Istikharah Menyatukan Kita

Istikharah Menyatukan Kita
Season 2: eps. 25.


__ADS_3

Malam hari dikediaman Sidik.


Zayn terlihat sedang membereskan barang-barangnya.


“Bang Zayn, sedang apa?” Tanya Zara yang baru selesai sholat isya.


“Sedang memilih barang yang akan dibawa pindah ke apartment.” Jawab Zayn.


“Oh.” Sahut Zara singkat.


Ia kemudian merapikan mukenanya lalu ia juga membereskan barang-barangnya. Karena besok pagi mereka akan pindah ke tempat tinggal mereka sendiri.


Setelah selesai merapikan barang-barang. Zara berbaring di atas katil. Seperti biasa, ia tidur sendiri di atas katil dan Zayn akan tidur di sofa.


“Bang Zayn. Sudah beberapa malam tidur di sofa. Apakah badanmu tidak sakit?” Tanya Zara dengan polosnya.


“Kalau sakit memangnya kenapa? Kamu mau memijat tubuhku?” Zayn balik bertanya.


“Kalau memang dibutuhkan, kenapa tidak?”


“Aku tidak butuh. Aku tau kamu hanya ingin mengambil kesempatan.”


“Cihh. PD sekali. Hmph!!” Zara malah jadi kesal karena niat baiknya disalah artikan.


“Lebih baik aku tidur saja. Jangan pedulikan dia.” Ucap Zara dalam hatinya.


Namun tiba-tiba ia teringat tentang kejadian tadi siang. Ia masih penasaran, dengan siapa Zayn berkirim pesan?


Padahal ini bukanlah pertama kalinya Zayn berkirim pesan diponselnya. Tapi ntah mengapa, Zara mulai tertarik dengan semua hal yang dilakukan oleh Zayn.


“Emm, Zara.” Ucap Zayn.


“Iya.” Sahut Zara tapi tubuhnya masih tetap membelakangi Zayn.


“Siang tadi aku mendapatkan undangan.”


“Siapa yang menikah? Mantanmu?” Tanya Zara sinis.


“Hmmm.” Zayn menghela nafasnya. “Bukan undangan pernikahan.” Lanjutnya.


“Kalau begitu undangan apa?” Zara terlihat cuek namun rasa penasaran bergejolak dihatinya.


“Bulan depan ada lomba tahfidz di pesantren tempatku belajar dulu. Ustadz meminta aku untuk menjadi juri.” Jawab Zara.


“Oh, begitu. Bukankah pesantren itu juga tempat Om Amir sekolah?”


“Iya. Kami berdua sekolah di pesantren yang sama.” Sahut Zayn. “Apa kamu mau ikut?” Tanyanya.

__ADS_1


“In syaa Allah.” Jawab Zara.


Setelah itu suasana menjadi hening.


“Ternyata siang tadi dia membahas hal ini , pantas saja terlihat sangat fokus pada ponselnya.” Gumam Zara didalam hatinya.


“Oh ya, satu hal yang harus kamu tau. Aku tidak punya mantan.” Ucap Zayn tiba-tiba.


Zara tidak menyahut. Tapi didalam hatinya merasa sangat bahagia, karena dia adalah wanita pertama bagi Zayn. Meskipun Zayn belum memperlakukan dia sebagai istrinya. Tapi bagi Zara tidak buruk juga jika Zayn menganggapnya sebagai Adik atau teman.


Malam sudah berlalu.


Adzan subuh berkumandang. Mereka berdua melaksanakan sholat subuh berjamaah.


Setelah itu lanjut tilawah.


Pukul 07.30wib mereka berdua keluar dari kamar untuk sarapan.


Bi Sri ART Sidik sudah menghidangkan makanan di atas meja. Zayn dan Zara menunggu kedatangan Sidik dan Alisya untuk sarapan bersama.


“Wah, kalian sudah rapi. Apa setelah sarapan langsung mau pergi?” Tanya Sidik.


“Sebaiknya begitu, Bi.” Jawab Zayn. “Banyak barang yang harus kami rapikan.” Lanjutnya.


“Benar juga.” Ucap Alisya. “Apa kalian membutuhkan ART? Ummi akan mencarikan satu.” Alisya menawarkan.


“Tidak, Mi. In syaa Allah kami bisa mengerjakannya berdua saja.” Jawab Zayn.


“Benarkah?” Alisya tidak yakin. “Zara sayang, apakah kamu yakin tidak butuh ART?” Kali ini Alisya bertanya pada Zara.


“In syaa Allah untuk saat ini kami belum membutuhkan ART, Bi.” Jawab Zara sambil tersenyum manis.


“Hmm, pasti karena kalian tidak ingin ada yang mengganggu. Benarkan?” Sidik menginterogasi.


“Bukan begitu, Abi.” Zayn membantah dengan lembut. “Nanti jika kami membutuhkan ART, aku pasti akan langsung memberitahu Ummi.” Lanjutnya.


“Baiklah, tapi jangan lama-lama. Kasihan Zara, dia pasti tidak terbiasa menyapu, mengepel, memasak, mencuci menyetrika dan pekerjaan rumah tangga yang lainnya.” Ucap Alisya.


“Benar juga. Apa dia bisa mengerjakan semua itu sendiri? Apalagi dia masih harus pergi ke kampus setiap hari.” Gumam Zayn didalam hatinya.


“Bibi tenang saja. Walaupun Zara tidak semahir ART, tapi In syaa Allah Zara bisa mengerjakannya sedikit-sedikit.” Ucap Zara. “Apa Bibi lupa? Dulu Zara tinggal di pesantren selama enam tahun bersama Hulya. Kami sudah terlatih untuk menjadi mandiri. Hehehee.” Zara cengengesan.


“Baiklah, Bibi percaya kamu pasti bisa.” Ucap Alisya.


Setelah itu mereka fokus untuk menghabiskan sarapan mereka masing-masing.


Dua puluh menit kemudian Zara dan Zayn berpamitan dengan Sidik dan Alisya.

__ADS_1


Mereka berangkat setelah mencium punggung tangan Sidik dan Alisya.


Diperjalanan hanya memakan waktu lima belas menit. Itupun mereka lalui tanpa basa basi.


Zayn mengeluarkan semua koper dari dalam mobil dan membawanya menuju lift.


“Wah, ini pasti apartment kelas atas.” Ucap Zara didalam hatinya. Ia terlihat sangat puas dengan tempat tinggalnya yang baru.


Apartment mereka berada di lantai tiga, tidak terlalu tinggi. Tapi pemandangannya tampak sangat indah.


“Waaaaa. Bang Zayn, aku kasih nilai sepuluh per sepuluh untuk apartment Abang ini.” Ucap Zara sumringah.


Dinding berwarna putih yang baru di cat, membuat isi apartment terlihat sangat bersih dan cantik.


“Apa kamu membawa gorden?” Tanya Zayn tanpa menjawab perkataan Zara barusan.


“Ada. Tadi sebelum berangkat Bibi Alisya memberiku beberapa gorden yang sangat indah.” Jawab Zara.


“Kalau begitu tunggu apa lagi? Cepat pasang gordennya.” Perintah Zayn.


“Baik, Tuan.” Sahut Zara jutek.


Ia bergegas membuka tas yang berisi gorden dan seprai.


Zara mengeluarkan gorden berwarna putih yang senada dengan warna dinding. Lalu memasangnya di jendela.


Kemudian dia pergi kekamarnya dan memasang seprai berwarna pink. Setelah itu pindah ke kamar Zayn dan memasang seprai berwarna hijau.


Setelah itu ia kembali ke dalam kamarnya lalu merapikan pakaian, buku-buku dan peralatan lainnya.


Zayn juga melakukan hal yang sama dikamarnya.


Setelah itu mereka berdua kompak sekali menyapu dan mengepel lantai bersama-sama. Kemudian merapikan peralatan makan dan peralatan memasak didapur.


Setelah selesai, mereka beristirahat di ruang tamu sambil menyalakan televisi.


“Ternyata seorang Nona Muda sepertimu bisa mengerjakan ini semua. Tidak semanja yang aku bayangkan.” Ucap Zayn.


“Tak kenal maka tak tahu.” Sahut Zara.


“Hmmm, iya iya.” Ucap Zayn. “Kamu mau makan apa? Aku akan memesan makanan online.” Lanjutnya.


“Terserah Abang saja.” Sahut Zara. “Aku mau pergi mandi.” Lanjutnya.


Tiba-tiba Zayn teringat dengan ucapan temannya yang sudah menikah.


“Bro, terserahnya seorang wanita itu adalah hal yang paling horor didunia. Gara-gara kata ‘terserah’ ini, bisa jadi perang dunia ketiga. Aku selalu salah mengartikan kata terserah yang keluar dari mulut istriku, Aiiissshhh.”

__ADS_1


“Sekarang aku harus bagaimana?” Zayn terlihat bingung. “Kalau nanti aku salah pesan lalu dia ngambek gimana?”


“Ah, yang terpenting pesan saja dulu, kalau dia tidak suka aku akan pesan lagi yang lain.” Ucap Zayn.


__ADS_2