
Ninda sudah berada di depan pintu masuk Amore Club&Party tapi ia dicegah masuk oleh bodyguard yang pernah meminta KTPnya sewaktu pertama kali kesini.
"Apa aku harus menunjukkan KTP ku lagi?"
"Maaf Nona, kali ini Nona tidak diperkenankan masuk karena Nona terlalu suci." Boy mencegah Ninda di pintu masuk klub sesuai perintah bosnya.
"Terlalu suci?"
"Ya, itulah yang dikatakan Bos. Nona terlalu suci di tempat ini."
"Preeettt !"
Dengan merengut kesal Ninda akhirnya menunggu Bona di samping Boy. Hari ini ia baru saja selesai menjalani sidang skripsi, artinya beban berat di pundaknya sudah terangkat. Dia ingin mentraktir Bona sebagai ungkapan terimakasih karena selama ini Bona-lah yang membantu menyusun tugas akhir kuliahnya, Bona juga ikut sibuk menyusun, memberi saran dan menungguinya konsultasi di dosen pembimbing. Biasanya ada Litha yang selalu membantunya tapi setelah cinta berkembang di antara Litha dan Tuan Muda, ia sungkan meminta bantuan. Ia bahagia melihat Litha menemukan kebahagiaan bersama suaminya, jadi Ninda tak ingin mengganggunya.
Bona pun tahu hari ini adalah hari spesial buat gadis yang sering membuatnya kesal dan acapkali bertengkar, tapi selalu ia rindukan. Bona menyuruh Boy untuk mencari kemeja warna pink, warna yang kemarin membuatnya terpesona pada Abyan. Ia akan memberi Ninda kejutan untuk menembaknya kembali. Moment ini sangat pas, makanya Bona tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini. Hal inilah yang membuat Bona melarang Ninda masuk ke dalam klubnya, ia khawatir Ninda akan bertemu atau melihat Renata karena artis FTV baru itu hampir tiap malam menyambangi klubnya. Renata bisa men-trigger kepanikan Ninda akibat memori masa lalu dan Bona sangat menghindari itu.
"Maaf, Nin. Membuatmu menunggu, kau juga tidak mau ku jemput sih."
Mata Ninda menatap lekat Bona, terlebih lagi kemeja yang dipakainya. Bukan kebiasaan Bona memakai baju berwarna terang selain biru, abu-abu dan coklat. Begitu juga dengan Boy yang merasa aneh dengan bosnya, tiba-tiba ingin mengenakan warna kalem seperti itu.
"Bon, kamu pakai ba--"
"Yuk ah, kita jalan," sela Bona cepat melihat Boy menahan tawa melihat ia mengenakan baju pilihan Si Boy. Tangan Ninda ditarik sampai ke mobilnya dan ia membuka pintu untuk segera masuk ke dalam mobil sebelum orang lain melihatnya.
"Bon, gak salah kamu pakai baju itu?"
"Eng ... eng ... ba-- bagus gak?"
Jantung Bona berdebar berkali-kali lipat cepatnya sampai tangannya dingin berkeringat. Tidak pernah sebelumnya ia seperti ini, rasanya tak sanggup kakinya menginjak gas melajukan mobil. Otaknya lumpuh tak bisa berkoordinasi dengan motorik tubuhnya.
"Emmm ... " Ninda menggantungkan kalimatnya.
Jantung Bona kian melompat tidak karuan, kesana kemari seperti orang yang melakukan parkour -- aktivitas yang bertujuan untuk melewati rintangan dengan efisien dan secepat-cepatnya -- di jalanan.
"Apa kau menyukai warna itu?" tanya Ninda, ia tidak menjawab pertanyaan yang Bona tunggu jawabannya.
"Warna pink ini." Bona menunjuk kemejanya sendiri, "Tentu tidak. Tapi bukankah kau menyukai laki-laki yang mengenakan sesuatu berwarna pink?" tukas Bona, agak sebal karena Ninda tidak kunjung menjawab pertanyaan yang membuat jantungnya berlarian dan berlompat-lompatan, sungguh menyiksa.
"Haaa ... "
Mata Ninda terbelalak, memperhatikan lagi warna kemeja Bona sampai ia menyalakan fitur senter di ponselnya guna memberi cahaya lebih terang untuk meyakinkan matanya bahwa kemeja Bona berwana pink.
"Kau yakin ini pink?" tanyanya geli. Bona mengangguk.
__ADS_1
Huahahahahaha ....
Tawa Ninda memantul di dalam mobil yang belum juga jalan tapi mesinnya sudah dihidupkan dari tadi, menarik perhatian Boy dari kejauhan di pintu masuk klub.
Muka Bona memerah, menahan malu, ia sudah bisa menebak jawaban yang dinanti-nantikannya dan ia kecewa akan jawaban itu.
"Sebaiknya aku ganti baju kalau warna pink ini tidak cocok untukku." Bona membuka pintu mobil hendak kembali ke ruangannya berganti baju, namun lengannya ditahan Ninda dan masih sambil tertawa ia bilang, "Hahahaha ... Siapa bilang tidak cocok."
Bona mengernyit heran, "Lalu kenapa kau tertawa seperti itu?"
"Karena bajumu bukan warna pink, hahahahaha ..."
"Bukan pink?"
"Itu warna salem, Tuan Bona Santoso, huahahahahaha ... "
"Booooyyy ... !!!" pekik Bona dalam hati dengan malu yang membubung tinggi.
"Warna salem memang campuran antara pink dan orange, tapi lebih dominan ke orange," jelas Ninda masih dengan sisa tawanya, "Kenapa juga kau ingin memakai baju warna pink."
"Untuk menarik perhatianmu, dasar tidak peka!"
"Kau ingin aku memujimu dengan warna pink seperti Asisten Yan kemarin?" tuding Ninda langsung.
Untungnya cahaya dalam mobil remang-remang, wajah merah Bona tidak begitu nampak. Ia tidak pernah se-malu ini dalam hidupnya.
"Kan, aku sudah bilang, tidak semua pria cocok mengenakan warna pink. Warna pink bisa menambah aura bagi yang cocok, sedangkan bagi yang tidak cocok akan terlihat aneh, dan dirimu salah satunya, ti-dak-co-cok." Ninda memberi penekanan di akhir kata. "Tapi ... kau cocok dengan warna salem itu, terlihat sangat manis. Apa kau tidak menyadari bahwa aku juga memakai blus warna salem?"
Mata Bona menelisik Ninda, dan benar, kini mereka seperti pasangan dengan baju couple. Tak pelak Bona menertawai dirinya sendiri.
Tok ... Tok ... Tok ...
Bona menurunkan kaca mobilnya yang diketuk.
"Bos, apa ada masalah?" tanya Boy dengan menundukkan kepalanya hingga sejajar kepala Bona.
"Tidak ada. Aku hanya sedang ngobrol sebentar dengannya." Bona menjawab pertanyaan Boy dan selanjutnya berbisik, "Asal kau tahu ini bukan pink tapi sa-lem! *W*hatever that is, terimakasih Boy." Bona menepuk pundak bodyguard berkulit gelap itu.
"Siap, Bos."
Boy kembali ke tempat semula setelah Bona melajukan mobilnya.
__ADS_1
.
.
.
Ninda menikmati makan malam dengan Bona, seseorang yang belum jelas statusnya. Dekat tapi tidak memiliki hubungan apapun kecuali teman, tapi juga lebih dari hubungan seorang teman. Bona nyaman berada di dekat Ninda, dan Ninda juga senang berada di dekat Bona.
"Nin, apa kau mau jadi pacarku?" tanya Bona sambil memotong steaknya.
"Haiiisss ... Kau menanyakannya lagi. Sudah kubilang aku tidak mau main sandiwara lagi, aku cukup senang dengan pertemanan kita sekarang," ujar Ninda juga memotong steaknya.
"Aku tidak bilang main sandiwara kan?"
"Memang tidak."
"Lalu kenapa kau mengira aku mengajakmu main sandiwara padahal aku bersungguh-sungguh mengatakannya?"
Ninda menghentikan makannya dan mengambil gelas untuk minum, "Oh ya? Kau benar mengatakannya dari hatimu?" tanya Ninda setelah menghabiskan air minumnya, dilihatnya lelaki tampan itu dengan lekat.
"Tentu saja." jawab Bona masih mengiris daging steaknya.
"Kalau begitu tunjukkan kesungguhanmu. Aku lelah. Aku mau pulang sekarang. Kau tidak usah mengantarku, aku bisa pulang sendiri." Ninda berdiri dan memundurkan kursi, meraih tasnya lalu beranjak pergi meninggalkan Bona.
"Nin, Ninda! Tunggu! Kenapa pergi?" teriak Bona berusaha mengejar Ninda yang berjalan sangat cepat. Teriakan Bona mengundang perhatian di sekitarnya, mereka layaknya pasangan yang lagi bertengkar.
"Shitt! Kenapa dia cepat sekali menghilang? Apa dia sudah naik taksi?" kata Bona celingak-celinguk mencari gadis mungil itu di depan pintu restoran.
"Tuan ... Tuan ... ini ada pesan dari Nona yang baru saja keluar, yang warna bajunya sama dengan Tuan." Seorang pelayan memberinya secarik kertas dengan tulisan tangan.
Kau yang bayar. Aku tidak jadi mentraktirmu.
"Aaaarrrrgggghhhh ... Nindaaa!!!"
.
.
.
Sementara itu, gadis mungil berbaju warna salem bersembunyi di balik salah satu mobil yang terparkir di area parkir, ia menggerutu sangat kesal dan marah.
"Enak saja aku membayar makanan laki-laki yang menembakku sambil berlari dan memotong steak! Coba kalau dia sedikit lebih serius mengatakannya mungkin aku bisa menganggapnya juga lebih serius. Ah, Bona ... brengsek!!!"
__ADS_1
Meskipun begitu, hatinya lebih merasakan sakit ketimbang kesal dan marah.
- Bersambung -