
Kak Agatha membalas senyumku dengan senyumnya yang manis. Senyum yang terukir di bibirnya selalu bisa mewakili kata-kata semangat yang tak terucapkan.
"Jadi niat kamu sudah mantap untuk mempersuntingnya?" tanya Kak Agatha memecahkan keheningan.
"In syaa Allah mantap, Kak." jawabku dengan penuh keyakinan.
"Bagus donk kalau begitu. Kapan rencananya kamu serahkan proposal ini?" tanyanya lagi.
"Secepatnya, Kak. Menurut Kakak proposal ini sudah bagus atau masih ada yang perlu di revisi?"
"Kalau menurut Kakak sih sudah bagus. Isinya juga lengkap. Bahasa yang di gunakan juga bagus. Yaaa, sudah tidal perlu di revisi lagi."
"Tidak ada yang perlu di tambah lagi kan, Kak?" tanyaku lagi untuk memastikan.
"Ada." jawabnya.
"Apa itu, Kak?" tanyaku penasaran sambil mengernyitkan dahiku.
"Tulis di situ sejak kapan kamu mulai suka sama dia. Pasti dia bakalan melting deh, kalau tau kamu sudah suka sama dia sejak sepuluh tahun yang lalu."
"Ah, tidak perlu, Kak. Cepat atau lambat dia juga bakalan tau."
"Iiihhh... So sweet tau." ucapnya dan mencubit pelan lenganku.
"So sweet bagi Kakak. Bagi dia belum tentu."
"Ya sudah, terserah kamu saja. Nanti kalau mau ketemuan sama dia, jangan lupa bawa bunga ya." ucap Kak Agatha.
"Hah? Bunga? Buat apa, Kak?" tanyaku merasa heran.
"Biar so sweet donk! Cewek itu paling suka di beri bunga. Contohnya Kakak." ucapnya bangga.
"Humm.. Apa iya, Kak?" tanyaku, merasa kurang yakin dengan pendapatnya.
"Tentu!" jawabnya tegas.
"Next time saja deh, Kak. Rizky belum tau sifatnya Aura seperti apa? Belum tau juga apa yang dia sukai? Kalau nanti dia alergi bunga bagaimana? Bisa berabe, Kak."
"Benar juga sih yang kamu katakan." ucapnya sambil manggut-manggut. "Jadi kapan kalian ketemuan?" lanjutnya.
"Nanti Rizky tanya dulu dia bisanya kapan."
"Owh, ok."
"Nanti Kakak bisa ikut menemani kami? Segan kalau mau ketemuan berdua. Nanti yang ketiga set*n, hehe." ucapku cengengesan.
"Kalau Kakak ikut, Kakak jadi orang ketiga. Ntar malah Kakak yang jadi set*nnya. Hehe." ucapnya tertawa kecil dan menutup mulutnya dengan tangan kanannya.
"Astaghfirullah.. Kenapa malah berfikir seperti itu sih, Kak?" ucapku kaget.
"Hahahahhh.. Bercanda." ucapnya dan tertawa lepas. "In syaa Allah Kakak ikut, tapi Kakak bawa Rasya dan Bella juga. Kalau tinggal di rumah nanti tidak ada yang menjaga mereka. Ayah mereka setiap hari kerja shift pagi." sambungnya.
"Iya Kak, bawa saja. Tidak masalah itu. Nanti Kakak dan dua keponakan Rizky kenalkan sama Aura." Ucapku semangat.
__ADS_1
"Ok deh. Kabarin saja kapan dan dimananya." ucap Kak Agatha. Aku menganggukkan kepalaku.
"Kamu tidak memberitahu Ummi sama Abi dulu sebelum menyerahkan proposal ini?" tanya Kak Agatha.
"Rencananya sih mau memberitau Ummi sama Abi, tapi takut nanti malu kalau di tolak."
"Hahahahh." sahutnya.
"Jadi Rizky putuskan untuk memberitau Ummi sama Abi nanti saja kalau mau melamar secara resmi ke rumahnya." sambungku.
"Oh gitu. Iya juga sih." ucapnya.
"Om, ayo naik odong-odong. Sudah lama Bella tidak main." pinta keponakanku yang tiba-tiba menghampiri kami.
"Iya, Om. Rasya juga kepingin naik odong-odong." timpal Rasya.
"Ya sudah, siap-siaplah. Kita pigi naik odong-odong." Ajakku.
"Asyyyiiikkk." ucap mereka berdua serentak dan penuh semangat. Mereka berdua terlihat begitu bahagia.
"Ma, ayo ganti baju Bella." pinta Bella pada Mamanya.
"Ganti baju Rasya juga, Ma." ucap Rasya menimpali.
"Iya, ayo masuk kamar." ajak Kak Agatha.
Kemudian mereka bertiga masuk ke dalam kamar. Aku pindah duduk di depan TV. Aku mencari-cari siaran, tapi tidak ada acara yang menarik bagiku.
Akhirnya aku rabahan sambil memainkan gawaiku. Aku buka aplikasi biru berlogo F dan menulusuri timelineku.
Ternyata mataku tidak salah lihat. Teman lamaku Sidik, mengunggah sebuah foto baru dan mengetag nama akunku. Foto undangan pernikahan dirinya dan wanita yang tidak pernah aku kenal.
Segera aku like dan aku tinggalkan komentar.
"Ma syaa Allah. Saya di langkahi ya, Sid. Barakallah, semoga lancar sampai hari H. Jadi keluarga yang sakinah mawadah warohmah. Aamiin." tulisku.
Aku lihat di kolom komen, sudah banyak yang mengucapkan selamat dan mendo'akannya.
"Om, ayo pergi. Kami sudah siap." ajak Bella.
"Oh, ok." jawabku.
Lalu aku bangkit dari ribaanku dan menghampiri mereka. Aku menuntun tangan Rasya, sedangkan Bella bersama Mamanya.
Kamipun pergi menuju tempat permainan anak-anak. Karena lokasinya tidak jauh dari rumah Kak Agatha, kami berempat hanya jalan kaki saja.
Sesampainya di sana, Rasya dan Bella pun langsung naik odong-odong.
"Kapan aku bisa melihat anakku sendiri yang naik odong-odong seperti ini?" ucapku dalam hati sambil memperhatikan Rasya dan Bella.
"Ky." panggil Kak Agatha.
"Ah, iya, Kak." sahutku sedikit kaget.
__ADS_1
"Sini duduk, ngapain melamun di situ." pintanya.
"Tidak apa-apa, Kak. Rizky berdiri saja." ucapku.
"Oh, ya sudah kalau begitu." sahutnya.
Setelah main dua putaran, akhirnya Rasya dan Bella turun dari odong-odong. Aku pun membayar pada penjaganya.
"Berapa, Pak?" tanyaku.
"Dua orang anak untuk dua putaran jadi Rp.20.000.00." jawabnya
"Oh, ini, Pak." ucapku sambil menyerahkan selembar uang berwarna hijau. "Terima kasih, Pak." lanjutku.
"Terima kasih juga, Nak." ucapnya.
Kemudian kami pergi menghampiri Kak Agatha yang sedang asik menikmati es dawet.
"Ma, Bella mau esnya."
"Rasya juga mau, Ma."
"Tidak boleh, tadi Rasya dan Bella sudah makan es krim. Nanti demam banyak-banyak minum es." ucap Mamanya.
"Tidak, Ma. Hiks hiks hiks." ucap Bella yang mulai merengek.
"Nanti tidak demam, Ma." timpal Rasya coba membujuk Mamanya dengan memasang wajah sedih.
"Kalau Mama bilang tidak boleh, berarti tidak boleh!" ucap Kak Agatha tegas.
"Beli somay saja mau?" tanyaku coba membujuk mereka berdua.
"Iya, beli somay saja ya. Kalau somay boleh, Mama izinkan." sahut Kak Agatha.
"Iya." ucap Bella mengangguk. Bella memang anak yang cengeng, tapi mudah di bujuk. Berbeda dengan Abangnya yang keras dan manja.
"Rasya maunya es, Ma." ucap Rasya masih kekeuh mau es dawet.
"Ya sudah, Om beli somay untuk Bella saja. Rasya tidak beli apa-apa." ucap Mamanya.
"Huwaaaaa.." Rasya memulai drama menangisnya.
"Tadi mau main odong-odong sudah di turutin. Lain kali jangan ajak keluar lagi ya, Om." ucap Kak Agatha.
"Huuuwwaaaaaaaaaaass..." tangisan Rasya makin keras.
"Rasya sudah gede jangan cengeng gitu. Malu!" bujuk Mamanya. Tapi Rasya masih nangis.
"Sudah Bang, jangan nangis." pujuk Bella.
"Lihat tuh, Adiknya yang nenangin Abangnya. Malu lah." ucap Kak Agatha lagi. "Kalau Rasya tidak diam, nanti Mama cubit nih." ancam Mamanya. Akhirnya dia diam.
Aku pun pergi meninggalkan mereka sebentar untuk membeli somay dua bungkus.
__ADS_1
"Ini somaynya sudah Om beli. Satu buat Bella, satu buat Rasya." ucapku sambil menyerahkan bungkusan somay satu persatu pada keponakanku.
Setelah Rasya berhenti menangis dan mau melupakan es dawet, kami pun pulang ke rumah. Kemudian Aku menemani mereka menikmati somay yang tadi aku beli.