Istri Wasiat Tuan Muda

Istri Wasiat Tuan Muda
Janji yang Tidak Ditepati


__ADS_3

Litha berkeliling rumah ditemani Pak Is, memperkenalkan semua tiap sudut di rumah ini mulai dari gerbang utama hingga bagian belakang yang terdapat sebuah kebun mini dengan peternakan kecil. Kelinci, ayam kate, dan burung dipelihara dengan baik. Rumah pelayan pun berukuran besar dan ditata apik, disinilah Paman Tino tinggal bersama pelayan dan penjaga lainnya sewaktu masih bekerja. Ada juga ruang gym untuk berolahraga yang terletak di sebelah lapangan tennis.


Litha berdecak kagum, ia kira fasilitas olahraga hanyalah kolam renang di sisi timur rumah utama, dengan antusias ia berkata, "Pak Is, rumah utama ini seperti dunia kecil ya, semuanya ada dan nyaman. Apa aku boleh sesekali berolahraga di situ?"


"Tentu saja boleh, Nyonya Muda akan menyenangkan hati pelayan yang tiap hari membersihkannya karena ada yang memakai gym. Nyonya tidak perlu meminta izin melakukan apapun di rumah ini, semua pelayan siap melayani Nyonya."


"Hahahahahah... semua yang ada di rumah ini kan bukan kepunyaanku, Pak Is, bahkan baju mahal yang kupakai sekarang saja sebenarnya statusnya pinjaman, jadi tentu saja aku harus minta izin." Ucapan Litha bagi Pak Is bermakna ambigu.


Setelah lelah berkeliling, Litha mengistirahatkan dirinya di ruang keluarga, ia menyalakan TV. Betapa terkejutnya ia menonton tayangan di layar bergerak itu, ada fotonya yang diblur saat menikah. Jantungnya berdegup kencang. Ia mendengar dengan sangat jelas di pesawat waktu itu bahwa Ray tidak menginginkan pernikahannya diketahui publik, tapi kini semua sudah terbuka tanpa bisa disangkal karena wajah tampan presdir Pradipta Corp. terpampang nyata.


Di ruang presdir gedung kantor pusat, Ray berkali-kali menelepon Ramona memastikan ia tidak melakukan hal bodoh.


"Yan, apa ada agenda penting sekarang?"


"Satu setengah jam lagi akan ada rapat dengan bagian audit mengenai laporan kemarin, Tuan."


"Undur semua agenda hari ini. Atur ulang jadwalku untuk besok. Aku harus menemui Ramona sekarang."


"Baik, Tuan."


Satu jam sebelumnya, apartemen Ramona didatangi Sebastian dan Lucas. Mereka menuntut penjelasan dari berita yang mereka lihat di TV.


"Apa ini benar, Ramona?" Sebastian bertanya dengan wajah yang memerah. Ia sangat marah dengan berita itu. Ramona hanya bisa menangis dan mengangguk.


Plakkkkk...


Sebuah tamparan keras membekas merah di pipi halus Mona. Sebastian melampiaskan kemarahannya tanpa melihat perasaan putrinya yang jauh lebih terluka dengan tersebarnya berita pernikahan mantan kekasihnya.


"Sudah kubilang kau ini bodoh!!! Kau sudah kuperingatkan jangan lengah untuk melangkah, nenek tua itu pasti melakukan sesuatu hingga Tuan Muda tega mencampakkanmu. Sekarang apa yang kau harapkan, hah?!?"


Sebastian membentak keras di depan muka Mona, Mona memejamkan mata dan semakin mencucurkan air dari matanya, dengan terbata ia menjawab, "A-- ayah, pernikahan itu hanya pernikahan kontrak, hanya sementara. Tidak lama ia akan bercerai dan aku akan bersamanya lagi."


"Kau ini wanita bodoh! Mau saja diperdayai laki-laki. Kau kira segampang itu ia menceraikan istrinya."


"Aku percaya padanya." Lirih Mona mengucapkannya, sebenarnya rasa percayanya pada Ray terkikis karena ternyata Ray tidak bisa menjaga janjinya untuk merahasiakan pernikahannya.


"Benar-benar bodoh!" Sebastian kembali marah dan plakkkk .... tamparan kerasnya dilayangkan ke Ramona.


Cesss.....


Darah menetes dari sudut bibirnya. Rasa sakit menjalar cepat di sekujur tubuh, termasuk hatinya.

__ADS_1


"Kau ini terjebak dengan perasaanmu sendiri. Dari awal semua ini bisnis. Kau dengan Rayyendra itu adalah jaminan bahwa kita tidak akan miskin." Tiba-tiba Lucas menimpali.


Jika ayahnya marah dan berlaku kasar padanya, Mona masih bisa menerimanya sebagai anak, tapi tidak dengan Lucas. Ia sangat kesal dengan adiknya yang selalu diistimewakan orangtuanya, apalagi dia selalu membawa-bawa perasaannya yang tulus pada Rayyendra.


"Kau!!!"


Plakkkkkk .....


Dengan mata Ramona menyalang, ia menampar Lucas sekuat tenaga, seakan ia membalas tamparan ayahnya.


Lucas mengerang marah dan sakit sembari memegang pipinya. Sebastian yang melihat pertengkaran kedua anaknya makin tidak terkendali. Dicekiknya leher Ramona, dan berdesis dekat telinga putrinya,


"Buktikan, kalau kau bisa mendapatkan Rayyendra kembali. Lupakan dengan cintamu, mengerti!!!"


Sebastian melepas cekikannya di leher Ramona dengan sangat kasar. Sangking kuatnya cekikan Sebastian, Ramona sampai terbatuk-batuk dan ada tanda merah di lehernya.


Sebastian dan Lucas pergi begitu saja meninggalkan Ramona dalam keadaan hancur sehancur-hancurnya. Ia tersungkur di lantai, menangis meraung menyayat hati dengan begitu memilukan. Wajah dan rambutnya berantakan, keadaan apartemennya pun penuh dengan botol kosong minuman keras.


Hingga akhirnya, Ray dan Abyan datang, Ramona masih tersungkur tanpa tangisan. Matanya lelah menangis dan airmatanya kering sudah.


"Mona....!" Ray kaget melihat keadaan Ramona yang begitu menyedihkan.


"Rayyy....." tangis Mona kembali pecah melihat siapa yang datang.


Cukup lama Ramona menangis di bahu Rayyendra, ia tidak mau melepas pelukan Ray. Ia ingin dalam posisi itu selamanya. Perlahan Ray melepas pelukan erat Ramona ketika suara isaknya mengecil.


"Maafkan aku, Ramona..." pelan suara Ray menatap manik Ramona yang masih menggenang.


"Kau tidak menepati janjimu, Ray." Ramona masih sedikit terisak.


"Ini diluar kendaliku. Aku minta maaf, Mona. Tapi kenapa wajahmu?"


Ray baru memperhatikan wajah Mona, pipinya bengkak kemerahan dan sudut bibirnya ada sisa darah. Ramona menundukkan wajahnya, ia tidak ingin memberi tahu kalau ayahnya sendiri yang melakukan karena berita pernikahan Ray terkuak.


"Katakan padaku apa yang terjadi dan siapa pelakunya, aku akan membalasnya."


Mona menggeleng cepat dan berkata, "Tidak Ray, aku tidak apa-apa. Ayahku marah karena tidak pulang ke rumah dan tidak masuk kantor beberapa hari."


Ray diam, ia tahu Ramona menyembunyikan sesuatu, tapi ia tidak ingin memaksanya untuk menceritakannya. Ia akan mencari tahu sendiri, pikirnya.


Untuk menebus rasa bersalahnya Ray meluangkan waktu kerjanya hari ini untuk menemani Ramona hingga malam saat Ray mau pamit pulang, Mona menahannya.

__ADS_1


"Ray, temani aku malam ini disini," pinta Mona.


Ray ragu, ia tidak enak untuk menolaknya karena masih diliputi rasa bersalah, namun ia juga tidak ingin menghabiskan malam bersama Mona, bagaimana kalau ada media yang mengetahui ia bermalam di apartemen wanita lain sedangkan ia baru diketahui menikah. Bukankah ia adalah orang yang paling dicari sekarang ini oleh wartawan media untuk mengonfirmasi apakah benar ada atau tidak pernikahan tersebut.


"Mona, mengertilah Tuan bisa menghabiskan satu hari ini bersamamu adalah hal yang sangat luar biasa yang dilakukan Tuan Muda untukmu. Jangan memaksanya untuk menemanimu bermalam," ucap Abyan pertama kali nys sejak ia tiba di apartemen Mona.


Ramona dapat memahami jadwal harian Ray yang sangat padat, ia mengenal Ray sebagai seorang yang gila kerja atau biasa disebut workaholic namun ia tidak bisa memahami Abyan begitu ikut campur dalam kehidupan Ray, termasuk hubungan asmaranya.


Mona ingin membalas Abyan, tapi Ray keburu berbicara, "Kurasa apa yang Yan katakan benar, Mon. Agendaku hari ini harus dijadwalkan ulang, jadi aku tidak bisa menemanimu malam ini. Kuharap kau bisa mengerti, setelah ini kita harus menjalani hari dengan normal, bekerjalah seperti biasa dan bersikaplah seperti biasa."


Mona mengurungkan rengekannya untuk memohon Ray tinggal menemaninya. Ia hanya mengangguk dan tersenyum.


Ketika Ray melangkahkan kaki keluar dari pintu, Abyan menyahut, "Mon, kau telah banyak berubah. Sikapmu sendiri yang menjauhkanmu dari Ray. Jika kau masih menginginkan Ray, rebutlah kembali hatinya, buatlah hatinya tertarik kembali seperti waktu kita masih di Amerika."


Ramona bingung dengan apa yang Abyan katakan. Ia mau bertanya lebih jelas apa maksudnya tapi Abyan sudah menghilang dari hadapannya.


...πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€...


Abyan sudah mengantar tuannya sampai di rumah utama. Dikepalanya sudah berkecamuk agenda hari ini yang berantakan dan ia harus mengatur ulang jadwalnya kembali.


"Tuan Muda Suamiku dan Asisten Yan !!!"


Ada suara teriakan perempuan memanggil mereka berdua. Abyan dan Ray menoleh ke arah sumber suara, ternyata yang memanggil adalah Litha, tapi ...


"Yan, balik badanmu!" perintah Ray cepat meminta Abyan berbalik membelakangi pandangannya dari Litha.


Abyan bingung, kenapa ia disuruh berbalik, ia mengintip dari ujung ekor matanya ketika Litha menghampiri Ray, sekilas dilihat istri tuan mudanya terlihat seperti habis berolahraga.


"Kenapa?" bathinnya.


"Kau sudah pulang? Bagaimana harimu? Siang tadi aku lihat tempat gym sudah lama banget dianggurin, biar gak mubadzir aku pakai."


Ray masih terdiam menatap visual Litha. Hanya berkaos olahraga ketat tanpa lengan dipadukan celana olahraga sebetis yang ketat juga, ditambah rambutnya diikat satu tinggi-tinggi, terlihat begitu seksi dimata Ray. Belum lagi masih ada sisa-sisa keringat di pelipis, leher, belakang telinga dan pangkal lengan membuatnya nampak segar, tanpa sadar Rayyendra menelan salivanya.


πŸ™‹Ray, sadar wooooiiiiii sadar, hahahahaha ..... πŸ™‹


Litha bingung Ray tidak langsung menanggapi perkataannya, apalagi posisi Abyan membelakanginya. Tanpa basa basi, Litha memegang bahu Abyan dan membalikkan badannya agar menghadapnya. Belum sempat Litha bertanya kenapa asisten suaminya itu membelakanginya tapi ia sudah disuruh Ray untuk segera mandi dan berganti baju. Bau, katanya.


Litha menuju kamar dengan melihat keduanya dengan tatapan aneh lalu mengangkat lengannya dan mencium ketiaknya sendiri.


"Bau apaan? Enggak kok. Issshhhh... "

__ADS_1


- Bersambung -


__ADS_2