Istikharah Menyatukan Kita

Istikharah Menyatukan Kita
Keluarga Jihan


__ADS_3

Assalamu'alaikum teman-teman readers... Ayo dukung author dengan cara like, komen, rate, vote dan fav.


Terima kasih. *Hug.


Happy Reading....


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Sore pun tiba..


Bang Rizky buru-buru mengajakku pergi untuk mencari tempat makan malam.


"Ayo, Ra. Kita berangkat sekarang, sebelum mereka sadar kalau kita mau pergi." ajak Bang Rizky.


Aku melirik jam di gawaiku. Masih pukul 17:35WIB.


"Kakek dan Jihan bagaimana? Belum pulang, kan?" tanyaku.


"Belum, nanti kita minta Kakek dan Jihan untuk segera pulang." jawabnya.


Alu tersenyum lalu mengikuti langkah kaki Bang Rizky.


"Kakek." sapa Bang Rizky.


"Saya, Tuan Muda." ucap Kakek.


"Hari ini Jihan tidak perlu masak, saya dan Aura akan pergi makan di luar. Kakek dan Jihan bisa ikut saya naik mobil untuk pulang." ucap Bang Rizky.


"Baik, Tuan Muda. Terima kasih, saya permisi untuk memanggil Jihan di dalam." sahut Kakek.


Lalu Kakek pun masuk ke dalam Villa untuk mencari Jihan Cucunya. Sedangkan aku dan Bang Rizky bergegas masuk ke dalam mobil dan menunggu kedatangan mereka.


Beberapa menit kemudian Kakek keluar bersama Jihan. Mereka langsung masuk ke dalam mobil.


Pelan-pelan Bang Rizky menjalankan mobil, agar Lucy dan Dona tidak menyadari kepergian kami.


"Tuan Muda mau makan di mana?" tanya Kakek.


"Erm.. Belum tau sih, Kek. Apa Kakek tau tempat makan yang enak?" tanya Bang Rizky.


"Iya, saya tau. Nanti saya akan tunjukkan tempatnya." jawab Kakek.


"Baik, Kek." sahut Bang Rizky.


Dalam perjalanan, aku masih saja terpesona oleh keindahan alam yang ada. Hingga aku tidak sadar bahwa kami sudah sampai di rumah Kakek.


"Saya turun di sini, Tuan Muda. Di sebelah kanan ini adalah gubuk kami." ucap Kakek merendah.


"Owh, baik." ucap Bang Rizky lalu emberhentikan mobilnya.


"Terima kasih atas tumpangannya, Tuan. Jika berkenan, mari singgah dulu sebenentar ke gubuk kami ini." ucap Kakek.


"Baik, Kek." sahutku, lalu aku segera turun dari mobil.

__ADS_1


"Assalamu'alaikum." ucap Jihan saat membuka pintu rumahnya.


Lalu di sambut oleh seorang anak laki-laki.


"Wa'alaikumussalam. Kak Jihan sudah pulang." ucap anak tersebut.


"Iya." jawab Jihan.


"Ayo Tuan dan Nyonya, silahkan masuk." ucap Kakek padaku dan Bang Rizky.


"Baik, terima kasih." sahut Bang Rizky.


Aku dan Bang Rizky masuk, lalu kami duduk di atas tikar yang sudah dibentangkan oleh Jihan.


"Ibu mana?" tanya Jihan.


"Ada di belakang." jawab adik Jihan.


"Saya permisi ke belakang sebentar Tuan, Nyonya." ucap Jihan.


"Iya." jawabku dan tersenyum padanya.


***


Di belakang rumah, Ibu Jihan sedang mencuci piring.


"Bu, Jihan ada kabar baik." ucap Jihan pada Ibunya.


"Kabar baik apa?" tanya Ibu.


"Ma syaa Allah. Ibu senang sekali mendengarnya. Tapi..." Ibu terlihat seperti sedang memikirkan sesuatu.


"Tapi apa, Bu?" tanya Jihan penasaran.


"Tapi Ibu khawatir dengan keselamatan kamu di sana, Nak." jawab Ibu Jihan.


"In syaa Allah Jihan akan baik-baik saja, Bu. Kebetulan di depan ada Tuan dan Nyonya, Ibu bisa berkenalan terlebih dulu dengan mereka. Mereka orang-orang yang sangat baik. Nanti saja Jihan yang lanjutkan mencuci piringnya." ucap Jihan.


Kemudian Jihan dan ibunya pun pergi menemui Rizky dan Aura.


"Tuan, Nyonya, ini adalah Ibu saya." ucap Jihan memperkenalkan Ibunya.


Aura dan Rizky pun mencium punggung tangan Ibu Jihan. Meskipun Aura dan Rizky adalah majikan Jihan, hal itu tidak mengurangi rasa hormat mereka kepada orang yang lebih tua.


Adzan maghrib telahpun berkumandang, Rizky, Aura dan Kakek pergi melaksanan sholat di Musholla.


Begitu juga dengan Jihan, Ibunya dan juga ke dua Adiknya, mereka juga melaksanakan sholat maghrib di rumah.


Setelah sholat maghrib selesai, Ibu Jihan memberikan nasehat kepada Jihan.


"Nduk, kamu masih remaja. Pemikiran kamu juga belum dewasa. Dengarkan pesan Ibu baik-baik, jika nanti saat kamu kuliah ada pria yang mencoba untuk mengganggumu atau mendekatimu, kamu harus bisa jaga jarak dengan mereka." ucap Ibu Jihan menasehati.


"Baik, Bu." jawab Jihan.

__ADS_1


"Kamu nanti akan tinggal berjauhan dengan Bapak dan Ibu. Tidak ada yang akan mengontrol gerak-gerikmu, Ibu harap kamu bisa menentukan mana yang baik dan mana yang buruk. Ingat, jangan pernah mau pergi berduaan dengan laki-laki, apalagi laki-laki yang baru kamu kenal. Tidak semua orang baik dan tidak semua orang jahat. Tapi jika ada kesempatan yang bagus, orang baik pun bisa khilaf. Kamu mengerti kan apa yang Ibu maksud?"


"Iya, Bu. Jihan mengerti." ucap Jihan sambil mengangguk. "Jihan janji tidak akan membuat Bapak dan Ibu malu. Jihan juga tidak ingin mengecewakan Nyonya Muda yang sudah mau membantu Jihan menggapai cita-cita Jihan." lanjutnya.


"Syukurlah. Semoga kamu selalu dilindungi oleh Allah dimanapun kamu berada, Nak. Dan dijauhkan dari orang-orang jahat."


"Aamiin Allahumma Aamiin." sahut Jihan.


Lalu Ibu Jihan memeluk putrinya itu dengan penuh kasih sayang.


Mother was your door to this Dunya.


Mother will be your door to Jannah.


Take care of this door.


***


Setelah selesai sholat maghrib di Musholla. Aku dan Bang Rizky berpisah dengan Kakek. Kami pergi berkeliling jalan kaki untuk mencari tempat makan yang diberitahu Kakek.


Ternyata tempat makan yang Kakek beritahu adalah tempat makan yang termasuk unik dan juga romantis.


Gajebo yang ada terpisah dari Gajebo-gajebo yang lainnya. Atap Gajebo terbuat dari daun rumbia, dinding terbuat dari bambu dan aku mebyebutnya tepas, lantai Gajebo papan yang di beri alas tikar. Benar-benar terlihat seperti suasana kampung. Di tambah lagi lampunya yang remang-remang. Setiap meja juga di beri satu lilin sebagai penerang tambahan.


Aku dan Bang Rizky memutuskan untuk makan di tempat ini.


"Bang....." ucapku.


"Ada apa?" tanya Bang Rizky.


"Itu ada tempat yang bagus untuk foto." jawabku.


"Mana?" tanya Bang Rizky lagi.


"Itu, yang bentuknya seperti sangkar burung." jawabku sambil menunjuk tempat yang aku maksud.


"Oh itu. Ayo kita ke sana." ajaknya.


"Iya." sahutku.


Aku dan Bang Rizky pergi ke tempat sangkar burung itu berada. Aku meminta Bang Rizky untuk memfotoku.


"Mau saya tolong fotokan, Mas?" ucap salah seorang pelayan pada Bang Rizky.


"Boleh." jawab Bang Rizky dan tersenyum.


Lalu Bang Rizky mengahampiriku. Pelayan tersebut pun memfoto kami beberapa kali.


Setelah selesai, pelayan tersebut membawa kami ke salah satu Gajebo dan menyodorkan buku menu. Lalu Bang Rizky memesan beberapa menu untuk kami berdua.


Setelah menunggu lebih kurang lima belas menit, makanan kami datang. Aku dan Bang Rizky sangat menyukai semua masakannya.


Bukan hanya tempatnya yang cantik, tapi pelayanan dan rasa masakannya juga sangat memuaskan.

__ADS_1


Terima kasih pada Kakek yang sudah memberitahu kami tempat makan ini.


__ADS_2