
"Bu Saroh, tolong ambilkan kompres dingin, segera!" perintah Abyan pada kepala pelayan di rumah begitu Litha dan Ray sampai di rumah.
Pak Sas yang sedang menikmati kopi di dapur bertanya, Kompres dingin? Siapa yang memar?
Betapa terkejutnya ia mendapati pipi Nyonya Mudanya bengkak. "Yan, ada apa? Bagaimana pipi Nyonya bisa terluka?" tanya Pak Sas panik.
"Ramona yang melakukannya, Paman."
Pak Sas terdiam, tapi Abyan tahu diam Pamannya itu berarti marah walau tidak ada ekspresi marah. Dari pertama Abyan 'ditugaskan' untuk menjaga Tuan Muda, ia sudah diperingatkan agar berhati-hati dengan Ramona, putri Sebastian.
"Biar saya sendiri Bu," pinta Litha tengah duduk di pinggiran ranjang saat Bu Saroh ingin mengompresnya.
"Baik Nyonya."
"Sini, aku saja yang mengompresnya." Ray langsung mengambil kompresan di tangan Bu Saroh.
Bu Saroh meninggalkan kamar tuannya, dalam hati ia bergumam, "Siapa yang tega dan berani menampar pipi Nyonya seperti itu? padahal Nyonya adalah tuan yang paling baik selama aku bekerja sebagai pelayan."
Ray mengompresnya pipi istrinya dengan sangat hati-hati, jangan sampai keluar rintihan sakit dari mulutnya.
"Semoga besok pipimu membaik, jika tidak besok kita periksakan pipimu ke dokter ya," ujar Ray lembut.
Litha mengangguk, "Terima kasih, Mas, sudah menjagaku tadi."
"Aku lengah, Litha, seharusnya pipimu tidak bengkak seperti ini."
"Tidak apa-apa, hitung-hitung punya pengalaman sakit ditampar hehehehe .... "
"Tidak lucu."
"Iya, iya, maaf. Lain kali aku akan menuruti Mas, tapi ... "
"Tapi apa?" tanya Ray bingung.
"Tapi aku cemburu mengetahui Mas membuat janji temu dengan Ramona." Litha mengatakannya dengan pelan dan kepala tertunduk, malu, pipinya yang sudah merah karena tamparan semakin memerah.
"Hah!!!"
Suaminya kaget tidak percaya, tapi ia senang sekali, hatinya berbunga-bunga dicemburui istrinya.
"Benarkah?" tanyanya untuk lebih meyakinkan. Litha mengangguk, masih dengan kepala tertunduk.
Ingin rasanya Rayyendra mencium istrinya kalau tidak melihat bengkak, akhirnya ia hanya mengambil kedua tangan Litha dan mencium punggung jemarinya.
"Sudah kubilangkan kan, kau sudah mengambil semua yang ada diriku, aku hanya disisakan tubuh ini saja. Jadi, jangan pernah kau ragu. Apapun kata orang, siapapun dia, jika bukan aku yang mengatakannya, tidak perlu didengarkan."
Ray menatap manik Litha lama. Litha tersenyum, hatinya tersiram hujan kebahagiaan. Ah, kenapa juga ia sempat meragu? Tidak ada alasan untuk itu. Betapa bodohnya dia, memikirkan perkataan Ramona tadi. Tiba-tiba mata Litha terbelalak, ia merasakan sesuatu yang bergerak dalam perutnya.
"Kenapa?" tanya Ray.
"Mas, dia bergerak!" seru Litha senang.
"Apanya?"
"Anak kita." Litha meletakkan tangan suaminya ke perutnya.
"Memangnya dia bisa bergerak?"
"Iya, nih, nih, kerasa gak?" Litha sangat antusias dengan gerakan janin dalam perutnya.
"Oh, gerakannya seperti ini."
"Sementara masih samar-samar gini, nanti usia kandungan makin besar gerakannya juga makin kerasa dan nampak."
Ray mengangguk mengerti, ia memang tidak tahu menahu tentang kehamilan.
"Berarti tadi dia juga gerak dong kalau begitu?" tanya Ray.
"Kapan?"
"Tadi, saat kau meletakkan tanganku di perutmu untuk mencegahku membalas perbuatan Ramona, gerakannya kayak gini."
__ADS_1
"Huwaaaaa.... Nak, kau curang ihhh.... kau menunjukkan gerak pertamamu pada Ayah padahal Ibu yang susah payah mengandungmu," kata Litha memprotes gemas dengan mengelus lembut perutnya.
Litha tidak sadar dengan gerakan pertama janinnya tadi karena perhatiannya tertuju pada Ramona. Ray hanya tertawa melihat interaksi istri dan calon anaknya. Diciumnya pucuk kepala Litha. Lengkap sudah kebahagiaan yang ia rasakan, ia tak ingin kehilangan mereka.
"Litha ... " panggil suaminya dengan tatapan yang romantis.
"Ya."
"Aku ingin hidup menua bersamamu, melewati ribuan musim. Bahkan di kehidupan selanjutnya aku tetap ingin kau menjadi istri yang kucintai seperti saat ini."
Litha sudah tidak bisa berkata apa-apa lagi, bahagia menyerang hatinya, seakan kesusahan yang selama ini ia hadapi terbayar sudah hari ini. Ia mendapatkan suami yang mencintainya dan ia cintai. Litha tahu, dirinyalah yang memenangkan perang ini meski harus terluka.
"Apa pipimu masih terasa nyeri?"
"Sudah berkurang, Mas. Kenapa?" tanya Litha.
Ray tidak menjawab, dengan lembut ia mengambil dagu Litha dan menyesap pelan bibir istrinya. Litha mematung, ia dapat mendengar suara jantungnya sendiri, malu rasanya.
Kenapa jantungku berdebar begini
Litha memejamkan matanya, mencoba mengatur detak jantungnya yang berirama lebih cepat dari biasanya. Ray melepas ciumannya. Dilihatnya mata istrinya masih terpejam, meski pipinya agak membengkak, tidak menghilangkan cantik di mata Ray, justru dengan matanya yang terpejam dan bibir yang setengah terbuka membangkitkan gairahnya tanpa permisi.
Ah, sial! Kau cantik sekali, Litha ...
Ray kembali mencium bibir Litha yang baginya sangat seksi dengan ikut memejamkan mata, perlahan melu*matnya dan mulai menjelajahi rongga mulut istrinya dengan lidahnya. Litha masih diam, membiarkan tangan Ray berkelana kemana ia suka hingga tangan itu menyusuri leher dan membelai lembut telinganya. Litha mulai membalas pa*gutan Ray. Sangat intens dan dalam sampai-sampai Ray membuka matanya tidak percaya.
Kau sudah tidak polos lagi, Sayang ... tapi aku menyukainya ...
Hasrat Ray semakin tak terelakkan membuat sesuatu semakin menyesakkan celananya.
Litha, kumohon ... jika kau tidak berhenti, aku tidak bisa menahannya lagi
Seketika Litha membuka matanya dan melepas ciuman Ray, ia tersenyum dengan mata yang sedikit sayu. Ray makin kerepotan menahan sesuatu yang di dalam celananya terus membesar.
Aaahhh ... Litha, stop dengan caramu memandangku! Aku semakin tidak bisa menahannya
"Mas ... kau sungguh mencintaiku?" tanya Litha berbisik pelan. Sial, suara Litha makin menaikkan hasrat Ray.
"Kau ragu lagi?"
Demi Tuhan, Ray benar-benar sudah tidak bisa menahannya lagi, ia tidak bisa mengendalikan tubuhnya. Dibukanya bajunya dan juga pakaian yang dikenakan istrinya hingga hanya terlihat underwear saja.
Ray menelan salivanya, meski dengan perut yang membuncit, Litha tidak kehilangan keseksiannya di mata Ray. Ia dapat jelas melihat buah dada yang ranum menggantung dengan belahan sempit dalam bra hingga membuat nafasnya naik turun.
Persetan dengan kata-kata dokter! Aku benar-benar tidak bisa menahannya
"Apa kau tidak apa-apa jika aku meminta hak ku sebagai suami?"
Litha menunduk, ia malu untuk menjawabnya, jadi ia hanya menggeleng saja.
"Aku akan melakukannya perlahan agar tidak menyakitimu dan anak kita yang ada di dalam perutmu."
Litha hanya mengangguk, masih dengan kepala tertunduk. Ray mengangkat wajah istrinya, "Aku mencintaimu dan menginginkanmu, Navia Litha Sarasvati "
Dilu*matnya lagi bibir Litha, memainkan lidahnya dengan tidak sabaran. Litha mengaduh karena nyeri di pipi dan sudut bibirnya yang terluka, namun bagi Ray itu terdengar seperti erangan penuh naf*su dari istrinya. Anehnya, walau sakit Litha juga tidak menghentikan ciuman suaminya, malah semakin membalas.
Tangan Ray membuka pengait b*ra dan melemparkannya di lantai. Dire*mas-re*masnya dengan hasrat yang membuncah, memainkan ujung payu*dara, menji*lati dan menghi*sapnya membuat Litha kali ini mengaduh penuh nikmat. Tidak berhenti sampai disitu, ia melepas underwear yang menutupi bagian terintim milik Litha, menyusuri setiap lekuk tubuh istrinya dan meninggalkan jejak jelas kepemilikannya.
"Kenapa kau sangat seksi sekali, Litha .... " gumam Ray dengan nafas yang berlarian sembari memasukkan pusakanya ke dalam milik Litha.
Seketika raut wajah Litha berubah, ingatannya mengambil memori saat ia dipaksa melayani suaminya. Ray tahu itu, diciumnya kening istrinya, "Litha, aku mencintaimu."
Litha memejamkan matanya, mencoba menghilangkan ingatan traumatisnya, Ray yang ini memperlakukannya sangat berbeda dengan Ray malam itu. Ray yang sekarang begitu lembut dan menghormati tubuhnya. Dengan menstimulasi pikirannya Litha menyerahkan dirinya seutuhnya dengan ikhlas pada suaminya, tanpa penolakan seperti pertama kali suaminya menggagahi dirinya.
Litha menjerit tertahan ketika Ray melesakkan pusakanya semakin dalam. Mereka menyatukan hasrat dengan nafas saling memburu, saling berbagi peluh dan oksigen hingga saling meraih kli*maks atas nama cinta.
"Sayang, apa kau baik-baik saja?" tanya Rayyendra memeluk tubuh istrinya tanpa busana di bawah selimut.
"Ya, kenapa memangnya? Hanya pipiku saja yang masih sedikit terasa nyeri."
"Ah, tidak. Besok aku akan mengantarmu ke dokter kandungan."
__ADS_1
Dalam hatinya Ray khawatir jika hubungan suami istrinya akan berpengaruh buruk pada janin yang ada di dalam perut Litha. Ternyata kata-kata dokter itu masing terngiang-ngiang di kepalanya.
"Pipiku yang sakit kenapa kandunganku yang diperiksa?"
"Ya, maksudku dua-duanya."
"Lith, kenapa tadi kamu tidak membalas Ramona, menamparnya balik, memukulnya atau apalah. Aku marah sekali tadi, apalagi ketika ia akan mendorongmu, kalau kau tidak menahanku sudah habis dia, tidak peduli urusan di belakang."
Ray menatap istrinya dengan sendu. Ia sangat takut kalau terjadi apa-apa tadi.
"Mas merepotkan Asisten Yan saja kalau begitu. Tugasnya sudah banyak sekali, jangan kau tambah-tambahi. Lagipula kalau aku membalas seperti yang ia lakukan padaku, apa bedanya aku dengannya? Aku Litha, aku tadi menunjukkan kelasku, huh. Meski aku ditampar, aku masih bisa menatap matanya, aku tidak takut, justru aku yang mencelanya dengan attitude ku, Mas."
Rayyendra tergelak gemas mendengar dengungan istrinya seperti tawon, eh bukan, ratu tawon. Tapi ia harus akui, istrinya memang cerdas, tidak gegabah mengambil sikap dan mampu mengendalikan emosinya. Ia menowel hidung istrinya pelan dan menggoda, "Tapi kau begitu galak ketika memukuli Bona di malam pertama kita."
"Oh, kalau itu beda kasus, Mas. Aku melakukannya supaya Bona tidak kurang ajar atau seenaknya pada Ninda. Mas tidak tahu cerita Ninda yang sampai membuatnya sering terkena panic attack hanya karena mengingat memori masa lalunya. Mungkin bagi orang lain terlihat lembek, tapi kita kan tidak tahu kondisi mental seseorang. Aku mengerti karena aku pernah mengalaminya."
"Mengalami apa?" Ray menelisik netra istrinya, wajah mereka saling berhadapan.
Kenapa kau cantik sekali Litha, bahkan rambutmu yang sedikit basah dan sisa keringat di leher juga pelipismu membangkitkan sesuatu diantara pahaku
"Mengalami apa?" Ray mengalihkan hasratnya yang muncul kembali dengan bertanya apa saja pada Litha.
"Aku ingin bunuh diri, menyusul Ayah."
Seketika Ray terdiam. Diperhatikannya air muka istrinya, ia tidak bercanda.
"Saat itu aku sangat putus asa. Aku merasa sudah kehilangan pelindungku dan penjagaku di saat aku belum siap untuk berdiri sendiri. Rasanya itu sangat menyakitkan."
Mata Litha menerawang ke langit-langit kamar, hatinya perih mengingat masa-masa itu. Ray salah tingkah. Ia merutuki kebodohannya sendiri karena mengulik masa lalu Litha di saat yang tidak tepat, seharusnya mereka hanya membicarakan tentang diri mereka untuk ke depannya.
Ray mengeratkan kedua tangan di lekuk pinggang istrinya, matanya menjurus langsung ke mata istrinya, "Istriku ini pelupa atau memang tidak percaya? Aku sudah berjanji di depan makam ayahmu, kalau aku yang akan meneruskan tugasnya melindungi dan menjagamu dengan hidupku, tapi ... "
"Tapi?!? Kau memberlakukan term and condition untuk istrimu sendiri?" sungut Litha kesal padahal Ray hampir memekarkan semua bunga dihatinya barusan.
Ray mengangguk yakin, bibir Litha mengerucut yang membuat lagi-lagi Ray tergelak.
"Aku tidak mau melihatmu berbincang dengan lelaki manapun, dengan alasan apapun. Kau tidak boleh keluar dari rumah tanpaku. Dan aku tidak suka istriku dilihat lebih dari tiga detik oleh lelaki lain, jika itu terjadi meski kau menahanku aku tetap menghajar mata lelaki itu. Jadi jangan berpakaian seksi dan bersikap manis pada lelaki manapun kecuali suamimu sendiri," ucapnya serius.
"Hah! Kau aneh! Sejak kapan aku berpakaian seksi dan bermanja-manja pada lelaki?"
"Terserah. Pokoknya aku tidak suka, termasuk Abyan, apalagi Firza"
"Haaaaahhhh!!! Mas, Asisten Yan dan Kak Firza sudah kuanggap kakakku sendiri, bagaimana mungkin aku menghindari mereka kalau mereka berbicara padaku?" protes Litha.
"Entahlah. Hanya satu orang pria yang aku percaya, dan dia yang akan menggantikan diriku menjagamu kalau aku tidak berada di sampingmu."
"Siapa?"
"Pak Sas."
"Apa!?! Sama saja Mas, Pak Sas itu gak bakalan ngomong kalau bukan hal yang penting banget. Tapi kan, dia tetap lelaki meski sudah berumur, bahkan dia digosipkan menjadi daddy sugar ku. Apa kau tidak keberatan?" pancing Litha.
Litha tidak bisa membayangkan ia hanya diijinkan berinteraksi hanya dengan asisten yang diwariskan Nyonya Besar untuknya. Mana asisten itu sangat irit bicara dan ekspresinya selalu datar, Litha tidak tahu kapan ia marah, sedih, atau senang.
"Ya, Nenek bilang dia sudah tidak memiliki hasrat pada wanita, jadi aman."
Mata Litha membulat, kaget. Ekspresi seperti itu membuat Ray gemas dan mengembalikan hasratnya yang sempat meredup.
"Jangan tanya padaku kenapa, Nenek tidak menceritakan sedetail itu padaku. Sudahlah, tidak usah membicarakan orang lain. Aku rindu padamu."
"Rindu bagaimana? Dari tadi aku disini," tanya Litha tersenyum nakal, jari telunjuknya menusuk-nusuk dada bidang Ray, ia senang dirindui suaminya.
"Aaauuuuwwwww... " pekik Litha pelan saat tangan besar mere*mas buah dadanya.
"Aku rindu menengok anak kita."
Ray memajukan pinggangnya sampai Litha bisa merasakan pusaka suaminya yang sudah menegang kembali. Mata Litha terbelalak, ia mengerti maksud suaminya.
Ray terkekeh, "Aku mau mengambil hadiahku, karena kau sudah memenangkan hatiku."
Litha tersenyum, tanpa malu-malu tangannya sudah berada di leher kokoh Ray sambil mere*mas lembut rambut suaminya dan segera melahap bibir pria yang sudah membuatnya jatuh hati.
__ADS_1
Rayyendra Putra Pradipta, kau juga mengambil semua yang ada padaku dan hanya menyisakan raga ini ... Aku mencintaimu ....
- Bersambung -