
Pov Rizky.
I'm only one call away
I'll be there to save the day
Superman got nothing on me
I'm only one call away.
Call me, baby, if you need a friend
I just wanna give you love
Come on, come on, come on
Reaching out to you, so take a chance.
No matter where you go
You know you're not alone
I'm only one call away.
*Sambil rebahan di kamar aku mendengarkan lagu One Call Away* yang dinyanyikan oleh Charlie Puth. Lagu yang sangat tepat untuk menggambarkan suasana hatiku saat ini.
Aku masih ingat dengan jelas, saat pertama kali aku melihat Aura, yang akan menjalani ospek di pesantren. Ada hal yang menggelitik hatiku kala itu.
"Ky, lihat deh anak baru yang itu." ucap Sidik sahabatku sambil menunjukkan ibu jarinya ke arah kerumunan anak-anak baru yang akan segera menjalani ospek.
"Yang mana, Sid?" tanyaku sambil melihat-lihat kerumunan tersebut.
"Yang itu." ucapnya lagi.
"Di sana ada banyak orang, bagaimana saya bisa tau siapa yang kamu maksud." ucapku.
"Itu tuh, yang pakai kerudung warna hijau, wajahnya menghadap ke tanah." ucapnya menjelaskan padaku.
"Astaghfirullah. Kamu memperhatikan akhwat, Sid?"
__ADS_1
"Tidak sengaja tadi mata saya ke sana, Ky." ucapnya membela diri. "Sepertinya tuh akhwat lagi nyari duit jatuh deh, Ky." sambungnya.
"Apa? Ada-ada saja kamu."
"Serius lho. Dari tadi saya perhatikan, wajah dia ke bawah mulu. Ngapain coba? Pasti nyari duit jatuh itu mah." ucapnya lagi.
"Lalu apa hubungannya sama kita? Sudah deh tidak usah su'udzon. Bukankah memang sudah seharusnya dia gadhul bashar (menundukkan pandangan)."
"Oh iya, bisa juga tuh gadhul bashar." ucapnya sambil mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Makanya jangan langsung su'udzon kamu. Mosok orang nunduk langsung di kira nyari uang jatuh, haha." aku tertawa kecil dan memukul bahunya pelan.
"Hahahahhh... Iya sih." ucapnya dan tertawa. "Tapi dia cantik juga ya, Ky." lanjutnya.
"Semua ciptaan Allah cantik dan ganteng, Sid. Sudahlah tidak usah di perhatikan lagi. Ayo masuk kelas saja." ajakku.
"Iya iya, ayo." ucapnya lalu mengikuti langkah kaliku dari belakang.
Sudah dua bulan berlalu, diam-diam aku memperhatikan gadis yang selalu menundukkan pandangannya itu. Hingga terbersit dalam benakku untuk mengganggunya.
Padahal prinsip hidupku 'Tidak akan jatuh cinta sebelum umur 20 tahun'. Tapi ternyata masih umur segini sudah ada akhwat yang menggoyahkan benteng pertahanannku.
Saat aku lihat dia sedang berjalan sendirian, akupun memulai aksiku.
Aku berjalan ke arahnya, saat kami berdua berpapasan aku sengaja menjatuhkan amplop yang sudah aku sediakan tadi. Aku mau lihat respon dia seperti apa? Biarpun sebenarnya aku yakin dia pasti akan mengambil surat itu dan menyerahkannya kepadaku. Jika itu terjadi, aku akan tanya siapa namanya.
Saat aku menoleh ke belakang, aku lihat dia berhenti. Dia menatap amplop surat yang ada di sebelah kaki kanannya.
"Ayolah, ambil!" gumamku dalam hati.
Tapi ternyata aku telah salah menilainya, dia pergi begitu saja dan mengacuhkan amplop surat itu. Sejak saat itu, aku selalu menyebutnya gadis yang sombong.
Tapi sombong yang satu ini aku acungi jempol, yaitu sombong demi menjaga diri dari hal-hal yang tidak bermanfaat.
Padahal tidak sedikit akhwat yang mengagumi prestasiku di sekolah ini. Tapi sejujurnya hal itu membuatku risih, aku takut terperdaya oleh pujian manusia. Karena itu aku lebih tertarik dengan akhwat yang super cuek ini, dia tidak memandangku karena prestasi yang telah aku raih.
Suatu hari, ada acara porseni di pesantren. Seperti biasa, salah satu ustadz mempromosikan aku agar mengikuti lomba MTQ dan lomba Adzan.
Saat itu aku menghampiri salah satu panitia yang menjadi MC untuk menyerahkan nomor urut.
__ADS_1
"Afwan, ini nomor urut saya. Silahkan di catat." ucapku pada panitia tersebut.
"Oh. Baik, Bang." ucapnya dan menyalin tulisan dari kertas yang aku serahkan.
Lalu gadis sombong itu datang.
"Cha, ini ada yang nitip nomor urut sama Aura." ucapnya lalu menyerahkan selembar kertas berisi nomor urut, nama dan jenis lomba.
"Oh. Sini Icha catat." ucap panitia yang bernama Icha sambil meraih kertas yang di bawa oleh gadis sombong itu. "Ok, sudah." sambungnya dan mengembalikan kertas tersebut.
"Ok terima kasih, Aura balik ke sana ya." ucapnya lalu pergi meninggalkan aku dan Icha.
"Iya, Ra. Sama-sama." sahut Icha. Setelah itu akupun pergi meninggalkan Icha.
Sejak saat itu aku tahu bahwa namanya adalah Aura. Padahal aku berdiri di sampingnya, tapi sedetikpun dia tidak menoleh ke arahku. Mungkin waktu itu dia menganggap aku tunggul, hehe.
Yang tadinya aku beri dia nama panggilan gadis sombong, sekarang aku rubah menjadi Aura si gadis sombong.
Rasa isengku di awal kini berubah menjadi rasa kagum, ntah bagaimana caranya mengendalikan hatiku. Kenapa bisa berubah seperti ini? Padahal ini adalah hatiku, organ yag ada di dalam tubuhku, tapi mengapa sulit sekali mengendalikannya?
Kadang sempat terfikir olehku untuk menyapanya, tapi berat sekali rasa hatiku. Apa lagi dilingkungan pesantren seperti ini, harus bisa menahan diri untuk tidak berinteraksi dengan lawan jenis.
Dan sejak rasa kagum itu tumbuh dalam hatiku, aku selalu mendo'akannya, memintanya pada sang pencipta.
Aku tau saat itu terlalu awal untuk memintanya pada Allah, bisa jadi kala itu aku hanya memiliki rasa yang bersifat sementara untuknya. Tapi siapa yang tau apa yang akan terjadi bertahun-tahun kemudian.
Dan sekarang, aku masih tetap memiliki rasa untuknya. Tapi rasaku saat ini berbeda dengan perasaan yang aku rasakan sebelumnya. Iya, rasa kagum sudah berubah menjadi rasa cinta.
Siapa sangka takdirku akan seperti ini, mendapat kesempatan untuk ta'aruf dengan seorang akhwat yang berhasil menerobos benteng pertahananku untuk yang pertama kalinya. Meskipun setelah dia tidak ada yang kedua, ketiga dan seterusnya. Only her can do it.
Meskipun sekarang zaman sudah berubah dan menjadi semakin canggih, Aura tetap tidak berubah. Dia tetap low profile dan tidak bisa di terka-terka seperti apa sifat aslinya.
Aku bisa menyimpulkan seperti itu karena aku sudah melihat profilnya di aplikasi biru berlogo F.
Tidak ada status alay bin lebay di sana. Hanya sesekali share status yang bermanfaat untuk di baca.
Ah, Aura. Semoga kamu mau menerimaku untuk menjadi pendamping hidupmu.
Aku janji padamu, sesulit apapun syarat yang akan kamu ajukan, dengan sekuat tenaga aku pasti akan memenuhinya. Selama syarat-syaratmu itu tidak keluar dari syar'at islam.
__ADS_1