
Litha masih dibayang-bayangi ketakutan akan dua sosok lelaki yang menyergapnya. Hampir saja ia kehilangan mahkotanya, harta paling berharga yang selama ini ia jaga. Tidak bisa dibayangkan kalau sampai terjadi padanya, bisa jadi Litha akan seperti kakaknya yang hidup dalam dunianya sendiri.
Litha sudah lelah menangis tapi ia juga tidak bisa tidur, matanya terus terjaga. Menjelang subuh baru ia bisa memejamkan matanya. Ninda yang sekilas mendengar cerita dari mulut sahabatnya ikut bergidik ngeri.
"Tidurlah, Tha. Aku akan menjagamu."
Litha hanya mengangguk pelan dan matanya perlahan terpejam. Nafasnya teratur, ia mulai tertidur.
# Menjelang siang #
"Nin, aku ke rumah Nenek Dayyu dulu ya ...."
"Lho, kamu sudah baik-baik saja?"
Litha mengangguk.
"Aku sudah bisa lebih tenang, Nin. Aku harus bisa mengatasi suasana hatiku. Yang jelas sekarang aku harus lebih waspada."
"Tha, menurutmu ada orang yang sengaja melakukannya atau menyuruh preman-preman itu?"
"Entahlah, Nin. Aku tidak mau mengingatnya lagi, itu membuatku takut. Aku ingin menjalani hari-hari seperti biasa."
"Untung ada Tuan Muda, Tha."
"Ya ... aku harus berterima kasih padanya, bahkan dia meminjami jasnya."
Litha menguatkan hatinya yang sebenarnya tengah rapuh. Wanita mana yang tidak trauma jika mengalami percobaan pemerkosaan. Tapi, Litha tidak ingin berlarut-larut, dikuat-kuatkan hatinya karena jika ia terpuruk, bagaimana nasib ibu, kakak dan adik perempuannya.
Mau tidak mau ia harus tegar, ada waktu menangis sedih, ada juga waktu untuk berhenti. Baginya mahkotanya belum ternoda sudah sangat disyukurinya.
# Di Rumah Utama #
"Pak Is, tadi malam Nenek berkata sesuatu tidak?" tanya Litha begitu melihat Pak Is. Ia takut, Pak Is dipecat gara-gara dia yang tidak memuaskan hati Nyonya Besar.
"Tidak ada, Nona. Tadi malam Nyonya pulang langsung masuk ke dalam kamarnya untuk beristirahat."
"Syukurlah, Pak Is masih kerja di sini kan?" tanya Litha penuh selidik.
"Tentu saja, Nona. Ada apa?"
Pak Is semakin bingung dengan Litha yang selalu bertanya.
"Tidak ... tidak ada apa-apa. Oh, ya, Nenek dimana?"
"Nyonya Besar sedang keluar, Nona."
Mulut Litha membulat, lalu berkata, "Kalau begitu, selagi menunggu Nenek, saya ke Paman Tino dulu ya, Pak."
"Pak Tino lagi pulang kampung, mungkin lusa baru kembali kesini," sahut Pak Is sambil berlalu ke dapur.
"Loh, kok Paman pulang gak ngabari ya?"
Litha heran, karena selama ini ia selalu diberi kabar, minimal via telepon jika pamannya pulang kampung.
Disaat Litha masih memikirkannya, dari arah pintu depan sesosok pria menghampirinya.
"Bagaimana keadaanmu?" tanyanya.
"Baik, Tuan."
"Apa kau akan mengatakan kejadian semalam pada Nenek?"
"Tidak, Tuan."
"Kenapa?"
__ADS_1
"Saya hanya tidak ingin Nenek menanyakan lebih lanjut, karena kalau saya melakukannya Nenek akan cemas dan sayapun akan semakin sulit melupakan kejadian semalam."
"Heh! Kau percaya diri sekali Nenek akan mencemaskanmu."
Litha hanya tersenyum, sebenarnya hatinya sakit mendengar Tuan Muda Congkak ini mencelanya, namun bagaimanapun ia telah menyelamatkan hidupnya.
"Terima kasih, Tuan telah menyelamatkan saya. Saya berhutang budi pada Tuan.dan untuk jasnya saya akan mencucinya terlebih dahulu sebelum saya kembalikan."
"Hutang budi? Kira-kira kau akan membayarnya pakai apa?"
Litha diam, tidak harus menjawab apa. Dia memang harus lebih berhati-hati berbicara dengan Rayyendra.
"Suatu saat kau akan membayarnya," ujarnya lagi sebelum mengangkat telepon masuk.
"Halo Bon, ada apa?" Ray menjawab telepon masuknya.
Ray diam, mendengarkan lawan bicaranya, lalu berkata, "Ya sudah, jalan keluarnya gampang. Cari saja salah satu wanita yang kau kenal dan kenalkan dia sebagai calon istrimu."
Ray diam lagi.
Kini ponsel Litha yang muncul notifikasi pesan masuk.
'Litha, kau baik-baik saja? Aku ingin bertemu denganmu, aku dalam perjalanan pulang ke rumah utama,' pesan dari Firza.
"Bukankah tadi malam dia berada di London? Dia kan mengucapkan selamat ulang tahun dari sana. Kenapa sekarang ingin bertemu denganku? Kapan dia pulang?" bathin Litha.
🍀 flashback on 🍀
"Tuan, terjadi sesuatu pada Nona Litha ketika dalam perjalanan pulang," lapor seseorang melalui telepon.
"Apa Ray menyakitinya?"
"Tidak, Tuan. Justru Tuan Rayyendra yang menyelamatkan Nona Litha dari percobaan pemerkosaan. Sebenarnya saya ingin menolong Nona Litha, tapi Tuan Rayyendra lebih cepat."
"Apa!?! Percobaan pemerkosaan katamu? Siapa yang melakukannya?"
"Ya sudah. Kau cari info siapa pelakunya dan motifnya, juga pastikan Litha dalam keadaan aman."
"Baik, Tuan."
Sambungan telepon ditutup. Firza menarik nafasnya dalam. London sedang memasuki musim dingin, tapi hatinya lebih dingin. Digeser layar ponselnya hingga nampak sebuah foto wanita dan pria sedang berdansa, digesernya lagi foto wanita bergaun peach berada di atas panggung. Dipandangi dalam foto itu.
"Litha, aku jatuh hati padamu." Diusapnya wajah Litha di foto itu.
"Tapi aku merasa kalau Nenek merencanakan sesuatu. Semoga dugaanku tidak benar, namun jika itu terjadi, aku benar-benar hancur, Litha."
Firza berbicara pada dirinya sendiri. Dipejamkan kedua matanya, membawa ingatannya saat ia berumur 13 tahun, saat ia menjadi anak gelandangan yang tidak punya rumah, orang tua bahkan kehidupan.
Firza Nathan Pradipta, diangkat sebagai salah satu Keluarga Pradipta oleh Nyonya Besar yang kala itu tidak sengaja menjatuhkan dompet di depan restoran. Firza, si anak pemulung tanpa orang tua memungut dompet itu dan berlari berusaha mengejar mobil Nyonya Besar.
Setelah kurang lebih 300 meter berlari, mobil yang dikendarai Pak Sas berhenti. Firza mengembalikan dompet tanpa satu kekurangan ke tangan Nyonya Besar. Saat itu Nyonya Besar kagum atas kejujuran dan kegigihan Firza, diajaknya tinggal di rumah utama, diberi pakaian, makanan dan kamar untuk beberapa saat.
Firza diperkenalkan dengan Ray yang lebih muda tiga tahun dengannya. Meski tidak bersekolah, Firza bisa membaca dan berhitung yang dipelajarinya sendiri dari orang-orang sekitarnya. Nyonya Besar lalu menjadikan Ray teman sekolah ketika Ray homeschooling. Ray saat itu yang tidak memiliki teman sangat senang dan akrab dengan Firza.
Nyonya Besar melihat keakraban Firza dan Ray sangalah dekat. Enam bulan kemudian, tanpa bertanya pada Rayyendra, Nyonya Besar mengangkat Firza secara resmi sebagai cucunya dengan nama Pradipta disematkan di belakang namanya. Ray yang mengetahui setelahnya sangat marah.
Sejak saat itu ia menuding Firza sengaja mendekatinya, akrab dengan dirinya karena ingin merebut kasih sayang neneknya. Ia tidak ingin membagi neneknya dengan siapapun. Ia marah pada Firza dan Nyonya Besar, ia mendiamkan neneknya selama tiga bulan dan Firza sampai sekarang.
Nenek Dayyu telah memberi harapan dan mimpi untuk Firza, maka tidak heran jika Firza sangat menyayangi Nyonya Besar melebihi dirinya sendiri. Tidak menjadi masalah jika selalu ia kalahkan egonya apabila menyangkut permintaan Nyonya Besar. Ketika itu ia sangat beruntung bisa mendapatkan kasih sayang, materi, dan cintanya pada seorang wanita melalui Nyonya Besar.
Namun, semakin kesini ia merasa ada sesuatu yang disembunyikan. Karena itu Firza menyuruh seseorang yang ia percayai untuk mengamati gerak-gerik Litha dan Nyonya Besar. Benar saja, peristiwa semalam di pesta ulang tahun telah menguatkan dugaan Firza.
Hatinya sakit mengetahuinya walaupun hanya berupa dugaan, tapi ia tidak menyerah, ia belum mau menyerah, selama Litha merasakan hal yang sama dengannya, Firza akan memperjuangkan cintanya melawan rasa hutang budi di pundaknya.
🍀 flashback off 🍀
__ADS_1
"Hei!!! apa yang kau lamunkan?"
"Tidak ... tidak ada, Tuan."
"Ah .... meladeni Bona curhat sangat membosankan. Apa susahnya dia mencari seorang wanita untuk berpura-pura jadi calon istrinya. Julukan flamboyan padanya selama ini ternyata tidak berguna huh!" omel Ray.
"Apa yang bisa kau lakukan untuk menghilangkan kebosananku?" tanya pada Litha.
Litha bengong, tidak tahu apa yang dimaksud dengan Tuan di hadapannya ini.
"Buatlah sesuatu yang menghibur. Kau sering menghibur Nenek, kan? Padahal Nenek itu sangat sulit untuk dihibur apalagi sampai tertawa. Sekarang bayar hutang budimu dengan membuatku terhibur!"
"Apa?!? Heh, Tuan Muda, kau kira aku ini wanita penghibur apa!"
Mata Litha berkeliling sampai ia menemukan semangkuk besar telur puyuh di atas meja dapur, entah untuk apa.
"Sebentar, Tuan."
Litha langsung berlari ke belakang mencari Pak Is.
"Pak Is, telur puyuh yang di dapur mau dipakai untuk apa?" tanya Litha.
"Oh iya, saya lupa menaruhnya dimana, padahal dari tadi saya mencarinya.Telur puyuh itu mau mau diolah untuk lauk makan siang para pelayan, Nona. Ada apa?"
"Apa telurnya sudah di rebus?"
"Iya, saya akan membawanya ke dapur bagian belakang rumah untuk dimasak."
"Pak Is, daripada saya bengong, tidak ada yang saya kerjakan, saya bantu kupas ya, nanti kalau sudah terkupas semua saya akan membawanya ke dapur belakang."
"Baiklah, kalau memang mau Nona seperti itu."
"Terima kasih Pak Is."
Ada rencana di otak Litha, ia tersenyum jahil.
"Lama sekali kau meninggalkanku sendirian di sini, kau mau kabur?" ujar Rayyendra sinis melihat Litha datang menghampirinya.
"Tentu tidak, Tuan. Mana berani saya kabur. Tuan, saya punya ide menarik untuk mengusir kebosanan Tuan. Mari kita ke dapur, Tuan."
Rayyendra mengikuti saja dari belakang, Ia terkejut ketika Litha menyodorkan semangkuk besar berisi telur puyuh ke hadapannya.
"Apa ini?"
"Ayo kita berlomba siapa yang paling banyak mengupas telur puyuh sampai telur di mangkok ini habis."
Alis Rayyendra mengkerut, seumur hidupnya tidak pernah ia mengupas telur, apalagi telur ukuran mini.
"Pemenangnya berhak mengajukan satu permintaan apapun yang tidak boleh ditolak dan berlaku kapan saja."
"Benarkah?" Mata Ray memicing.
"Menarik." bathinnya.
"Permintaan apapun?"
Litha mengangguk.
"Baiklah. Setuju."
Litha mengambil mangkuk bersih untuknya dan untuk Rayyendra. Dia memasang stopwatch, bersiap mulai.
"Kau akan kalah, Tuan. Tangan bangsawanmu itu tidak terbiasa menyentuh kulit telur hahahahahaha....." Litha mengejek dan tertawa dalam hati.
"Bersiaplah dengan satu permintaanku! Kau kira aku tidak tahu apa yang ada di otakmu itu hah!!!"
__ADS_1
- Bersambung -