Istikharah Menyatukan Kita

Istikharah Menyatukan Kita
Taktik


__ADS_3

Satu minggu kemudian..


Orang tua Marsya datang ke rumah Rizky untuk membicarakan tanggal pernikahannya dengan Marsya.


Kak Agatha juga datang bersama anak-anaknya.


Rizky berada di teras belakang rumah sedang berbicara dengan seseorang melalui ponselnya.


“Kak, bagaimana kabar Ibu?” Tanya Rizky pada Kak Mea.


Sebulan setelah hilangnya Aura, Bu Ayu merasa sangat kehilangan. Ia tidak mau lagi tinggal dirumah itu karena bayang-bayang Aura selalu ada dipelupuk matanya. Bu Ayu bahkan tidak mau kembali ke rumahnya sendiri, lagi-lagi alasannya karena hal itu akan mengingatkannya pada Aura sehingga ia tidak bisa melalui hari-harinya tanpa kesedihan.


Akhirnya Mea meminta izin pada suaminya agar Ibu bisa tinggal bersama mereka.


Setelah Rizky selesai berbincang-bincang dengan Kak Mea, Kak Agatha menyapanya.


“Ky.” Ucap Kak Agatha sembari menepuk pundak adiknya dengan lembut.


“Eh, Kakak. Sudah lama datang?” Tanya Rizky.


“Belum, baru saja.” Jawab Kak Agatha sambil tersenyum. “Sebelum kita kembali ke depan, ada hal yang ingin Kakak tanyakan.” Lannjutnya.


“Hal apa itu Kak?”


“Apa kamu sudah yakin dengan keputusanmu ini? Kakak lihat calon istrimu itu biasa-biasa saja, sepertinya tidak mengerti tentang agama, tidak menutup aurat dengan benar bahkan dia tidak memakai jilbab.” Ucap Agatha tidak senang. “Lalu bagaimana jika nanti Aura kembali? Kita belum pernah mendengar berita kalau ia sudah meninggal, kita juga belum pernah melihat makamnya. Selama ini Kakak selalu merasa bahwa ia baik-baik saja. Hanya saja kita belum mengetahui keberadaannya.” Lanjutnya panjang lebar dengan mimik wajah yang sedih.


“Ini semua demi Ummi, Kak. Ummi ingin melihat Rizky bahagia dengannya. Bahkan Ummi juga meminta Rizky untuk mendidiknya.”


“Ternyata begitu.” Kak Agatha menggut-manggut. “Jadi kamu juga tidak menyukainya sama seperti Kakak?”


“Iya, tentu saja. Aura tidak akan bisa digantikan dengan siapapun, apa lagi wanita seperti dia.” Jawab Rizky dengan mantap. “Lagi pula seperti yang Kakak katakan tadi, bagaimana kalau ternyata Aura masih hidup dan kembali ke sini.” Rizky menarik nafas dalam-dalam dan menghembusnya perlahan. “Hari itu sangat Rizky nantikan.” Lanjutnya pelan.


“Apa kamu ingin Kakak membantumu untuk membatalkan perjodohan ini?” Tanya Kak Agatha menawarkan bantuan.


Rizky mengangguk penuh harap.


“Ok, ayo ikut Kakak. It’s show time.” Ucap Agatha dengan tatapan penuh taktik.

__ADS_1


Rizky mengikuti Agatha kembali ke ruang tamu dan duduk bersama Ummi.


“Kalian berdua ini, dari mana saja?” Tanya Ummi.


“Kami? Tentu saja habis melepas rindu.” Jawab Agatha sambil tersenyum.


“Oh ya, Mi. Tadi kami berdua ngobrol panjang lebar dibelakang dengan Rizky. Kami juga sudah mengambil keputusan.” Lanjut Agahta.


“Oh ya? Keputusan apa itu?” Tanya Ummi penasaran. Bahkan Marsya dan kedua orang tuanya juga ikut penasaran.


“Kami berdua memutuskan untuk menyumbangkan 90% harta warisan Abi ke berbagai macam yayasan. Salah satunya adalah panti asuhan dan juga panti jompo.” Ucap Agatha dengan mantap. “Sisa 10% lagi akan kami bagi menjadi dua. Rizky 5% dan saya 5%.” Lanjutnya.


Rizky dan Agatha sudah tidak sabar menunggu reaksi Marsya.


Sungguh, rencana Kakaknya ini tidak pernah ia pikirkan. Mungkin saja mereka memang mengincar harta.


“Loh, kenapa begitu?” Tanya Bu Ajeng tak senang.


“Kami memiliki banyak alasan kenapa kami melakukannya, salah satunya agar Abi selalu mendapatkan cucuran rahmat dari harta yang kami habiskan dijalan Allah dan mejadi pahala jariyah baginya.” Jawab Agatha.


Bu Ajeng dan Marsya saling menatap.


“Baguslah kalau begitu.” Sahut Agatha sinis.


Agatha menatap Rizky. Dari tatapan matanya ia ingin menyampaikan pada Rizky permintaan maafnya karena sudah gagal membantunya untuk tidak menikahi Marsya.


Rizky membalas tatapan Kakaknya dengan senyuman yang hangat, ia sama sekali tidak menyalahkan Kakaknya.


“Setelah aku menjadi istrimu nanti, aku akan menggagalkan rencana kalian itu, enak saja ingin membuang harta dengan sia-sia.” Ucap Marsya di dalam hatinya dengan penuh emosi.


Setelah selesai menentukan tanggal pernikahan, Marsya dan kedua orang tuanya pamit untuk pulang.


Diperjalanan..


“Nak, apa kamu yakin ingin membiarkan Rizky menghabiskan hartanya seperti itu? Kalau dia nanti jatuh miskin, untuk apa kamu menikah dengannya? Apa kamu lupa tujuan kamu menikah dengannya?” Bu Ajeng ngomel panjang lebar. Dalam benaknya hanya brrfikir tentang harta yang terbuang sia-sia.


“Mama tenang saja. Aku tidak akan membiarkan hal itu terjadi. Jika Rizky mudah terhasut oleh Kakaknya, itu artinya aku juga bisa mengendalikannya.” Jawab Marsya. “Aku kira dia itu orang yang cerdas, tapi ternyata hanya berbincang beberapa menit saja dengan Kakaknya ia dengan mudahnya menyetujui usulan Kakaknya itu.” Lanjutnya meremehkan kecerdasan Rizky.

__ADS_1


“Baguslah kalau kamu berfikir seperti itu. Mama kira kamu sudah dibutakan oleh cinta.” Ucap Bu Ajeng.


“Loh, siapa juga yang cinta sama dia?” Ucap Marsya sok jual mahal.


“Tapi tidak bisa aku pungkiri, Rizky memang memiliki wajah yang sangat tampan. Wanita mana yang tidak akan jatuh hati padanya? Dan aku adalah orang yang beruntung bisa menikah dengannya.” Lanjutnya didalam hati.


“Yakin kamu nggak jatuh cinta sama dia?” Goda Papanya.


“Ih, Papa apaan sih?” Ucap Marsya malu.


Mama dan Papa hanya bisa tertawa melihat ekspresi wajah anak semata wayang mereka.


***


Malam hari di rumah Rizky..


“Mi, apa Ummi yakin ingin menikahkan Rizky dengan wanita seperti dia? Ummi lihat sendirikan bagaimana ekspresinya saat mendengar kami ingin menyumbangkan 90% harta warisan Abi.” Ucap Kak Agatha. “Padahal itu hanya taktik kami saja, tidak serius.” Lanjutnya.


“Iya. Ummi tidak habis pikir, kenapa mereka bisa merasa tidak senang seperti itu.” Ucap Ummi merasa bersalah.


“Apa kita tidak bisa membatalkan pernikahan ini, Mi?” Tanya Kak Agatha lagi.


“Apa boleh buat, nasi sudah menjadi bubur.” Sahut Ummi.


“Maafkan Ummi.” Ucap Ummi pada Rizky.


“Ummi tidak perlu meminta maaf.” Ucap Rizky dengan lembut dan mendekap Ibunya.


“Apa Ummi lupa? Bukankah Rizky sudah pernah mengatakan pada Ummi bahwa Rizky tidak memiliki kemantapan hati untuk menikah dengannya setelah Rizky melaksanakan sholat istikharah beberapa kali. Itu artinya Rizky tidak berjodoh dengannya. Kita tunggu saja dan lihat bagaimana Allah akan menggagalkan prnikahan ini nantinya.” Rizky coba menenangkan hati Ummi.


“Hanya satu bulan saja lagi, Mi. Setelah itu kita akan terbebas dari mereka.” Lanjut Rizky.


“Tapi bagaimana jika tidak terjadi apa-apa?” Tanya Kak Agatha.


Rizky menarik nafas dalam-dalam dan menghempaskannya.


“Jika tidak terjadi apa-apa. Maka Rizky yang akan membatalkannya pada saat pernikahan.” Jawab Rizky, lalu ia menatap Ummi. “Tapi jika hal itu terjadi maka Rizky pasti akan membuat Ummi merasa malu dihadapan para undangan.” Lanjutnya pelan.

__ADS_1


“Tidak apa-apa, Nak. Ummi tidak keberatan dari pada Ummi menyesal seumur hidup karena salah memilihkan pasangan untuk anak Ummi.” Ucap Ummi dengan penuh kasih sayang sambil memegang pipi Rizky.


__ADS_2