Istri Wasiat Tuan Muda

Istri Wasiat Tuan Muda
Hadiah Ulang Tahun


__ADS_3

Sejak kehadiran Vania, suasana di rumah utama semakin ramai. Dia sangat 'berisik' mengganggu tugas-tugas Pak Is dalam melayani Tuan dan Nyonya Pradipta, selalu ingin tahu. Seperti pagi ini dia masuk melalui pintu dapur rumah utama ke ruang keluarga dengan tergesa-gesa, tempat Litha bercengkrama dengan Bibi Rima, sedangkan Paman Tino melepas rindu dengan teman-teman sesama pelayannya dulu di rumah belakang.


"Bibiiiii ... Kakak, Pak Is memborong kelapa muda satu truk."


"Hehehe ... sejak sebulan yang lalu secara berkala Pak Is memang membeli banyak kelapa muda untuk aku minum setiap pagi sebelum memakan apapun. Tapi ternyata banyak pelayan dan penjaga juga menyukainya, jadi aku bilang kalau beli jangan hanya untukku tapi untuk mereka juga, dan mereka boleh minum kapanpun mereka mau."


Bibi Rima melongo mendengarnya, Vania pun sama, "Kak Litha hebat jadi juragan kelapa muda. Aku mau ah, aku minta ya Kak."


"Katakan saja pada Pak Is, nanti ia akan menyuruh pelayan menyediakannya."


Vania bersorak kegirangan, ia berlari ke belakang lagi. Bibi Rima geleng-geleng kepala melihat kelakuan keponakannya itu


"Tha, Bibi tidak menyangka Tuan Muda memperlakukanmu sebaik ini."


Litha terkekeh sambil mengambil potongan buah segar dalam mangkuk yang ia taruh di atas perutnya, "Sangat baik, Bi."


"Bibi tenang jadinya, ia bisa melindungimu. Satu kekhawatiran Bibi terangkat satu, tinggal Tisha dan Vania."


"Kekhawatiran apa Bi?"


"Kekhawatiran hidup dengan baik tentunya. Apalagi?"


Litha merasa jawaban bibinya lebih dari sekedar memastikan mereka hidup dengan baik, ada sesuatu yang disembunyikan.


"Kalau cuma hidup dengan baik, kekhawatiran Bibi sudah terangkat semua. Mas Rayyendra juga memperhatikan Kak Tisha dan Vania. Bahkan tiap minggu aku mendapat laporan medis secara terperinci tentang perkembangan kesehatan Kak Tisha dari dr. Siska."


"Ya. Bibi tidak menyangka Tuan Muda bersungguh-sungguh saat mengucapkan janjinya pada kami."


"Janji apa?" Lith menghentikan kunyahan buahnya.


"Saat dia meminta izin pada kami untuk menemuimu di rumah sakit. Ungkapan penyesalan karena telah menyakitimu dan janji untuk membahagiakanmu. Dia mengatakan semua itu dengan menundukkan kepalanya di depan Bibi dan Paman."


Tringg ...


Garpu yang dipegang Litha terlepas dari tangannya, "Bibi kenapa tidak pernah cerita hal ini padaku? Apa Bibi tahu dia tidak pernah menundukkan kepalanya pada orang lain, kecuali--" Litha senyum-senyum sendiri, "Kecuali padaku."


"Hahaha ... menunduk padamu di bagian mana, Litha? Hahaha ... "


"Haissshhh ... Bibi!" Pipi Litha langsung memerah, malu.


"Terus terang, awalnya Bibi hanya mempercayainya 50% karena kalian menikah atas wasiat dan kontrak."


Bibi Rima terlihat serius mengatakannya, ia lanjutkan lagi kalimatnya, "Bahkan selama kalian tinggal di Kota A Bibi belum bisa mempercayainya penuh karena disana ada kami yang menjagamu. Tapi Bibi selalu berdoa agar penyesalan dan janji yang pernah dia ucapkan, akan menancap kuat di hati Tuan Muda selamanya. Sekarang, Bibi yakin 100% Litha."


Litha meletakkan mangkuk berisi potongan buah ke meja dan mengambil tangan Bibi Rima, ditatapnya lekat manik wanita yang sudah ia anggap seperti ibunya sendiri, "Bi, Mas Rayyendra sangat menyayangi dan mencintaiku. Dia sangat menjagaku dan anak kami. Dia suami yang sangat baik dan kelak menjadi ayah yang sangat baik juga. Dia kepala keluarga yang paling baik, Bi."


Litha mengulang-ngulang kalimatnya meyakinkan bibinya bahwa suaminya adalah yang terbaik. Ada kaca-kaca di mata Bibi Rima, ia mengelus lembut perut Litha, "Bibi bahagia, Tha. Kau sangat mirip ibumu ketika hamil, sangat suka makan sampai pipinya gembul. Anehnya cuma pipi dan perut yang membesar, badannya sedikit berisi tapi tidak menggemuk."


Litha sangat bahagia, kehadiran Paman Tino, Bibi Rima dan Vania dari Kota A melengkapi kebahagiaan ulang tahunnya besok. Suaminya sangat memahami apa yang diinginkan Litha tanpa mengatakannya. Ah, ia lupa ... suaminya kan Alien.


...***...


# Gedung Kantor Pusat Pradipta Corp. #


Sasha mengetuk pintu ruang Presdir dan membukanya, "Tuan Muda, Nona Ramona ingin bertemu."


Abyan menghentikan kegiatannya di depan laptop. Selama menjadi Asisten Tuan Muda, Abyan tidak memiliki ruangan atau meja kerja, ia hanya memiliki satu lemari di sudut ruang Presdir untuk menyimpan berkas-berkas pekerjaannya. Sedangkan untuk bekerja ia selalu duduk di sofa. Ray tidak memperkenankan ia berada jauh darinya. Abyan adalah Asisten dalam segala hal, membantu mengurusi pekerjaan dan urusan pribadinya, tidak ada rahasia Ray yang tidak diketahui Abyan.


"Ya, masuklah," kata Ray tapi matanya tidak lepas dari layar ponselnya.


"Maaf Ray kalau aku mengganggu pekerjaanmu. Aku tadi sengaja membawa sendiri sample produk untuk keperluan iklan ke bagian kreatif, aku kesini ingin menyapamu," ujar Ramona tersenyum memperhatikan wajah yang ia rindui.


"Hem."


Mata Ray masih menatap layar ponsel sambil mengetik sampai-sampai tidak mempedulikan kehadiran Ramona, namun gadis itu menangkap senyum tipis di bibirnya.


"Selama aku mengenalmu, kau sangat jarang menyentuh ponselmu, semua kabar melalui Abyan. Sekarang apa yang membuatmu tidak teralihkan dari ponselmu, Ray? Aku disini. Paling tidak lihatlah aku sebentar saja."


"Ray ... "


Yang dipanggil masih saja menatap layar ponselnya, senyum-senyum sendiri. Abyan melirik sekilas, tangannya melanjutkan kembali pekerjaan tapi matanya tetap awas.


"Mona, aku kasihan melihatmu. Tapi kuharap kau juga bisa menerima takdir Tuhan. Cinta Ray dan Litha sangat kuat, kau tidak bisa memisahkan mereka dengan cara apapun. Kita tidak bisa selalu memiliki apa yang kita inginkan, ayo move on, Mon"


Abyan membathin tapi sebenarnya ia juga menyentil dirinya sendiri, menyukai seseorang yang telah dimiliki oleh seorang lainnya. Ia paham perasaan Ramona, tapi ia juga tidak bisa menolongnya. Satu-satunya cara adalah menerima bahwa hidup ini ada dalam kendali Sang Pengatur Kehidupan yang dinamakan takdir.


"Ray ... " panggil Ramona lagi, matanya sudah berkabut.


"Ray ... !" Abyan mengeraskan suaranya agar yang dipanggil dari tadi kembali ke alam sadar.


Ramona terperanjat, Abyan memanggil Ray dengan santai, "Bukankah kau seharusnya memanggil Tuan Muda, Yan? Apa kau lupa kalau Ray sangat marah disapa namanya olehmu di kantor?"


"Ya, Yan. Kenapa?" Ray mengangkat wajahnya dari ponselnya setelah mengetikkan sesuatu, "Eh, Mona, sejak kapan kau datang?" tanya Ray tanpa merasa bersalah.


Ramona mengepalkan tangannya kuat-kuat menahan bulir air jatuh ke pipinya, "Kau memang sudah tidak menganggapku ada sama sekali, Ray. Kau melupakan semua kenangan kita."


"Mona dari tadi menyapamu, tapi sepertinya kau sangat sibuk dengan ponselmu hingga tidak menyadari kedatangannya." Abyan peka dengan raut wajah Mona yang hempas.


"Ya, sepertinya kau sangat sibuk Ray. Aku hanya ingin menyapamu, sudah lama tidak bertemu," ucap Ramona masih berdiri di tempatnya, mencoba tetap tersenyum.


"Aku rindu padamu, Rayyendra," pilu Ramona di lubuk hati terdalam.


"Ah, ya. Abyan bilang kau sudah belajar banyak hingga laporan bulan kemarin Abyan tak lagi membantumu. Kau sudah mandiri sekarang, Mon. Bagus ... itu bagus untukmu," kata Ray bangkit dari kursinya.


Ramona tersenyum hambar, susah payah ia berusaha mengambil hati Rayyendra lagi dengan cara yang berbeda, mengerjakan tugasnya sendiri tanpa bantuan Abyan sebagai Direktur Prad's Fashion &Style agar Ray terkesan, tapi hanya pujian "bagus" yang ia dapatkan, kecewa.

__ADS_1


Ray melangkahkan kakinya ke arah Ramona, ingin memberikan apresiasi lanjutan atas usahanya. Ia tahu Ramona berusaha memperbaiki diri dan hidupnya dari kekecewaan yang dialami karenanya. Tapi baru maju tiga langkah instrument Rivers Flows In You milik Yiruma mengalun indah. Istrinya memanggil, itu nada panggilan khusus untuknya karena ia sangat menyukai instrument tersebut.


Lelaki bermata tegas itu kembali ke kursinya meraih ponsel. Ramona sudah tidak dapat menahan kaca-kaca dimatanya yang mulai meretak. Ia langsung pamit bersamaan dengan Ray menjawab panggilan dari istrinya yang ternyata panggilan video call.


Ramona segera keluar ruangan tanpa menunggu respon dari Rayyendra. Saat di lift, ia berkaca pada dinding lift, melihat dan mengasihani dirinya sendiri yang sudah mengalirkan airmata di pipi. Sungguh menyedihkan, ia tak lagi memiliki siapapun, diabaikan keluarga dan lelaki yang masih ia cintai dengan cinta yang tidak berkurang sedikitpun.


...***...


Sambil menunggu Ray mandi, Litha menyemprotkan parfum favorit suaminya ke pergelangan tangan, diusapkannya lalu diusapkan ke belakang telinga. Masih di meja rias, ia melihat pantulan dirinya tersenyum, dengan balutan lingerie baru berwarna pink muda yang suaminya berikan.


Polesan bedak dan lipstik warna pastel nan tipis membuat wajah Litha kian segar. Ia tersenyum malu-malu mengingat serangkaian chatnya dengan suaminya tadi siang.


Mas, terima kasih, sudah mendatangkan keluargaku dari Kota A. Aku bahagia sekali. #emoji_pelukan Apa ini hadiah ulang tahunku?


Anggap saja hadiah pembukaan. #emoji_kedip_mata


Aaaa ... berarti ada hadiah intinya ya? #emoji_kaget_membelalakan_mata Apa? Apa? Aku sudah lama tidak mendapatkan hadiah ulang tahun?


Menurutmu apa?


Rumah? Mobil? Saham? Set perhiasan? #emoji_tutup_mulut


Cih. Katanya tidak mau hadiah seperti itu. Kenapa sekarang malah berharap.


#emoji_tertawa_airmata


Kau menertawaiku, Nyonya Pradipta? #emoji_mengangkat_alis_sebelah


#sticker_tertawa_guling-guling


Nakal kau Litha!


Nakal kenapa? Pak Is sudah memberikan hadiah dari Mas. Ini kan? (fotonya dengan memamerkan lingerie baru)


#emoji_love Pakai nanti malam.


Untuk apa?


Kau bertanya lagi! Tentu saja untuk melayani Tuan Muda Suamimu.


Jiahhh #emoji_menepuk_kening Aku yang ulang tahun kenapa Mas yang meminta jatah hadiah?


#emoji_tertawa_terpingkal_pingkal


#emoji_merengut


Aku akan memberimu hadiah tambahan, pilihlah gaya yang kau mau, kali ini aku yang akan melayanimu, Istriku.


Aiihhh ... sama saja.


Tadaaaa ... aku perlihatkan sebagian saja dulu ya, biar ku rusak konsentrasi kerjamu (foto selfi dari wajah sampai bagian dadanya yang menyembulkan gundukan bukit berbunga)


Oh, Shitt! Kau benar-benar merusak pikiranku hari ini, Litha.


#emoji_kedip_mata


Lith, aku ada tamu, bentar ya.


....


Chat berakhir disaat Litha ingin lebih menggoda suaminya, "Ih, apaan sih! Tidak seru menghentikan tiba-tiba. Baiklah! Aku video call saja biar hancur sekalian pikiranmu hari ini."


Litha memanggil panggilan video call ketika Ray melangkahkan kakinya mendekati Ramona. Tentu saja ia memilih istrinya. Begitu panggilan video tersambung, jantungnya seakan meloncat ke luar jendela, terjun bebas tanpa parasut dan dengan cepat Presdir Pradipta Corp. itu langsung menutup sambungan video.


"Ah, sial! Litha ... kau sukses mengacaukan pekerjaanku hari ini," ia mengumpat dengan nafas yang memburu, sedetik kemudian ia melonggarkan ikatan dasi di lehernya, kepanasan di ruangan ber-AC.


Litha di seberang sana cekikikan puas melihat wajah kaget suaminya yang seperti terkena serangan jantung.


"Yan, apa aku punya agenda penting hari ini? Kalau tidak aku ingin pulang sekarang. Kepalaku tiba-tiba pusing," kata Ray sambil memijat keningnya setelah Ramona keluar ruangan.


"Dua jam lagi ada zoom meeting dengan Mr. Anderson. Kendalikan dirimu-- dan juniormu. Kau kira aku tidak tahu apa yang kalian bahas di chat."


"Sialan!"


Abyan hanya tertawa geli. Siapa lagi yang bisa membuat Rayyendra memegang ponselnya dan senyum-senyum sendiri kalau bukan istrinya.


.


.


.


Litha bangkit dari duduknya di depan meja rias. Dalam hatinya ia bersyukur, suaminya masih berhasrat dengannya meski perutnya semakin besar.


"Apa yang kau pikirkan sampai senyum-senyum sendiri, ha?" bisik Ray parau mendekap Litha dari belakang, tanpa busana melingkarkan tangan ke perut buncit istrinya. Ada sesuatu yang mengganjal di bokong Litha.


Rambut-rambut halus di lehernya meremang. Bisikan Ray tidak pernah gagal untuk membuatnya merinding, "Memikirkanmu. Memikirkan apakah Mas puas dengan caraku melayanimu dengan kondisiku sekarang."


"Tentu saja. Kalau tidak, tidak mungkin aku jadi candu begini. Melihat potongan gambarmu saja sudah mengacaukan hariku di kantor. Padahal tadi ada zoom meeting dengan Mr. Anderson. Kau tahu, pikiranku blank karenamu, untungnya ada Abyan dan Firza. Ah, kau ini memang--"


Litha membungkam mulut suaminya yang masih mengoceh dengan ciuman panas, tangannya merayap ke punggung dan leher. Ray tidak tinggal diam, tangannya menurunkan tali tipis yang melekat di bahu istrinya, meluruhkan lingerie hingga tiada lagi penutup badan. Tangannya bebas bertualang ke puncak gunung yang menantang dan lembah sempit yang tersembunyi.


"Lith, kenapa malam ini kau begitu agresif. Kau mau mengambil hadiahmu ya?" Nafas lelaki berpunggung tegap itu naik turun menatap siluet bentuk tubuh istrinya yang dipantulkan cahaya bulan di dinding kamarnya.


"Tidak-- Aku tidak mau-- mengambilnya-- kecuali Mas-- yang memberikannya-- sendiri padaku. Aku-- sudah menyediakan-- tempat terbaik-- untuk hadiah ulang tahunku."

__ADS_1


Entah kenapa suara Litha yang tersengal-sengal membakar hasratnya makin hebat. Bibirnya menyusuri leher, bahu, dada, mengecup lembut perut istrinya dan meminta izin pada bayi mereka untuk meleburkan rasa cinta dan sayang hingga sampai pada lembah yang selama ini menjadi sumber candunya.


Gigitan demi gigitan diselingi dengan suara rintihan pelan yang menusuk hasrat Rayyendra untuk menginginkan lebih. Ia tidak pernah bosan menjelajahi setiap inci kulit putih mulus nan terawat milik Litha, membuatnya ingin menandai wilayah kekuasaannya. Kekuasaan mutlak yang selamanya ia miliki, seperti ia menyatukan bagian paling perkasa tubuhnya ke dalam gua rahasia yang berada di lembah tersembunyi.


Ray berlutut di tepian ranjang. Ia memilih posisi edge of the bed yang aman dan nyaman untuk menghindari tekanan pada perut istrinya. Kata-kata cinta terdengar dari bibir kebas mereka berdua, saling memadukan hasrat yang makin memanaskan tubuh keduanya dan memacu adrenalin menyenangkan yang tiada habisnya. Ray sangat hati-hati memperlakukan tubuh Litha sebagai bentuk rasa sayangnya, dengan sesekali mengusap lembut perut buncit yang juga bergerak-gerak.


"Sayang, apa aku menyakiti my baby?"


Litha menggeleng, peluh sudah membanjiri keningnya.


"Mas, lepaskan dulu."


Ray bingung, "Kenapa? Sakitkah?"


Litha menggeleng pelan lagi, "Pokoknya lepaskan saja dulu. Mas sudah memberikan hadiahnya. Sekarang waktunya kutunjukkan tempat terbaik untuk hadiahmu. Cepat lepaskan dulu!"


Ray menurut saja meski ia masih bingung. Perempuan cantik itu mendorongnya ke ranjang, mengambil alih kendali atas tubuhnya. Dengan cepat Litha sudah berada di atas perut kotak-kotak dan bertumpu pada kedua lututnya. Menghentak, memutar dan memaju-mundurkan pinggulnya dengan perlahan yang membuat suara suaminya makin hebat meracau kata-kata cinta diiringi desa*han yang tak tertahankan. Tangannya mere*mas kuat bokong wanita yang ia gilai hingga Litha memekik dan memukulnya, "Sakit!"


"Habisnya gunung itu terlalu tinggi untuk ku daki sih, hehehe ..."


"Eh-- masih sempat bercanda ya?"


Litha menghentak sembari menjepit kuat hingga gelenyar kenikmatan menjalari tubuh keduanya.


"Lith-- pelan Lith, aaaaahhh ... "


"Mas, eenngghhhh ... "


Sebagai akhir pergulatan, Ray membalas hentakan Litha dengan hentakan yang berlawanan arah sekuat tenaganya. Hentakan itu membawa Litha terbang ke angkasa hingga menjerit, lalu pahanya mengejang kuat yang disertai irama denyutan indah di dalam gua. Begitu indah dirasakan Ray yang akhirnya juga menyusul istrinya ke angkasa dengan menyemburkan kehangatan di dalam rahim wanitanya.


Litha terengah-engah melepas penyatuan, peluhnya sudah membasahi seluruh bagian tubuhnya. Ray mencubit hidungnya dengan tersenyum, "Kau meletakkan hadiahku di tempat terbaik, Sayang."


.


.


.


Jam dinding kamar menunjukkan pukul 23.30 Ray mencium kening dan mengusap lembut punggung istrinya yang sudah berada di alam bawah sadar.


"Selamat ulang tahun, Istriku. Tidurlah, besok hari besarmu. Tampil lah dengan bersinar, Sayang. Tunjukkan dirimu sebagai Nyonya Pradipta, kuburkan semua ketakutan dan keraguanmu. Hanya kau yang pantas menjadi istri dan ibu anak-anakku."


"He-- eh."


Rayyendra tertawa melihat istrinya masih bisa diajak bicara ketika tidur. Ia menarik selimut untuk Litha dan mencium keningnya lagi sebelum beranjak ke ruang kerjanya memeriksa email dari Abyan yang berisi resume zoom meeting dengan Mr. Anderson.


"Kau memang penghancur konsentrasiku, Lith," ucapnya memandang istrinya dari pintu kamar.


Ray keluar kamar menuju ruang kerja, namun langkahnya terhenti saat melihat bayangan seorang perempuan paruh baya duduk sendiri di meja dapur. Ia membelokkan arah memastikan apa bayangan itu benar Bibi Rima, sesuai dugaannya atau hantu.


"Bibi, kau kah itu?"


Bibi Rima sangat terkejut mendapati suara tengah malam di rumah sebesar ini.


"I-- iya Tuan."


"Sudah kubilang ribuan kali jangan panggil aku Tuan. Apa yang Bibi lakukan tengah malam di dapur sendirian. Bibi tidak takut?"


"Hehehe ... Hanya mencari air minum." Bibi Rima menunjukkan gelas air putihnya "Apa Tuan takut melihat hantu?"


"Sedikit."


Bibi Rima tergelak, "Setidaknya Tuan tidak takut dengan manusia."


Giliran Ray yang tertawa dan membenarkan kalimat Bibi Rima.


"Emm ... Tuan, saya-- "


"Hentikan memanggil aku Tuan. Bibi Rima bukan pembantuku. Paman dan Bibi adalah orang yang sangat dihormati istriku, jadi akupun menghormati Paman dan Bibi."


"Ba-- baik. Apa Litha sudah tidur?"


"Litha sudah tidur, ia harus istirahat karena besok adalah hari besarnya."


"Emmm ... "


"Kenapa Bi? Apa ada perlu dengan Litha?"


"Emmm ... "


Bibi Rima maju mundur, apakah sekarang saat yang tepat untuk menceritakan siapa keluarga ibu Litha sebenarnya? Bagaimanapun juga Rayyendra berhak tahu silsilah keluarga istrinya, karena itu identitas anak-anaknya nanti.


Tapi apakah sekarang waktu yang tepat? Bibi Rima tidak bisa memprediksi reaksi Ray seperti apa setelah mengetahui semuanya, sedangkan besok adalah hari ulang tahun sekaligus wisuda Litha.


Bibi Rima bingung dan ragu karena dengan ia memberitahukannya pada Rayyendra, berarti tabir yang selama ini ditutup rapat oleh Asmarini dan Aryasena akan terbuka dengan segala resikonya.


- Bersambung -


❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️


Hai Kakak ...


Anggap aja ini double up ya, karena bab ini lebih 2500 kata 😅😅🙏🙏


Terima kasih masih setia di karya ini. Jangan lupa dukungannya ya Kak, sekalian ngingetin hari senin untuk vote-nya Kak 😁🙏

__ADS_1


__ADS_2