Istikharah Menyatukan Kita

Istikharah Menyatukan Kita
Season 2: eps. 21.


__ADS_3

“Tadi aku bertanya, sedari tadi kamu bicara sendiri apa sedang mengutukku?” Tanya Zayn lagi.


“Sepertinya dia samar-samar mendengar aku bicara, tapi tidak mendengar dengan jelas apa yang aku katakan.” Ucap Zara didalam hatinya.


“Tentu saja. Aku memakai handuk didalam kamarku, tapi kamu malah mengatakan aku tidak tau malu. Padahal yang melihatku adalah suamiku sendiri, bukan suami orang lain.” Jawab Zara lalu memalingkan wajahnya.


“Hmmmm.” Zayn menghela nafas. “Jangan berharap lebih dariku.” Lanjutnya.


“Iya. Aku tidak mengharapkan apapun. Aku tau dari awal Bang Zayn tidak menyukai pernikahan ini.” Sahut Zara pelan.


“Maaf.” Ucap Zayn lalu keluar dari kamar.


Zayn menghampiri Om Amir yang sedang duduk sambil memainkan gawainya.


“Om, hari ini libur?” Tanya Zayn basa basi.


“Iya, tapi besok Om sudah harus masuk kerja lagi.” Jawab Amir.


Arumi yang berada disebelah Amir beranjak dari tempat duduknya.


“Aku mau ke kamar.” Ucapnya pada Amir.


“Baik.” Sahut Amir.


Sambil berjalan menuju kamar, Arumi terus membayangkan wajah Zayn.


“Zayn begitu tampan, kenapa aku tidak bertemu lebih awal dengannya? Aiisshh.” Arumi tidak terima. “Dengan kecantikan yang aku miliki, pasti dapat memikatnya. Aku bahkan tidak tau seperti apa wajah Zara itu.” Lanjutnya.


Arumi langsung membuka jilbabnya dan duduk dikursi dekat jendela.


“Kenapa orang-orang di rumah ini bisa betah memakai jilbab? Apalagi Zara, dia bahkan menutup wajahnya. Apa tidak gerah?” Arumi merasa heran.


***


Malam hari di kamar Zara.


Zara berbaring di tepi katil karena ia mengira bahwa Zayn akan berbaring disebelahnya.


“Awas nanti jatuh.” Ucap Zayn.


Zara menoleh lalu melihat Zayn berbaring di sofa.


Zara tidak menyahut, tetapi ia pindah ke tengah-tengah tempat tidurnya.


“Abang tidak butuh selimut? Kalau butuh akan aku minta Bi Jumi membawakannya.” Ucap Zara menawarkan.


“Apa kamu mau semua orang tau kita tidak tidur bersama?”


“Hurmm. Tidak.” Jawab Zara.


“Kalau begitu tidak usah banyak berfikir. Langsung tidur saja.” Ucap Zayn.


“Baik.” Sahut Zara.


Sementara itu diruang tamu.


Aura dan Mea masih mengobrol.

__ADS_1


“Bang Rafli sudah tidur, Kak?” Tanya Aura.


“Sepertinya belum. Sekarang sedang berada didalam kamar.” Jawab Mea. “Lalu bagaimana dengan suamimu?” Tanyanya kemudian.


“Bang Rizky masih di ruang kerjanya.” Jawab Aura.


“Oh ya, Dik. Sepertinya kami besok akan pulang.”


“Hah? Kenapa? Bukankah Kakak mau menginap beberapa malam?”


“Iya, sepertinya tidak bisa. Bang Rafli dan Farhan ada sesuatu yang harus diurus terlebih dahulu sebelum masuk kerja.”


“Owh begitu. Baiklah, Kak. Tidak apa-apa.”


“Oh ya, Dik. Mana Adik iparmu? Siapa namanya? Kenapa tidak memperkenalkannya pada Kakak?”


“Namanya Arumi, Kak. Dia orang yang tertutup. Jadi jarang mengobrol dengan Adik.” Jawab Aura, tidak menceritakan sifat Arumi yang sesungguhnya.


“Owh, mungkin belum terbiasa jadi belum begitu akrab.”


“Iya, Kak. Sepertinya begitu.” Ucap Aura sambil tersenyum. “Sebaiknya sekarang Kakak istirahat, besok Kakak harus bangun pagi.” Lanjutnya.


“Iya, Adik juga istirahat ya.”


“Baik, Kak.”


Aura dan Mea masuk ke dalam kamar masing-masing.


***


Pagi hari.


Aura dan Mea berpelukan dan pecahlah tangisan mereka.


Sementara itu di pintu samping. Chaca, Suami dan anaknya juga sedang berpamitan dengan Bi Jumi dan Pak Ujang. Mereka juga akan pulang ke desa.


Setelah selesai berpamitan, Rizky dan Aura masuk ke dalam rumah.


Mereka lihat Zara dan Zayn sedang menonton televisi di ruang tengah.


Aura dan Rizky saling bertatapan mata.


“Mereka tidak terlihat seperti pengantin baru.” Bisik Aura.


“Iya. Sebaiknya kita ikut menonton televisi agar suasananya tidak tidak seangker ini.” Bisik Rizky.


“Ok.” Aura mengangguk.


Aura duduk disebelah Zara, sedangkan Rizky duduk disebelah Zayn.


“Kalian ini, kenapa diam saja?” Rizky mulai basa basi.


“Karena sedang serius menonton tv, Ayah.” Jawab Zara.


“Zayn, pagi-pagi begini biasanya kamu minum apa? Kopi atau teh?” Tanya Aura.


“Aku…”

__ADS_1


“Aku sudah membuatkan secangkir kopi untukmu Zayn.” Ucap Arumi memotong ucapan Zayn.


“Apa?” Zara sangat kaget melihat sikap Tantenya itu.


Aura dan Rizky juga kaget dan merasa hal itu tidak pantas ia lakukan.


“Tante, tidak perlu repot-repot membuatkan kopi untuk suamiku.” Ucap Zara dengan lembut.


“Kenapa memangnya? Tidak boleh? Aku lihat kamu dari tadi hanya nonton televisi. Sama sekali tidak ada niat untuk membuatkan minuman untuk Zayn.” Sahut Arumi dengan nada tak senang.


“Kamu mau mengingatkan aku bahwa dia ini suamimu? Hmphh!!” Ucap Arumi didalam hatinya yang kesal.


“Bukan begitu Tante.” Zayn membantah ucapan Arumi. “Sebenarnya Zara sudah menawarkan minuman untukku, tapi aku menolaknya. Karena itu ia menonton televisi bersamaku disini.” Lanjutnya.


“Jadi, aku minta maaf. Kopi ini aku juga tidak bisa menerimanya.” Ucap Zayn menolak dengan sopan. “Sebaiknya kopi ini Tante berikan kepada Om Amir saja.”


“Waaah, aku tidak menyangka bahwa Bang Zayn akan membelaku, bahkan ia berbohong pada Tante Arumi, hehee. Aku mana pernah menawarkan minum untuknya. Aiihhh.” Gumam Zara didalam hatinya. “Bang Zayn jadi terlihat keren. Sedangkan Tante Arumi pasti sekarang sedang merasa sangat kesal.”


Arumi tidak berkata apapun lagi. Ia segera mengambil kopi yang ia bawa lalu membawanya ke kamar.


Arumi masuk ke dalam kamarnya dengan perasaan yang sangat kesal.


“Aah, sia-sia saja membuatkan kopinya untuknya. Ternyata dia tidak seramah Amir. Argh!!” Arumi masih kesal.


Amir keluar dari dalam kamar mandi untuk bersiap-siap pergi ke kantor.


“Hmm, aroma kopi yang sangat lezat.” Ucap Amir.


“Abang mau? Ini, aku baru saja membuatnya.” Sahut Arumi yang sudah mengubah wajahnya dari kesal menjadi manja.


“Wah, terima kasih sayang. Kebetulan Abang memang ingin minum kopi.” Amir sumringah.


“Oh ya, tentang membayar hutang Kakakmu. In syaa Allah nanti malam kita pergi.” Ucap Amir yang teringat tentang janjinya melunasi hutang Arin.


“Alhamdulillah. Kalau begitu aku akan memberi tahukan Kak Arin, agar dia memberi kita alamat tempat dia meminjam uang.” Kali ini Arumi terlihat bahagia.


“Baik.” Ucap Amir lalu perlahan-lahan mulai menyeruput kopinya.


Diruang tamu.


Karena melihat secangkir kopi tadi, Zayn jadi ingin meminum kopi. Namun masih maju mundur untuk menyuruh Zara membuatkannya.


“Emm, Zara.” Ucap Zayn.


“Iya.” Sahut Zara sembari menoleh ke arah Zayn.


“Boleh tolong buatkan aku kopi?” Tanyanya pelan.


“Boleh, aku akan buatkan 2 gelas.” Jawab Zara.


“Dua gelas? Satu untuk Ayah?” Tanya Rizky.


“Tidak, Ayah. Dua itu untuk aku dan Bang Zayn.” Jawab Zara.


“Kalau begitu buatlah tiga. Ayah juga mau.”


“Ibu juga mau.” Aura menimpali.

__ADS_1


“Ok, ok. Aku akan membuatkan kopi untuk kita semua.” Zara tersenyum lalu pergi ke dapur.


__ADS_2