Istikharah Menyatukan Kita

Istikharah Menyatukan Kita
Season 2: eps. 20.


__ADS_3

Satu minggu sudah berlalu, tibalah hari pernikahan Zayn dan Zara.


Mereka mengadakan Akad Nikah di sebuah gedung yang sudah dihiasi sedemikian rupa.


Tak banyak tamu undangan. Zara tidak mengundang satupun teman kuliahnya termasuk Nayla.


Begitu juga dengan Zayn, ia juga tidak mengundang teman-temannya. Baik teman kuliahnya dulu maupun teman kerjanya sekarang.


Tamu yang datang adalah keluarga mereka sendiri dan orang-orang terdekat, Amir dan Arumi, Mea dan Rafli suaminya, Farhan dan Istrinya, Agatha dan suaminya, Anak2 Agatha beserta pasangannya. Bi Jumi, Pak Ujang, Chaca beserta suami dan anaknya. Sementara Mang Jaja tidak ikut, ia tugaskan menjaga rumah.


Ada juga beberapa rekan bisnis Rizky yang jika tidak di undang Rizky merasa tidak enak hati. Begitu juga dengan Aura, ia juga merasa tidak enak hati jika tidak mengundang sahabat-sahabatnya, Luna, Icha dan Lilian.


Setelah selesai Ijab Qabul, semua memberikan selamat pada pasangan pengantin yang sudah sah menjadi pasangan suami istri.


Zara dan Zayn diminta untuk duduk bersebelahan, keduanya merasa sangat canggung.


Ini pertama kalinya mereka begitu dekat, rasa malu dan segan menyelimuti mereka berdua.


Mereka berdua hanya diam, tidak tau apa yang harus mereka bicarakan.


Sidik, Alisya, Aura dan Rizky senyum-senyum sedari tadi melihat tingkah laku anak-anak mereka berdua.


Zara dan Zayn menoleh ke arah orang tuanya, setelah itu Alisya, Aura, Sidik dan Rizky pura-pura tidak melihat mereka.


“Sebaiknya kita tidak usah memperhatikan mereka lagi agar mereka tidak semakin canggung.” Ucap Rizky.


“Iya.” Sahut Sidik.


“Aku permisi, mau menemani rekan-rekan bisnisku.” Ucap Rizky.


“Iya, Aura juga mau sekalian reuni sama Icha, Luna dan Lilian.” Sahut Aura.


“Baiklah, kami tidak akan mengganggu kalian.” Ucap Sidik.


Alisya hanya tersenyum.


“Bang, kenapa Zayn begitu kaku?” Ucap Alisya pada Sidik.


“Ntahlah, Abang juga sudah kehabisan akal. Padahal sebelum akad Abang sudah mengajari dia ini itu. Tapi Sepertinya sia-sia saja. Sikap dinginnya itu ntah kapan akan berubah menjadi hangat. Hufftt.” Sidik mengusap wajahnya.


“Semoga saja Zara bisa bersabar menghadapi Zayn yang begitu dingin.” Ucap Alisya.


“Aamiin.” Sahut Sidik.


Sementara itu, Zara sesekali melihat ke arah Zayn. Ada hal yang ingin ia sampaikan, tapi malu mengatakannya.


“Kenapa kamu terus menatapku?” Tanya Zayn, ia sadar bahwa Zara sudah beberapa kali menoleh ke arahnya.


“Hmm, aku lapar, Bang.” Jawab Zara malu, ia menunduk dan tidak berani menatap Zayn.

__ADS_1


“Lapar?” Tanya Zayn.


“Iya, ini sudah tengah hari. Wajar kan kalau aku merasa lapar?”


“Iya, tapi apa kita harus mengambilnya sendiri?” Zayn balik bertanya. Karena ia sendiri tidak tau harus bagaimana.


Zara mencari-cari sosok Ibunya, ia lihat Ibunya sedang asik mengobrol dengan Bi Icha, Bi Lilian, Bi Luna dan Bi Mea.


Lalu Zara mencari sosok Ayahnya, saat melihat Ayahnya sedang berbincang-bincang dengan beberapa rekan bisnisnya, ia merasa lebih tidak mungkin untuk bertanya pada Ayahnya.


Zayn juga melihat Ummi dan Abinya sedang asik mengobrol dengan Adiknya Hulya.


“Huurrrmmmm.” Zara dan Zayn menghela nafas serentak.


“Mungkin memang harus ambil sendiri.” Ucap Zayn.


“Baiklah.” Sahut Zara.


Kemudian Zara beranjak dari tempat duduknya. Ia pergi ke meja untuk mengambil makanannya dan juga makanan Zayn.


“Terima kasih.” Ucap Zayn.


“Sama-sama.” Sahut Zara.


Sidik dan Alisya tersenyum bahagia.


“Sepertinya tidak ada salahnya kita cuekin mereka, sekarang Zara sudah mulai berani mengambil inisiatif untuk melayani Zayn, walaupun hanya mengambilkan makanan.” Ucap Alisya.


Saat memasuki waktu sholat Dzuhur, semua orang kembali ke rumah masing-masing.


Terkecuali Mea dan keluarganya yang akan menginap beberapa malam di rumah Rizky.


Zayn juga ikut pulang ke rumah Zara dan menginap beberapa malam, baru kemudian dia membawa Zara pulang ke rumah Abi dan Umminya.


Sesampainya di rumah Rizky, mereka sholat berjamaah di ruang sholat karena sudah tidak keburu untuk pergi ke masjid.


Setelah selesai sholat, Rizky mengobrol bersana Amir dan Zayn.


“Zayn, mulai hari ini kamu adalah menantu di rumah ini. Kamu adalah suami Zara, besar harapan Paman agar kamu bisa memberikan kebahagiaan pada Zara.” Ucap Rizky.


“In syaa Allah, Paman. Aku akan menjaganya semampuku, dan membuatnya bahagia semampuku juga.” Sahut Zayn.


“Sekali lagi Om mengucapkan selamat kepada kalian berdua. Semoga kalian berdua bisa segera membuka hati masing-masing.”


Zayn mengangguk lalu tersenyum.


“Sekarang sebaiknya kamu istirahat, Zayn. Kamar Zara ada disebelah sana.” Ucap Rizky sambil menunjuk pintu kamar Zara.


“Baik, Paman. Aku permisi.” Sahut Zayn.

__ADS_1


Amir dan Rizky mengangguk.


Zayn langsung masuk ke dalam kamar Zara.


“Astaghfirullah, apa yang kamu lakukan??” Zayn teramat sangat kaget melihat Zara yang hanya mengenakan handuk. Zayn menutup mata dan memalingkan wajahnya.


Zara baru saja selesai mandi.


“Cepat pakai pakaianmu!!” Ucap Zayn.


“Apa salahku? Bukankah ini kamarku?” Zara tidak mau disalahkan.


“Iya, aku tau. Tapi kamu seorang wanita, kenapa tidak merasa malu sedikitpun?”


“Malu? Hahahaa.” Zara tertawa. “Bang, kamu bahkan tidak melihatku.” Lanjutnya.


Zara merasa lucu melihat sikap Zayn yang seperti itu.


“Sekarang Abang sudah boleh membuka mata.” Ucap Zara.


Zayn menurut lalu membuka matanya perlahan-lahan.


Zara tersipu malu karena ini pertama kalinya Zayn melihat wajahnya secara langsung.


“Ma syaa Allah, ternyata Zara sangat cantik. Bagai bidadari.” Ucap Zayn didalam hatinya.


Suasana menjadi hening, keduanya saling bertatapan mata namun tidak mengatakan sepatah katapun.


“Aku juga mau mandi.” Ucap Zayn kemudian memecahkan keheningan.


Ia membuka koper miliknya lalu mengambil handuknya. Setelah itu masuk ke dalam kamar mandi.


Zara duduk di atas katilnya sambil mengelus selimut, bantal dan kasurnya.


“Maafkan aku kesayanganku, malam ini aku terpaksa menampungnya untuk tidur disini. Lalu setelah itu, aku juga terpaksa meninggalkan kalian. Huhuhuu.” Ucap Zara pada katilnya.


“Apa sih, drama banget.” Ucapnya kemudian.


“Selama bertahun-tahun ini menjadi kamar pribadiku. Tapi tidak lama lagi aku akan pergi dari sini.”


“Kira-kira Bang Zayn ingin tinggal bersama dengan orang tuanya atau tinggal berdua saja? Aku bahkan tidak berani menanyakan hal ini padanya.”


“Lalu jika aku pergi nanti, apa Ibu akan bisa bertahan menghadapi Tante Arumi yang kasar itu? Walaupun ada Ayah dan Om Amir, tapi mereka lebih sering diluar karena bekerja.”


“Apa aku harus memberitahu Om Amir tentang sikap Tante Arumi? Hmm.”


“Tapi aku tidak ingin membuat jurang diantara mereka berdua.” Zara merasa serba salah.


“Dari tadi kamu bicara sendiri, apa sedang mengutukku?” Tanya Zayn.

__ADS_1


“Eh, Abang sudah selesai mandi?” Zara langsung menoleh ke arah Zayn. Dilihatnya Zayn keluar dari dalam kamar mandi sudah lengkap dengan pakaiannya. “Abang bawa pakaian ke dalam kamar mandi?” Tanyanya kemudian.


“Iya, apa kamu pikir Aku akan keluar dengan memakai handuk sepertimu?” Sikap Zayn kembali dingin.


__ADS_2