
Keramaian sudah jelas terlihat sepanjang jalan menuju lokasi Color Run Festival. Berbagai macam jajanan dan barang dijajakan di sekitar lokasi ditambah lagi banyaknya warga ibukota yang ingin ikut berpartisipasi. Tahun sebelumnya kegiatan ini diselenggarakan secara terbatas karena kurangnya sponsor dan berjalan seadanya, namun di tahun ini sangat meriah dan jumlah peserta yang ikut tidak dibatasi karena Pradipta Corp. menjadi sponsor utama dengan imbalan semua produk dan jasa dari Pradipta corp. harus mendapat tempat premium untuk iklan di lokasi acara.
*** The Color Run adalah sebuah acara lari santai 5 km, tidak terbatas waktu. Setiap kilometernya, Color Runners (para pelari) ditaburi berbagai macam bubuk warna-warni yang terbuat dari bubuk jagung (maizena). Para peserta memakai warna putih di garis awal dan menyelesaikan perlombaan dengan penuh warna. Ketika perlombaan selesai, kesenangan berlanjut di Finish Festival, sebuah pesta yang sangat besar dilengkapi dengan musik, tarian, photo booth aktifitas, media, dan pelemparan warna secara masal, menciptakan kombinasi warna yang cerah. ***
Color Run Festival tahun ini diselenggarakan oleh Asosiasi Pengusaha Kuliner se-Ibukota didukung oleh pemerintah kota setempat. Acara ini merupakan ajang untuk memperkenalkan wisata kuliner di Ibukota dan meningkatkan UMKM (Usaha Mikro Kecil Menengah) warga juga sebagai sarana promosi bagi usaha-usaha waralaba di bidang kuliner. Salah satunya Danu Kusuma, pengusaha sukses yang memiliki kafe bernama Koes Millenial Food & Beverage. Jenis usahanya ini merupakan franchise makanan dan minuman kekinian yang sangat populer dan viral di kalangan anak muda, ia juga didapuk menjadi ketua Asosiasi yang menyelenggarakan The Color Run Festival.
.
.
.
"Mas, aku boleh makan apapun ya?" tanya Litha saat mobil mereka sudah memasuki area lokasi.
"Boleh, makanlah semaumu yang penting tidak--"
"Tidak pedas, tidak asam dan kotor. Aku tahu, Mas."
Ray menowel hidung Litha sembari terkekeh.
"Apa disana ada Koes Millenial Food & Baverage? Aku suka sekali beberapa menunya."
Ray mengangguk tersenyum gemas menciumi pelipis istrinya, "Kau tahu kafe itu? Pemiliknya adalah Ketua Asosiasi Pengusaha Kuliner se-Ibukota, pihak penyelenggara acara ini."
"Oh ya? Beliau adalah Om-nya Ninda, adik papanya Ninda."
Semua yang di dalam terkejut mendengar fakta yang dikatakan Litha, kemudian disambungnya lagi, "Koes itu sapaan akrab nama keluarga mereka, Kusuma."
Mulut mereka membulat membentuk huruf O. Sementara Ray menghirup aroma vanilla milk dari wangi shampo yang tertinggal di rambut indah milik istrinya dan itu sangat memanjakan indra penciumannya sekaligus menenangkan hatinya jika gundah.
"Pak Sas, tolong jaga istriku ya," pinta Ray pada Pak Sas yang duduk di samping Abyan yang sedang mengemudikan mobil.
"Baik, Tuan."
"Kau juga jaga dirimu, jangan sampai terluka. Aku tidak bisa menemanimu karena aku harus ikut lari. Tapi aku akan langsung menemanimu setelah menyentuh garis finish," katanya pada Litha yang menyadarkan kepala di bahunya.
"Iya, ada Pak Sas, Mas. Dia akan menjagaku dengan baik sekali, bahkan semut pun tak berani menggigitku," sahut Litha mengusap pelan perutnya yang terlihat sesak dengan baju kaos yang bukan untuk ibu hamil.
"Sesak ya? Kan tadi sudah ku bilang kau tidak usah memakainya, aku yang melihatnya saja merasa sesak. Kasihan my baby boy, Lith..."
"Baby boy ...? Tahu dari mana anak ini laki-laki?"
"Heheh ... Kau lupa kalau Suamimu ini Alien?"
__ADS_1
Litha mencubit gemas dada bidang suaminya. Ray ingat sekali bagaimana keharuan setiap mengantarkan Litha memeriksakan kandungannya. Detak jantung anaknya yang masih bertaut dengan jantung Litha begitu indah terdengar, bahkan itu melodi paling indah yang pernah ia dengar.
"Mas, pasti banyak media yang meliput di sana, kita jaga jarak saja ya," ujar Litha.
Abyan dan Pak Sas tanpa dikomando, bersamaan melirik Nyonya Muda-nya yang masih bersandar di dada Tuan Muda melalui kaca spion depan.
"Kenapa memangnya?" Ray bertanya sambil menciumi pucuk kepala Litha.
"Aku tidak mau terekpos media."
"Kenapa? Apa menjadi Nyonya Muda Pradipta memalukan bagimu?"
Litha menggeleng pelan, "Setelah media tahu aku istrimu, pasti mereka akan mencari tahu latar belakangnya dan siapa keluarganya. Aku hanya tidak mau keluargaku terbawa-bawa nantinya. Keluargaku sangat tidak sempurna untuk Tuan Muda sepertimu."
Pak Sas, Abyan bahkan Ray sendiri terhenyak mendengar penuturan Litha, ada getir yang tersirat di sana.
"Selama ini aku berusaha sebaik mungkin yang aku bisa lakukan untuk menjadi pantas mendampingi Tuan Muda Pradipta. Aku hanya khawatir saja kalau Mas tahu keluargaku, Mas akan memandangku rendah, ya padahal memang rendah, sih." Litha mengakhiri kalimatnya dengan senyum kecut.
Setahu Litha, Ray hanya mengetahui sekelumit tentang dirinya, bahwa ayahnya meninggal karena kecelakaan dan kakak perempuannya sakit, tanpa dijelaskan sakit apa karena Ray juga tidak pernah bertanya detail. Litha sebenarnya agak heran, mengapa suaminya tidak terlalu menanyakan tentang kematian ayahnya dan sakit kakaknya, tapi justru itu yang disyukuri Litha, ia tidak perlu repot memilih kata yang tepat untuk menjelaskannya.
"Ah, Istriku Sayang, kenapa kau berpikiran seperti itu? Dibalik sikap percaya dirimu yang aku kenal ternyata kau begitu rapuh. Aku sedih sekali, Lith ..." (Ray)
"Nyonya, tenanglah. Meski Tuan Muda tidak menyuruh, aku akan membungkam semua mulut media yang mengusikmu." (Pak Sas)
Suasana di dalam mobil menjadi canggung padahal sudah lima menit Abyan memarkirkan mobilnya di area parkir VIP yang sudah disediakan khusus untuk Presdir Pradipta Corp.
"Mas, hati-hati ya. Aku akan menunggu Mas selesai di kafe milik Om-nya Ninda," sahut Ninda memecah kecanggungan.
Ray mengangguk dan mencium pelipisnya lagi,
"Sebaiknya ganti bajumu agar tidak sesak. Ada tempat khusus berganti baju atau mandi untuk Presdir Pradipta Corp. yang disediakan di dalam gedung itu, bergantilah disana," tunjuk Ray ke sebuah gedung di dekat garis start dan finish.
Namun Litha menggeleng, "Kalau aku berganti baju di sana, itu sama saja menjelaskan kalau aku istrimu."
"Kan, memang kau istriku!"
Suara Ray mulai meninggi, agak kesal. Pak Sas dan Abyan melirik kaca spion depan lagi bersamaan.
"Iya ... iya, aku memang istrimu yang paling kau cintai di dunia ini, tapi tidak sekarang Mas menunjukkan pada dunia. Aku butuh waktu untuk lebih percaya diri lagi, bahwa aku seorang Navia Litha Sarasvati Pradipta. Muuacchh ... "
Litha langsung mencium pipi Ray hingga berbunyi untuk meredam gejolak emosi suaminya. Ia meraih tasnya untuk turun dari mobil terlebih dahulu, tapi Ray menarik lengannya hingga ia berbalik berhadapan dengan wajah tampan dengan tatapan mata yang dingin.
"Mau sampai kapan kau bersembunyi Nyonya Pradipta! Kau milikku dan dunia akan segera tahu!"
__ADS_1
Ray menyergap bibir Litha dengan buas, melu*mat dan menyusupkan lidahnya ke dalam rongga mulut istrinya yang berontak, karena sadar ada dua manusia selain mereka di dalam mobil.
Tiiiiiiiiinnnnn .....
Abyan menekan panjang klakson mobil, menyudahi aksi Tuan Muda-nya yang sedang kesal. Litha dengan upaya keras melepaskan pagu*tan suaminya.
"Iya aku milikmu, kau sudah menandaiku disini, disini dan disini."
Litha menunjuk bekas gigitan bibir suaminya di tengkuk, di leher di bagian bawah dekat telinga dan dekat tulang selangkanya.
"Plisss, aku hanya minta waktu untuk mempersiapkan diri, Mas. Oke? Sepertinya Mas sudah ditunggu. Ayo Pak Sas, kita turun! Oh ya, Asisten Yan, percaya dirilah dengan celana barumu. Kau terlihat sangat imut hahahahahah .... "
Abyan tersenyum kaku, lalu Litha turun setelah mengambil tangan suaminya dan mencium punggung tangannya seraya berbisik "Ingatlah, aku milikmu dan kau milikku."
Sayangnya Ray tidak merespon, ia hanya sekedarnya saja berpesan, "Hati-hati."
Litha turun sambil celingak-celinguk, takut ada yang melihatnya.
"Yan, kau lihat ia seperti pencuri saja, padahal banyak wanita yang sangat menginginkan aku menjadi suami mereka, mengapa istriku sendiri malu! Tidak bisa dipercaya!"
Bruakkkhhh ...
Tangannya meninju kursi dimana sebelumnya tempat Pak Sas duduk.
"Ray, hargai keputusannya yang tidak ingin terekspos sebagai istrimu. Dia tidak malu, dia hanya butuh waktu untuk menguatkan hatinya, menguatkan segala kemungkinan rumor yang akan menerpanya. Mungkin selama ini dia terlihat kuat dan tangguh, tapi itu semua diperolehnya dengan keadaan yang memaksanya harus demikian. Ibarat buah yang belum matang, dipetik lalu di peram."
Ray hanya diam, tidak membalas perkataan Abyan, dia mencoba mencerna apa yang dikatakan asisten sekaligus sahabatnya itu.
"Setiap sesuatu yang 'dipaksa', meski hasilnya nampak bagus tetap saja memiliki titik rapuh yang jika kau sentuh, maka sesuatu itu akan hancur seketika. Begitulah istrimu, Ray. Apa dia pernah menceritakan sendiri apa yang ia alami atau rasakan ketika ayahnya meninggal atau saat mengetahui kakaknya diperkosa dan berakhir di Rumah Sakit Jiwa? Bagaimana perasaannya saat ini ketika ia bahagia bersamamu tapi ada sebagian dirinya yang sedih karena keadaan kakaknya yang belum membaik? Itu tidak sesederhana yang kau pikir, Ray."
Ray memijat pangkal hidungnya, "Apa dia tidak percaya padaku?"
"Litha percaya padamu, dia hanya tidak percaya dengan dirinya sendiri! Apa kau tidak dengar yang istrimu katakan tadi? Bahwa dia merasa tidak pantas padahal ia sudah berusaha sebaik mungkin memantaskan dirinya untukmu, Ray. Seharusnya saat ini kau meyakinkan dirinya bukan malah mengintimidasinya. Semakin kau memaksakan kehendakmu, maka itu akan semakin menggerus rasa pantasnya sebagai istrimu."
Kalimat terakhir Abyan menohok langsung di hatinya, bathinnya berkecamuk, ia ingin segera menemui Litha dan memeluknya.
"Ray, kita sudah terlambat 15 menit. Kegiatan ini tidak akan dimulai tanpa hadirmu walaupun Pak Gubernur yang membuka acara ini. Setelah finish aku akan membuat alasan untukmu agar kita segera pulang."
"Hmmmm, baiklah. Biarkan dia menikmati setiap makanan yang ia mau makan. Tapi-- apa kau baik-baik saja dengan celana pink itu?" tanya Ray, senyumnya kembali, moodnya sudah agak membaik.
"Hhhhhh ... mau bagimana lagi, Nyonya Muda adalah pengganti Nyonya Besar sebagai pemilik titah tertinggi di Pradipta Corp."
Ray terbahak mendengarnya, titah tertinggi ? Benar juga yang dikatakan Abyan, karena Ray pun sendiri tidak kuasa menolak kalau Litha meminta atau memerintahkan sesuatu padanya.
__ADS_1
- Bersambung -