Istri Wasiat Tuan Muda

Istri Wasiat Tuan Muda
Pejuang Cinta (Part 3)


__ADS_3

Aku terlambat menyadari kalau aku jatuh cinta pada istriku sendiri


Entah mengapa pengakuan sederhana dari suaminya itu sangat romantis di telinga Litha. Terdengar tulus dari hati apa adanya.


Ray melepas pelukannya, tangannya menyentuh perut Litha, "Kenapa tidak kau katakan kalau hamil?"


Mata Ray belum puas melepas pandangan dari wajah istrinya.


"A-- aku takut kalau kau tidak menginginkannya, karena semuanya terjadi di luar kendalimu."


Litha mencoba jujur pada suaminya.


"Memang malam itu semua diluar kendaliku, tapi bukan berarti aku tidak menginginkannya. Kau istriku, dan dia ada dari pernikahan yang sah. Apa yang kau takutkan? Tapi aku tidak akan marah, aku yang salah."


"Tapi-- kita kan sedang dalam proses perceraian?"


Ray tersenyum, "Proses apa? Aku tidak pernah mendaftarkannya ke Pengadilan. Tanya saja Pak Prasojo kalau tidak percaya."


Mata Litha terbuka lebar, ekspresi yang sangat disukai suaminya.


"Kukira ... "


"Kukira apa? Kau masih istriku, jadi jangan berpikir macam-macam apalagi mencari ayah sambung buat anakku."


Litha tersenyum, meski pucat nampak rona kebahagiaan terpancar di sana.


"Litha, terima kasih telah memberiku kesempatan," ujar Ray menggenggam tangan Litha yang tak terinfus.


"Benar kau cinta padaku?" tanyanya.


Rayyendra mengusap pucuk kepala istrinya, "Aku akan buktikan kalau semua yang kukatakan sebenar-benarnya dari hatiku."


"Kalau begitu lakukan apapun untuk meyakinkan aku."


Litha menatap lekat netra suaminya, mencari adakah kebohongan disana. Ray hanya tersenyum.


Ia lalu mengecup perut Litha dan berkata pada janin yang ada di dalam perut, "Ayah bersumpah akan menjaga dan melindungi ibumu. Ayah juga bersumpah akan berusaha menjadi ayah yang baik bagimu dan adik-adikmu kelak."


Litha menitik airmata haru. Ia sama sekali tidak menyangka hati suaminya akan selembut ini padanya. Tuhan maha membolak-balikkan hati manusia. Semenjak ia meninggalkan rumah utama, tanpa diminta matanya selalu terbuka dini hari. Awalnya ia termenung, meratapi nasibnya namun ia sadar mungkin ini salah satu cara Tuhan mengajaknya untuk berdoa di saat yang lain terlelap tidur.


Doanya hanya satu, agar ia bisa hidup seperti ayah ibunya yang saling mencintai, entah dengan siapa ia akan mencinta dan dicinta, karena ia tidak berani memimpikan Rayyendra adalah orangnya meski hatinya menyebut nama suaminya. Dan kini Tuhan menautkan hati mereka. Ini bahkan serasa mimpi bagi Litha.


"Aku minta maaf, Litha." Ray kembali meminta maaf.


Litha tersenyum dan mengangguk pelan. Bagi sebagian orang mungkin akan berpendapat Litha mudah sekali memaafkan suaminya. Namun ia melakukan itu karena memikirkan anaknya kelak. Ray mau menerima anaknya dengan tulus, sementara sudah lebih dari cukup buatnya, urusan cinta mencinta akan bergulir seiring waktu, bathinnya.

__ADS_1


"Aku akan membahagiakanmu, tidak ada yang boleh menyakitimu meski diriku sendiri. Jika ada yang mencoba menyakitimu, dia akan berhadapan langsung denganku."


Litha masih menatap di kedalaman mata suaminya, ia tidak menemukan alasan untuk tidak percaya. Ah, betapa Tuhan sungguh baik padanya, mengabulkan pinta doanya.


Ray mengusap pelan tangan Litha yang begitu lemah, bahkan untuk bergerak pun ia belum boleh. Beberapa saat yang lalu saat ia memergoki Bibi Rima ingin mencarikan ayah sambung buat anaknya, ia sangat marah.


"Mau mencari ayah siapa? Dan siapa yang membicarakan istriku dibelakangnya, hah!"


Paman Tino terperanjat melihat siapa yang bicara, tapi tidak dengan Bibi Rima.


"Ma-- maaf, Tuan. Is-- istri saya asal bicara." Paman Tino menjawabnya dengan tertunduk takut.


"Tidak. Saya tidak salah bicara. Maaf Tuan, jika Tuan tidak berkenan. Tapi bukankah sekarang Tuan dan putri kami sedang dalam proses perceraian? Wajar jika kami keluarga satu-satunya yang dipunya, memikirkannya agar putri kami bahagia."


Tanpa takut akan sosok di depannya ini, Bibi Rima menahan sakit hatinya untuk Litha.


Abyan yang berdiri di belakang Ray berdecak, "Ckckckckck ... Bibi ini luar biasa, bisa berani bicara seperti itu di depan Ray, beda dengan suaminya yang baru melihat Ray kakinya sudah gemetar."


"Tidak akan ada perceraian. Litha tetap istriku, sekarang dan seterusnya. Dan jangan sedikitpun berpikiran keluarganya untuk mencarikan lelaki lain untuk ayah sambung anakku," kata Ray dingin mengintimidasi Bibi Rima, tapi Bibi Rima tidak mengendurkan nyalinya sama sekali.


"Jika itu terjadi, aku sendiri yang akan membunuh lelaki itu," pungkas Ray tajam.


Paman Tino serasa ingin kencing berdiri, Lima tahun ia bekerja di rumah utama, cukup untuk mengenal Tuan Muda Pradipta walau hanya dari cerita-cerita para pelayan. Tuan Muda ini dikenal dingin, arogan, kasar, tidak menerima penolakan atau kata tidak, dan menyeramkan.


"Kalau begitu, apa Tuan akan terus menyakiti putri kami. Saya, bibinya, pengganti ibunya tidak akan tinggal diam jika putri kami disakiti meski nyawa taruhannya."


"Bu, Bu ... jangan begini. Ini Tuan Muda." Paman Tino menarik-narik baju istrinya agar istrinya tidak melanjutkan pertarungannya, bagaimanapun ia tetap kalah.


"Saat ini bagi saya, ia hanyalah suami Litha. Jika ia masih membawa statusnya sebagai Tuan Muda, maka ia belum bisa menjadi seorang suami dan ayah. Egonya terlalu besar untuk dikalahkan. Tidak mungkin Litha akan hidup bahagia dengan orang seperti ini."


Bhuumm ....


Kata-kata Bibi Rima menusuk hati Ray sampai di dasarnya. Abyan dan Paman Tino pun tidak kalah terperangahnya. Keringat besar-besar sudah membanjiri dahi Paman Tino.


"Apa perempuan di keluarga Litha tidak ada rasa takutnya?" bathin Abyan bergidik.


Ray mendekati Bibi Rima, Bibi sudah siap dengan apapun yang akan ia terima, ia bukannya tidak takut, tapi demi Litha yang sudah dianggap anaknya sendiri ia tidak akan gentar. Tuan Muda di depannya ini juga sama-sama manusia yang darahnya berwarna merah.


"Paman, Bibi. Maafkan saya. Saya bersalah telah menyakiti hati istri saya dan akan menebus semua kesalahan saya. Terima kasih sudah menjaganya di masa-masa sulitnya. Paman dan Bibi tidak perlu mengkhawatirkannya lagi, saya akan membahagiakan Litha sepanjang hidup saya."


Rayyendra membuang harga dirinya dan menundukkan kepala di depan pengganti orang tua istrinya. Hal yang tak pernah ia lakukan selain kepada neneknya.


Bibi Rima tidak dapat berkata-kata lagi, ada haru di kabut matanya. Ah, ternyata cinta dapat mengubah seseorang.


"Tuan Muda sudah sampai," sahut Pak Sas baru saja muncul.

__ADS_1


"Bagaimana kabar Litha, Pak Sas?"


"Nyonya Muda baik-baik saja, Tuan. Sementara sedang beristirahat."


"Lalu anak kami?" tanya Ray pelan, pikiran buruk menyerangnya.


"Janin Nyonya Muda juga baik, Tuan. Hanya saja Nyonya Muda harus menjaga kondisi badannya, ia tidak diperbolehkan banyak bergerak. Minimal lima hari bedrest di rumah sakit agar tim dokter bisa memantau perkembangannya."


Ray diam saja. Rasanya ia ingin menangis, Tuhan telah memberinya kesempatan untuk menjaga istri dan anaknya, sekarang ia berharap istrinya juga memberikan kesempatan untuk bisa kembali kembali bersama.


"Dimana kamarnya?"


"Mari saya antarkan, Tuan."


Ray berjalan dengan hati yang tidak bisa dijelaskan, jantungnya berdegup keras menemui wanita yang ia cintai.


Kini, semuanya dalam keadaan yang diharapkan, beruntung istrinya bukan seorang yang penuntut dan manja. Ia cukup dewasa mengambil keputusan dan sikap, padahal tentu tidak mudah buat Litha yang harus melawan gejolak hatinya. Rayyendra sangat tepat melabuhkan cintanya pada Litha.


"Boleh aku menciummu?" tanya Ray memandang wajah istrinya yang tidak pernah puas dipandangnya.


"Ha!!!"


Litha membelalak kaget, ekspresi yang sangat disukai suaminya.


"Aku mau menciummu disini."


Ray menunjuk kening Litha, dan ia tergelak keras melihat pipi istrinya yang semerah tomat matang.


"Memangnya kau berpikir aku menciummu dimana, hah?"


Litha bertambah-tambah malunya, dipalingkan wajahnya ke arah berlawanan. Namun Ray mengambil wajahnya, dikecup kening istrinya dengan lembut, kemudian turun ke bibir dan dikecupnya perlahan. Netranya tepat menilik netra wanita kesayangannya.


"Aku mencintaimu, Navia Litha Sarasvati, sekarang dan seterusnya."


Hati Litha berlompat-lompatan di taman yang bunga-bunganya sudah mekar sempurna. Ia sangat bahagia mendengar pengakuan suaminya. Benar kata petuah ibunya, sejatinya cinta itu perbuatan, tapi cinta juga perlu pengakuan agar suatu hubungan itu kuat dan mampu bertahan menghadapi badai.


Di luar kamar, Abyan berkomentar, "Belum ada satu jam, tawa Tuan Muda sudah kembali Paman. Nyonya Muda memang sumber kebahagiaan bagi Tuan Muda."


"Lalu mana sumber kebahagiaanmu? Paman lelah harus menghindari pertanyaan ibumu terus," ketus Pak Sas.


Abyan menghela nafasnya sebentar, "Waktuku habis mengurusi Tuan Muda."


"Sekarang kau hanya mengurusinya untuk urusan di kantor, selebihnya kau juga bakal tidak dihiraukan. Di matanya sekarang hanya ada Nyonya Muda."


"Hhhhhh .... memang mencari pasangan semudah membalikkan telapak tangan apa."

__ADS_1


"Jangan terlambat mencarinya. Jangan sampai seperti Paman yang sendirian sampai saat ini." sahut Pak Sas sembari meninggalkan Abyan berjaga di depan pintu kamar rawat inap seorang diri.


- Bersambung -


__ADS_2