Istri Wasiat Tuan Muda

Istri Wasiat Tuan Muda
Bagaimana Rasanya Punya Ibu?


__ADS_3

Ramona seperti kesetanan mendengar penjelasan Ray tentang pernikahannya dengan Litha yang akan dilaksanakan tiga hari kedepan. Ia mengamuk, menghancurkan semua barang dan menjerit histeris di ruangan kantornya, di Gedung Prad's Fashion & Style, anak perusahaan Pradipta Corp. yang mengurusi bisnis di bidang Fashion dan gaya hidup metropolitan. Untungnya hari sudah memasuki jam pulang kantor, jadi tidak banyak karyawan mendengar Nona Direkturnya menggila. Abyan menjaga di pintu masuk kalau-kalau terjadi sesuatu yang tidak diinginkan.


"Mona, aku minta maaf, aku terpaksa menikahinya."


"Rayyyy.... kau tega sekali!!! Kau anggap aku apa, hah!!!"


Rambut dan riasan wajah Mona sudah berantakan bercampur dengan airmata. Ia sangat sakit hati ditinggal kekasih yang sangat ia cintai menikah dengan pencuri gaunnya.


"Pokoknya aku tidak mau putus denganmu. Tidak mau!!!"


"Aku mengerti perasaanmu, Mona. Tapi tolonglah mengerti posisiku. Ini permintaan terakhir Nenek."


"Kau bilang hanya sementara, kan? Kau akan bercerai dengannya, kan? Kalau begitu biarkan aku tetap menjadi kekasihmu, Ray. Aku mohon."


Mona memeluk kaki Ray, memohon dengan sangat.


"Tidak bisa. Aku tidak bisa membuat buruk citra Pradipta, Mona. Itu akan berpengaruh pada perusahaan."


"Kau hanya memikirkan perusahaanmu saja, tidak pernah memikirkan perasaanku. Kau egois sekali, Ray. Aku tidak mau berpisah denganmu."


"Hhhmmpppfffffhhhh...."


Rayyendra menghela nafas panjang, ia tidak tahu kenapa ia bisa terjebak dalam keposesifan seorang Ramona.


"Kalau kau mau berpisah denganku. Baik. Kita akan berpisah selamanya."


Mona mengambil pecahan vas bunga yang jatuh dilantai dan siap mengiriskan ke urat nadinya.


Abyan terhenyak, dia sudah ingin mengambil langkah, tapi ditahan Ray.


"Jadi apa maumu?" tanya Ray.


"Aku tetap sebagai kekasihmu walaupun kau sudah beristri. Aku akan menunggu sampai kau bercerai dengan rubah licik itu. Lalu kita menikah."


"Mon-- "


"Kalau kau tidak mau, lebih baik aku mati. Aku juga akan ditendang ayahku karena membuatnya kehilangan muka di depan banyak orang."


Mona masih dalam posisi siap mengiris nadinya, menunggu jawaban Ray. Abyan yang melihatnya sudah sangat geram, ia ingin langsung menerjang Ramona, tapi Tuannya ini malah melarangnya.


"Kau benar-benar membuatku pusing, Ramona! Kalau kau bukan wanita pertama dalam hidupku, aku tidak akan membiarkan kau membunuh dirimu, tapi aku sendiri yang akan membunuh dirimu. Terserah apa maumu, aku tidak peduli!"


Ray melangkah keluar ruangan, namun dengan cepat Ramona menahan kaki panjang milik Ray hingga tersungkur.


"Aku mohon Ray, jangan tinggalkan aku. Aku mohon," Suaranya bercampur dengan isak tangis.


"Sudah kubilang, aku hanya butuh waktu hingga semua urusanku beres, lalu aku akan bercerai dengannya. Aku tidak ingin mengambil resiko memiliki affair dengan wanita lain dalam pernikahan."


"Ray, aku tidak bisa hidup tanpamu. Aku mohon."


"Kalau kau tidak mau menerimanya. Itu sama sekali bukan urusanku."

__ADS_1


"Huhuhuhuhuhu .... Raaaaaayyyyy ....... " jerit Ramona meraung ketika tangannya terlepas dari kaki Rayyendra yang pergi meninggalkannya.


Mona makin tidak terkendali, ia mengambil sisa barang-barang yang selamat untuk ia hancurkan meluapkan kemarahannya yang memuncak. Ia benci, sangat benci pada Litha, sebelumnya ia mencuri gaunnya sekarang kekasihnya. Ia tidak bisa membiarkan gadis itu mencuri hidupnya, Rayyendra, yang telah menjadi hidupnya. Ia akan merebut kembali apa yang seharusnya ia miliki.


Ray mengusap wajahnya kasar dengan kedua telapak tangannya, ia bersandar pada pintu mobil di area parkir apartemennya dan mengambil sebatang rokok lalu menghisapnya dalam-dalam. Dia menghembuskan asap ke udara malam.


"Yan, pastikan Mona tidak mengacaukan pernikahanku," sahutnya memberi perintah.


"Baik, Tuan. Tapi maaf, apa aku boleh berbicara sebagai temanmu."


Ray mengangguk.


"Apa kau masih ingin berhubungan dengan Mona sebagai kekasih? Terus terang kalian memiliki toxic relationship, itu tidak baik, Ray. Apalagi jika dibawa ke jenjang yang lebih jauh," kata Abyan yang menonaktifkan mode asistennya.


"Aku juga tidak tahu, mengapa ia sangat berbeda dari yang kukenal pertama kali di Amerika? Aku tertarik pada Ramona bukan karena dia wanita pertama yang dekat denganku, Yan. Waktu itu, ia sungguh manis, kami bisa berkomunikasi dengan baik bahkan kami menikmati waktu bersama dengan menyenangkan. Jauh sekali berbeda dengan Ramona yang sekarang. Setelah kami menjadi sepasang kekasih, dia sangat temperamental dan posesif, sampai Sasha pun dicemburui ckckckckck."


🙋 Sasha adalah sekretaris presdir di gedung kantor pusat yang berpenampilan tidak seperti wanita pada umumnya. Ia bahkan sering disangka seorang pria karena sifat tomboynya. 🙋


"Aku setuju denganmu, Ray. Ramona sekarang berbeda dengan Ramona yang dulu kita kenal di Amerika. Dia sangat takut kehilanganmu."


Ray menghembuskan asap rokoknya lagi di udara. Ingatannya membawa kembali ke beberapa hari yang lalu,


🍀 flashback on 🍀


"Tuan, maaf, saya tidak bermaksud menghina Anda dengan mengatakannya tadi di depan semua orang. Ibu terus memaksaku, padahal itu hanya alasan yang kubuat-buat agar Ibu memberi restunya."


Litha menjelaskan pada Ray apa yang terjadi di dalam ruang tamu barusan, namun Ray hanya diam saja melihat sekilas wajah tanpa riasan calon istrinya lalu memalingkan mukanya ke dalam rumah, ada Ibu disana sedang berbicara dengan Abyan.


Litha sungguh tak enak hati harus menyeret Ray dalam permainan cinta tipu-tipunya.


"Tapi aku senang kok dengan alasanmu," ujar Ray tersenyum.


"A-- apa? Dia tidak marah? Malah senang dan tersenyum? Apa telinga dan mataku tidak salah?"


"Satu lagi, kalau bermain sandiwara jangan nanggung, masa memanggil orang yang kau cintai dengan sebutan Tuan." Ray mulai menggoda Litha.


"Ma-- Maksudnya apa? Jadi harus manggil apa?"


"Bodoh! Kau ini tidak pernah pacaran apa? Tentu saja Sayang."


Ray menyentil kening Litha karena kepolosannya. Litha yang mendengarnya terkaget-kaget, seumur-umur dia tidak pernah memanggil sebutan itu pada orang lain.


"Aauwww sakit, Tuan." Litha mengusap keningnya.


"Masih Tuan?"


"Idiiiiihhhh.... hanya di depan Ibu saja aku akan memanggil Tuan seperti itu. Lagian juga kenapa harus menyentil jidatku sih. Jarimu itu kan besar, pasti sakitlah!"


"Ohhh, gak mau disentil, jadinya mau dicium, sini!"


"Hissss.... tidak mau."

__ADS_1


Ray mendekat ke Litha ingin mencium keningnya, namun dengan cepat Litha menghindar meliukkan badannya seperti belut yang enggan ditangkap.


Tingkah mereka diperhatikan dari dalam ruang tamu, terutama Ibu. Rayyendra adalah lelaki pertama yang dibawa Litha ke rumah menghadap Ibunya walaupun terpaksa.


"Nak Abyan, meski Nak Abyan tangan kanan Tuan Rayyendra, Ibu mohon jaga Litha ya. Dia anak baik, Ibu tidak bisa melindunginya. Paling tidak Nak Abyan memperlakukan dia sebagai seorang perempuan," ujar Ibu lirih menatap putrinya yang menghindar dari tangkapan Rayyendra di teras rumah.


"Apa maksud Ibu? Kenapa memanggil Ray dengan Tuan? Apa Ibu sudah tahu pernikahan ini adalah pernikahan wasiat Nyonya Besar?"


Begitu banyak pertanyaan yang muncul dalam hatinya Abyan dengan ucapan Ibu barusan, namun dia cuma bisa menjawabnya, "Ibu tenang saja. Litha akan kuanggap adikku sendiri."


"Ampun dah! Kenapa aku harus menerima amanat untuk menjaga dua manusia itu? Nyonya Besar dan Ibunya Litha ini menganggapku babby sitter apa?"


Abyan hanya tersenyum pasrah mengusap-usap kepalanya sendiri.


🍀 flashback off 🍀


Melihat ketidakberdayaan Ibunya Litha diatas kursi roda dengan wajah kuyu membuat rasa bersalah di hati Rayyendra. Bersalah karena mempermainkan pernikahan putrinya dengan kontrak. Ia menemukan sesuatu yang tidak pernah dia lihat dalam hidupnya di kilat mata calon ibu mertuanya.


"Yan, bagaimana rasanya punya ibu?"


Abyan terhenyak mendengar pertanyaan Ray yang tidak pernah ia duga sama sekali.


"Aku tidak bisa menjelaskan secara harfiah atau dengan kata-kata karena itu rasa yang ada di hati, Ray. Tapi kurang lebih seperti ketenangan, kenyamanan, keamanan, kedamaian dan hal-hal baik berbaur jadi satu jika berada di dekatnya. Kenapa kau tiba-tiba menanyakannya?"


"Karena Litha memohon padaku untuk tidak memberitahu tentang kontrak ini pada ibunya jadi kami seperti sepasang calon suami istri yang saling mencintai di depan ibunya. Aku penasaran apa yang membuatnya begitu memohon? Setelah melihat Ibu, aku tidak bisa menjelaskan sesuatu yang ada di mata ibunya Litha, aku hanya bisa merasakannya. Sesuatu yang tidak pernah aku rasakan sebelumnya, Yan, hingga aku didera rasa bersalah sendiri dengan pernikahan ini."


Rayyendra menjelaskan panjang lebar dengan apa yang ia rasakan. Abyan mengerti dengan maksudnya. Hidup tanpa kasih sayang seorang ibu membuat sebagian jiwanya yang terdalam hampa, meski kasih sayang Nyonya Besar tercurah tidak terkira.


"Kau merasa bersalah pada Litha atau ibunya?"


"Hahah ... tentunya ibunya, bodoh! Anaknya sering membuatku jengkel, buat apa aku merasa bersalah padanya, malah sekarang aku senang menggodanya."


"Hati-hati Ray, kau yang menggodanya justru nanti kau yang terjerat padanya. Oh ya, Bona sudah kau beritahu tentang pernikahanmu?"


"Hahahahaha .... Bona? Ah, pria itu sedang badmood, entah kenapa? Tadinya aku meneleponnya untuk memberitahu dan bersiap ikut ke Kota A, tapi yang ada, pusing aku dibuatnya. Kau sajalah yang memberitahunya sekalian menyiapkan keberangkatannya."


"Ada apa dengannya?"


"Dia putus dengan calon istrinya, tapi Tante Rista dan Milla Milly sangat menyukai calon istri semunya. Dia pusing karena dituntut untuk menjalin hubungan kembali dengan gadis itu, bahkan Bona tidak bisa pulang sebelum membawa gadis itu ke rumahnya, hahahahahahaha ...."


"Hah?!? Tapi itu kan calon istri semu? Bagaimana dia bisa kembali menjalin hubungan. Ah ... kalian berdua sungguh memusingkan aku. Apa hidup kalian ini sandiwara?"


"Hahahahahaha ... makanya kuserahkan urusan Bona untuk datang ke pernikahanku padamu. Sabarlah meladeni curhatnya dia tentang calon istri."


Ray tergelak, membuang puntung rokok, kemudian naik ke apartemennya. Hari ini ia sangat lelah menghadapi Ramona dan Bona. Ia ingin istirahat, sekilas memorinya mengambil wajah Litha yang polos tanpa riasan dalam ekspresi terkejut. Ray tertawa kecil sambil bergumam, "Aku akan membuatmu terus-terusan terkejut selama kau jadi istriku, heheh ..."


Abyan yang bersiap pulang setelah mengantar Tuannya mendapat panggilan telepon, dilihatnya layar ponsel.


"Ck."


Lelaki bertubuh tinggi tegap itu berdecak kesal membuang ponsel di kursi penumpang sebelahnya, ada nama Bona disitu yang terus memanggil tanpa lelah.

__ADS_1


- Bersambung -


__ADS_2