
Pasca surat wasiat resmi dibacakan, Rayyendra, Firza dan Litha memiliki keresahannya dan plot masing-masing.
*** Rayyendra ***
Rayyendra keluar ruang kerja dengan keadaan yang masih sangat shoc**k. Antara Nenek, pernikahan, Pradipta dan Litha kini memenuhi kepalanya.
"Sayang.... kau baik-baik saja?" sambut Ramona begitu melihat Ray keluar dalam keadaan yang tidak pernah ia lihat sebelumnya.
"Tuan ... Apa Tuan baik-baik saja?" giliran Abyan yang bertanya.
Pak Is dan Pak Sas saling berpandangan satu sama lain, air muka keduanya penuh kecemasan.
"Ya, aku baik-baik saja. Mona, tolong tinggalkan aku sendiri, jangan dekati aku sampai aku menghubungimu terlebih dahulu. Yan, kau atur bagaimana keadaan kantor, aku mau pulang sekarang dan juga jangan hubungi aku sebelum aku menghubungimu."
"Ray, ada apa? Kenapa tiba-tiba jadi begini?"
"Sudahlah Nona, tolong turuti perintah Tuan Muda."
Abyan menjauhkan tangan Mona yang mengguncang-guncang bahu Ray. Ia tidak tahu apa yang terjadi di dalam ruang kerja itu tapi ia tahu bahwa sesuatu yang diluar kendali Tuannya telah terjadi.
"Yan, lepaskan aku!!!"
"Mon, kau tahu kan, kalau Ray agresif dia seperti singa yang mengamuk," bisik Abyan di telinga Mona memperingatkan.
Mona tahu pasti sifat buruk Ray yang satu itu, dia bisa gila menghajar siapapun atau apapun yang didekatnya jika ada seseuatu yang memantik amarahnya. Perlahan Mona melunak, ia mengerti apa yang harus dia lakukan.
"Baiklah, kalau memang kau ingin sendiri Ray. Tapi kumohon padamu katakan padaku nanti apa yang terjadi padamu hari ini, oke?"
Ramona mengelus pipi Ray dengan hangat, lalu ia beranjak pulang ditemani Abyan. Disaat Ramona dan Abyan menghilang dari pandangannya, Ray berkata pada Pak Is dan Pak Sas yang masih setia berdiri dengan kepala tertunduk,
"Tolong jaga rumah ini dengan baik selama aku tidak berada disini."
Kedua pelayan kepercayaan Nyonya Besar itu mengangguk dengan kepala masih tertunduk.
Ray mengemudikan mobilnya sendiri menuju apartemennya, perasaan dan pikirannya sangat kacau dengan wasiat neneknya. Banyak pertanyaan mengapa, mengapa dan mengapa di benaknya.
Diguyur seluruh tubuhnya di bawah shower, berusaha mendinginkan panas di badan yang tidak terlihat. Lama ia membiarkan air dingin menyiramnya, namun tak juga ia merasa tenang.
"Aaaaaaarrrrrrggggggghhhhhhhhhhhhhh.........."
Raungan Rayyendra menggema di dalam kamar mandi. Ditinjunya tembok hingga buku-buku jari kekar itu berdarah. Tidak dirasakan sakit, karena hatinya jauh lebih sakit, dijodohkan dengan wanita lain yang bukan kekasihnya oleh mendiang Nenek yang ia cintai lebih dari nyawanya sendiri.
Tok .... Tok .... Tok ....
Pintu apartemen Rayyendra diketuk, dilihatnya dari lubang kecil di pintu, ada Abyan disitu.
"Aku kan sudah bilang jangan menghubungiku sebelum aku menghubungimu duluan."
Tetap saja Ray membuka dan menyilahkan Abyan masuk.
"Heh. Aku kesini bukan sebagai bawahanmu, tahu! Aku kesini sebagai temanmu," seru Abyan menunjukkan sebotol whisky pada Ray.
"Hah!!!"
Ray meninjunya sembari tertawa kecil. Baginya Abyan adalah separuh hidupnya, dia tahu dimana memposisikan dirinya, sebagai bawahan yang selalu menurut apa katanya dan sebagai sahabat yang selalu tahu apa yang ia butuhkan.
"Kenapa tanganmu?"
__ADS_1
Abyan melihat tangan kanan Ray diperban. Lalu diberikannya segelas whisky pada Ray yang duduk di depan TV. Ia sendiri tidak bisa minum minuman beralkohol. Itulah alasan Nyonya Besar mempercayakan pergaulan Ray di luar rumah padanya, karena Abyan selalu dalam keadaan sadar.
"Nenek berwasiat padaku untuk menikahi Litha."
"A-- Apa?!?"
Ray meneguk habis whisky digelasnya tidak peduli ekspresi kaget Abyan yang bukan kepalang. Ia meletakkan gelasnya dan melanjutkan kalimatnya,
"Aku harus menikahi Litha, jika aku menolaknya maka seluruh kekayaan yang dimiliki keluargaku akan jatuh ke Firza."
Abyan masih belum hilang kagetnya, kini tambah terkejut, bagaimana mungkin Nyonya Besar akan memberikan semua kekayaannya pada cucu angkatnya hanya karena menolak untuk menikahi gadis yang belum lama dikenalnya. Sebegitu pentingkah gadis itu bagi Nyonya Besar? Kira-kira begitu pertanyaan besar di hati Abyan.
"Kecuali --"
"Kecuali apa?" Abyan memburu dengan detak jantung yang lebih cepat dari biasanya.
"Kecuali Litha sendiri yang menolaknya."
"What?!? Damn!!!" maki Abyan.
"Lalu apa jawaban Litha? Dia mau menikah denganmu?"
"Di belum memberikan jawaban, dia diberi waktu tiga hari untuk menjawabnya, itu yang dikatakan Nenek pada Pak Prasojo ketika menulis wasiat itu."
"Hhhhhhhhhhhh...... Ini gila Ray ..."
"Ya, aku tahu ini hal tergila yang Nenek lakukan padaku, sialnya ini permintaan terakhirnya. Ditambah lagi ada resiko kalau aku menolaknya. Nenek tahu aku tidak bisa menolak karena Pradipta Corp. adalah hidupku."
"Nyonya Besar yang aku kenal selalu berpikir maju. Keputusannya hari ini sesungguhnya diperuntukkan untuk dua tiga waktu ke depan. Sayangnya kita tidak tahu apa yang Nyonya Besar pikirkan."
Ray mengangguk menyetujui pernyataan Abyan barusan.
"Apalagi selain menunggu jawaban Litha."
"Lalu Mona? Walaupun aku tidak begitu menyukainya tetap saja aku kasihan."
"Hhmmppfffhhh.... Jangan katakan apapun pada Mona, Yan. Tunggulah tiga hari kedepan, apapun itu akan aku selesaikan sendiri."
Ray menyandarkan punggungnya ke sofa melihat berita mengenai bursa saham. Berita kematian Nyonya Besar Pradipta, Sang Macan Betina Pradipta, cukup mempengaruhi saham perusahaan yang sempat turun. Ini membuktikan kemampuan Neneknya diakui di dunia bisnis secara global.
Hingga Abyan pamit pulang, Ray masih di posisinya depan TV, acara TV pun juga sudah berganti beberapa kali. Gundah di hatinya masih terasa, bahkan makin terasa ketika Abyan pulang. Tiba-tiba dia teringat tape recorder yang diberikan Pak Prasojo tadi siang. Pemberian terakhir Nenek untuknya.
Tombol Play ditekan, terdengar suara wanita yang seminggu ini Ray rindukan, rindu yang menyisakan penyesalan. Ah.....
Ray, cucuku tersayang, Tuan Muda Congkak yang semakin Nenek banggakan.
Kau telah tumbuh menjadi lelaki yang kuat, tidak lagi cengeng seperti waktu teman masa kecilmu mengatakan kau lahir dari buah kelapa dan nenek menemukanmu di dalam hutan.
Sampai disini, Ray menekan tombol Pause, sesak di dada membuncah keluar, ada titik di sudut matanya. Kembali dia lanjutkan rekaman suara neneknya.
Kau terus tumbuh semakin mengagumkan, bahkan jika kau hidup di masa Nenek masih muda, Nenek rasa, Nenek tidak akan menikahi Kakek karena Nenek jatuh cinta padamu.
Rayyendra Putra Pradipta, seorang pemimpin Pradipta Corp. di masa depan yang akan semakin dikenal dan disegani. Jadilah terhormat, bijaksana, tegas, dan penuh kasih.
Nenek begitu menyayangimu, Ray....
Rasa sayang Nenek tidak pernah berkurang padamu meski Firza hadir dalam kehidupan Nenek. Kau tetap mutiara yang menempati hati terdalam Nenek.
__ADS_1
Tidak pernah sekalipun keputusan yang Nenek ambil tanpa mempertimbangkan dirimu terlebih dahulu.
Kau tahu, Nenek masih menganggap kau bocah kecil yang angkuh meski sekarang kau masih tetap saja angkuh hahahahahaha......
Dulu, saat kau berusia sekitar lima tahun kau selalu merengek minta dinyanyikan sebuah lagu sebagai pengantar tidurmu. Apa kau masih ingat?
___________
You Are My Sunshine, my only sunshine
You make me happy when skies are gray
You'll never know dear, how much I love you
Please don't take my sunshine away.
The other night dear, as I lay sleeping
I dreamed I held you in my arms
But when I awoke, dear, I was mistaken
So I hung my head and I cried.
You Are My Sunshine, my only sunshine
You make me happy when skies are gray
You'll never know dear, how much I love you
Please don't take my sunshine away.
You Are My Sunshine, my only sunshine
You make me happy when skies are gray
You'll never know dear, how much I love you
Please don't take my sunshine away.
Please don't take my sunshine away.
Please don't take my sunshine away.
____________
Tangis Rayyendra pecah, sesenggukan menahan sesak dari tadi. Didekapnya tape recorder erat, seakan tidak ingin berpisah. Kenangan masa kecil menari-nari di kepalanya.
"Nenek, Nenek. Nyanyikan lagi...," rengek Rayyendra kecil membuka matanya.
"Kau cucu Nenek yang nakal. Kau berpura-pura tidur ya tadi...," sahut Nenek Dayyu menowel hidung mungil Rayyendra kecil.
"Sebenarnya aku sudah mau tidur, Nek. Tapi, nyanyian Nenek berhenti, makanya mataku otomatis terbuka. Mataku ini hanya bisa tertutup kalau Nenek menyanyikan lagu itu."
"Baik, baik. Nenek akan terus bernyanyi mengulang-ulang lagunya sampai kau tiba di alam mimpi."
Benar saja, Rayyendra kecil tertidur pulas mendengar suara merdu neneknya, seperti sekarang Rayyendra besar juga terlelap dengan suara tape recorder yang diulang-ulang.
__ADS_1
- Bersambung -