu. Bekas operasi saya ada keluar cairan." jawabku.


"Ibu silahkan naik ke atas tempat tidur dan baringkan badannya, Bu. Biar saya periksa." perintahnya.


Lalu aku naik ke atas tempat tidur dan berbaring. Bu bidan pun menyingkap bajuku dan melihat bekas operasi tersebut.


"Seharusnya Ibu jangan kerja berat-berat dulu, supaya tidak terjadi seperti ini." ucapnya.


"Saya di rumah saja, Bu. Tidak kerja. Kerjaan saya hanya nyapu, ngepel, masak dan mencuci." sahutku.


"Sebenarnya kita yang kerja di rumah inilah yang kerjanya lebih berat, Bu. Apa tidak ada yang menemani Ibu di rumah? Sampai harus mengerjakan itu semua sendiri."


"Ada sih, Ibu mertua saya."


"Nah, nanti Ibu pesan sama mertuanya, tolong bantu kerjaan rumah. Karena bekas operasi Ibu luka, untuk sementara Ibu tidak boleh mengerjakan apapun."


"Baik, Bu." ucapku. Biarpun aku merasa tidak yakin berani bicara seperti itu pada Mama.


Setelah selesai periksa dan menebus beberapa obat, aku pulang ke rumah.


Aku sudah mengumpulkan keberanian untuk menyampaikan pesan Bu bidan pada Mama.


"Alah, itu paling alasan kamu saja supaya bisa malas-malasan." ucap Mama setelah mendengar pesan Bu bidan.


"Mea jujur, Ma. Ini perut Mea juga masih sakit, Ma. Mea mohon, untuk sementara Mama bantu Mea ya, Ma." ucapku memelas.


"Kamu kalau mau manja-manja, pulang saja sana ke rumah Ibumu."


"Mama ngusir Mea, Ma?" tanyaku.


"Iya, pergi sana!" bentaknya.


Aku langsung masuk ke dalam kamarku, aku lihat Farhan sedang tertidur pulas. Air mataku mengalir deras, sakit di perut ini tak seberapa jika di bandingkan dengan sakitnya hatiku.


Dengan air mata yang masih berlinang, aku kemas pakaianku seadanya, kemudian aku kemas juga pakaian Farhan. Aku tidak mau anakku tinggal dengan nenek yang kejam seperti itu.


Aku pergi meninggalkan rumah, Mama melihatku tetapi dia hanya berdiam diri, tidak ada kata-kata makian ataupun kata-kata yang menahan kepergianku.

__ADS_1


Untuk pulang ke rumah Ibu, aku sudah tidak punya uang, uang yang aku punya sudah aku gunakan untuk periksa ke bidan dan menebus obat.


Akhirnya aku putuskan untuk beristirahat di pondok saja, kebetulan ada pondok di pinggir jalan. "Kasihan sekali kamu, Nak. Karena Mama kamu juga ikut sengsara seperti ini." ucapku dalam hati seraya menatap wajah polos anakku.


Adzan Maghrib sudah berkumandang, aku putuskan untuk pergi dari pondok dan mencari Masjid terdekat.


Aku letakkan Farhan, lalu aku menunaikan sholat maghrib tiga rakaat. Setelah selesai Sholat, hujan pun turun dengan deras, sesekali petir menyambar dan membuat Farhan takut hingga menangis.


Aku mencoba menenangkannya dan menyusuinya. Karena Farhan anak yang sangat baik, tidak butuh waktu lama untuk membuatnya kembali tenang.


***


Sudut pandang Rafli.


Sesampainya di rumah, aku langsung ingin menemui Mea dan Farhan, aku ingin langsung menggendong jagoanku. Rindu rasanya hati ini.


Saat aku masuk ke dalam kamar, aku tidak melihat mereka. "Kemana mereka?" tanyaku dalam hati.


"Maaaaa, Mea mana, Ma?" tanyaku pada Mama.


"Kabur tadi sore." jawab Mama.


"Apa, Ma? Kabur?" tanyaku, aku sangat kaget mendengar jawaban Mama.


"Iya, katanya sudah tidak betah tinggal di sini. Jadi Mama biarkan saja dia pergi."


"Farhan juga di bawa, Ma?"


"Iya, mau Mama minta si Farhan tapi tidak di kasi."


"Hujan-hujan begini mereka pergi kemana, Ma? Rafli khawatir sama Farhan, kalau nanti sakit karna kehujanan bagaimana?" gerutuku.


"Mana Mama tau." ucap Mama ketus.


Aku langsung bergegas pergi meninggalkan Mama, aku harus mencari mereka sampai dapat.


***


Saat ini pasti Bang Rafli sudah pulang ke rumah, ntah kabar apa yang akan disampaikan Mama pada Bang Rafli. Semoga saja kali ini Mama jujur bahwa Mama telah mengusirku.


Setelah hujan reda, aku putuskan untuk ke luar dari Masjid, barangkali Bang Rafli sedang mencariku saat ini. Jadi dia gampang menemukanku kalau aku berada di pinggir jalan, fikirku.


Sekitar sepuluh menit aku berdiri di pinggir jalan depan Masjid, ada sebuah mobil yang berhenti di depanku. Ya, itu mobil Bang Rafli.


Dia keluar dari mobil dengan wajah yang sangat merah, marahkah dia denganku? Tanyaku dalam hati.


Ia menghampiriku dan Farhan, lalu menarik tanganku dan memaksaku masuk ke dalam mobil.


"Astaghfirullah Bang Rafli, kasar sekali." ucapku dalam hati, tak terasa meneteslah air mataku. "Mengapa Bang Rafli sama seperti Mamanya? Kejam."


Di dalam mobil Bang Rafli tidak mengucapkan sepatah katapun. Yang terdengar hanya suara isak tangisku. Sungguh tidak bisa di jelaskan sakitnya hatiku.


Sesampainya di rumah, meledaklah emosi Bang Rafli.


"Kamu kalau mau pergi, pergi saja sendiri. Jangan bawa Farhan!" teriaknya padaku.


"Mama yang ngusir Mea." teriakku masih dalam tangisan.


"Eh, jaga mulut kamu." ucap Mama yang ikut campur.


Terdengar ada suara mobil di depan rumah, Alhamdulillah Papa pulang. "Semoga kali ini Papa masih mau membelaku." gumamku di dalam hati.


"Ada apa ini?" tanya Papa saat melihatku sedang menangis.


"Mea buat masalah baru, pake acara kabur-kabur segala." jawab Mama ketus.


Sungguh sikap Mama itu sangat menyebalkan.

__ADS_1


"Kenapa kabur Mea?" tanya Papa.


"Mea tidak kabur, Pa. Mea di usir sama Mama. Tadi siang bekas operasi Mea keluar cairan, lalu Mea pergi periksa ke bidan. Kata bidan Mea jangan kerja berat, lalu Mea minta tolong sama Mama untuk bantu Mea mengerjakan pekerjaan rumah, lalu Mama marah dan mengusir Mea." jelasku pada Papa dan masih terisak.


"Astaghfirullah, benar begitu? Apa sekarang masih sakit?" tanya Bang Rafli dan langsung menghampiriku. Raut wajahnya berubah menjadi cemas setelah mendengar penjelasanku barusan.


Aku menganggukkan kepalaku.


Kemudian Bang Rafli meraih Farhan dan menaruhnya di atas tempat tidur. Alhamdulillah, dalam keadaan seperti ini Farhan tidak rewel.


"Mama benar-benar sudah keterlaluan." ucap Papa. "Secepatnya Rafli dan Mea harus keluar dari rumah ini." sambungnya.


"Papa tuh yang keterlaluan, anak sendiri di usir." sahut Mama.


"Papa tidak mengusir Rafli, tapi Papa akan memberinya uang untuk membangun rumahnya sendiri. Supaya mereka bisa hidup mandiri, jadi Mama tidak perlu lagi ikut campur urusan rumah tangga mereka."


"Tapi, Pa.."


"Tidak ada tapi-tapian, Ma. Keputusan Papa sudah bulat."


"Mama tidak mau berpisah dengan Rafli, Mama tidak mau nanti perempuan itu menguasai Rafli." bantah Mama.


"Tidak mungkin, Ma. Selama ini Mea sangat baik sama Mama. Tidak mungkin dia akan membuat Rafli jauh dari Mama." ucap Bang Rafli.


"Itukan menurut kamu." jawab Mama.


"Kalaupun Mea mau membuat Rafli jadi membenci Mama, pasti sudah lama dia melakukannya, Ma. Lagi pula selama ini Rafli juga tetap patuh sama Mama, bahkan Rafli selalu percaya sama semua kata-kata Mama, Rafli dengarkan dan turuti kemauan Mama. Mana mungkin Rafli bisa benci Mama, sedangkan Rafli sangat menyayangi Mama." ucap Bang Rafli panjang lebar.


Aku hanya terdiam mendengar omongan mereka. Jadi selama ini Mama membenciku karena dia takut aku merebut bang Rafli darinya. Tidak mungkin aku melakukan hal itu.


"Sudah dengarkan, Ma. Rafli tidak akan mungkin hilang rasa sayangnya pada Mama meskipun sudah menikah dan memiliki keluarga sendiri." ucap Papa.


"Kalian semua tidak akan bisa mengeti perasaan Mama." ucap Mama. "Kamu Mea, kamu punya anak laki-laki, suatu hari nanti kamu pasti juga akan merasakan apa yang Mama rasakan saat ini." sambung Mama.


Aku masih saja bungkam, kutundukkan kepalaku menghadap ke lantai. Benarkan aku juga akan demikian? In syaa Allah tidak akan. Ini bukanlah sifat yang baik.


"Sudahlah, masalah ini jangan diperpanjang. Mama minta maaf sama Mea." pinta Papa.


Mama tidak menjawab, malah ngeloyor pergi masuk ke dalam kamar.


"Tidak apa-apa, Pa." ucapku saat melihat Papa menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah Mama yang seperti itu.


"Rafli, lain kali kamu jangan mudah terhasut sama omongan Mama. Apapun masalahnya, kamu harus bisa tanya baik-baik sama Mea. Jangan langsung terbakar emosi." ucap Papa menasehati Bang Rafli.


"Baik, Pa." sahutnya.


"Kamu pasti sangat tau seperti apa sifat Mamamu, dan Papa harap kamu tetap menyayanginya, biar bagaimanapun dia tetap Mama kamu."


"Iya, Pa."


"Kamu juga harus minta maaf sama Mea. Jangan sampai kejadian seperti ini terulang lagi." pinta Papa.


"Maafkan Abang ya, Mea." ucap Bang Rafli penuh rasa penyesalan.


"Iya, Bang." jawabku lembut.


"Papa akan transfer uang ke rekening kamu, pergunakan uang itu untuk membangun rumah kalian. Setelah rumah itu selesai kalian langsung pindah dan memulai hidup yang baru."


"Tapi nanti Mama jadi sering sendirian di sini, Pa." ucap Bang Rafli.


"Jangan khawatir, kuliah Anisa hanya tinggal satu semester saja. Setelah itu dia akan pulang ke sini dan bisa menemani Mama." jawab Papa.


"Baiklah kalau begitu, Pa." ucap Bang Rafli.


Anisa adalah adik kandung Bang Rafli yang sedang kuliah di Medan. Anisa ngekos di sana dan hanya pulang jika libur semester.


Alhamdulillah, aku sangat senang sekali mendengarnya. Aku jadi tidak sabar ingin segera pindah ke rumah kita sendiri.

__ADS_1


__ADS_2