Istri Wasiat Tuan Muda

Istri Wasiat Tuan Muda
Tamu Tak Diundang


__ADS_3

Sayup-sayup terdengar keributan dari dalam rumah utama. Nama Rayyendra disebut berulang-ulang. Ray dan Litha bergegas masuk ke dalam. Ternyata Ramona yang memanggil-manggil nama Ray. Ia ditahan oleh Pak Sas dan Pak Is.


"Nona, Anda tidak diperkenankan membuat keributan disini," kata Pak Sas tegas.


"Aku mau bertemu Ray. Mana Tuan Muda?"


"Tuan Muda dan Nyonya Muda sedang beristirahat. Saya mohon Anda kembali besok karena ini sudah malam." Kali ini Pak Is yang bersuara.


"Tidak bisa! Aku harus bicara dengannya sekarang! Ray! Ray! Rayyyy!" Ramona tidak mau tahu, ia terus berteriak memanggil nama Tuan Muda.


Ray dan Litha yang baru saja dari 'berteman' di taman barat terkejut dan heran dengan kehadiran Ramona di rumah utama. Keadaannya berantakan dan kedua pipinya kemerahan.


"Ray ...!" Ramona ingin berlari memeluk Rayyendra tapi cengkraman Pak Sasmita di lengannya sangat kuat.


"Pak Sas, lepaskan dia. Ramona ada apa?" tanya Ray yang langsung dipeluk Ramona.


Litha yang melihatnya hanya tersenyum kecut, lalu ia berujar, "Apapun keadaanmu, sebaiknya kau meminta izin dulu memeluk suami orang, apalagi ada istrinya di samping."


Ray langsung melepas pelukan Ramona, meski Ramona masih merekatkan lengannya di leher Ray. Pak Is dan Pak Sas, saling memandang, Nyonya Mudanya ini memang sangat-sangat berkharisma.


"Apa kau ingin menemuinya, Ray?" tanya Litha dingin ke suaminya.


Ray ...


Pak Is dan Pak Sas saling berpandangan lagi, Litha kini berani menunjukkan taringnya dengan langsung memanggil nama suaminya, namun Ray diam saja, bukankah dia sudah mengijinkannya dan mereka kan sekarang berteman.


🙋 Haissshhhhh.... Bona, saranmu itu lho, suami istri kok disuruh berteman. Noh, ajakin Ninda berteman sebelum dicomblangin sama Leon 🙋


"Ya, aku akan bicara dengannya," jawab Rayyendra.


Litha hanya mengangguk, lalu berbalik menuju kamar tidurnya di lantai dua. Tanpa disuruh Pak Is mengikuti Litha di belakang, sedangkan Pak Sas tetap berdiri di tempatnya. Tuan Muda juga tidak menyuruhnya pergi jadi Pak Sas juga tidak pergi.


"Nyonya, apa saya buatkan sesuatu untuk Anda, susu coklat misalnya," tawar Pak Is ketika Litha membuka pintu kamar. Litha membalas dengan mengangguk.


"Baik, Nyonya. Oh, iya, Nyonya Muda tidak perlu khawatir dengan kehadiran Nona Ramona, Pak Sas akan mengawasinya."


Litha lagi-lagi tersenyum kecut, ia hanya membathin, "Siapa saya Pak Is? Kami hanya menikah karena perjanjian, seharusnya kalian jangan memperlakukanku seperti Nyonya Pradipta sungguhan. Aku disini hanya bermain peran."


Di lantai bawah, Ramona berlutut di kaki Rayyendra memohon pengampunan agar ayahnya tidak diberikan sanksi ketika sidang disiplin nanti.


"Mona, bangunlah. Kau tidak ada hubungannya dengan kesalahan Sebastian. Aku sudah tidak bisa melindunginya lagi, kali ini Firza benar-benar turun tangan langsung, sidang nanti dan sanksi, sepenuhnya wewenang Wakil Presdir."


"Tapi, kau juga tetap punya kuasa, Ray. Katakan pada Firza, ayahku dikelabui anak buahnya. Dia tidak bersalah." Mona malah makin menangis, membanjiri betis Ray dengan airmata.


Ray tidak bisa bergerak, kakinya dipeluk erat Mona. Pak Sas yang melihatnya tanggap, segera mengangkat tubuh ringkih Mona dan mendudukkannya di sofa ruang tamu.


"Mon, walaupun aku punya kuasa tapi aku tidak akan melakukannya lagi. Kesalahan Sebastian kali ini sangat besar, kalau aku tidak mengambil tindakan jelas akan berpengaruh pada perusahaan dan posisiku sebagai presdir bisa terancam karena aku dianggap tidak kompeten."


"Tapi, Ray ... aku takut ... ayahku akan menghajarku kalau kau tidak mengampuninya."


"Tidak perlu takut, ada aku, aku akan melindungimu. Kalau kau masih takut, tidurlah di sini malam ini." ujar Ray pelan.


Ramona langsung memeluknya, rasa aman yang seharusnya didapatkannya dari seorang ayah malah ia dapatkan dari Rayyendra. Mata Pak Sas menangkap sosok wanita di lantai atas yang melihat ke arah pelukan Ramona.


"Nona Ramona, saya harap Anda mengerti batasan Nona. Tuan Muda sudah memiliki istri," kata Pak Sas menghentikan pelukan Ramona .


"Pak Sas! ini urusan pribadiku. Jangan ikut campur. Pak Sas bisa pergi sekarang," ujar Ray sedikit tersinggung.


"Baik, Tuan. Maafkan kelancangan saya, saya hanya melakukan apa yang Nyonya Besar lakukan jika masih ada. Beliau tentunya juga tidak akan senang dengan apa yang dilakukan Nona Ramona sekarang."


Pak Sas kemudian undur diri, pamit menuju arah dapur. Ia melihat Pak Is yang sedang membuat susu coklat hangat.

__ADS_1


"Is, kau belum melakukannya? Kesempatan kita semakin tipis. Kita tidak perlu banyak berpikir, lakukan segera jika waktunya yang sudah dr. Lena tentukan tiba."


"Aku kasihan pada Nyonya Muda, Sas."


"Abyan mengatakan pernikahan mereka hanya sampai proses balik nama warisan Tuan Muda selesai. Aku sudah menghubungi Pak Prasojo untuk selama mungkin menunda proses itu. Jika waktunya lewat dan kita tidak melakukannya, kita tidak akan bisa berbuat apa-apa lagi. Ini upaya terakhir, Is, dan ini juga untuk mereka."


"Maksudmu apa untuk mereka?"


"Tuan dan Nyonya mulai memiliki rasa tapi mereka masih ragu. Kita tidak punya waktu banyak untuk membiarkan mereka mencintai secara alami. Nona Ramona tidak akan tinggal diam. Aku akan mengawasinya karena malam ini dia menginap disini."


"Apa?!? Tapi ini akan sangat menyakiti Nyonya, Sas. Aku tidak tega, melihatnya murung pun aku sedih, bagaimana nanti kalau --"


"Is! Lakukan saja tugasmu!" tegas Pak Sas.


Pak Is lalu mengantar naik susu coklat ke kamar tuannya. Disana Litha mematung melihat langit berhias bulan di jendela.


"Nyonya, ini susunya."


"Oh, iya, terima kasih Pak Is."


"Ada lagi yang Nyonya butuhkan?"


"Tidak ada, Pak Is. Oh iya, apa Ramona sudah pulang?"


"Nona Ramona tidak pulang malam ini, Nyonya. Dia menginap disini. Tapi Nyonya tidak perlu khawatirkan Tuan Muda, Pak Sas akan mengawasi mereka."


"Hah?!? Mengawasi berdua, atas suruhan siapa Pak Sas melakukannya. Ah, sudahlah, buat apa kutunggu lelaki menyebalkan itu, kuminum saja susunya dan tidur lebih awal."


Setelah dari kamar Litha, Pak Is mengantarkan Mona ke kamar tamu ditemani Ray, tangan Mona bergelayut manja, ia minta ditemani Ray sampai pagi di kamar ini, namun Ray menolaknya, bagaimanapun juga ada istrinya di rumah ini, jelas aneh dan membuat bahan omongan bawah tanah para pelayan dan penjaga jika dia tidur di kamar tamu menemani Ramona sedangkan istrinya di kamar sendirian.


Ramona cemberut ketika Ray naik ke kamarnya, sebenarnya ia minta tidur di kamar tamu lantai dua, satu lantai dengan kamar Litha dan Rayyendra, tapi Pak Is beralasan, kamar tersebut sangat berantakan dan butuh waktu lama untuk membereskannya.


Tap ... Tap ...


Ramona mengendap ke arah tangga mau naik ke lantai dua dini hari.


Ehemm ...


Suara batuk Pak Sas mengagetkan gadis semampai itu, Pak Sas duduk dari baringnya. Mona hampir pingsan melihat wajah kakunya.


"Nona mau kemana?"


"Ma-- ma-- u ke kamar kecil di atas," jawab Mona gugup.


"Lantai bawah tidak kekurangan kamar kecil, Nona. Kau bisa ke kamar kecil di dapur, bahkan tiap kamar tamu memiliki kamar kecil masing-masing."


"Ah, iya, iya, Pak Sas. Aku tidak melihatnya tadi."


Tanpa banyak bicara, Ramona kembali ke kamarnya dengan patuh, padahal dia tadi mau ke kamar Ray meminjam pakaian Litha untuk berganti baju tapi dipergoki Pak Sas yang seperti satpam 24 jam.


...🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀...


Pagi hari seperti biasanya, Litha sudah sibuk di dapur menyiapkan sarapan untuk suaminya, namun tidak seperti biasanya, Litha pagi ini mengenakan dress selutut warna pastel yang feminin, sedikit berbedak dan bergincu. Manis dan anggun.


Sajian sarapan kali ini Litha membuat omelette spesial, segelas susu rendah lemak dan tidak lupa air hangat dicampur sesendok makan madu murni.


"Oh, ternyata kau disini untuk jadi babu rupanya."


Ramona muncul entah darimana, memanaskan pagi yang masih sejuk. Pak Is yang menemani Litha yang membuat sarapan memasang tatapan awas. Namun Litha tidak terpengaruh, ia hanya tersenyum dan tetap melakukan kegiatannya.


"Buatkan aku sarapan yang enak," kata Mona sambil berlalu.

__ADS_1


"Aku hanya membuat sarapan untuk suamiku, agar ia terbiasa dengan masakanku. Kalau kau ingin sarapan, kau bisa meminta pelayan untuk membuatkan sarapanmu." Litha masih sabar meladeni ocehan Ramona.


"Heh, suami? Ya, bermimpilah sebelum kau bangun."


Mona masih saja mengejek, tapi Litha tidak menanggapinya. Masih belum puas, Ramona tambah memprovokasinya, "Jangan berharap untuk memiliki Ray. Hati Ray sudah tertulis namaku. Sebaiknya kau tahu tempatmu dimana."


Pak Is yang mendengarnya sangat geram, ia ingin menimpali perkataan Ramona, tapi Litha berkata dengan sangat percaya diri.


"Aku tahu tempatku, Nona Ramona. Aku nyonya rumah disini dan kau tamu tak diundang. Sebaiknya Anda bersikap sopan pada nyonya rumah, tidak hanya pada tuan rumah saja. Kalau Anda mau sarapan semeja dengan kami, mohon untuk menjaga mulut Anda."


Litha tidak peduli bagaimana reaksi Ramona, dia sibuk menata sarapan di meja makan. Pak Is yang menyaksikannya menatap takjub, bersorak dalam hati kegirangan. Beberapa saat kemudian, suaminya turun lengkap dengan pakaian kantornya. Ray mendapat kejutan dengan penampilan istrinya yang baru kali ini memakai dress.


"Selama ini aku selalu melihatmu dengan setelan celana, ternyata manis juga teman baruku ini kalau pakai dress," bathin Ray tanpa sadar mengembangkan senyumnya.


Ramona menyadari senyum Rayyendra bukan untuknya, lalu ia melihat dirinya sendiri, masih mengenakan baju kemarin.


"Ray, kau tidak memberiku pakaian jadi aku tak bisa berganti baju. Di kamar itu hanya ada jubah mandi," tanya Mona dengan suara yang dibuat sehalus mungkin.


Ray bingung, ia tidak memiliki baju wanita kecuali ...


"Lith, apa kau mau meminjamkan bajumu untuk Mona?"


"Apa!?? Meminjamkan bajuku untuk dipakainya? Ohhh... tidak semudah itu Ferguso... eh salah ... Tuan Muda Suamiku maksudnya. Tapi ... tapi ... mana panggilan Istriku Sayang yang biasanya kau sebut? Apa karena ada dia? Ciiiihhhh ... dasar!!!" Litha mengumpatnya dalam hati.


"Lith ..." Ray memanggil namanya lagi.


"Ah, hehehe, maaf agak loading dikit. Kenapa tadi?"


"Pinjamkan pakaianmu untukku berganti baju." Mona yang menjawab karena mendapat angin segar dari Rayyendra.


"Eh, kenapa dia menyuruhku?" protes Litha masih dalam hati.


"Aku tidak mau. Aku tidak mau meminjamkan bajuku untuknya, lagian siapa suruh dia menginap tanpa persiapan. Kau kira ini toserba, segala macam kebutuhanmu ada! Pakai saja yang disediakan, jubah mandi di kamar mandimu ada kan?"


"Apa?!? Kau berani sekali padaku. Kau sudah berlagak Nyonya ya di rumah ini."


"Memang aku Nyonya di rumah ini. Kenapa? Kau ingin menyangkalnya?"


Litha tersulut emosinya, dari tadi ia menahan sabar tapi wanita ini makin ngelunjak. Rayyendra hanya tersenyum, tidak kaget lagi, ia sudah pernah melihat istrinya marah dan memukul orang.


"Mon, maaf aku tidak bisa memaksanya kalau Litha tidak mau meminjamkannya," kata Ray dengan cuek sambil menyuap menu sarapannya.


Litha menyudahi amarahnya, dengan telaten dia melayani suaminya sarapan. Sebaliknya, Ramona mengepalkan tangan geram, ia tidak pernah menang melawan Litha yang fisiknya lebih kecil darinya.


"Enak sekali omelette mu, Lith. Apa saja yang kau masukkan di dalamnya? Besok aku mau sarapan ini lagi," ujar Ray mengagumi rasa yang masuk ke dalam mulutnya.


"Sungguh kau mau tahu?" tanya Litha ke suaminya dengan suara yang lembut tapi matanya melirik ke arah Mona. Ray mengangguk.


"Cinta."


...-------...


Sisipan


Ray membuka pintu kamarnya. Istrinya sudah tertidur, terdapat kotak coklat dan gelas kosong bekas susu di atas nakas samping ranjang. Ray membuka kotak coklat itu, dia tersenyum puas, coklatnya habis tak bersisa.


"Hehehe ... Apa benar cinta bisa mengenakkan makanan?" gumamnya pelan sebelum beranjak pergi dari sisi Litha.


...-------...


- Bersambung -

__ADS_1


__ADS_2