
Akhir pekan tiba, sedari subuh Litha sudah sibuk membuat sarapan dan menyiapkan segala keperluan dirinya dan suami. Masing-masing paket baju ganti lengkap dengan perlengkapan mandi sendiri yang akan digunakan setelah mengikuti Color Run Festival tahun ini.
Ray dan Litha menggunakan kaos seragam yang sudah dipersiapkan untuk acara ini, kaos lengan pendek warna putih bertuliskan nama kegiatan tersebut di bgian punggung ditambah logo Pradipta Corp. di dada sebelah kiri khusus untuk mereka para karyawan di seluruh naungan perusahaan Pradipta Corp. yang ingin mengikuti ajang lari santai 5 kilometer tersebut.
Bedanya, Ray mengenakan celana pendek olahraga berwarna hitam, sedangkan Litha memadukan dengan celana ibu hamil 3/4 warna hitam juga, rambut panjangnya yang niatnya diikat satu ekor kuda, tidak ia lakukan, ia hanya mengikat rambut sebagian ke belakang, sisanya dibiarkan tergerai indah. Ini akibat gigitan-gigitan suaminya tadi malam yang meninggalkan jejak merah kehitaman di beberapa titik di leher, bahu dan dadanya.
Litha tidak nampak seperti istri dari seorang Presdir perusahaan besar. Tampilannya yang fresh, sederhana dan make-up tidak berlebihan membuatnya bagai mahasiswi tingkat pertama, kalau saja perutnya tidak membuncit.
"Sayang sekali, aku tidak boleh ikut lari, padahal aku suka berlari, satu-satunya olahraga yang aku kuasai, apalagi lari dengan bertaburan bubuk warna-warni, pasti menyenangkan sekali."
"Hehehehe ... bersabarlah sampai anak kita lahir, aku sendiri yang menyelenggarakannya, kau akan berlari sampai puas."
.
.
.
Abyan yang juga sudah mengenakan kostum untuk lari datang menjemput mereka ditemani Pak Sas.
"Lho, Pak Sas gak ikut lari?" tanya Litha melihat Pak Sas dengan pakaian resminya.
"Tidak, Pak Sas akan menemanimu sepanjang aku lari."
Pertanyaan Litha sebenarnya ke Pak Sas tapi dijawab oleh Ray, tentu saja karena dia yang memberi titah. Gagal sudah rencananya untuk berkeliling ke seluruh stand untuk mencoba berbagai makanan yang ditawarkan. Gerakannya pasti terbatas karena diawasi Pak Sas. Kalau ia telah diperintah suaminya maka bisa dipastikan aturan-aturan suaminya akan dipatuhi dan sedihnya Pak Sas tidak bisa dibujuk untuk melanggar sedikit saja perintah suaminya.
Bibir Litha mengerucut protes tapi ia tidak berani mengatakannya, karena ia tahu itu keputusan final Ray yang tidak menerima penolakan bahkan jika Litha merayunya di ranjang sekalipun.
Abyan yang menyadarinya tergelak kecil, "Ternyata kau masih bisa memegang kendali atas istrimu, Ray hahahahaha ... Hebat! ada bagian dimana kau bisa membuat istrimu menurut padamu."
Litha mendelik sinis ke arah asisten suaminya, "Kau menertawakanku, Asisten Yan?"
"Oh ya, Asisten Yan. Aku belum memberimu pelajaran tempo hari karena kau membohongiku, kan?" sahut Litha sembari tangannya meletakkan sandwich isi telur, keju dan sayuran sebagi sarapan yang akan mereka santap sebelum berangkat ke atas meja makan.
"Hah! Kapan Nyonya? Mana saya berani melakukannya?"
__ADS_1
Abyan kaget mendengarnya, ia coba mengingat-ingat kebohongan yang dimaksud, ia juga melirik ke arah Ray yang sedang membantu Litha menaruh tiga cangkir kopi rendah gula dan segelas susu buat istrinya di meja, tapi Ray hanya tersenyum penuh arti.
Perilaku Tuan Muda yang baru kali ini dilihat oleh Pak Sas sungguh membuatnya takjub. Mungkin melayani diri sendiri atau istrinya, ia bisa maklum, tapi ini ia membantu Litha menyiapkan sarapan untuknya dan juga Abyan.
"Apa kau lupa, Asisten Yan? Kau bilang Suamiku tidak apa-apa di telepon, tapi ternyata saat pulang dia tidak seperti yang kau katakan, dan aku harus membuat suasana hatinya kembali baik dengan bercinta 3 kali, dia bisa saja masih menambahnya kalau tidak kubilang perutku sakit," cerocos Litha dengan tangannya yang sibuk menambahkan sesendok madu murni dan mengaduknya ke dalam air putih hangat untuk suaminya di meja makan.
Wajah Ray merah bukan lagi seperti tomat matang tapi saos tomat yang diberi pewarna tambahan. Litha tidak menyadari ada Pak Sas disitu, Abyan tidak tahan lagi, sedetik kemudian ia terbahak keras yang menyadarkan Litha akan ucapannya. Pak Sas menahan senyumnya sekuat mungkin sambil mengalihkan pandangannya ke arah lain dan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
Kemarin citranya runtuh di depan dr. Vivian, sekarang di depan Pak Sas, lelaki yang ia sudah anggap ayahnya sendiri, tentu saja membuatnya lebih malu. Ia serasa ditelanjangi istrinya sendiri, bahkan untuk mengumpat dalam hatipun tak bisa.
Litha langsung memeluk suaminya, ia tahu perbuatannya telah membuat suaminya malu setengah mati.
"Maaf, maafkan aku, Mas ... Aku tidak menjaga mulutku. Semuanya gara-gara Asisten Yan," kata Litha mengadu seperti anak kecil, menyembunyikan wajahnya di dada Ray.
"Whatt!! Gara-gara aku? Memangnya apa yang kulakukan? Bahkan aku tidak bergerak sedikitpun. Pintar sekali dia mengkambing hitamkan aku. Bos selalu benar, anak buah selalu salah, hhhhhhhhh .... " gerutu Abyan dalam hatinya yang disambut tepukan di pundaknya oleh Pak Sas, seakan ikut mendengar suara hati keponakannya itu
Ray mengurai pelukannya lalu tersenyum, ia tidak bisa marah pada istrinya, terlebih apa yang dikatakan istrinya itu memang fakta.
"Tidak apa-apa. Semua memang karena Asisten Yan, dia juga membuatku kesal saat itu. Bukankah tadi kau bilang ingin memberinya pelajaran?" kata Ray lembut membelai pipi Litha yang terlihat agak sedikit lebih chubby.
"Apa interaksi kalian bertiga seperti ini setiap hari? Hahah ... pantas saja hidup Tuan Muda sangat berwarna, sinar sendu di mata Tuan Muda juga tidak pernah nampak lagi, seperti kemarau panjang dihapus hujan sehari." (Pak Sas)
Hanya Nyonya Besar, Sasmita dan Iskhak yang bisa melihat sinar sendu Ray dibalik tatapan angkuh dan dinginnya selama ini. Ray sangat pintar menyembunyikan sendu itu pancaran matanya sehingga yang dilihat orang-orang hanyalah sinar kearoganan yang bercokol di sana. Sendu karena ada bagian hidupnya yang hilang tapi sangat ironis sebab ia sendiri tidak tahu apa itu.
Litha segera masuk ke kamar, lalu tidak lama keluar membawa paperbag berukuran sedang, diserahkannya pada Abyan, "Asisten Yan harus pakai ini untuk lari di Color Run Festival sebentar."
Dengan mimik bingung diterimanya paperbag itu, diintip dan dikeluarkan isinya. Demi apapun ia terperanjat melihat benda di tangannya.
"Nyo-- Nyonya, apa ini?" tanya Abyan ragu.
"Ya, celana olahraga, hanya saja warnanya pink. Pak Sas, ayo silahkan sarapan dulu, nanti keburu dingin kopinya," jawab Litha cuek sambil menyilakan Pak Sas yang sudah tidak bisa lagi menahan tawanya untuk duduk.
Giliran Ray yang terbahak dan mengikuti Pak Sas duduk di meja makan untuk segera menghabiskan sarapan yang dibuat istrinya.
__ADS_1
"Jangan mengaguminya seperti itu. Sarapan dulu Asisten Yan, biar kuat lari dengan celana itu," seloroh Litha tersenyum puas.
"Shiiitttt!!! Bagaimana mungkin aku pakai celana warna ini di tengah orang banyak dan kolega Pradipta Corp.!!!"
"Yan, aku tidak mengizinkanmu untuk mengumpat Nyonya Muda-mu. Hanya aku yang boleh, hahahahahaha ..... " kelakar Ray, ia sangat puas melihat wajah jengkel level dewa sahabatnya itu.
"Ayo, makanlah segera Yan, tidak sopan menolak tawaran makan dari seseorang apalagi Nyonya Muda yang membuat dengan tangannya sendiri. Tidak semua orang seberuntung kita dibuatkan sarapan oleh Nyonya Muda dan hanya kau yang beruntung dihadiahi celana baru untuk dipakai lari. Kurasa Tuan Muda saja mengenakan celana yang sudah ia punya."
Baru kali ini Ray dan Litha mendengar Pak Sas berbicara dengan kalimat sepanjang itu, dan makin membuat Ray terbahak-bahak, hal yang sama juga dilakukan Litha, ikut terbahak sambil memegangi perutnya.
"Benar, benar Pak Sas. Sudah kubilang kan, Litha sangat peduli padamu, hanya kau yang diingatnya ketika membeli online celana itu. Akupun dilupakannya, tapi tidak apa, aku tidak keberatan. Aku akan memintanya bercinta 3 kali nanti malam sebagai hukumannya karena lebih memperhatikan laki-laki lain dibanding suaminya."
"Apa!!! Haisssshhh ... kau sangat menyebalkan sekali, Mas." Litha memukul bahu suaminya.
Ray, Pak Sas tertawa bersama melihat pipi Litha yang merona pink seperti warna celana olahraga yang diberikannya ke Abyan.
"Bersiaplah Nyonya, sebentar akan ku berikan purwaceng pada Ray."
"Apa!!! Jangan, jangan Asisten Yan, bisa mampus aku nanti," sergah Litha cepat. Ia tahu apa yang dimaksud Yan karena jenis minuman tradisional itu lumrah dijual di kotanya dan daerah Yan yang letaknya berdekatan. Abyan dan Pak Sas yang juga mengerti tergelak nyaring.
"Apa itu pur-- pur-- apa tadi?" tanya Ray yang baru pertama kali mendengarnya.
"Lekas habiskan sarapanmu, Suamiku, kita bisa terlambat nanti," ujar Litha cepat dan masih diiringi gelakan Abyan dan Pak Sas.
Suasana pagi di apartemen Rayyendra begitu hangat layaknya sebuah keluarga, tanpa batas dan kecanggungan, semua menjadi dirinya sendiri. Terutama bagi lelaki paruh baya yang tengah menyesap nikmatnya kopi buatan Litha, ia serasa memiliki 3 orang anak. Meminum kopi yang disajikan putrinya sambil diselingi gurauan dua putranya yang terus berdebat tanpa ada yang mau mengalah.
Walaupun ia sendiri, tidak memiliki keluarga, namun ditemani sarapan dengan 3 'bocah' membuat dinginnya hati Sasmita mencair dan menghangat seperti sinar matahari pagi.
- Bersambung -
Keterangan :
Ada yang tahu apa itu Purwaceng? Purwaceng/Purwoceng dengan bahasa latin pimpinella pruatjan adalah sejenis tanaman yang banyak ditemukan di daerah Dataran Tinggi Dieng dan Gunung Lawu (Jawa Tengah), di Gunung Pangrango dan Galunggung (Jawa Barat), serta di Dataran Tinggi Tengger dan Iyang (Jawa Timur). Namun sekarang termasuk ke dalam kategori tanaman langka dan hampir punah. Purwaceng dipercayai sebagai herba alami vitalitas pria untuk meningkatkan kejantanan di atas ranjang, meski belum ada penelitian lebih lanjut akan khasiat dan efek dari tanaman tersebut.
Ada yang tertarik untuk mencobanya? 🤭🤭
__ADS_1