
# Amore Club&Party #
Sesosok lelaki muda frustasi dengan hidupnya. Ia menghabiskan berbotol-botol minuman keras hingga menggoyang kesadarannya. Hilangnya harapan wanita yang sangat ia cintai dan kepercayaan dari orangtuanya membuatnya tenggelam dalam minuman beralkohol.
"Hik ... Sialan! Hik ... Kau benar-benar sialan, Litha! Kau matre, hik ... Kau mendapat ikan besar hik. Dasar ja*lang!"
Evan setengah mabuk memaki-maki wanita yang ia cinta. Ia masih belum sepenuhnya menerima kalau Litha adalah istri Tuan Muda, antara percaya dan tidak percaya. Diteguknya lagi minuman langsung dari botolnya hingga membasahi leher untuk menghilangkan dahaga di tenggorokan karena meracau.
Seorang gadis dengan baju ketat dan modis menghampiri Evan, diperhatikannya dari dekat dari atas sampai bawah lalu dari bawah sampai atas. "Evan ? Iya, kamu Evan, kan?" gadis itu menggoyang-goyangkan bahu Evan hingga ia menoleh.
Evan memicingkan mata, meneguk lagi minumannya, "Siapa kamu??? Kamu Litha?"
"Litha siapa? Aku Renata, Re-na-ta, pacar SMA-mu."
"Engg ... " dengung Evan seperti berpikir, "SMA ya, eng ... SMA ... Litha kah?" tanya Evan memainkan jarinya menunjuk-nunjuk Renata.
"Shitt! Aku bukan Litha, blotto!" hardik Renata kesal, ingin beranjak dari tempatnya. (blotto \= sangat mabuk; informal)
"Kenapa Ren?" tiba-tiba ada suara yang menyapanya, Renata menoleh dan tersenyum kecut.
"Hai Rin, baru datang?"
Airin mengangguk, lalu memesan margarita pada bartender. "Siapa dia?" sambil menunjuk dengan matanya pada sosok lelaki yang sudah mabuk di samping Renata.
"Dia mantan pacarku di SMA."
"Hah! Kenapa kau bisa berpacaran dengan orang menyedihkan seperti itu?"
"Kenapa memangnya? Dia cowok paling populer di SMA."
"Ah ... ya, mungkin waktu itu, tapi coba kau lihat sekarang dia sangat berantakan sekali dan wajahnya ada lebam bekas dipukuli."
"Oh ya?" Renata memperhatikan wajah Evan dengan seksama, "Kau benar Rin. Dia habis dipukuli."
"Sudah berapa botol yang dia habiskan?" teriak Renata pada bartender, telunjuknya menunjuk ke Evan yang masih meracau tidak karuan, yang terdengar hanya nama Litha disebut-sebut.
"Ini yang ke-empat, Nona!" Bartender itu menaruh botol ke depan Evan.
__ADS_1
"Hei Bodoh, mana minumanku!!!" hardik Evan pada bartender karena dia merasa belum diberikan minumannya, padahal botol vodka yang dimaksud sudah ada di depannya.
"Dasar, sudah mabuk masih saja bertingkah!" Renata merebut botol itu sebelum Evan mengambilnya. "Apa yang membuatmu mabuk seperti ini! Setahuku kau memang suka minum tapi tidak se-frustasi ini."
"Berikan minumanku!"
"Tidak sebelum kau memberitahuku alasan kenapa kau seperti ini."
"Ini semua hik ... gara-gara Litha! Aku begini karenanya, karena Litha, hik ... hik ... Litha ... kenapa harus dia, hik ... kau tega sekali hik ... Padahal kau bukan wanita matre hik ... tapi kenapa kau pilih hik ... diaaaa ..."
Renata tersenyum mengangkat satu sudut bibirnya. Dari racauan Evan, ia tahu bahwa lelaki yang pernah menjadi pacarnya itu patah hati hingga melarikan diri pada alkohol.
"Van, kau terlihat begitu tersiksa."
Evan menghadapkan wajah dan memukul-mukulkan dahinya ke meja. Renata berbisik padanya, "Kau tahu kan, apa yang bisa membuatmu rileks dan bisa melupakan segala hal yang menyiksamu."
Evan memiringkan kepala hingga wajahnya melihat Renata, ia tersenyum sinis, "Aku tidak bisa melupakannya, hik ... " Evan kembali menghadapkan wajahnya ke meja.
"Kau salah, Van. Kau bisa melupakannya. Kau tahu pasti itu. Jangan menyangkalnya. Kau masih menyimpan nomorku, kan? Kau bisa menghubungiku kalau kau memerlukannya. Kuberi diskon 50 persen karena kau pernah mengisi cerita SMA-ku."
"Kau masih menawarkannya? Bukannya kemarin dia bersikukuh tidak mau memakainya?" tanya Airin menyela, menenggak tetesan terakhir margaritanya.
"Heheh ... Kau tidak minum, Ren?"
"Tidak. Besok jam 5 shubuh aku harus ke lokasi syuting, jadwal stripping membuatku gila."
"Kalau begitu ngapain kau kesini. Pulang sana istirahat! Tiap malam kau kesini padahal besok paginya kau harus syuting."
"Heheh ... Siapa tahu ada Tuan Muda Pradipta menghabiskan malam disini."
"Jangan mimpi! Tuan Muda sudah tidak ke klub ini sejak dia menikah."
Renata menghela nafas, "Siapa tahu dia bosan dengan istrinya dan menghibur diri untuk minum ke sini."
"Hahahaha ... Bangun Ren! Kau tidak lihat berita tadi pagi dan trending di media sosial?"
"Huh! Menjijikkan! Manja sekali dia minta digendong tanpa menampakkan wajahnya."
__ADS_1
Airin terbahak mendengar umpatan Renata untuk seseorang yang sejatinya disebut-sebut Evan sebelumnya.
"Sudahlah, kau sasar saja asistennya, kudengar dari Bona dia masih sendiri. Dia juga kemarin disorot dengan celana pink saat lari. Hehehehe ... dia nampak seperti puding strawberry, verry sweet ... "
"Hahahahaha ... Buat kau saja? Bukannya Bona sudah tidak ingin kembali lagi padamu," sindir Renata yang membuat Airin kesal.
"Huh! Gara-gara gadis itu, Bona tidak menghiraukanku."
"Kau juga kenapa masih mengharapkan Bona, sudah tahu orangtuanya tidak menyukaimu. Apa kau tidak lelah mengejarnya?"
Airin menghela nafas berat, "Dulu aku terlalu menyombongkan diri saat jadi model dan pergi meninggalkan Bona yang sempat memohon untuk bertahan dengannya. Tapi sekarang job modelku sudah berkurang, banyak anak-anak baru yang lebih murah bayarannya."
"Jadi, kau ingin kembali dengan Bona karena ingin menumpang hidup bukan karena cinta, haa ..!"
"Hei! Jangan menudingku! Kau kesini tiap malam untuk mengharapkan Tuan Muda datang kesini kan! Kau juga ingin mencari jaminan hidupmu. Aji mumpung kau Ren, mentang-mentang sedang naik daun."
"Hah! Tuan Muda! Tuan Muda! What the hell Tuan Muda! Kalian melihat uangnya saja kan! Begitu juga istrinya. Idiot!!!" maki Evan keras sebelum akhirnya ia benar-benar tumbang.
Airin langung memanggil Boy untuk mengurus Evan yang teler dan melanjutkan lagi obrolannya dengan temannya yang ia kenal sejak merintis karir di dunia hiburan yang mana Airin lebih dikenal publik terlebih dulu.
...***...
Hari masih berembun dan enggan menyambut pagi, Rayyendra menggeliat memeluk istrinya. Matanya terbuka seketika mendapati istrinya tidak ada di sampingnya. Pandangan matanya menangkap sosok wanita asing di depan kaca rias mematutkan pakaian.
Ray memicingkan matanya, "Litha!" pekiknya terbangun dari tidurnya.
Yang disebut namanya hanya menoleh dan tertawa kecil. "Mas sudah bangun?"
"Kenapa berpakaian rapi begitu? Kau mau kemana?" tanya Ray heran, namun lebih ke takjub. Baru kali ia melihat istrinya berdandan anggun layaknya wanita karir dengan dress hitam agak ketat dipadukan dengan blazer warna kuning terracotta. (terracotta - warna bata atau orange tua).
"Kan, hari ini aku ikut ke kantormu bertemu dengan utusan Mr. Anderson," jawab Litha mengikat satu rambutnya ke atas. Ray menelan salivanya membayangkan tubuh indah istrinya hanya dibalut dress tanpa blazer karena bahan dress tersebut menempel jatuh sempurna di kulit mulus Litha.
"Lith, warna blazer itu tidak cocok untukmu. Coba lepaskan," kata Ray dengan suara parau, tongkat saktinya di bawah sudah mulai menunjukkan ke-eksistensi-annya di pagi hari.
Litha mengernyit heran, terracotta adalah salah satu warna favoritnya yang sering ia kenakan pada pakaiannya, karena warnanya kontras di kulit kuning langsat Litha. Tapi Litha menurut saja, ia melepas blazer itu dan sekarang hanya mengenakan dress hitam dengan leher model sabrina tanpa lengan yang menegaskan tulang selangkanya.
"Ah, kenapa sexy nya begitu berkelas? Padahal ia sedang mengandung."
__ADS_1
- Bersambung -