
Ponsel Zayn berdering saat ia sedang berada di dalam kamar mandi.
Setelah selesai mandi, Zayn langsung melaksanakan sholat Ashat beserta sholat sunnahnya.
Setelah itu barulah ia memegang ponselnya.
“Eh, Om Amir menelepon aku.” Ia terkejut melihat 2 panggilan tak terjawab. Lalu ia menelepon balik.
“Assalamu’alaikum, Om.” Ucap Zayn setelah Amir menjawab telepon darinya.
“Wa’alaikumussalam, bagaimana kabarmu Zayn?”
“Alhamdulillah aku baik. Oh ya Om, tadi aku menelepon hanya ingin mengucapkan selamat untuk Om.”
“Iya, aku sudah bisa menebaknya.” Sahut Amir. “Sekarang aku sedang berada di cafe xx, kamu datanglah. Kita mengobrol.” Pinta Amir.
“Baik, Om. Aku akan segera berangkat ke sana.”
Panggilan terputus setelah keduanya mengucapkan salam.
Zayn memakai jaket kulit lalu memasukkan dompet dan ponsel ke dalam saku celananya. Setelah itu ia meraih kunci mobil yang ada di atas nakas.
“Zayn, buru-buru mau ke mana?” Tanya Alisya yang melihat Zayn terburu-buru menuju pintu keluar rumah.
“Aku mau bertemu dengan Om Amir di cafe, Mi.” Jawab Zayn.
“Owh, baiklah. Hati-hati di jalan. Jangan ngebut.”
“Baik, Mi. Assalamu’alaikum.”
“Wa’alaikumussalam.” Sahut Alisya.
Setelah menyetir mobil lebih kurang lima belas menit, Zayn tiba di cafe.
Ia celingak celinguk mencari keberadaan Amir.
Setelah mengetahui posisi Amir, ia segera turun dari mobil dan bergegas menghampiri Amir.
Zayn duduk bersebelahan dengan Amir.
“Sudah lama, Om?” Tanya Zayn.
“Iya. Tadi Om bertemu teman disini. Sekalian juga mengajak kamu bertemu disini.” Jawab Amir.
“Owh, begitu.”
“Zayn, in syaa Allah empat hari lagi aku akan menikah. Begitu juga dengan kamu, sebulan lagi kamu akan menikah dengan Zara.” Ucap Amir.
Zayn tidak menyahut. Ia masih menantikan kelanjutan kalimat Amir.
“Dulu saat ia masih kecil, aku sering membuatkan susu untuknya. Aku sering menjaganya saat Kak Aura berada di ladang. Aku juga sering menidurkannya di ayunan.” Ucap Amir bercerita.
__ADS_1
“Intinya, aku sudah lebih dulu menjaganya, aku sangat menyayanginya. Tidak lama lagi ia akan menjadi istrimu, jadi aku mohon jagalah dia sebaik mungkin. Jaga dia lebih baik dariku saat aku menjaganya. Dan aku sangat mohon, sayangi juga dia melebihi kami menyayanginya.” Lanjut Amir.
Zayn terdiam. Ia menundukkan kepalanya. Ia tidak tau harus mengucapkan apa.
“Jika kamu tidak mampu, jangan paksakan dirimu untuk menerimanya.” Ucap Amir memecahkan keheningan.
“Tidak, Om. Aku tidak bermaksud seperti itu. Aku janji, aku pasti akan menjaganya dengan baik.” Ucap Zayn penuh keyakinan.
Hal itu membuat Amir merasa lega.
“Alhamdulillah, aku merasa lega mendengarnya.” Amir sumringah.
“Oh ya, Om. Mau pesan kopi?” Tanya Zayn.
“Kamu saja jika mau. Om tadi sudah minum satu gelas bersama teman Om.” Jawab Amir.
“Baiklah, aku tinggal sebentar ya Om.” Ucap Zayn.
“Ok.” Sahut Amir.
Zayn beranjak dari tempat duduknya lalu pergi membeli segelas kopi.
“Hmm. Aku tidak menyangka masalahnya seserius ini. Aku kira setelah menikah semuanya akan baik-baik saja. Tapi ternyata, aku bagaikan merebut sebuah permata yang berharga. Tanggung jawabku begitu besar setelah menikah dengannya.”
“Ini kopi Anda, Tuan.” Ucap seorang pelayan yang membuyarkan lamunan Zayn.
Setelah membayar, Zayn kembali duduk bersama Amir.
Zayn menyeruput kopinya sesekali. Sedangkan Amir memainkan gawainya.
“Hmm, jika kamu mengecewakan Zara. Itu sama saja dengan mengecewakan aku dan juga kedua orang tuanya.” Jawab Amir.
“Apakah sebenarnya kamu tidak rela menikah dengannya?” Tanya Amir mencari tahu.
“Aku hanya belum mencintainya, Om.” Jawab Zayn pelan.
“Tidak apa-apa jika belum saling mencintai. Pernikahan ini adalah kesempatan kalian untuk menata hati. Aku yakin, cepat atau lambat kalian pasti akan saling mencintai satu sama lain jika kalian mau mencoba membuka hati masing-masing.” Ucap Amir menasehati.
Zayn menganggukkan kepalanya.
Setelah mengobrol beberapa lama, akhirnya mereka memutuskan untuk pulang karena sudah hampir memasuki waktu maghrib.
“Semoga kamu mengingat apa yang aku katakan tadi.” Pesan Amir.
“Baik, Om. Aku pasti akan mengingatnya.” Sahut Zayn.
***
Empat hari kemudian.
Akhirnya hari yang di tunggu-tunggu tiba juga.
__ADS_1
Ijab Qabul dilaksanakan di dalam masjid. Karena Arumi anak yatim piatu, maka yang menjadi walinya adalah pak penghulu.
Setelah semua saksi mengucapkan kata “Sah” maka Arumi dan Amir sudah menjadi sepasang suami dan istri.
Setelah selesai Akad, semua orang pergi ke gedung tempat diadakannya resepsi pernikahan.
Sepasang pengantin di sambut dengan hangat oleh para tamu.
Orang-orang bergantian mengucapkan selamat pada mereka.
Setelah tidak ada lagi tamu yang naik ke atas pelaminan untuk mengucapkan selamat, Amir dan Arumi akhirnya bisa bernafas lega.
Mereka berdua duduk dikursi pelaminan.
“Arumi, boleh aku tau yang mana Kakakmu?” Tanya Amir pada Arumi, karena Amir belum diperkenalkan dengan Kakak Iparnya.
“Emm, itu, maaf. Sebenarnya hari ini Kakak tidak bisa hadir di pesta pernikahan kita.” Ucap Arumi pelan.
“Kenapa? Bukankah dia satu-satunya keluargamu?” Amir sedikit kaget mendengar ucapan Arumi.
“Iya, memang benar. Tapi kemarin Kak Arin pergi keluar kota bersama bossnya.” Jawab Arumi. “Kak Arin bekerja di sebuah butik yang cukup terkenal. Pemilik butik tersebut mendapatkan undangan fashion show. Karena Kak Arin adalah orang kepercayaan Bossnya, maka Kak Arin harus ikut menghadiri fashion show tersebut.” Arumi menjelaskan.
“Oh, begitu. Kamu pasti sedih karena Kakakmu tidak dapat hadir. Sabar ya.” Amir menghibur Arumi lalu menggenggam tangannya.
“Iya. Aku dapat memakluminya.” Ucap Arumi lalu tersenyum manis pada Amir.
“Akhirnya aku menikah denganmu. Kedepannya hidupku pasti akan lebih baik.” Ucap Arumi di dalam hatinya.
Tanpa ragu Arumi menyandarkan kepalanya dibahu Amir.
Alhamdulillah semuanya berjalan lancar sesuai yang diharapkan.
Rizky dan Aura melayani tamu dengan sepenuh hati. Mereka berdua sangat ramah dan hangat, membuat para tamu juga merasakan bahagia disana.
Zara dibantu oleh sahabatnya Nayla menyambut tamu dan mengisi buku tamu. Mereka berdua juga menyusun kado yang diberikan oleh para tamu.
“Saat kamu menikah nanti, apa aku harus melakukan ini juga?” Tanya Nayla.
“Apa? Saat aku menikah?” Zara kaget.
“Mungkinkah dia tau aku akan menikah saat cuti semester nanti?” Zara bertanya dalam hatinya.
“Kenapa kaget seperti itu? Bukankah suatu hari nanti kamu pasti akan menikah juga.” Ucap Nayla.
“Eh, iya sih. Hehehe.” Zara terlihat salah tingkah. “Lalu, saat kamu menikah nanti apakah aku juga harus melakukan hal ini?” Zara balik bertanya.
“Hmm, aku ya? Aku tidak tahu pasti, jodoh ataukah maut yang menghampiri aku lebih dahulu.” Jawab Nayla.
“Nay, jangan terlalu serius seperti itu. Kamu malah membuatku merasa khawatir.” Ucap Zara.
“Sudah, lupakan saja. Mari lanjut menyusun kado.” Ajak Nayla.
__ADS_1
“Ok.” Sahut Zara.
“Tapi, apa yang dikatakan Nayla tadi memang tidak ada salahnya.” Ucap Zara didalam hatinya.