Istikharah Menyatukan Kita

Istikharah Menyatukan Kita
Season 2: eps 5. Flashback II


__ADS_3

“Mengapa kamu berbicara seperti itu?” Tanya Sidik. “Oh ya, siapa namamu?” Tanyanya lagi.


“Namaku Raka, Om. Sebenarnya selama ini aku dipaksa menjadi pengemis sekaligus mengantarkan obat-obat terlarang.” Jawabnya.


“Obat-obat terlarang? Maksudmu Nark*ba?” Kali ini Sidik lebih kaget lagi.


“Benar, Om.” Jawab Raka pelan. “Sudah beberapa kali aku ingin melarikan diri dari mereka. Tapi selalu gagal. Kali ini aku termasuk berhasil kabur karena Om.” Lanjutnya perlahan.


“Berapa tahun usiamu?”


“Tujuh tahun, Om.”


“Apa kamu tidak memiliki orang tua?”


“Sepertinya tidak. Seingatku aku sudah dari kecil diasuh dan dididik oleh mereka.”


“Kejam sekali orang-orang itu. Apa masih ada banyak anak-anak sepertimu?”


“Masih ada beberapa, Om. Tapi hanya aku yang ingin kabur.”


“Kenapa?”


“Mungkin karena mereka sudah terbiasa hidup seperti itu. Usia mereka juga diatasku. Akulah yang paling muda diantara mereka.”


“Oh, begitu rupanya.”


“Om, boleh aku minta sesuatu?” Tanyanya malu-malu.


“Apa itu? Katakan saja.”


“Aku mohon, Om. Sembunyikan aku agar mereka tidak bisa menemukan aku lagi.” Raka mengucapkan kata-kata itu dengan pelan sembari mengatupkan kedua tangannya.


“Baiklah.”


“Janji ya, Om.”


“In syaa Allah. Om akan membicarakan hal ini dengan istri Om terlebih dahulu.” Ucap Sidik meyakinkan.


“Sekarang sebaiknya kamu lanjut bersitirahat. Jangan takut, tidak akan ada yang berani menyakitimu disini.” Lanjutnya.


“Baik, Om. Terima kasih.” Ucap Raka.


Sidik memakaikan selimut Raka. Lalu meninggalkannya sendirian untuk istirahat.


Sidik kembali ke ruangan Alisya. Ia lihat istrinya sedang menyusui Hulya.


Ia pun tersenyum menyaksikan hal itu untuk pertama kalinya.


Ma syaa Allah, betapa indahnya perasaan ini. Tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata.


Alisya tak kalah bahagia menyaksikan manusia kecil yang cantik nan imut sedang menyusu dari dirinya.


Setelah beberapa lama menikmati kebahagiaan dan tenggelam dalam momen yang langka dan pertama kali mereka alami, akhirnya Alisya mulai membuka suara.


“Bagaimana keadaannya, Bang?”


Lalu Sidik menceritakan semua isi percakapannya dan Raka barusan.


“Lalu apa rencana Abang?” Tanya Alisya.

__ADS_1


“Bagaimana kalau kita adopsi saja dia?”


“Adopsi? Abang yakin? Kita bahkan baru bertemu dengannya.”


“Abang juga tidak terlalu yakin. Tapi ntah kenapa niat Abang begitu kuat untuk mengadopsi dia.”


“Begitukah?”


“Iya, sayang. Abang ingin menyembunyikan dia di dalam pesantren. Itu pasti tempat yang aman untuknya.”


Alisya mengangguk. Ia setuju dengan keputusan yang diambil oleh suaminya.


Beberapa hari kemudian, Alisya dan Sidik membawa Raka pulang ke rumah.


“Om. Om yakin akan mengadopsiku?” Tanya Raka.


“Tentu saja. Kenapa? Kamu tidak ingin menjadi anak Om?”


“Bukan begitu maksudku Om.” Tiba-tiba air matanya mengalir deras. Ia terharu dan merasa sangat bersyukur karena dipertemukan dengan orang sebaik Sidik.


Sidik memeluk Raka dan mengelus-elus pundaknya untuk menenangkan Raka.


Setelah puas menangis. Raka melepas pelukan Sidik.


“Om, bolehkah Om mengganti namaku?”


“Kenapa?”


“Aku ingin memulai hidup baruku dengan nama baru.” Jawab Raka.


“Baiklah, tapi dengan satu syarat.”


“Jangan panggil Om lagi. Tapi panggil Abi.” Pinta Sidik.


“Baiklah. Terima kasih, Abi.” Ucap Raka dan tersenyum.


“Mulai sekarang namamu adalah Zayn. Apa kamu suka?”


“Suka, aku sangat menyukainya. Abi.” Sahut Zayn.


Setelah Sidik mengurus berkas-berkas untuk mengadopsi Zayn, Sidik mendaftarkan Zayn masuk ke dalam sekolah pesantren.


Sejak saat itu, Sidik dan Alisya memiliki dua orang anak sekaligus. Seorang putra dan seorang putri.


***


Kembali ke masa kini.


“Ma syaa Allah, pantas saja Bang Zayn dan Hulya sama sekali tidak mirip. Ternyata karena mereka bukan saudara kandung.” Ucap Zara.


“Benar sekali.” Sahut Rizky.


“Tapi untuk apa Ayah menceritakan hal ini padaku?” Tanya Zara.


“Karenaa…” Rizky tersenyum.


“Karena hari ini Paman Sidik dan Bibi Alisya datang ke sini untuk melalarmu, Nak.” Aura melanjutkan ucapan Rizky yang terputus.


“Apa? Melamarku?” Zara membelalakkan kedua bola matanya.

__ADS_1


“Iya, melamarmu untuk Zayn.” Jawab Rizky.


“Ta-tapi… aku…” Zara terbata.


“Ya Allah, apa keinginanku untuk menikah secepat ini terkabul?” Gumam Zara didalam hatinya.


“Kenapa, Nak? Kamu tidak bersedia?” Tanya Aura sambil memegang pundak Zara.


Hal itu membuat Zara kembali tersadar dari lamunannya.


“Aku.. tidak tau Ibu. Bolehkah beri aku waktu satu minggu?” Ucap Zara pelan, terlihat kalau wajahnya mulai memerah.


Rizky dan Aura bertatapan dan saling tersenyum menyaksikan wajah putri mereka yang memerah.


“Tentu saja boleh.” Jawab Rizky.


“Terima kasih, Ayah.” Ucap Zara lalu berlari-lari kecil menuju kamarnya.


“Sepertinya dia sangat menyukai hal ini. Apa dia sudah menyukai Zayn?” Aura menerka-nerka.


“Wallahu a'lam bish-shawab.” Sahut Rizky.


Didalam kamar Zara.


Zara duduk bersandar dikatilnya. Ia menghela nafas.


“Ya Allah. Apa Bang Zayn adalah pilihan yang tepat? Orang sedingin gunung es seperti dia, bagaimana bisa menjadi suami yang romantis seperti yang kuimpikan?”


“Bahkan selama ini, setiap kali ia datang berkunjung ia tak pernah mengobrol denganku.”


“Ia hanya sibuk membicarakan bisnis dengan Om Amir. Apalagi usia mereka hanya berjarak tiga tahun. Sudah seperti abang dan adik.”


“Tapi, jika Ayah dan Ibu sudah memilihkannya, bahkan mereka menyukainya. Maka aku pasti akan mencoba.”


“Aku akan sholat istikharah dalam seminggu, setelah itu aku pasti tau harus menjawab apa?”


“Tapi kalau aku pikir-pikir tidak ada salahnya menikah dengannya, sikapnya yang dingin itu pasti bukan hanya padaku saja. Tapi pada semua wanita. Setidaknya aku bisa menyimpulkan bahwa dia pria yang setia.”


Zara terus saja bicara pada dirinya sendiri. Banyak hal dan kemungkinan yang terbersit dibenaknya.


“Eh, tunggu. Kenapa aku merasa Bang Zayn dan Bang Arfa sedikit mirip? Tapi mereka bukan saudara. Apa mungkin hanya perasaanku saja.”


Zara mengernyitkan dahinya.


“Hah, setelah aku menikah dengan Bang Zayn, semoga saja Bang Arfa berhenti menggangguku, berhenti mengunjungiku di kampus. Aamiin ya Allah. Hehee.” Zara tertawa bahagia.


Membayangkannya saja sudah membuatnya begitu bahagia. Apa lagi jika Arfa benar-benar berhenti mengejarnya.


“Hmm, mengenai pernikahan ini. Apakah Bang Zayn sudah setuju? Bahkan dia tidak pernah melihat wajahku. Jika nanti dia menolak karena aku bukanlah tipenya, bagaimana?”


“Kita tidak mengenal satu sama lain, tapi malah akan bersatu dalam ikatan yang suci.”


“Semoga Allah memberikan petunjuk padaku melalui sholat istikharah.”


“Petunjuk yang akan membawaku pada keputusan yang tepat.”


Dalam seminggu Zara bersunggung-sungguh dalam sholat istikharahnya, bersungguh-sungguh mengharapkan petunjuk dari Allah. Selain itu ia juga istiqomah sholat tahajud setiap malam.


Setelah seminggu berlalu, Zara sudah memiliki keputusan dengan hati yang sangat yakin. Ia yakin bahwa keputusan yang ia ambil ini adalah keputusan yang tepat.

__ADS_1


Hatinya sudah mantap mengambil keputusan untuk menikah dengan Zayn. Dan akan saling mengenal satu sama lain setelah bersatu dalam ikatan yang suci dan halal.


__ADS_2