
Litha mengamati Nezar dari atas ke bawah, bawah ke atas. Ia tidak menyangka salah satu anak muda yang pernah dibayari makanannya kemarin adalah pemilik akun Thanos01 yang dicari suaminya.
"Maafkan saya, Nyonya. Maafkan saya ... Saya menyesal telah memotret Tuan Muda dan menyebarluaskan hingga menimbulkan fitnah. Saya salah Nyonya ... Mohon ampuni saya."
Nezar berlutut di kaki Litha memohon ampunan. Semalaman ia tidak bisa tidur, dikejar rasa bersalah yang mencabik-cabik hatinya. Keesokan paginya, ia mencari tahu alamat Tuan Muda Pradipta dan memohon untuk bertemu dengan Nyonya Muda. Disinilah sekarang ia berada, di sebuah pendopo yang asri, tempat Litha dulu nyaris menabrak Nyonya Besar.
"Kau tahu dampak perbuatanmu, Anak Muda?!?"
Pak Sas mencengkram kuat kerah baju kaos lelaki berambut ikal itu, wajahnya bagai malaikat pencabut nyawa yang membuat Nezar gemetar ketakutan.
"A-- a-- ampun Pak, ampuni saya."
"Lepaskan dia, Pak Sas."
Litha mengamati Nezar kembali dengan seksama, dari raut wajahnya, ekspresi dan matanya terlihat kalau ia benar-benar menyesal.
"Apa yang membuatmu melakukannya lalu menyesal?" tanya Litha mengusap-usap perutnya karena bayinya bergerak-gerak.
"Saya butuh uang, Nyonya. Saya bekerja sebagai fotographer freelance di media online Babun. Saya tamatan SMA dua tahun lalu, yang menabung untuk bisa kuliah karena saya hanya hidup dengan kakak saya. Dia sudah menikah dan tidak bisa lagi membantu biaya sekolah saya karena keluarganya juga pas-pasan.
Saya tidak sengaja melihat Tuan Muda yang kemarin viral di sebuah acara wisuda. Tapi saya kaget mengapa Tuan Muda malah memeluk seorang wanita yang bukan istrinya di tempat sepi, dari percakapan sekilas yang saya dengar, ternyata wanita itu adalah mantan kekasih yang belum bisa melupakan Tuan Muda, padahal Tuan Muda sendiri memintanya untuk bisa melepaskan dan mencari lelaki lain. Nona itu yang memohon pelukan sebagai pelukan terakhir agar bisa melepaskan Tuan Muda."
"Oh ya? Pelukan perpisahan untuk melepaskan, hahahahaha ..."
Litha tidak bisa menahan tawanya, "Ya ampun, itu artinya Suamiku bukan alien, dia manusia yang begitu sempurna namun tetap punya kekurangan. Apa yang dia pikir sampai mau melakukan hal bodoh itu. Ckckckck ... Rasa-rasanya ingin kucubit-cubit dia."
Nezar bingung dan semakin takut melihat Nyonya Muda tertawa.
"Saya menyesal Nyonya telah menjual foto itu. Saya bersalah pada Nyonya, saya khawatir kalau terjadi sesuatu dengan Tuan Muda dan Nyonya."
"Apa karena itu kau berani mengambil resiko dengan menunjukkan wajahmu di rumah ini? Apa kau sanggup menerima hukuman dari Tuan Muda? Dia sangat marah sekali padamu, bahkan saat ini dia sedang melacakmu."
Nezar diam tertunduk, dia tidak akan sanggup menghadapi kemarahan Tuan Muda. Bukan hanya dia tapi seluruh kantor "Babun" akan terkena imbasnya.
"Kau belum menjawab kenapa kau menyesal dan berani kesini?" Litha mengulang pertanyaannya.
"Karena Nyonya sangat baik dan saya merasa sangat jahat kalau Nyonya sampai bercerai dengan Tuan Muda akibat dari foto-foto saya," jawabnya masih tertunduk.
Litha tersenyum, "Cinta kami terlalu besar dan tidak akan kalah hanya dengan foto-foto seperti itu. Kau tidak perlu khawatir, kami akan baik-baik saja. Tapi-- kau tetap harus mendapat hukuman karena sudah lancang mengambil foto orang lain lalu menyebarluaskan tanpa izin, dan itu tidak hanya berlaku untuk Tuan Muda saja. Kau tahu bahkan adikku sendiri, kuberi pelajaran agar dia paham tentang kesopanan semacam ini.
Pak Sas, tolong ambilkan kertas dan pena untuknya menulis permohonan maaf kepada Tuan Muda. Aku akan merahasiakan identitasmu sebagai Thanos01 tapi kalau kau mengulangi perbuatanmu, hukumanku lebih mengerikan dari hukuman Tuan Muda."
"Ba-- baik, Nyo-- Nyonya. Terimakasih ... terimakasih Nyonya atas kebijaksanaannya."
Nezar menulis permohonan maaf dan penyesalannya serta janjinya yang tidak akan mengulangi lagi. Setelah ia selesai menulis dan menyerahkan pada Litha, Pak Sas mengepalkan tinjunya dan ...
Bughhh ...
Nezar tersungkur di lantai dengan darah di sudut bibirnya. Perih dan sakit rasanya.
"Itu dariku karena kau berani menyakiti hati Nyonya Muda. Sekali lagi kau melakukannya aku yang akan menghabisimu!"
"Sudahlah Pak Sas. Dia kurang lebih seumuran Vania, masih harus banyak belajar," kata Litha menenangkan Pak Sas yang sangat marah.
"Siapa tadi namamu? Nezar?" Pemuda itu mengangguk lemah, "Maafkan Pak Sas yang telah memukulmu, dia hanya memberimu pelajaran agar kau mengerti. Sebelum kau pulang, sampaikan nomor rekeningmu pada Pak Sas, aku akan memberimu sejumlah uang untuk mengobati lukamu dan biaya kuliahmu. Gunakan dengan bijak."
Nezar langsung terduduk seperti anak kecil, dia menangis meraung-raung, "Nyonya, kenapa Anda baik sekali padaku?!? huhuhuhu ... Aku rela menerima hukuman atas perbuatanku yang telah menyakiti hati Nyonya, huhuhuhu ..."
Melihat Nezar seperti itu, Litha tergelak, "Hehehehe ... Sudah, pulanglah dengan tenang karena aku sudah memaafkanmu. Satu hal yang mesti kau pahami, carilah uang dengan cara yang tidak menyakiti orang lain dan miliki integritas dalam dirimu bahwa tidak semua hal bisa diukur dengan uang."
Nezar makin histeris menangis layaknya anak kecil ketika ia mendengar bahwa ia sudah dimaafkan.
"Hei, sudahlah, berhenti menangis, nanti orang-orang mengira aku sangat kejam menyiksamu. Terima kasih, kau sudah memikirkan perasaanku dan berani mengambil resiko, Nezar," ujar Litha tersenyum.
"Nyonya memang pantas dicintai Tuan Muda sampai dia bersikap bodoh. Terimakasih Nyonya, semoga Nyonya bahagia selalu dan aku akan membalas kebaikan Nyonya. Aku akan mengembalikan citra Tuan Muda kembali seperti sebelumnya." bathin Nezar sembari menghapus airmatanya yang menganak sungai.
"Tuliskan nomor rekeningmu .. dan jangan pingsan setelah melihat jumlahnya. Sangat beruntung kau berurusan dengan Nyonya Muda," ketus Pak Sas memberikan secarik kertas.
Setelah Nezar menuliskan nomor rekeningnya, Pak Sas berlalu mengantarkan Litha kembali ke rumah utama.
...***...
Setengah jam lagi rapat terbatas akan diadakan, Ray menunggu di ruangan Wakil Presdir yang satu lantai dengan ruang rapat.
__ADS_1
"Hahahahaha ... beruntung tadi pagi aku ikut sarapan di rumah utama, kalau tidak, aku tidak akan pernah melihatmu seperti anak kecil yang kedapatan mencuri uang ibunya, hahahaha ... Litha memang luar biasa."
Ray mendengus sebal, seharian dia sudah menjadi bulan-bulanan asistennya sendiri, sekarang dia juga diledek kakaknya.
"Aku menyerah, Ray. Meski kau telah menyakitinya, cinta dan perhatiannya padamu tidak berkurang sedikitpun. Tidak ada tempat untuk lelaki lain di hatinya selain suaminya sendiri," Firza menepuk bahu adiknya dan ikut duduk di sofa.
"Ada baiknya juga wanitaku salah satu dari wanita suku Ragnaya, kesetiannya tidak diragukan, hehehehe ..." bathin Ray senang.
Rapat yang diadakan secara mendadak ini dihadiri oleh sepuluh orang termasuk Ray dan Firza. Rapat itu menuntut pertanggungjawaban Rayyendra selaku Presdir Pradipta Corp yang membuat harga saham di bursa efek kian menurun akibat tidak respeknya publik terhadap kehidupan pribadinya, sekaligus meyakinkan bagaimana cara untuk memperbaiki citra perusahaan kembali dan mendapatkan kepercayaan serta simpatik publik.
"Tuan Rayyendra harus bisa mendongkrak harga saham Pradipta Corp. lagi."
"Tingkat pembelian produk kita mulai menurun sejak ada yang menciptakan jargon, 'Jika kita membeli produk Pradipta Corp. sama saja kita mendukung perselingkuhan.' dan itu selalu didengungkan netizen di setiap komentar yang memuat foto-foto Tuan dengan Nona Ramona."
"Kami harap Tuan akan mengembalikan citra Pradipta Corp. sebelum ulangtahunnya nanti bulan depan. Kalau tidak Tuan yang akan malu sendiri di depan orang banyak."
Banyak lagi suara-suara yang intinya agar Rayyendra segera melakukan sesuatu demi kembalinya kejayaan dan kehormatan Pradipta Corp.
"Baiklah, Bapak Ibu yang saya hormati, saya akan berusaha semaksimal mungkin mengembalikan perusahaan ini ke tempatnya semula, sebagai perusahaan yang paling prestisius di negeri ini-- dalam waktu paling lama satu bulan, sebelum perayaan Pradipta Corp. digelar."
Akhirnya Ray bersuara menutup rapat, ia sudah ingin segera pulang ke rumahnya, meminta maaf dengan benar pada istrinya.
"Jika tidak, bagaimana Tuan?"
"Ya, apa yang akan Tuan lakukan jika usaha Tuan untuk mengembalikan kejayaan perusahaan gagal?"
Ray terdiam, mukanya pias, terpojokkan namun ia juga menyadari bahwa ini semua karena kesalahannya dalam bersikap. Seperti yang istrinya katakan, setiap perbuatan memiliki konsekuensi yang harus dipertanggungjawabkan.
"Jika gagal, maka dengan sukarela saya meletakkan jabatan saya sebagai Presdir dan sebagai gantinya, Tuan Firza yang akan menempati posisi itu. Saya akan menerima dimanapun saya ditempatkan setelah keputusan pada rapat evaluasi."
Ray menjawab keraguan semua orang yang hadir di situ. Dia merasa harus melakukannya karena dia adalah seorang pria yang bertanggungjawab.
.
.
.
Jam di meja nakas samping ranjang kamar utama menunjukkan pukul 22.45 waktu setempat, namun mata Litha tidak bisa menutup, ia gelisah suaminya belum pulang. Ia gengsi menanyakan kabar Ray meski itu melalui Asisten Yan.
Litha teringat perkataan Abyan tadi pagi saat sarapan, kalau malam ini akan diadakan rapat terbatas jika harga saam Pradipta Corp. menurun.
"Apa mungkin perusahaan dalam keadaan buruk?" gumam Litha bangkit dari baringnya.
Ia berjalan keluar kamar menuju dapur, mencari sesuatu yang bisa dimakan. Malam seperti ini Pak Is sudah beristirahat di kamarnya, pria paruh baya itu akan bangun jika mendengar suara di interkom yang berada di dapur dan di kamar tidurnya.
Banyak makanan dan cemilan di dapur. Pak Is selalu menyediakan berbagai macam makanan di lemari dapur hanya untuknya, tapi saat ini Litha tidak berselera sedikitpun untuk mencicipinya.
Cekrek.
Litha spontan melihat ke arah pintu dapur karena ada yang menarik handlenya. Sedetik kemudian nampak sosok gontai suaminya yang baru saja pulang dengan kepala tertunduk.
"Mas ..."
Ray mengangkat wajah dan memicingkan kedua matanya, benar ia menangkap bayangan Litha, istri yang ia rindui.
"Litha ..."
Ray menyergap istrinya dengan pelukan erat, terserah jika istrinya akan memberontak karena disentuh seperti ucapannya kemarin malam, ia akan tetap mengeratkan pelukannya.
"Biarkan aku memelukmu sebentar saja Lith, sebentaaar saja ... please ..." mohonnya dengan suara parau ketika ia merasa Litha bergerak dalam pelukannya.
Litha diam sejenak membiarkan suaminya menyesap aroma tubuhnya dengan khidmat. "Sayang, bisa lepaskan aku sekarang, aku merasa perutku sesak."
Ray langsung mengurai pelukannya, "Maaf, aku lupa kalau perutmu sudah besar, tapi spa aku tidak salah dengar, tadi kau menyebutku--"
Litha tersenyum, "Sayang, iya-- pendengaranmu benar." ia merapikan rambut suaminya yang berantakan, "Pasti harimu berat. Duduklah, aku akan membuatkanmu susu coklat hangat, mungkin bisa sedikit merilekskanmu," tunjuknya pada salah satu kursi di meja dapur.
Lelaki itu menurut, tapi ia tidak duduk di kursi melainkan setengah duduk di meja dapur. Ia memperhatikan tiap gerakan Litha yang membuatkannya minum.
*m**eski kau telah menyakitinya, cinta dan perhatiannya padamu tidak berkurang sedikitpun*
Kalimat Firza melintas di kepalanya. Hatinya sendu mengingat kebodohannya meski ia sama sekali tidak ada niatan untuk menyakiti hati istri kesayangannya.
__ADS_1
"Ini."
Litha menyodorkan gelas yang berisi susu coklat hangat. Ray menerimanya tapi tidak langsung meminumnya. Gelas itu diletakkan di sampingnya lalu menggenggam kedua tangan Litha yang berdiri dengan menatap mata yang sangat ia sukai.
"Litha, aku minta maaf. Aku menyesal ... Aku melakukannya untuk--"
Litha mencium bibir suaminya sekejap, lalu ditatapnya balik pandangan Ray ke dirinya, "Aku tahu. Kau melakukannya hanya agar ia melepasmu dan tidak menganggu kita lagi kan? Tapi itu tetap tidak membuatku maklum karena itu tidaklah benar. Harusnya yang kau peluk itu aku di hadapan Ramona, agar ia mengerti bahwa pelukanmu itu hanya untukku."
Ray memeluknya lagi dan merengek, "Seandainya aku bukan Presdir lagi, apa kau masih menginginkanku? Please, jangan tinggalkan aku Litha, jangan pergi lagi dari rumahku, please ... "
Tinggi badan Ray sejajar dengannya karena ia setengah duduk di meja dapur. Litha mengusap-usap punggung suaminya, "Aku kan menikah denganmu bukan karena Presdir."
Ray mengurai pelukannya lagi, "Iya ya, kau menikah denganku kan, karena kontrak dan wasiat Nenek."
Litha tahu, lelaki ini sedang mengalami hal sulit di kantornya. Ia lalu mengalungkan kedua lengan di leher suaminya, retina Litha lekat menatap mata tegas yang memantulkan bayangan dirinya.
"Awalnya, tapi pada akhirnya kau bisa membuatku jatuh cinta, karena kau mencintai diriku secara utuh, bukan hanya sebagai Litha pribadi, tapi sebagai anak dari ibuku, kakak dari adikku, adik dari kakakku dan keponakan dari Paman Bibiku."
Hati Ray menghangat, memang Litha lah tempatnya pulang karena rumahnya ada disana. Kegelisahannya menguap hanya dengan melihat manik dan mendengar suara istrinya.
"Terimakasih, Litha. Kau memang istimewa, syukurlah Nenek mewasiatkanku menikah denganmu di saat kondisimu sedang butuh uang, kalau tidak aku tidak akan mendapatkan keistimewaan ini. Tapi, apa kau memaafkan kesalahanku?"
Litha terkekeh, "Kan, tadi pagi sudah kukatakan kalau aku telah memaafkan semuanya tanpa diminta, kau pikir aku hanya sekedar bicara, ehm?"
"Cih. Mengapa mudah sekali memaafkan orang?"
Litha tergelak, "Karena aku ingin mejalani hidupku tanpa beban. Kekecewaan, kesedihan, ketakutan, kedengkian, kemarahan dan semuanya yang negatif itu adalah batu dalam kehidupan. Selagi kita masih menyimpannya di hati maka batu itu juga tersimpan di sakumu. Semakin banyak semakin berat, bukan?"
"Heh. Sok bijak."
"Lah, tapi bener kan? Melepaskan itu melegakan."
"Hemmm ... kalau melepaskan yang itu memang benar melegakan." Ray menyembunyikan wajahnya di lembah antara dua gunung empuk di hadapannya. Istrinya makin tergelak.
"Mas, kau ingat tidak saat kau mencuri ciuman pertamaku? Kau melakukannya disini dengan posisi seperti ini," kenang Litha yang diam saja bagian dadanya di uyel-uyel suaminya seperti seorang balita yang tengah bermanja di badan ibunya.
"Tentu saja. Saat itu aku mendapat bubur polos hangat yang akhirnya menjeratku selamanya dengan kutukan yang indah." Tangan Ray masih tidak bisa diam.
"Ck. Bicara apa sih?!? ... Aaauuuwww, ssshh... Mas ..."
Ketika Ray mengangkat wajahnya, Litha tidak bisa menolak mata sayu suaminya yang penuh damba, dambaan yang sejak kemarin malam ditahannya. Malam ini hukuman untuk suaminya Litha akhiri, karena sebenarnya ia juga tersiksa.
.
.
.
Matahari tanpa malu menunjukkan kegagahannya pada bumi. Seperti biasa Ray sarapan ditemani istrinya namun pagi ini sarapan dibuat oleh para pelayan sebab waktu pagi Litha disita oleh suaminya.
"Selamat pagi," sapa Abyan yang baru datang dan diikuti seorang wanita paruh baya dari belakang.
Ray langsung berdiri dan memberi hormat, "Selamat datang, Bibi."
Bagaimanapun ibu Asisten Yan adalah orangtua yang ia hormati, jadi tidak berlebihan jika Ray menunjukkan rasa hormat pada wanita itu. Litha pun juga mengikuti apa yang dilakukan suaminya.
"Ibuku setuju dengan permintaanmu Ray," sahut Abyan.
"Permintaan apa?" tanya Litha.
"Ray meminta Ibuku untuk tinggal di rumah utama untuk menemani Nyonya."
"Benarkah?"
Litha memekik senang saat Ray menganggukkan kepalanya. Ibunya Abyan pun tersenyum melihat kegembiraan wanita yang disapa putranya dengan Nyonya, padahal suami dari wanita itu disapa dengan namanya langsung.
"Asisten Yan, Bibi, silahkan sarapan."
Lidya memperhatikan Litha dengan seksama. Apa yang diceritakan putranya tentang sosok Nyonya Muda benar adanya. Kesederhanaan, ketulusan dan kehangatannya membuat siapapun jatuh cinta padanya.
"Nyonya Besar memang memiliki intuisi yang tepat. Tidak heran jika Nyonya Besar sampai mewasiatkan pernikahan mereka sebagai permintaan terakhirnya."
- Bersambung -
__ADS_1