Istri Wasiat Tuan Muda

Istri Wasiat Tuan Muda
CRF : Keindahan Ciptaan Tuhan


__ADS_3

"Ada apa ini!!!"


Sekonyong-konyong menggema suara yang sangat Litha kenal, suara yang pemiliknya sudah ia rindukan dari tadi tapi bagi orang lain akan menciutkan nyali siapapun apalagi setelah melihat siapa pemilik suara.


Rayyendra berjalan cepat menuju istrinya, diiringi Abyan dan Danu Kusuma, ayah Evan. Litha yang melihat suaminya menuju ke arahnya makin menitikkan air mata, seperti ingin mengadu tanpa suara.


Mata Ninda sudah melotot pada Evan, seakan ingin mengatakan bahwa sebentar lagi bencanamu akan datang. Bona yang di sampingnya pun terlihat panik, ia hafal karakter Ray yang akan marah karena miliknya terusik. Bona pernah mengalaminya sendiri saat meminjam headset Ray tanpa izin, ponselnya hancur diinjaknya. Apalagi ini istri yang sangat ia sayangi menitikkan air mata.


Pak Sas segera melepas cengkraman tangannya di kerah baju kaos Evan. Ia tunduk memberi hormat. Suasana hening, hingga semua yang hadir disitu menahan nafas sebab nafas mereka pun bisa terdengar hembusannya.


"Kau kenapa?" tanyanya lembut mengusap air mata yang jatuh di pipi istrinya, Litha hanya menggeleng sembari tersenyum.


"Pak Sas."


Ray menyebut nama pria paruh baya itu dengan dingin membuat siapapun yang berada disekitarnya membeku, meminta penjelasan yang tengah terjadi.


"Nyonya telah dilukai harga dirinya dengan rumor tak berdasar olehnya, Evan Dellano Kusuma, sepupu Nona Ninda sekaligus putra tunggal Danu Kusuma, pemilik kafe ini." jawab Pak Sas menunjuk Evan dengan pandangan matanya yang tak kalah dingin, masih dengan sikap hormatnya pada Tuan Muda.


Litha, Ninda, Bona, Danu Kusuma terkejut bukan main terutama Evan, saking terkejutnya, muka lelaki yang masih menyukai Litha itu putih memucat seperti mayat. Semua yang dilihat di depan matanya tidak dapat ia percaya.


"Nyonya?!? Jadi benar yang Ninda katakan! Shitt! dan a-- pa ini? Siapa dia sebenarnya? Dia mengetahui identitasku. Siapa dia?" (Evan)


"Evan! Apa yang kamu lakukan! Apa mungkin wanita hamil ini istri Tuan Muda? Habis sudah! Evaaaannnn ... kenapa kau bisa bodoh begini?" (Danu Kusuma)


"Mati kau, Van ... Sudah kubilang berkali-kali tapi kau anggap omonganku bualan belaka. Sekarang kau lihat sendiri akibatnya, bukan tidak mungkin berimbas ke Om Danu. Dasar! Boleh cinta asal jangan bodoh!" (Ninda)


Ray melangkah mendekati Evan, Litha tahu akan terjadi sesuatu kalau ia tak menarik tuas pengamannya. Litha langsung memeluk suaminya dari belakang. Tidak peduli dengan bubuk warna yang masih menempel dan pandangan orang-orang, yang penting suaminya tidak menggila.


"Mas, aku lelah, perutku sedikit kram. Aku ingin pulang. Aku yakin dia tidak akan menggangguku lagi," bisik Litha di punggung lebar milik suaminya.


Mendengar suara lembut istrinya, Ray menahan emosinya, itu nampak dari rahangnya yang mengetat dan kedua telapak tangan yang ia kepal kuat. Litha sedang menarik tuas pengaman amarah suaminya. Hanya mata Ray yang tajam menusuk Evan, membuat Danu Kusuma kalang kabut.


"Ma-- Maaf Tuan, pasti ada kesalahpahaman di sini," ujar Danu cemas.


Ray memejamkan matanya, mencoba mengontrol emosinya yang memun*cak, kalau saja Litha tidak memeluk dari belakang, Evan sudah babak belur ia hajar.


"Berani sekali kau melukai harga diri istri tercintaku. Apa seperti ini yang diajarkan orangtuamu? Merendahkan martabat seorang wanita? Tuan Danu Kusuma, kau hanya memiliki satu anak laki-laki, apa kau terlalu sibuk dengan kafe mu hingga tidak bisa mendidiknya dengan baik?"


Semua tercekat mendengarnya, Ray bisa mengontrol emosinya dengan tidak berbuat kasar karena Litha meredam dengan pelukannya dan suara yang di telinga Ray bagai suara malaikat dari surgawi.


"Aku urungkan niatku untuk menjadi investor Anda, Tuan Kusuma. Terbukti istriku salah bicara kalau dia menyukai beberapa menu di kafe Anda, makanannya tak disentuh dan minuman juga tersisa banyak."


"Hah, apa! Aku menyukainya Mas, tapi Evan yang membuatku tidak jadi memakannya." Litha bicara dalam hati masih memeluk Ray.


Ninda merutuki Bona habis-habisan, karena ia tahu mencari investor jaman sekarang sangat susah apalagi dalam jumlah besar. Om-nya kehilangan kesempatan hanya karena prasangka Evan yang tidak berdasar.


"Tu--Tuan Pradipta ...."


Danu terbata ingin bernegoisasi tapi mulutnya kaku tak bisa bergerak. Bagi Ray tidak ada toleransi jika berkaitan dengan sang istri. apapun alasannya.


Ray melepaskan tangan Litha yang memeluk perutnya, ia berbalik menghadap istrinya, ditatap lekat wajah yang hanya berhias pelembab bibir.


"Apa yang bisa kulakukan agar kau tidak merasa sedih, Sayang? Kalau aku tidak mengingat kata-kata Abyan yang harus menghargai keputusanmu untuk memberimu waktu agar kau lebih percaya diri, sudah aku panggil semua media di luar dan ku umumkan bahwa kaulah pemilik satu-satunya hatiku."


"Kita pulang ya, Mas. Betisku kram karena terlalu senang belanja tadi," kata Litha sengaja menunjukan kalau ia lagi senang agar mood suaminya kembali baik. Benar saja, Ray tersenyum sambil mengangguk.


"Pak Sas."


"Baik Tuan."


Ray hanya menyebut nama mantan asisten mendiang neneknya dengan dingin, itu artinya ada perintah yang harus segera Pak Sas lakukan, dan Pak Sas paham apa yang harus ia lakukan tanpa tuannya menyebut secara rinci perintah itu.


"Apa? Kau menyuruh Pak Sas untuk apa?" Litha bertanya dalam hati, sedikit panik.


Ray berbalik ke arah Evan, "Litha adalah istriku. Sebaiknya jaga sikap dan mulut kotormu itu sebelum badanmu yang kukotori dan kumasukkan sekalian ke dalam tanah!"

__ADS_1


Ancaman Ray membuat merinding siapapun yang mendengarnya, termasuk Litha. Sedetik kemudian ia berbalik kembali merangkul istrinya untuk pulang. Tapi betis Litha yang lelah membuatnya tiba-tiba luruh ke lantai, untung Ray di sebelahnya sigap menahan badan istrinya, wajahnya sudah terlihat panik, semuanya yang ada disitu juga was-was, khawatir membuat emosi Tuan Muda yang dikenal kasar memun*cak kembali.


"Lith, kau kenapa?" Hati Ray sudah diliputi kecemasan.


"Kakiku rasanya lelah sekali, Mas."


"Kugendong saja ya?"


Mata Litha membulat, kaget tapi ia juga tidak bisa bilang tidak, ia hanya bisa diam. Bathinnya mengatakan ini akan menarik perhatian banyak orang di luar sana. Saat Ray hendak mengangkat tubuhnya, tiba-tiba,


"Hastciii!"


Bubuk warna yang menempel di baju Ray tidak sengaja terhirup Litha dan membuatnya bersin cukup keras.


"Bubuk warna di bajumu banyak sekali, Mas," keluh Litha.


Litha mencari alasan agar ia tak digendong, ia lebih memilih di gandeng saja.Tapi bukan namanya Rayyendra kalau bisa diperdaya Litha, lomba mengupas kulit telur puyuh yang menjadi awal perasaannya pernah membuktikan itu semua.


"Ninda bantu Litha berdiri sebentar," titah Ray pada Ninda.


Ninda langsung menggantikan posisi Ray menahan tubuh Litha agar tak luruh. Kemudian Ray dengan spontan dan tanpa banyak bicara, menarik baju kaos yang penuh warna itu dengan kedua tangan keatas untuk melepasnya.


"Ray, apa yang-- "


Abyan tidak bisa meneruskan kalimatnya karena Ray sudah menyodorkan baju yang baru saja dibuka padanya, sayangnya baju ganti Ray berada di mobil.


Whoaaaaaaa .....


Semuanya terperanjat kaget, apalagi Litha yang seketika kakinya melunak seperti ubur-ubur tidak kuat menopang bobot tubuhnya, untung di topang oleh Ninda.


Lengan dan punggung kekar, otot dada yang padat, juga perut yang berbentuk kotak-kotak sebanyak enam kotak membuat siapapun, bahkan laki-laki akan terpana takjub penuh kekaguman.


Ninda tak berkedip dan meneguk salivanya sampai terdengar oleh Litha, "Tha, apa pemandangan ini yang kau lihat tiap hari. Sungguh indah ciptaan Tuhan."


"Apaan sih, Nin. Tutup matamu!" sahut Litha kesal.


"Ray ... " (Abyan)


"Gile aje si Ray pamer body kayak gitu. Ckckckck." (Bona)


Begitu bajunya ia serahkan pada Abyan, diraihnya badan Litha dan langsung menggendong ala bridal style dari kafe sampai mobilnya yang terparkir cukup jauh di area parkir VIP.


Whooooaaaaaahhh ...


Untuk kedua kalinya semua terperanjat lagi, bahkan kali ini awak media sudah siap di pintu kafe, ingin mengabadikan sekaligus berlomba-lomba mencari bahan berita yang akan trending.


Pewaris Pradipta Corp. Menggendong Istrinya Bertelanjang Dada di Color Run Festival


Kira-kira begitulah tajuk headline news yang akan ditulis nanti.


.


.


.


Wajah Litha merah seperti kepiting rebus, sangat malu diperlakukan demikian oleh suaminya.


"Pilih mana, ingin menampakkan wajahmu di media atau mencium ketiakku?" tanya Rayyendra di telinga Litha sebelum ia keluar dari kafe.


"Ishhh ... memang benar-benar kau ya!!" gerutu Litha kesal.


Tidak ada yang mau ia pilih diantara keduanya, tapi ia harus memilih karena kalau tidak, Ray akan seenaknya menentukan pilihan buatnya.


"Lebih baik aku mencium ketiakmu," gumamnya. Ray terbahak mendengarnya.

__ADS_1


"Ciumlah sepuasnya karena jarak sampai ke mobil lumayan jauh, hahahaha ... "


"Ishhhh ... "


Hhhmmmpppfhhh ....


Ketika mereka melewati pintu keluar yang diikuti Abyan, Ninda dan Bona, Litha menenggelamkan kepalanya di dada suaminya dan wajahnya menghadap ke ketiak suaminya. Hembusan nafas Litha yang terpantul di kulit Ray membuatnya meremang.


"Ah, Litha hembusan nafasmu saja membuatku candu. Shitt!"


"Aroma tubuhmu membuatku nyaman, Mas. Hhhhmmmppfffhhh .... Tak kusangka bau ketiakmu juga enak." Litha berkata sambil mengigit kulit tipis di bagian dekat ketiak menggunakan bibirnya.


"Litha, stop! Kalau kau lakukan lagi akan kuhadapkan wajahmu ke reporter," ancam Ray yang sudah merasai gelenyar di pangkal pahanya.


Litha mengalah, daripada wajahnya tertangkap kamera lebih baik ia tetap menikmati aroma yang mulai membuatnya diserang rasa kantuk.


"Kalau begitu aku tidur ya, Mas. Aku lelah sekali, begitu mencium tubuhmu, aku jadi ngantuk."


Lagi-lagi Ray tertawa, "Ya, tidurlah yang nyenyak, Istriku Sayang."


Klik ... Ceklik ... Ceklik ...


Bunyi blitz kamera dan riuh rendah suara kekaguman akan tubuh atletis Rayyendra juga perlakuan manis pada istrinya yang sedang hamil, membuat semua kaum hawa disitu terbawa perasaan dan mengelu-elukannya.


Belum lagi beberapa bulir keringat mengalir indah di lekuk punggungnya yang berkulit terang, membuat tubuh itu semakin sexy dan memperlihatkan keindahan maha karya Sang Pencipta. Ray tidak peduli kulitnya terkena langsung sinar matahari yang sudah meninggi ataupun dibanjiri keringat, ia hanya ingin membuat wanitanya nyaman hingga tertidur pulas dalam gendongannya.


"Secinta ini kah kau pada istrimu, Ray? Sampai kau tidak peduli orang di sekitarmu. Di matamu hanya ada Litha, Litha dan Litha. Ck." (Abyan)


"**T**ha, aku pengen di gendong kayak gitu ihhh." (Ninda)


"Gila kau Ray! Aksimu benar-benar gila! Sangat gila sampai Ninda-ku juga ikut terpesona denganmu. Ah, Ninda! Tidak bisakah kau kagum padaku saja. Tadi Abyan sekarang Ray." (Bona)


"Jaga matamu! Yang kau kagumi itu suami orang, suami sahabatmu sendiri." Bona memperingatkan Ninda yang mengikuti Ray menggendong Litha dari belakang.


"Hei! Jaga juga bicaramu! Aku hanya sekedar mengagumi ciptaan Tuhan. Aku tidak mungkin jadi pelakor, apalagi pelakor sahabat sendiri," balas Ninda ketus membuang mukanya.


Di lain tempat yang juga memperhatikan kejadian heboh itu ada sepasang mata yang tersenyum masam. Tangannya mere*mas botol air mineral yang airnya sisa setengah, begitu dire*mas semua airnya menyembur keluar. Ia tidak pernah melihat tubuh itu sebelumnya, sekarang hanya karena seorang wanita yang ia anggap lebih rendah darinya, Ray malah dengan sukarela memperlihatkan ke semua orang demi menggendong istrinya. Hatinya yang gersang karena kemarau tak berkesudahan kini nampak retak-retak di permukaannya. Ia tak lagi menangisi mantan kekasihnya, yang ada ia hanya membenci wanita yang telah merebut kekasihnya sampai ke dasar hati.


.


.


.


Ray telah sampai di parkiran mobil, tubuhnya penuh dengan keringat karena hari telah siang. Tapi Litha tidak juga bergerak, masih tidur dengan lelapnya.


"Apa Litha pingsan? Dari tadi kulihat ia tidak bergerak." tanya Ninda sedikit cemas, ia takut perkataan Evan melukai hati Litha.


"Tidak, Litha-ku hanya tertidur karena mencium ketiakku hahahaha .... "


"Hah!!!" kaget Bona dan Abyan serempak.


"Iyyuuuhhhh ... Tha, bucinmu kok jorok begini."


Ray terbahak mendengar Ninda mengatakannya dengan mimik seperti melihat sesuatu yang menjijikkan di depan matanya.


"Kalian bucin gila!"


Abyan membathin seraya membuka pintu mobil. Betapa kagetnya ia melihat banyaknya paperbag yang berisi makanan. Selain penuh di bagasi, ada juga sebagian di taruh di kursi barisan kedua tempat Ray dan Litha duduk.


"Ray, lihat kelakuan istrimu, mau dikemanakan paperbag yang ada di sini?"


Sepanjang Litha hamil ia kerapkali membeli makanan dalam jumlah besar, bahkan kadang sangat besar yang tidak masuk di akal, dan Abyan yang selalu dipusingkan setelahnya, untuk membereskan semua yang dibeli.


"Letakkan saja di depan, biar dipangku Pak Sas," perintah Ray.

__ADS_1


Abyan hanya bisa menghela nafas sambil memindahkan barang yang dimaksud dan mengambil baju cadangan yang disiapkan Litha tadi pagi untuk Ray kenakan.


- Bersambung -


__ADS_2