Istikharah Menyatukan Kita

Istikharah Menyatukan Kita
Kebahagiaan


__ADS_3

Aura, si Mbok dan Amir pergi ke sungai.


Aura membantu si Mbok mencuci pakaian sedangkan Amir sedang riang mandi dan bermain air.


Karena si Mbok sedang memperhatikan Amir, tak sengaja si Mbok melepaskan pakaian yang ada ditangannya.


Karena pakaian tersebut akan hanyut, si Mbok spontan ingin meraih pakaian tersebut tapi akhirnya si Mbok terpeleset dan kakinya terhempas ke bebatuan.


“Mbok, hati-hati.” Teriak Aura.


Amir yang mendengar teriakan Aura langsung menoleh dan mengejar si Mbok.


“Oalah, jilbab kamu hanyut Nduk.” Ucap si Mbok.


“Sudahlah Mbok, tidak apa-apa. Masih ada yang lain di rumah.” Ucap si Mbok.


“Mir, ayo kita pulang saja.” Ajak Aura.


Sesampainya di rumah, Amir segera mengganti pakaiannya dan mencari Ibu tukang kusuk.


Setelah Ibu tukang kusuk datang, ia langsung mengusuk kaki si Mbok.


“Wah, tulangnya sudah retak ini Mbok.” Ucapnya.


“Astaghfirullah.” Ucap Aura.


“Mungkin susah kalau mau sembuh total. Tapi tidak apa-apa akan saya bantu untuk mengurangi rasa sakitnya.” Ucap Ibu tukang urut.


Setelah kejadian itu, si Mbok sudah tidak bisa aktif lagi seperti biasanya karena si Mbok harus menggunakan tongkat.


***


Saat Aura sedang berada di ladang, ia tidak sadar bahwa ada ular di bawah pohon terong.


“Aarrgghhh!!! Ibuu!!” Teriak Aura yang merasa kesakitan.


Ular yang menggigit Aura langsung pergi.


Amir berlari menghampiri Aura.


“Ada apa, Kak?” Tanya Amir.


“Kaki Kakak sakit.” Jawab Aura.


Amir melihat ada dua titik bekas gigitan ular di kaki Aura.


“Kakak digigit ular?” Tanya Amir.


“Tidak tau.” Jawab Aura yang kesakitan.


Amir memapah Aura pergi ke klinik Dokter Nayla.


Dokter Nayla langsung mengambil tindakan dan berusaha mengeluarkan semua racun ular yang ada didalam tubuh Aura.


Sementara Amir pulang ke pondok dan membantu si Mbok untuk datang ke klinik tempat Aura di rawat.


Dua jam kemudian.


Aura sadar, ia lihat disebelahnya ada seorang wanita tua, anak laki-laki dan juga batita perempuan.


Kepalanya pusing. Tapi ia berusaha untuk duduk.


“Dimana Bang Rizky? Dan di mana Jihan?” Tanyanya. “Lalu, siapa kalian?” Lanjutnya sambil memegang kepalanya.


Si Mbok dan Amir saling bertatapan.


“Panggil Bu Dokter.” Perintah si Mbok.


Amir memgangguk lalu pergi.


Tak lama kemudian Amir datang bersama Dokter Nayla dan seorang perawat wanita.


“Siapa nama kamu?” Tanya Dokter Nayla. Karena saat bertemu dengannya Amir mengatakan bahwa dia tidak kenal dengan si Mbok dan yang lainnya.

__ADS_1


“Aura.” Jawabnya. “Boleh saya tau dimana Bang Rizky dan Jihan?” Lanjutnya perlahan.


“Mereka berdua tidak ada di sini. Yang ada hanya kami saja dan anakmu.” Jawab Dokter Nayla.


“Anak?” Aura kaget lalu tiba-tiba kepalanya sangat pusing.


Beberapa saat kemudian Aura jatuh pingsan.


Si Mbok dan Amir merasa sangat khawatir melihat keadaan Aura seperti itu.


Dokter Nayla memeriksa keadaan Aura.


“Sepertinya ia Shock.” Ucapnya. “Biarkan ia istirahat.” Lanjutnya.


Kemudian Dokter Nayla dan perawat pergi meninggalkan si Mbok, Amir dan Zara.


“Mbok, sudah siang. Amir pulang sebentar ya mau ambil makanan untuk kita.” Ucap Amir.


“Iya, hati-hati. Sekalian ambilkan susu untuk Zara.” Sahut si Mbok.


Zara tertidur dipangkuan si Mbok dengan sangat pulas.


Dua jam kemudian, Aura bangun dan sudah ingat semua tentang masa lalunya dan juga masa kininya.


“Mbok.” Panggilnya.


Si Mbok langsung menoleh.


“Iya, Nduk.” Sahut si Mbok.


Ia lihat Aura berusaha ingin duduk, lalu si Mbok meminta Amir untuk membantu Aura.


“Panggilkan Bu Dokter.” Ucap si Mbok sumringah karena Aura masih ingat padanya.


“Sini, sayang.” Ucap Aura pada Zara. Lalu si Mbok memberikan Zara yang kemudian duduk disebelah ibunya.


“Ibu.” Ucap Zara.


Lalu Dokter Nayla pun muncul.


“Aura, bagaimana perasaanmu?” Tanya Dokter Nayla pada Aura. Ia lalu meminta perawat untuk memeriksa tensi Aura.


“Tensinya bagus, Dok.” Ucap perawat tersebut.


“Baguslah, itu artinya saat kamu Shock tidak membuat tensimu rendah.” Ucap Dokter Nayla.


“Saya sudah merasa baikan.” Ucap Aura kemudian.


“Kamu sudah ingat masa lalumu?” Tanya Dokter Nayla.


“Alhamdulillah sudah, Dok.”


“Lau siapa itu Rizky dan Jihan?”


“Bang Rizky adalah suami saya, sedangkan Jihan adalah salah satu ART kami. Tadi saya teringat kejadian yang dulu pernah saya alami, saat itu kami bertiga sedang berada di rumah pohon. Saat turun ke bawah kaki saya digigit ular. Itu sebabnya saat saya sadar saya ingat dengan Bang Rizky dan Jihan.” Aura menjelaskan.


“Owh begitu. Lalu apakah tempat tinggalmu jauh dari sini?”


“Saya tidak tau, bahkan saya juga tidak tau saya sekarang berada di mana.” Jawabnya sambil memegang kepalanya.


“Apa kepalamu pusing lagi?”


“Iya, sedikit.”


“Baiklah kalau begitu kamu istirahat saja dulu dan jangan lupa makan siang, setelah itu kamu harus makan obat ini.” Ucap Dokter Nayla lalu ia pamit untuk pergi ke kamar sebelah karena pasiennya tiba-tiba teriak histeris. Sepertinya akan segera melahirkan.


“Amir akan pergi membeli nasi campur untuk Kakak.” Ucap Amir.


“Terima kasih.” Sahut Aura.


Setelah kejadian itu, seminggu kemudian Aura mengajak si Mbok dan Amir untuk ikut dengannya pulang ke kota M. Ia tidak tega meninggalkan si Mbok dan Amir di gubuk yang sudah reot itu.


Apa lagi selama dua tahun terakhir dirinya dan Amir yang menggarap sawah dan ladang. Karena kaki si Mbok sakit maka tugasnya adalah menjaga Zara.

__ADS_1


Jika dia pergi, maka hanya Amir yang masih kecil yang akan bekerja, ia sungguh tidak tega.


***


“Begitulah ceritanya.” Ucap Aura menutup kilas balik peristiwa.


Rizky, Ummi, Kak Agatha, Bi Sumi dan Chaca berlinang air mata mendengar cerita Aura. Mereka tak menyangka jika selama ini Aura hidup sebagai petani.


“Tolong jangan menangis, mungkin hal itu berat bagi Ummi, Kak Agatha dan Bang Rizky, tapi tidak bagi Aura karena sedari kecil Aura juga sudah terbiasa melalukannya.” Ucap Aura.


Rizky kemudian memeluk Aura. Sudah ntah berapa kali ia meminta maaf pada Aura namun Aura tetap memberikannya senyuman yang hangat dan tidak pernah menyalahkannya.


Setelah Aura kembali ke dalam kehidupan Rizky, mereka semua menjalani kehidupan dengan sangat bahagia.


Rizky menyekolahkan Amir dan menganggapnya seperti adiknya sendiri.


Amir merasa sangat bahagia karena akhirnya ia bisa sekolah seperti teman-temannya yang lainnya. Dari kecil Amir tidak pernah merasakan pendidikan, dan akhirnya kini ia bisa mengejar cita-citanya yang tidak pernah ia utarakan pada neneknya.


***


Anton datang menemui Rizky bersama putrinya yang masih berusia dua bulan.


“Lama tidak bertemu.” Ucap Rizky dengan hangat pada Anton.


“Aku datang menemuimu untuk…” ucapan Anton terputus.


“Untuk apa?”


“Istriku sudah meninggal.”


“Innalillahi wa inna ilaihi raji'un.. Lucy sudah meninggal? Kapan? Dan bagaimana?” Rizky terlihat sangat penasaran.


“Dia meninggal saat melahirkan putri kami tercinta.” Jawabnya kemudian air matanya mulai menetes.


“Hmmmmm..” Rizky menghela nafas.


“Jadi, aku datang ke sini untuk meminta maaf padamu.” Ucap Anton kemudian.


“Minta maaf untuk apa?”


“Waktu itu Lucy memintaku untuk melenyapkan Aura. Lalu aku menyuruh orang untuk merusak rem mobilmu saat kamu akan pergi ke puncak.” Jawab Anton berterus terang. Ia menundukkan kepalanya tak berani menatap Rizky.


“Apa? Kamu?” Teriak Rizky karena sangat kaget. Ia tak menyangka Anton dan Lucy adalah dalangnya.


“Ooaakkkk…..” putri Anton menangis mendengar teriakan Rizky. ia kaget dan terbangun dari tidurnya.


Anton berusaha menenangkan Angel putrinya.


“Maafkan Om, sayang.” Rizky merasa bersalah.


Hampir setengah jam berlalu barulah Angel merasa tenang.


“Aku mohon, maafkan kami. Aku tau aku dan istriku sangat jahat pada keluargamu. Kamu juga bisa melihatnya bukan? Aku sudah mendapatkan ganjarannya, bahkan anakku yang tidak berdosa juga ikut menanggung akibatnya, hikss.” Anton terisak.


Rizky hanya diam dan menatap wajah mungil Angel.


“Iya, aku maafkan.” Ucap Rizky.


“Sungguh?” Tanya Anton kaget. Ia tak percaya Rizky akan memaafkannya dengan semudah itu.


“Iya, aku tidak ingin memiliki dendam padamu dan Lucy.”


“Kau sungguh baik, Ky. Sekarang aku yakin pasti Lucy sudah tenang disana.”


“Aamiin. Jagalah putrimu dengan baik, dan didik dia agar menjadi orang yang lebih baik dari Ayah dan Ibunya.” Pesan Rizky.


“Itu pasti.” Jawab Anton dengan penuh keyakinan.


*** The End ***


Setiap perbuatan jahat pasti akan mendapatkan balasannya. Ntah itu di dunia ataupun di akhirat.


Sampai jumpa di Novel berikutnya ya teman-teman. ^^

__ADS_1


__ADS_2