
"Abyaaaaaaaannnnn!!!!"
Abyan segera berlari menyeret Vivian keluar dari ruang Presdir. Ray pasti sangat malu citra dirinya sebagai Tuan Muda yang berkharisma namun dingin runtuh seketika menjadi Tuan Muda yang tak bisa berkutik di depan istrinya.
Abyan menarik pergelangan Vivian hingga di depan pintu lift. Sasha, Pak Andi dan Pak Gito hanya diam tidak berani bertanya apa yang terjadi, setelah suara amukan Tuan Muda kini mereka menyaksikan Asisten Yan berlarian dengan menggenggam tangan dr. Vivian.
"Ma-- maaf, aku harus menarikmu segera keluar dari sana sebelum Tuan Muda lebih marah dari sebelumnya."
Abyan melepaskan genggaman tangannya.
"Ti-- tidak apa-- apa--, Asisten Yan. Sungguh saya seperti naik rollercoaster di dalam," kata Vivian memegang dadanya, menetralisir detakan jantungnya yang lebih cepat dari biasanya, entah karena ketakutan akan Tuan Muda atau karena tatapan intens Asisten Yan padanya.
"Anda bisa pulang, Nona, tapi Tuan Muda pasti akan meminta Anda datang kembali karena urusan Nona Tisha belum selesai."
Abyan kembali ke sikap formalnya lagi, yang menjadikan suasana canggung diantara mereka.
"Ba-- baik, Asisten Yan. Tapi, tolong jawab pertanyaan saya satu saja-- karena ini membuat saya melanggar janji sendiri pada adiknya Tisha, tapi saya juga takut dengan Tuan Muda jika tidak melakukan apa yang ia pinta."
Abyan diam, tidak mengiyakan juga tidak menolak, hanya pandangan matanya saja yang lebih ia tajamkan pada dokter cantik itu sambil menekan tombol lift.
"Apa hubungan Tisha dengan Tuan Muda?"
Beberapa detik baru Abyan menjawabnya, "Nona Tisha adalah Kakak Ipar Tuan Muda."
Mata Vivian terbelalak tidak percaya dengan apa yang barusan ia dengar, "Jadi istrinya yang menelepon tadi itu Litha??? Tisha hanya punya dua adik perempuan, satu Litha dan satunya lagi masih sekolah, tidak mungkin Tuan Muda menikah dengan adiknya yang masih sekolah."
"Ma-- maksud Asisten Yan, Litha adalah istri Tuan Muda?"
Abyan tidak menjawab iya juga tidak menjawab tidak.
Tingggg ...
Pintu lift terbuka, "Silahkan Nona ... "
"Ta-- tapi, jawab dulu pertanyaanku, apa Litha istri Tuan Muda, Asisten Yan?" tanya Vivian yang enggan masuk ke dalam lift
Bukannya menjawab, Abyan malah mendorong tubuh Vivian masuk ke dalam lift dan berkata, "Sesuai permintaan Nona, saya hanya menjawab satu pertanyaan saja."
Ia lalu menekan tombol untuk menutup pintu lift dan membiarkan Vivian berteriak sebal dengannya, tanpa sadar senyumnya mengembang dan itu jelas terlihat di mata Pak Andi dan Pak Gito, bodyguard yang menjaga lantai Presdir.
...------------...
__ADS_1
Ting Tong ...
Litha membuka pintu, Suaminya sudah pulang. Tapi ia mendapati muka Ray terlipat-lipat layaknya lipatan baju yang berada di paling bawah dalam lemari.
"Asisten Yan, kenapa Suamiku? Apa yang terjadi padanya? Tadi ditelepon kau mengatakan ia baik-baik saja. Tapi kenapa wajahnya masam begini?" cerocos Litha begitu melihat muka suaminya yang melengos melewati istrinya tanpa menyapa.
Abyan tidak bersuara, dia tidak mau membuat tuannya marah lagi. Sekembalinya mengantar Vivian, ia hampir terkena lemparan barang-barang kalau saja ia tidak gesit menghindar.
"Mas, Mas kenapa? Masih sakit perut? Apa kita perlu ke dokter? Atau dokter saja yang kesini?" tanya Litha beruntun menyusul langkah suaminya ke dalam kamar, meninggalkan Abyan di depan pintu yang terbuka tanpa menyilakan masuk terlebih dahulu.
"Ya ampun ... pasutri ini ... seenaknya sekali memperlakukan orang!" umpat Abyan dalam hati dengan jengkel.
.
.
.
Ray membuka bajunya dengan gusar, entah apa yang membuatnya demikian. Apakah karena cerita Vivian tentang Tisha? Ataukah keputusan Litha yang tidak ingin mengungkitnya kembali? Atau rasa malunya pada dr. Vivian?
Litha melihat dada bidang suaminya tanpa penutup, hanya celana bahannya yang masih terpakai. Litha tahu ada sesuatu yang dipikirkan Ray bukan sakit perut seperti yang ia katakan tadi. Langsung dipeluknya suaminya, Ray tersenyum samar, ia membalas pelukan istrinya dan menaruh dagunya di kepala Litha yang menempel di dadanya.
"Apapun itu yang membuat Mas gusar, jangan dibiarkan berlarut-larut." Litha makin mengeratkan pelukannya seakan mentransfer kehangatan untuk mengusir kegundahan Rayyendra.
"Lith, hatimu terbuat dari apa? Mengapa kau gampang sekali memaafkan orang?" Dagunya masih menempel di kepala Litha tapi matanya menerawang melihat langit malam penuh bintang dari jendela kamar yang belum ditutup.
Litha mengurai pelukan mereka, raut mukanya nampak heran dengan pertanyaan suaminya, sambil menatap netra kecoklatan pria itu ia balik bertanya, "Maksud Mas?"
"Ah, sudahlah, tidak usah kau pikirkan. Aku hanya merasa sangat beruntung memilikimu, meski kadang tidak sependapat beberapa hal denganmu."
"Suami istri adalah dua jiwa, dua pribadi dan dua otak yang memiliki pemikiran berbeda, yang tidak mungkin sama dan bisa disamakan. Cukup dengan saling menerima dan pengertian akan membuat hubungan itu kuat. Itu yang Ibu katakan padaku waktu aku curhat padanya bahwa kau bersikap seenaknya padaku?"
"Kapan aku seenaknya padamu?"
"Ketika aku menjadi pelayan pribadimu saat awal menikah. Kau tahu, Ibu malah membenarkan kalau seorang istri itu adalah pelayan pribadi suaminya dalam segala hal yang tidak bisa dilakukan oleh orang lain-- padahal yang kumaksud pelayan pribadi dalam artian sesungguhnya, melayanimu seperti pembantu-- bukan bentuk kiasan seperti yang Ibu maksudkan."
"Hahahaha ... benarkah? Aku harus berterimakasih pada Ibu mertuaku. Andai saja beliau masih hidup, aku akan menunjukkan binar di matamu ini padanya, bahwa kau bahagia menjadi pelayan pribadiku-- pelayan dalam bentuk kiasan seperti yang Ibu maksudkan."
"Mas sudah berterimakasih pada Ibu dengan memberikan perawatan terbaik di RS. Medical Health-- dan rasa bahagiaku ini selalu kusebutkan dalam doa untuk Ayah dan Ibu, agar mereka disana tahu kalau aku sudah menemukan kebahagiaanku dan tidak perlu mengkhawatirkan aku lagi."
"Ah, Litha .... Aku tidak tahu harus berucap apa lagi padamu. Kau benar-benar malaikat buatku," ujar Ray tersenyum kemudian mengu*lum lembut bibir istrinya yang terasa manis. Litha pun menyambutnya dengan membalas lebih dari sekedar dari mengu*lum.
__ADS_1
"Raaaayyyy, apa aku bisa pulang?!?" teriak Abyan tiba-tiba.
"Ya, pulanglah!"
Ray tidak kalah berteriak dari dalam kamar sesaat setelah melepaskan ciumannya.
"Jangan lupa pintunya ditutup, Asisten Yan!"
Kali ini Litha yang berteriak dan setelahnya kembali melanjutkan ciuman mereka.
Brakkkkk ....
Suara nyaring pintu yang tertutup membuat Ray dan Litha kaget lalu terkekeh pelan.
"Mas, pasti Asisten Yan sangat kesal pada kita. Dia membanting pintu lagi. Apa dia selalu begitu kalau marah? Apa kita sudah keterlaluan padanya?"
"Biarkan saja. Entah berapa banyak pintu yang akan ia banting sampai ia menemukan jodohnya, hehehehehe ... "
"Oh ya, Mas, apa perutmu masih tak nyaman? Tadi pagi kan, Mas bilangnya begitu."
"Hahahaha .... Tidak, Sayang-- aku jarang sekali sakit perut karena aku sangat menjaga makanan yang masuk di badanku-- bahkan seingatku aku terakhir sakit perut ketika kelas 1 SD."
Mata Litha mengerling, meminta jawaban lebih.
"Aku hanya tidak tahan setiap pagi mau ke kantor kau selalu menggodaku dengan menyiapkan sarapan mengenakan lingerie tanpa underwear. Kau selalu membuat tongkat saktiku berdiri tegak, Sayang, seperti sekarang."
Wajah Litha memerah, ia pasrah saja ketika akhirnya Ray meminta haknya sebagai suami.
.
.
.
"Ah ... Dasar kalian berdua! Kalau kalian tidak berdekatan, sangat merepotkanku sekali. Satu 'Yaaaaannnn' yang satunya 'Asisten Yan'. Begitu sudah berdekatan, kehadiranku pun tidak dianggap. Haiisshhh ... ternyata Paman salah, pekerjaanku bukan berkurang tapi malah bertambah-- belum lagi kalau nanti Pradipta junior sudah lahir, tambah satu lagi teriakan, 'Pamaaaaaaan'."
Abyan ngedumel sambil menyetir sepanjang perjalanan pulang ke apartemennya. Masih terlintas dalam ingatannya ketika Ray memintanya untuk tinggal di satu gedung apartemennya. Ia langsung menolak dengan alasan se-masuk akal mungkin, karena ia tidak mau mengurus seorang 'bocah' untuk urusan yang sangat pribadi. Seperti hubungannya dengan Ramona waktu itu, ia tidak mau ikut dalam pusara asmara mereka.
Tapi lihat sekarang, kehidupan Rayyendra sudah ia urusi semua luar dalam tanpa terkecuali, namun setidaknya ia tidak lagi menjadi tuas pengaman emosi Tuan Mudanya. Kini ia hanya cukup menjadi alarm, dan itu jauh lebih ringan tugasnya daripada menjadi tuas pengaman yang sekarang sudah dipegang Litha, istri tercintanya.
...🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀...
__ADS_1
- Bersambung -