
Kesibukan pagi di ruang rapat gedung pusat Pradipta corp. pada awal bulan terlihat jelas. Raut wajah tegang menghiasi para direktur perusahaan yang dinaungi Pradipta Grup. Mereka tengah bersiap untuk presentasi kinerja triwulan, jika stagnan, cacian yang akan diterima, jika menurun bukan saja caci maki tapi bisa juga ditambah dengan pencopotan jabatan sebab alasan yang diberikan tidak memuaskan presdir, namun apabila naik maka bonus triwulan siap-siap masuk di rekening.
Diantara para direktur yang tengah duduk, nampak Bona yang serius menatap kertas yang digenggammya, walaupun teman baiknya adalah presdir disini, ia tetap harus mengikuti rapat evaluasi karena hampir setengah saham di klub malam miliknya adalah milik Pradipta Corp.
Di seberang Bona ada seorang wanita cantik tinggi semampai yang membolak-balikkan berkas di depannya, dia adalah Ramona Citra Riguna, direktur salah satu perusahaan Pradipta Corp. di bidang fashion. Di sebelahnya duduk lelaki paruh baya berkacamata, Sebastian Riguna, ayah Ramona sendiri. Ia sudah lama bekerja sejak mendiang ayah presdir yang sekarang masih hidup.
"Tuan Rayyendra, akan segera memasuki ruangan rapat." Info dari sekretaris presdir di pintu rapat.
Tanpa disuruh semua yang ada di dalam ruangan berdiri menyambut presiden direktur yang usianya masih di bawah tiga puluhan namun mampu memegang kendali perusahaan raksasa ditangannya.
Langkah kaki Firza selaku wakil presdir masuk ke ruang rapat mendahului Presiden Direktur Pradipta Corp. Firza menampakkan sedikit senyum dengan kewibawaan yang nyata. Beda halnya Rayyendra, ia melangkah tegap, aura dingin langsung tercipta, serta wajah tanpa senyuman dengan bahasa tubuh yang mengatakan 'jangan coba-coba kau bermain-main denganku' membuat wajah-wajah peserta rapat yang sedari tadi tegang menjadi makin menegangkan.
Bukan hal sulit bagi seorang Rayyendra mengintimidasi para direktur ketika rapat, dengan kuasanya sebagai CEO ia bisa melakukan apa yang ia mau, untuk urusan bisnis dan kinerja perusahaannya dia tidak tebang pilih dan tidak memiliki toleransi, jika memang hitam ya hitam, putih ya putih, tidak ada keabu-abuan baginya.
🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀
"Kau sih enak Yan, gak perlu merasakan ketegangan di ruang rapat tadi." Bona melonggarkan dasinya di sofa, di ruang presdir Rayyendra. Abyan hanya tersenyum tipis.
"Kau ini kaku banget sih kalau bukan di klubnya Bona, Yan." Mona menimpali.
Abyan lagi-lagi hanya tersenyum tipis lalu menjawab "Saya hanya berusaha profesional Nona."
Ray pun tergelak. Ia baru saja mendapatkan angin segar setelah kepanasan memarahi petinggi-petinggi perusahaan akibat tidak dapat memuaskan evaluasi darinya.
"Sayang ... kau begitu jahat tadi memarahi ayah habis-habisan. Dia sangat malu." Mona merajuk mendekati kursi dimana Ray duduk di belakang meja kerjanya.
"Salah ayahmu sendiri. Selalu merugikan perusahaan." Ray menjawab cuek.
"Tapi kan dia calon mertuamu. Masa kau tidak bisa berbelas kasih sedikit saja." Mona sudah duduk di atas meja menghadapkan tubuhnya ke depan Ray.
Ray melipat tangannya di dada, lekat ia menatap manik kekasihnya.
"Kau tau, kan? bagaimana aku bersiteru dengan Firza karena ayahmu yang hampir menghancurkan perusahaan di London. Itu saja sudah menampar profesionalitas kerjaku. Aku juga menanggung malu di depan para direktur dengan mengampuni ayahmu, alih-alih dipecat dan mengganti semua kerugian perusahaan, Sebastian malah ku selamatkan dengan menjadi direktur salah satu perusahaan di dalam negeri."
Suara Ray pelan namun penuh tekanan yang berarti sekali lagi kau berulah maka tamat riwayatmu. Mona mengerti itu, perlahan ia bangun dari duduknya dan kembali ke sofa, tadinya ia mau merayu Ray untuk ayahnya, namun sekarang ia urungkan niatnya.
"Hehehehehe.... tahu rasa kau ... lihat saja klubku yang profitnya tidak naik tidak juga turun, habis aku dimarahinya tadi, malah kau membela ayahmu yang kian merosot. Itu sama saja asmaramu jadi taruhannya." bisik Bona.
Air muka Mona seketika langsung berubah. Ia sama sekali tidak rela mempertaruhkan hubungan asmaranya dengan Ray yang sudah susah payah ia dapatkan. Mendapatkan status kekasih dari presdir Pradipta Corp. sama saja menaikkan prestise Ramona dengan drastis. Segala kenikmatan duniawi sudah ia genggam, ia tinggal mempertahankan saja dari godaan wanita lain. Tapi ia rasa tidak perlu khawatir karena wanita yang ada dalam hidupnya hanya Nyonya Besar dan dia sendiri. Ahhhh..... betapa senangnya membayangkan ia akan menjadi pendamping resmi presdir Pradipta corp.
"Mon, berterimakasihlah pada Ray karena ia mengijinkan Abyan membantumu menangani perusahaanmu, kalau tidak, habis kau dikuliti lebih parah dari ayahmu." Bona masih menyambung kalimatnya.
Ramona melirik Ray yang masih duduk menghadap laptop kerjanya dengan ragu. Memang tidak bisa dipungkiri, keterlibatan Abyan di perusahaan yang ia pimpin atas seijin presdir untuk melindunginya karena Mona tidak terlalu paham manajemen dan seluk beluk dunia bisnis. Sedari kecil ia terbiasa menjadi tuan putri di keluarganya, hidup lebih dari berkecukupan yang keperluannya sudah siap sedia di depan mata. Alangkah sempurna hidupnya jika kehidupannya ditutup sebagai Nyonya Rayyendra Putra Pradipta.
"Ray, untuk menghilangkan kepenatan, mari kita bersenang-senang malam ini," ajak Mona.
"Aku tidak punya waktu malam ini." Jawaban singkat nan tegas Ray membungkam bujuk rayu kekasihnya.
Mata Mona yang awalnya berbinar seketika menjadi redup. Kalau sudah begini, tidak ada satupun yang bisa membantah. Abyan paham bahasa tubuh Tuannya, kemudian ia mempersilakan Bona dan Ramona segera meninggalkan ruangannya.
"Arrrgggghhhh....!!! Kenapa dia tidak duduk manis saja di rumah atau melakukan hal-hal yang memang bisa ia lakukan ketimbang ngurusin perusahaan. Kalau kamu melakukan semua yang harus dikerjakan Mona, mending kamu saja yang menggantikannya, Yan."
Ray benar-benar gerah dengan sikap Ramona. Semenjak Ray resmi didapuk menjadi presdir, entah kenapa Ramona terus merengek meminta 'tempat' di Pradipta Corp. Setelahnya hanya kerugian saja yang dilaporkan, sebab itu ia menginstruksikan Abyan untuk menjalankan perusahaan yang Ramona pimpin sekaligus melindungi kekasihnya dari rasa malu saat rapat evaluasi. Nama kekasihnya itu hanya diatas kertas, ia hanya menikmati brand produk fashion Pradipta corp. dengan sesuka hati.
"Kalau begitu ditukar saja posisinya, Tuan. Saya jadi direktur dan Nona Ramona yang menjadi asisten Tuan, saya rasa kekasih Tuan pasti akan sangat senang menerimanya."
"Jangan harap!"
Rayyendra melemparkan mouse laptopnya dengan sebal, Abyan menangkapnya sambil tertawa.
🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀
__ADS_1
"Litha, apa kamu tidak bosan menemaniku? Atau hanya karena upahnya, kamu menebalkan daun telingamu itu?" tanya Nenek Dayyu suatu sore di taman sebelah barat rumah utama, seperti biasa menantikan matahari bersembunyi di balik malam.
"Hahahahahahaha....... Siapa yang tidak akan bertahan dengan gaji sebesar itu, Nek. Terima kasih banyak ya Nek, sudah membantu Litha menyambung hidup dengan sangat lebih baik bahkan Litha bisa nabung, semoga Nenek sehat-sehat selalu, biar uang Litha nambah terus hehehehehehe...." Litha memeluk lengan Nenek Dayyu dengan manja.
"Anak ini ditanyain serius, jawabnya becanda."
"Lah emang bener kok Nek, Litha gak munafik, Litha realistis aja sih, Nek. Tapi diluar itu semua, Litha senang bisa menemani Nenek ngobrol bahkan Litha sampai curhat kehidupan Litha hahahahahah...."
Nenek Dayyu menggeleng-gelengkan kepalanya, merasa geli dengan jawaban Litha.
"Litha disini jauh dari ibu, harus kuliah sekaligus memikirkan biaya-biaya yang banyak macamnya. Litha tidak punya teman selain Ninda karena dia teman sekamar kost. Jadi Litha memang sangat senang ngobrol sama Nenek." Litha menatap netra tua Nenek Dayyu.
Nenek Dayyu mengangguk sembari tersenyum, menepuk tangan Litha yang dilingkarkan di lengannya. Ia melihat ada ketulusan di mata gadis ini. Kepolosannya sangat menghiburnya namun di sisi lain ketegarannya menapaki kehidupannya membuatnya kagum.
"Hehehehehe...... harusnya aku yang cerita banyak kepadamu, ini malah kau yang curhat. Tidak sopan ...." Nenek Dayyu mencubit hidung mancung Litha gemas.
"Menyenangkan ya, Nek, udah curhat, dibayar tinggi pula. Habisnya, Nenek juga yang salah, kenapa selalu memintaku yang cerita mengenai kehidupanku yang tidak ada bagus-bagusnya. Nenek sendiri sampai sekarang pun tidak pernah menceritakan apapun padaku selain perasaan rindu terhadap almarhum Kakek dan Tuan Nicolas, perasaan sayang tiada tara untuk Tuan Firza dan Tuan-- "
"Ahhhhh..,.. beratnya mulut ini menyebut Tuan Muda Congkak itu." Litha menggerutu sendiri dalam hati, mukanya mengkerut.
Nenek Dayyu merasa aneh Litha menggantungkan kalimatnya ditambah mukanya yang tiba-tiba seperti orang yang lagi mulas.
"Tuan siapa?!?" Nenek Dayyu sengaja mengagetkan Litha dengan suara agak keras dan menepuk tangannya.
"Tuan Muda Congkak!!!" Litha menyebutkan tanpa berpikir. Sedetik kemudian ia menutup mulutnya dengan kedua tangannya, shock, dan kedua matanya terbelalak.
"Haaahhhh..... apa--:aku menyebut cucu kesayangannya apa? Duhhhh.... mati aku .... "
Litha terlambat menyadari apa yang sudah dia keluarkan dari bibirnya, dia hanya bisa merutuki dirinya sendiri dengan memukul-mukul kepalanya.
"Bodoh ... bodoh ... bodoh!!!" gumamnya.
"Hahahahahahaha....." Nenek Dayyu tertawa sangat keras melihat gadis di sampingnya bertingkah demikian.
Nenek Dayyu perlahan berdiri melihat kedepan, masih tertawa namun tidak sekeras sebelumnya.
"Hahahahaha.... aku sudah lama sekali tidak menyebutnya seperti itu hahahahaha...."
"Maaf, Nek." Suara Litha pelan, dia menundukkan kepala menunjukkan sikap menyesal.
"Dulu aku menyebutnya demikian." Nenek Dayyu jeda sedikit, kemudian ia lanjutkan kembali kalimatnya.
"Di hari aku mengangkat Firza secara resmi sebagai cucu angkatku, Ray yang waktu itu masih SD sangat marah padaku, dia tidak mau bicara padaku, hanya Pak Is satu-satunya di rumah ini yang bisa berbicara dengannya."
Sekali lagi Nenek Dayyu menghentikan kalimatnya. Dia menarik nafas berat, sebenarnya ia tidak mau menceritakan hal yang menjadi luka di hati cucunya.
"Aku menyebutnya Tuan Muda Congkak selama dia mendiamkan neneknya ini. Aku tahu dia sangat tidak rela membagi neneknya dengan orang asing, tapi Nenek melakukannya untuk kebaikannya sendiri agar tidak manja, agar ia tahu di dunia ini tidak hanya ada dia seorang. Dia bersekolah di rumah tanpa teman, tentu sulit mendapatkan teman, hanya para pelayan yang menuruti semua kemauannya."
Suara Nenek Dayyu memelan, ada parau terdengar disana. Litha tahu ini salahnya, dengan sigap ia menghapiri Nenek yang berdiri, diajaknya duduk kembali.
"Nek, Litha ambilkan minum ya, Nenek duduklah dulu."
Tanpa persetujuan Nenek Dayyu, Litha langsung bergegas ke dapur mengambil air minum.
🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀
# Di dapur rumah utama #
"Pak Is, siapa itu yang tertawa?"
Firza terkejut mendengar suara tawa keras milik neneknya, ia berusaha mengingat kapan terakhir tawa lepas itu didengar dari neneknya. Tidak-- tidak pernah ia mendengarnya selama ia menjadi cucu Keluarga Pradipta.
__ADS_1
"Tawa keras Nyonya terakhir ketika Tuan Muda ulang tahun diusianya yang keempat, waktu itu Tuan Muda bermain pukul balon dan isinya, serpihan kertas warna-warni mengenai Tuan Besar dan Nyonya Besar," jawab Pak Is seakan tahu apa yang dipikirkan Firza.
Pak Iskhak telah bekerja di keluarga ini sejak remaja, ia mengetahui benar sejarah di rumah utama. Sangat jarang ada tawa yang begitu keras di dalam rumah ini, semuanya nampak serius, terlebih ketika berita hilangnya Namada Airlines di Lautan Hindia muncul di siaran berita TV. Namun sekarang justru di usia senjanya Nyonya Besar menemukan kembali tawanya yang dulu, tawa bahagianya.
Untuk beberapa saat Pak Is maupun Firza tenggelam dalam pikiran mereka masing-masing, hanya karena gelak tawa keras dari Nyonya Besar, betapa sedihnya hidup memiliki kekayaan layaknya gunung tetapi tidak cukup mampu mengangkat tawa pemiliknya.
"Pak Is, permisi, saya mau mengambil minum buat Nenek." sahut Litha sopan.
"Ah ... ya, baik Nona, silahkan."
"Apa yang kau ceritakan dengan Nenek sampai dia tertawa seperti itu?" tanya Firza penasaran, ia sungguh ingin tahu, dirinya yang sudah dipelihara sampai sebesar ini saja belum bisa menyenangkan Neneknya seperti yang Litha lakukan barusan.
"Tidak ada," jawab Litha singkat sambil menuangkan air putih ke gelas.
"Hei ... ayolah ... jangan kau simpan rahasiamu sendiri. Aku sudah belanja bahan masakan buatmu, kau bisa memasaknya untuk makan malam tapi buatlah juga untukku." Firza menunjuk kantong belanjaannya.
"Banyak sekali ... benar aku boleh memasaknya?"
Firza hanya tersenyum dan mengangguk.
"Terimakasih Tuan ... nanti malam Tuan mau makan apa?"
"Tuan-- masih memanggilku Tuan? Nyonya Besar saja kau panggil Nenek, tidak elok, aku kau panggil Tuan."
"Jadi, aku harus panggil apa?" Litha bingung bola matanya keatas menandakan dia sedang memikirkan sesuatu.
"Panggil aku kakak!" Firza menjawab cepat dan keras. Entah kenapa ia merasa gugup, baru kali ini gerak antara tangan dan kakinya bergerak tanpa pernah dari otaknya, bergerak tidak karuan, detak jantungnya berirama dengan sangat cepat seperti bunyi drum bum... bummmm... bummmmmm...., pipinya terasa agak memanas.
"Tuan ... " Pak Is menyadari perubahan pada diri Tuan Mudanya, ia tidak pernah melihat Tuan mudanya seperti itu salah tingkah dengan pipi yang memerah dan tersenyum canggung.
"Baiklah, aku ke kamar dulu." Firza yang mengetahui ada yang tidak beres pada dirinya segera meninggalkan pandangan Litha, penyebab segala perubahannya barusan.
"Akhir-akhir ini Tuan Muda Firza sering datang ke sini pulang kantor, tapi hanya bertemu Nenek saat makan malam, trus pulang ke apartemennya, kenapa tidak sekalian tidur disini, kan, ada kamarnya di rumah ini, apa yang dia hindari dimalam hari di rumah ini ya?" tanya Litha ke Pak Is, Firza sudah lenyap dari pandangannya.
"Banyak hal yang tidak kau ketahui Nona... Rumah ini begitu banyak kesedihan, luka di hati tiap penghuninya yang mungkin saja belum kering hingga sekarnh." Pak Is menjawab dalam hati, sengaja agar gadis itu tidak bertanya-tanya lagi.
"Apa Tuan Muda Firza takut hantu ya? Kan rumah ini besar sekali Pak Is, bisa saja pernah suatu malam Tuan melihatnya hiiiiiii..... hiiiiiiii......" Litha menjawab pertanyaannya sendiri dengan imajinasi bocah. Kemudian ia berlalu meninggalkan Pak Is membawa segelas air untuk Nenek Dayyu.
"Hahahahah..... pantas saja Nyonya Besar bisa tertawa keras, hahahahahhaha.... sejak kapan penghuni rumah ini takut hantu, yang ada hantu takut pada mereka hahahahaha....." kini giliran Pak Is yang tergelak menggelng-gelengkan kepalanya.
"Tapi tidak pernah Tuan Firza seperti itu, dan kenapa ia ingin dipanggil kakak. Ah ... Nona kau memang banyak mengubah penghuni rumah ini, jangan-jangan kau itu hantunya sendiri hahahaha..." Pak Is masih belum berhenti bergumam.
🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀
"Nek, Litha benar-benar minta maaf."
"Tidak Litha, kamu tidak salah. Itu penilaian yang jujur. Nenek menghargainya."
"Tapi tidak seharusnya Litha menyebutnya seperti itu."
"Heheheh... kalau begitu ayo kita menyebutnya bersama."
Litha melongo tidak percaya dengan apa yang didengarnya. Nenek Dayyu sama sekali tidak marah, bahkan menganggapnya hal yang lucu. Belum hilang ketidakpercayaan Litha, Nenek Dayyu sudah berhitung memberi aba-aba.
"Tuan Muda Congkak!!" sahut Nenek Dayyu berbarengan dengan Litha.
Litha refleks menutup mulutnya lagi.
"Hahahahahahaha......" gema tawa Nenek Dayyu dan Litha beriringan dengan tenggelamnya matahari di ufuk barat.
Dari jendela kamar, sepasang mata memandang mereka. Di satu sisi ia iri sekaligus bahagia, keberadaan gadis muda itu membawa gelak tawa pada seseorang yang telah lama terkungkung rasa pilu dan di sisi lainnya ia merasa hampa karena ia merasa gagal membalas budi baik seseorang, ia telah kalah... melawan gadis yang membuat jantungnya tidak bisa terkontrol.
__ADS_1
- Bersambung -