Istri Wasiat Tuan Muda

Istri Wasiat Tuan Muda
Membantumu Lebih Tenang


__ADS_3

"Pamaaannn, Bibiiiiii, Vaniaaaaaa .... " teriak Litha di pintu masuk begitu mereka pulang.


"Jangan lari!" Ray memperingatkan lagi yang membuat lari Litha berhenti dan akhirnya berjalan cepat.


"Jalannya pelan saja! Mereka tidak akan kemana-mana."


"Issshhh .... " Muka Litha merengut sebal dan akhirnya berjalan seperti biasa.


Semua yang ada disitu tergelak.


"Hati-hati dengan langkahmu!" Ray terus saja memberi peringatan.


Langkah Litha berhenti, ia berbalik ke suaminya yang berada di belakangnya, "Sekalian saja gendong aku kalau begitu!"


Ray menghela nafasnya, lalu ia mengangkat istrinya dalam gendongannya ala bridal style ke sofa di ruang keluarga, di sana sudah ada Paman Tino, Bibi Rima dan Vania yang tertawa melihat mereka, sedangkan Abyan hanya berdecak malas.


"Ada Paman, Bibi dan adikmu di sini. Aku dan Abyan di ruang kerja, kalau kau butuh sesuatu, bilang saja termasuk untuk menggendongmu ke kamar."


Pppffffttttt ...


Semuanya menahan tawa, Litha mendengus sebal mendengarnya tapi pipinya memerah, ia tahu suaminya menggoda dirinya di depan keluarganya. Namun Ray tidak terpengaruh, ia justru mendaratkan kecupan di kening Litha dan mengusap pipi istrinya dengan punggung tangannya.


"Kakak Ipar, bisakah Kakak mengenalkanku pada seseorang seperti Kakak Ipar yang romantis?" celetuk Vania yang disambut mata Litha yang melotot.


"Ada, yang nanti berjalan mengikutiku termasuk salah satunya. Yan," Ray memanggil Abyan kemudian mengikutinya dari belakang menuju ruang kerja dan malah menggoda Vania dengan mengedipkan satu matanya.


"Aigooooo .... ketuaan Kakak ... " pekik Vania diiringi gelak tawa Litha, Paman Tino dan Bibi Rima.


..............


"Hahaha ... kau nyambung saja Yan kalau aku lagi menggoda Si Tawon."


"Anak kecil itu memang berisik seperti Tawon hahahahah ... " gelak Abyan.


"Yan, apa Ramona sudah kembali atau masih disini?" tanyanya kemudian.


"Sudah kembali ke Ibukota."


Ray diam, melipat tangannya dan menyenderkan badannya di tepian meja kerja. "Apa dia masih belum bisa menerima kalau aku tidak akan kembali padanya. Bagaiman cara dia mencintai seseorang? Sangat aneh. Aku mencintai Litha, tapi tidak seperti itu."


"Kau yakin? Misalkan Litha memilih Firza, apa kau bisa terima?"


"Akan kubunuh Firza."


Seketika suasana hening.


Kubunuh ....


Satu kata itu menggema di gendang pendengaran mereka masing-masing. Air muka Ray tegang.


"Akan kubunuh Litha." Ray dan Abyan menyahut bersamaan dengan mengandaikan diri sebagai Ramona.


"Aaarrrrggghhhh .... "


Ray berteriak dengan mengusap kasar wajahnya, nafasnya memburu, hatinya gelisah. Sedangkan Abyan hanya mematung tanpa ekspresi. Ia bisa memastikan dalam pikiran Ramona akan terlintas demikian karena sesungguhnya sifat Ramona hampir mirip dengan Rayyendra, posesif dan keinginannya harus didapat.


"Yan ... "


Terlihat jelas ia menahan amarahnya, rahangnya mengetat.


"Tenangkan dirimu, Ray. Pak Sas akan selalu menjaganya, bahkan jika kau tidak bersamanya."


Ray menoleh ke Abyan, perkataan Abyan menarik perhatiannya, jika kau tidak bersamanya ....


"Pak Sas adalah abdi setia Nyonya Besar, walaupun kau menikahi orang lain tapi hanya Litha yang diakui sebagai cucu menantu Nyonya Besar. Pak Sas akan tetap menjaganya karena Litha bagian dari Keluarga Pradipta, apalagi diketahui Litha hamil keturunan dari Pradipta."


"Shitt!!! "


Ray memaki dirinya sendiri, buku-buku jemari ia hantamkan ke permukaan meja kerjanya hingga memerah. Ia marah pada dirinya sendiri, menyalahkan dirinya sendiri, ia merasa malu dengan dirinya yang tidak bisa melindungi istrinya sendiri, ironisnya Litha justru mendapat perlindungan dari orang yang sudah tiada.

__ADS_1


"Suami macam apa aku ini! Aaaarrrrggghhhh .... " teriaknya dalam hati.


"Aku tidak bisa memaafkan diriku sendiri kalau sampai terjadi apa-apa dengan istri dan anakku," ujar Ray mendengus kasar dengan posisi membungkukkan sedikit badannya dan menatap meja kerja, rahangnya masih mengeras.


"Bukan Ramona yang harus kau khawatirkan. Meski ia nekad tapi gerakannya bisa terbaca, ia tidak pandai menutupi isi hatinya sama sepertimu. Yang harus kau wapadai adalah Sebastian."


"Sebastian?" Ray berbalik dan maniknya menjurus ke manik Abyan.


"Urusanku dengannya sudah selesai! Aku hanya mengambil aset yang seharusnya menjadi milik Pradipta Corp. tanpa memenjarakannya, apa yang ia mau dendamkan? Atau karena dia ayah Ramona? Dia tidak terima kalau aku memiliki istri yang bukan putrinya?"


Ray mencecar pertanyaan tanpa memberi jeda pada Abyan, emosinya meledak-ledak, sebisa mungkin ia tahan untuk tidak mengacaukan ruang kerja seperti sebelumnya yang ia lakukan kalau marah. Ia tidak ingin Litha melihatnya dalam keadaan marah seperti kesetanan.


"Tenangkan dirimu, Ray. Litha dan bayinya akan baik-baik saja. Justru kau seperti ini akan membuatnya khawatir."


Abyan menepuk pundaknya beberapa kali, mencoba mendinginkan hati dan pikiran sahabatnya. Abyan, si pengamat jeli akan keadaan dan orang-orang sekitarnya telah memahami karakter Rayyendra, Bona, Ramona, Litha, Ninda bahkan Si Tawon, Vania.


Hari semakin malam, Ray masih gundah di ruang kerjanya, di depannya ada beberapa berkas yang dikirimkan Sasha melalui email tapi ia hanya memutar-mutar pena di jari telunjuk dan jari tengahnya.


Litha ...


Ray merasa seseorang yang menjadi hidup matinya tengah terancam, entah hanya pikirannya yang berlebihan atau terlalu khawatir, yang jelas ia tidak bisa bekerja dengan tenang.


Ting ...


Notifikasi chat masuk dari istrinya.


Mas, jam berapa ini? Kau masih bekerja? Apa pekerjaanmu banyak? Apa perlu kubantu menyelesaikannya? Kau hanya perlu mengajariku sedikit saja, aku yakin aku bisa membantumu, otakku ini encer.


Ray tersenyum membacanya, "Dasar narsis ... "


Sedikit lagi, Sasha mengirimkan email cukup banyak hari ini. Kau ingin aku temani tidur dulu? (Ray)


Tidak usah. Selesaikan saja pekerjaanmu. Aku tidak akan mengganggu, tapi kalau nanti Mas sudah selesai dan aku ketiduran, bangunkan aku ya (Litha)


Membangunkanmu? Untuk apa? (Ray)


Ray tersenyum saat membalasnya, ia bisa membayangkan rona merah di pipi istrinya saat membaca chat balasan darinya.


Untuk apa? Ya untuk menemaniku tidur, titik. (Litha)


Ray tergelak, "Orang sudah tidur minta dibangunkan untuk ditemani tidur lagi, aneh sekali ibu hamil satu ini hahahaha .... "


Tidur atau 'tidur' ? (Ray)


Ray membalasnya dengan iseng, ia tertawa lagi. Tidak berapa lama, pintunya dibuka tanpa ada ketukan terlebih dahulu. Istrinya masuk dengan wajah cemberut, ia membawa bantal dan selimut.


Mata Ray membelalak, "Kau mau tidur disini?"


"Ya, jadi kalau Mas sudah selesai bisa membangunkan aku untuk pindah ke kamar, tidak ada pertanyaan lagi kan?"


Ray terbahak dan menggeleng-gelengkan kepalanya, ia harus akui otak istrinya memang encer, bisa membuat Ray tidak lagi membantah atau mengelak. Didekatinya Litha yang sudah duduk dan mengatur bantal untuk tiduran.


"Apa ini nyaman?" tanyanya sembari membantu Litha merebahkan tubuhnya ke sofa. Litha mengangguk dan tersenyum.


"Tidurlah, aku senang kau menemaniku kerja disini," kata Ray, kemudian menyelimuti dan mencium kening istrinya


Mata Litha yang memang sudah mengantuk dari tadi, langsung terpejam dan tidak menunggu lama terdengar suara dengkuran yang cukup keras. Ray menahan tawanya.


"Meski nafasmu bau ikan dan dengkuranmu keras, aku tetap menyayangimu. Kau sudah mengalihkan duniaku, Litha, yang dulunya Pradipta Corp. sebagai yang utama, kini hanya dirimu dan anak kita yang paling utama." Ray memandang wajah tidur istrinya yang polos dengan mengelus pelan pipinya.


"Ehmmm ..... eehhmmmm ... Kalau memang aku yang paling utama semestinya kau lebih memilih tidur denganku, eeehhhmmm ... " Litha bergumam dengan mata terpejam.


Ray kaget, "Dasar!!! Kau belum tidur rupanya atau otak encermu itu selalu terjaga. Hehehehe ... tidurlah, masih ada yang harus ku kerjakan."


Ray mencium pucuk kepala Litha lalu melanjutkan kembali pekerjaannya yang belum selesai. Ia sudah bisa kembali bekerja dengan tenang dengan sesekali melihat istrinya tidur di sofa.


"See ... Kau yang butuh aku temani. Entah apa yang membuatmu gelisah, tapi aku senang, kehadiranku disini meski cuma berbaring bisa sedikit membantumu lebih tenang. Aku mencintaimu, suamiku .... eeehhhmmmmm" gumam Litha dalam hatinya sebelum ia benar-benar terbang ke alam mimpi.


...🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀...

__ADS_1


Di salah satu rumah di pinggiran Ibukota, tidak nampak ada ketenangan sama sekali. Saling beradu mulut tanpa ada yang mau mengalah.


"Kau!!! tidak boleh keluar dari Pradipta Corp." sengit Sebastian menunjuk muka putrinya.


"Ayah, dia sudah mencampakkan aku. Aku sudah tidak punya muka lagi di depannya. Dimana harga diriku kalau aku masih bekerja disitu, Ayah?" rengek Ramona menghiba pada ayahnya.


"Hah! Persetan dengan harga diri! Lalu kalau kau tidak bekerja disana, kau mau kerja dimana? Ayahmu sudah dipecat oleh Si Brengsek itu."


"Sekarang giliran Lucas yang harus memikirkannya, Ayah. Sampai kapan Ayah mau memanjakannya, dia laki-laki, dia harus bekerja, bukan malah menerima!"


"Kakak!" sergah Lucas tidak diterima dengan perkataan kakaknya.


Sebastian mendengus kasar, ia sedang menahan emosinya, jika sikapnya terlalu keras ia takut Ramona akan pergi meninggalkan mereka.


"Lucas diamlah! Ramona, kau yakin kau hidup tanpa ada penghasilan? Bagaimana dengan gaya hidupmu? Bertahanlah di sana, nanti Ayah akan carikan jalan agar Ray kembali padamu dan melupakan perempuan sialan itu." Sebastian melunak pada Ramona.


"Tapi Ayah, Ray jelas-jelas memilih istrinya dibandingkan aku hanya karena ia mengandung anaknya."


Ramona kembali mengangkat emosi ayahnya yang sudah ia letakkan dibawah.


"Dia mengandung anak Tuan Muda? Bagaimana bisa? Bukankah mereka hanya menjalani pernikahan kontrak sampai urusan pengalihan aset selesai."


Seketika Mona menangis, hatinya sakit bila mengingat Litha mengandung anak dari lelaki yang ia cintai.


"Lihat, Monaaaa!!! Lihat! Kau sudah kecolongan berapa kali, hah!!! Harusnya yang hamil itu kamu! Bukan perempuan sialan itu! Aaaarggghhhhh ... !!! Brengsek!!!"


Prang !!! Prang !!!


Ramona menghentikan tangisnya, ia menutup kedua mata dan telinganya. Sebastian mengamuk membanting apapun di dekatnya. Ia sangat marah mendengar istri wasiat dari Nyonya Besar hamil karena tentu saja akan menjauhkan dari harapannya.


"Bas, sudahlah! Tenangkan dirimu, jangan membanting barang. Kita sudah miskin jangan merusak barang-barang yang akan kita beli lagi." Suara Winda membahana di ruangan itu.


Sebastian menghentikan aksinya, nafasnya terengah-engah dan matanya menyalang. Dia harus menahan dirinya untuk tidak menampar Ramona, ia masih membutuhkan Ramona untuk menopang kehidupan keluarga mereka sehari-hari.


"Mona, kemarilah!"


Mona membuka matanya awas, ia harus berjaga agar tidak dipukuli ayahnya seperti biasa, ia tidak bergeming dari tempatnya.


"Kemarilah! Ayah tidak akan menyakitimu."


Perlahan Mona berjalan takut-takut mendekati ayahnya. Begitu ia sampai di dekat ayahnya, Sebastian langsung memeluknya, "Maaf, aku marah bukan padamu, aku marah pada perempuan sialan itu yang sudah merebut milikmu."


Mona kembali terisak di pelukan ayahnya, ia masih mendengar ayahnya berkata, "Apa kau masih menginginkan Tuan Muda, Mona? Dari awal Ayah sudah memperingatkanmu, jangan melibatkan hati. Sekarang lihat! Kau sakit hati bukan?"


Mona mengangguk pelan masih dalam pelukan Sebastian.


"Kau sudah terlanjur mencintainya sepenuh hati, perjuangkan apa yang seharusnya menjadi milikmu, kau tidak boleh menyerah selama kau memegang cinta itu."


Sebastian mengurai pelukan putrinya, ditatapnya lekat-lekat wajah putrinya yang sudah menganak sungai.


"Katakan Ramona, apa kau masih menginginkan Rayyendra?"


"Aku masih mencintainya, Ayah!" jawabnya dengan linangan air mata.


"Kalau begitu dengarkan kata Ayah. Ayah akan membantumu karena kau satu-satunya putri Ayah."


"Apa yang harus aku lakukan?"


"Kuatkan hatimu! Kau harus tetap bekerja di Pradipta Corp. sebagai direktur Prad's Fashion & Style selama Tuan Muda tidak memecatmu. Selain kau bisa membantu keluargamu hidup, kau juga bisa mengamati celah untuk merebut perhatiannya lagi."


"Tapi-- tapi Ray tidak mencintaiku? Bagaimana mungkin aku bisa merebut perhatiannya?"


"Bodoh! Itulah dirimu, selalu membantah apa yang Ayah katakan, jika saja dari dulu kau turuti apa yang Ayah suruh, kau yang menjadi Nyonya Muda Pradipta dan tidak akan terluka seperti ini!"


Ramona diam, ia membenarkan apa kata Sebastian, ia dulu sangat bodoh mencintai seorang Rayyendra yang ternyata tidak mencintainya, dia berada di sisinya hanya karena sebuah bentuk rasa iba. Oh, sungguh menyakitkan menerima kenyataan tersebut.


"Tunjukkan bahwa dirimu adalah wanita yang dewasa yang bisa menerima kenyataan bahwa Ray telah beristri. Katakan padanya kau menerima kenyataan itu tapi jangan menjauhkan dirimu dengannya, tetaplah berada di setiap kesempatan yang kau bisa dan kesempatan itu hanya bisa kau dapatkan di Pradipta Corp. Bayangkan jika kau keluar, bagaimana caranya untuk mendekatinya? Percayalah ia tidak akan menolakmu. Bagaimanapun juga kau dan Tuan Muda pernah memiliki kenangan manis."


Ramona diam, dengan mata nanar ia menatap ayahnya. Kali ini ia akan menuruti ayahnya, bukankah tidak ada seorang ayah yang ingin menjerumuskan anaknya sendiri. Ia merutuki dirinya yang dulu karena membangkang pada ayahnya padahal yang ayahnya lakukan semata-mata hanya untuk menjaga putrinya agar tidak terluka.

__ADS_1


- Bersambung -


__ADS_2