
Litha melamun di dalam mobil yang dilajukan Pak Sas sambil mengelus perutnya dan seakan-akan berbicara pada bayinya di perut, "Mengapa ayahmu suka pamer? Ibu tahu, badan ayahmu itu sangat bagus, Ibu sangat menyukainya tapi kan itu hanya untuk Ibu lihat, tidak untuk yang lain. Kalau yang lain lihat dan ingin merebut ayahmu bagaimana? Kalau Ibu ditinggal ayahmu bagaimana? Ibu tidak bisa hidup tanpa ayahmu, Nak."
Pak Sas yang mendengarnya, tidak bisa menahan senyum padahal dia adalah manusia tanpa ekspresi. Ternyata kecemburuan Nyonya Mudanya ini bersumber dari ketakutannya akan ditinggal Tuan Muda.
"Nyonya, maaf, boleh saya berbicara dengan Nyonya?"
"Ya, Pak Sas."
"Maaf kalau saya lancang, tapi saya tadi khawatir sekali ,Nyonya menelepon saya dengan keadaan menangis dan meminta saya segera untuk datang."
"Tidak apa-apa, Pak Sas. Maaf telah membuatmu khawatir. Oh iya, apa tadi Pak Sas sudah mengatakan pada Suamiku agar ia lebih menjaga perasaan istrinya?"
Pak Sas tersenyum, "Tidak mungkin saya bisa berkata seperti itu, Nyonya. Bagaimanapun Tuan Muda adalah majikan saya walaupun usianya jauh di bawah saya, begitupun juga Nyonya."
"Ya, Nyonya." Pak Sas menjawab sesuai permintaan Tuan Muda.
"Terus apa dia mengatakan sesuatu tentangku?"
"Ya, Nyonya."
"Apa katanya?"
"Tuan mengatakan Nyonya tidak perlu khawatir akan perasaan Tuan ke Nyonya. Hati Tuan selamanya milik Nyonya."
Litha diam, tidak menanggapi, kini Pak Sas harus melakukan improvisasi agar mood Nyonya Mudanya kembali baik.
"Itu semua terlihat kemarin siang saat Tuan menggendong Nyonya tanpa baju. Tuan tidak ingin menyakiti Nyonya sedikitpun, bahkan bubuk warna yang membuat Nyonya bersin ia jauhkan dengan cara melepas baju demi kenyamanan Nyonya berada dalam gendongan Tuan. Tuan juga melindungi kepala dan perut Nyonya dari terik matahari saat itu hingga badannya kepanasan dan penuh keringat. Tuan memperlakukan Nyonya dengan istimewa, itulah yang membuat semua perempuan yang menyaksikannya menjadi iri karena ingin diperlakukan hal yang sama dengan pasangan mereka."
"Begitu ya? Kemarin memang Suamiku membuatku sangat nyaman hingga aku tertidur, jadi aku tidak melihat situasi disana saat itu," ucap Litha penuh sesal, ia langsung merindui suaminya sekarang.
"Nyonya, selama hidup Tuan Muda tidak pernah sekalipun Tuan keluar dari kamar tidur tanpa mengenakan baju, kecuali saat berenang. Tapi yang Tuan lakukan kemarin adalah pengecualian berikutnya. Percayalah, Nyonya ... Tuan juga tidak bisa hidup tanpa Nyonya. Tuan dan Nyonya bukan lagi dua tapi satu, hanya raga saja yang terpisah tapi hati sudah menyatu. Tidak ada yang bisa memisahkan Tuan dan Nyonya selain kematian, sama halnya dengan Nyonya Besar dan Tuan Besar."
__ADS_1
"Benarkah Pak Sas? Aku hanya takut dia akan meninggalkan aku karena aku sebenarnya bukan pasangan yang cocok buatnya. Kami menikah pun tanpa cinta, karena wasiat Nenek," sahut Litha sedih mengingat awal menikah dia dengan suaminya yang penuh dengan sandiwara dan perjanjian.
"Tidak ada yang lebih pantas mendampingi Tuan Muda selain Nyonya. Nyonya Besar adalah seseorang yang kuat menggunakan insting dalam hidupnya. Ia selalu percaya dengan kata hatinya. Apa Nyonya tahu kenapa Nyonya diwasiatkan menikah dengan Tuan Muda bukan dengan Tuan Firza?"
Mata Litha membulat, tidak percaya, pria yang dikenal sangat irit bicara kini panjang lebar bicara dengannya. Mengetahui semua yang Litha tidak ketahui selama ini.
"Tidak tahu. Kenapa Pak Sas?"
"Nyonya Besar tahu kalau Tuan Firza sangat cinta pada Nyonya. Tapi Nyonya Besar melihat binar cinta yang samar di mata Tuan ketika melihat Nyonya, begitu juga sebaliknya."
"Oh ya, kapan? Kenapa kami tidak menyadarinya?" Mata Litha lebih membulat lagi tak percaya.
Pak Sas tergelak kecil, "Karena nampak di mata, jadi hanya bisa dilihat orang lain. Tapi karena sangat samar, hanya orang tertentu yang dapat melihatnya. Mungkin Tuan dan Nyonya tidak sadar begitu juga orang di sekitar, hanya Nyonya Besar yang peka melihatnya. Binar itu terbersit di saat Tuan Muda mendengar sambutan ulang tahun Nyonya Besar yang Nyonya sampaikan di acara ulang tahun Pradipta Corp. Ketulusan Nyonya menyentuh dinginnya hati Tuan Muda yang sudah lama membeku."
"Lalu kalau aku saat kapan?" tanya Litha tidak sabar.
"Apa Nyonya sangat ingin tahu?"
"Tentu saja! Cepat katakan!"
"Hah! Masak sih!" Litha mencoba mengingat-ingatnya, "Ah iya, aku ingat, Pak Sas. Tapi itu karena dia laki-laki pertama yang berinteraksi sedekat itu denganku. Pak Sas tahu kan dansa Waltz, tarian yang membuat wanita menyentuh tulang belikat si pria dan si pria itu memegang pinggang wanita. Sewaktu belajar dengan Pak Is memakai perantara sutil yang tangkainya panjang agar tidak langsung menyentuhku."
"Mungkin bagi Nyonya, cinta pada pandangan pertama, sedangkan bagi Tuan Muda cinta karena ketulusan."
"Aaaaaaaaa ...... Pak Sas seperti pakar percintaan saja. Aku penasaran apa ada wanita yang Pak Sas cintai?"
"Itu tidak penting, Nyonya."
Dari nada suaranya, Litha paham Pak Sas tidak ingin menyinggung hal tersebut, jadi ia alihkan saja, "Pak Sas, kalau begitu tolonglah Asisten Yan untuk mendapatkan kekasih hati. Waktunya jangan ia habiskan untuk mengurusi Suamiku atau aku, belum lagi kalau anak kami lahir nanti. Itu tidak akan ada habisnya Pak Sas. Kami setidaknya harus belajar mandiri. Ia harus punya seseorang untuk dijadikan alasan kalau Suamiku meminta waktunya di luar jam kantor. Kami sudah bahagia, kami juga ingin Asisten Yan bahagia. Makanya kemarin kupaksa ia pakai celana pink biar menarik perhatian dan ternyata benar kan? Asisten Yan saja yang tidak percaya diri kalau justru dengan warna pink ia akan terlihat bersinar, karena Asisten Yan adalah seorang penyayang dan memiliki hati yang lembut. Suamiku saja tidak cocok, aku malah geli melihatnya pakai warna pink, hahahaha ... "
Litha tertawa memegang perutnya membayangkan suaminya memakai celana pink seperti asistennya.
__ADS_1
"Nyonya, ketulusanmu seperti inilah yang membuat banyak orang jatuh hati padamu, bahkan hati Tuan Muda yang sangat beku dan dingin bisa tersentuh untuk pertama kalinya," kata Pak Sas dalam hati.
"Nyonya, kita sudah sampai di rumah."
"Eh, iya, ya, sudah sampai. Hatiku sudah tidak kesal lagi, malah bahagia Pak Sas."
"Syukurlah Nyonya. Tetaplah bahagia karena itu yang Tuan Muda inginkan dan ia pertaruhkan dengan nyawanya."
"Ah, Pak Sas. Aku jadi rindu pada Suamiku, ah sudahlah ... kutunggu saja dia pulang kantor. Aku mau ke dapur belakang saja sekarang," sahut Litha senang.
.
.
.
Ray berdiri di makam Nyonya Besar dengan membawa seikat bunga lily putih segar. Abyan menjaga jarak di belakangnya, memberi ruang untuk privasi Ray.
"Nenek, aku rindu padamu. Aku sudah lama tidak berkunjung, aku begitu sibuk dengan Litha-ku dan calon cicitmu, Nek. Kalau saja tadi tidak menyebut Nenek mungkin aku tidak kesini, hehehehe ... Apa kau marah padaku? Pasti tidak, kan, Nek. Aku dan Litha sudah menjalankan permintaan terakhirmu dengan sangat baik sekali meski awalnya sangat menyakitkan.
Nek, aku bawakan bunga kesukaanmu, bunga kesukaan yang sama dangan Litha. Kau tahu, Nek? Saat acara pernikahan, dia tidak meminta apapun, kecuali buket bunga yang ia tentukan jenis bunganya. Dari situ aku tahu kalau bunga kesukaan kalian sama. Aku menganggap bunga itu adalah aku, hahahahaha ......
Aku sangat berterima kasih padamu, Nek. Kau memberiku istri terbaik. Tidak ada yang tidak kusuka darinya, bahkan suara ngoroknya dan bau kentutnya aku suka hahahahahahaha ... Apa aku sudah gila, Nek? Ya, dia membuatku tergila-gila. Aku sudah tidak bisa hidup tanpanya.
Dia membuatku jatuh cinta tiap hari dan makin bertambah tiap harinya. Seperti hari ini, rasa cemburunya membuatku bahagia, aku merasa dicintai sepenuhnya, Nek. Cara mengomelnya membuatku tidak bisa berkata apapun, sangat menggemaskan, ditambah look-nya sekarang, perutnya yang kian besar karena ia suka sekali makan untuk bayi kami, juga pipinya yang tambah tembem, aku sangat menyukainya.
Aku sekarang mengerti betapa bahagianya Nenek ditemani olehnya. Aku bisa bicara apapun dengannya dari hal berat tentang perusahaan sampai hal-hal receh yang tidak jelas. Dia juga tahu cara menghiburku dan menenangkanku, dia tidak pernah memintaku untuk bercerita jika aku sedang lagi ada masalah, dia selalu menghargai dan menghormati keputusanku. Sebagai istri, dia sangat melayaniku dan patuh dengan yang apa yang ku katakan meski sering didahului protes hahahahaha ...
Nek, nanti aku akan membawanya kesini dan Nenek lihat sendiri bagaimana dia sekarang. Sebentar lagi kami akan menjadi orangtua. Pengalaman baru bagi kami, tapi kami akan belajar menjadi orangtua yang baik buat anak kami. Hal pertama yang kami lakukan adalah mengalahkan ego kami masing-masing.
Ah, Nenek. Aku sudah bercerita banyak padamu, aku senang sekali. Sekali lagi terima kasih, memberiku seorang istri wasiat yang luar biasa. Pilihanmu tidak pernah salah. Semoga kau bahagia disana dengan Kakek, sampaikan salam buat Ibu dan Ayah. Aku rindu kalian semua."
__ADS_1
Ada kelegaan luar biasa menggelayuti hati Rayyendra. Ia tak lagi meratapi kepergian Neneknya seperti saat kematiannya. Rasa ketakutan akan tidak dicintai kini hilang. Ia sudah memiliki cinta istrinya dan itu sudah cukup. Meski hanya seorang, Litha mampu membawa cinta yang banyak untuk memenuhi rongga-rongga kosong dalam hati Ray dengan ketulusannya.
- Bersambung -