
Litha mengerjapkan matanya berulang kali, bayangan lelaki yang sudah berpakaian rapi ada di depannya.
"Lith, bangunlah dulu. Ada yang mau kusampaikan."
"Ah iya. Mmmppff ... " Litha bangun bersandar pada headboard ranjang yang sebelumnya menarik selimut sampai di dadanya karena tak satupun benang menempel di badannya, meski di depan suami sendiri ia kadang masih malu memperlihatkan anggota tubuhnya.
"Abyan tengah berduka, tadi malam Ibunya mengabarkan kondisi Dinda kritis, dan kabar terakhir satu jam lalu, Dinda sudah meninggal."
Litha terkejut, "Mas mau ke sana?"
Ray mengangguk, ia mengelus bahu istrinya, "Bibi Lidya sudah menganggapku anaknya sendiri dan Dinda juga seperti adikku, meski sangat jarang bertemu."
"Memangnya Dinda sakit selama ini?" tanya Litha.
Ia memang tidak pernah melihat adik semata wayang Abyan. Sewaktu ia menikah dengan Ray, hanya ibunya Abyan saja yang datang dan tidak lama, sekedar memperkenalkan diri dan berbasa-basi sedikit, lalu langsung pulang karena Dinda menunggunya.
"Dinda seumuran denganmu, dia punya sakit jantung bawaan sejak kecil, di usia 5 tahun jantungnya sudah dipasang ring. Belum lagi dia termasuk anak berkebutuhan khusus, Dinda autis. Bibi Lidya sangat intens menjaga dan merawatnya, meski kami tahu Dinda akan pergi karena setahun belakangan kondisinya terus memburuk, tetap saja Bibi Lidya dan Abyan terpukul."
"Ah, ternyata begitu. Apa aku boleh ikut kesana?"
"Tidak. Kau di rumah saja, menjaga anak kita dengan baik," Ray mengelus perut istrinya dan berbicara padanya, "Ayah pergi dulu ya, Ibu akan menjagamu dengan baik. Nanti setelah selesai urusan Ayah, Ayah akan menengokmu."
"Idihhh ... Itu saja yang diingat. Tapi Mas ... aku ingin ikut."
"Sudah, kubilang kau disini ya disini. Nanti akan kusampaikan pada Bibi Lidya dan Abyan kalau kau turut berdukacita. Pak Sas akan menemaniku, jadi kau memang tidak kuijinkan keluar rumah sampai aku dan Pak Sas kembali."
"Tapi kalau aku, Bibi Rima dan Nia mau belanja bagaimana kalau tidak boleh kemana-mana?" protes Litha.
"Ada situs belanja online. Belanja saja disitu."
Litha merengut tapi mau bagaimana kalau suaminya sudah memberikan mandat yang tidak bisa ditawar, "Kalau begitu ijinkan Nia menemaniku tidur selama.Mas tidak ada."
Ray diam, menimbang sesuatu. "Oke, baiklah. Aku ijinkan dia tidur di kamar ini tapi kau tahu batasannya kan?"
"Iya. Aku jamin dia tidak akan pernah menyentuh kepunyaanmu, Nia hanya menemaniku tidur, mengobrol sebelum tidur, selain itu dia tetap berada di kamarnya."
"Bagus."
Ray memeluk Litha dan menyesap lama aroma keringat istrinya yang sudah bercampur dengan miliknya tadi malam. Aroma yang khas yang akan ia rindukan selama ia berada di Daerah C, tempat kelahiran Abyan.
.
.
.
# Rumah Duka Keluarga Abyan #
Ray, Abyan dan Pak Sas sudah tiba di rumah duka, rumah masa kecil Abyan yang berupa tiga petak ruko dua lantai. Lantai bawahnya dipakai untuk usaha apotik, laboratorium dan dokter praktik, sedangkan lantai atasnya digunakan untuk gudang obat dan tempat tinggalnya.
Sekarang Apotik Diyan (Dinda Abyan) dalam suasana duka. Ibunda Abyan, Lidya menatap dan mengelus pipi putri satu-satunya, begitu Abyan datang menghampiri, Lidya memeluk dan menumpahkan tangis yang ia tahan sejak malam saat Dinda tiba-tiba anfal.
"Maafkan aku, Bu. Aku terlambat."
"Tidak apa-apa, Nak. Ah, ada Tuan Muda dan-- Pak Sas." Lidya berpura-pura tidak mengenal kakaknya sendiri di depan Ray.
Ray menundukkan kepala memberi hormat, "Saya dan Litha turut berduka, Bibi. Sebenarnya Litha ingin ikut kesini tapi saya khawatir dengan kondisi kehamilannya yang sudah besar."
"Tidak apa-apa, Tuan. Saya pun tidak menyangka Tuan akan datang kesini. Terimakasih."
Abyan mendekati jenazah adiknya diikuti Ray dan Pak Sas. Ada raut kesedihan di mata Pak Sas, keponakannya telah berpulang mendahuluinya yang usianya jauh lebih banyak. Ia ingat setiap pulang ke rumah adiknya, Dinda kecil selalu menyambutnya dengan berlari dan berteriak "Pakdeee .... " Dinda autis tapi hanya kepada Pak Sas lah ia langsung bisa merespon orang lain.
"Bi, ikutlah kami ke Ibukota. Disini Bibi sendirian dan pasti Bibi akan terbawa suasana saat Dinda masih ada." ajak Ray saat mereka sudah pulang dari pemakaman.
"Ada apotik yang harus Bibi urus, Tuan."
"Bu, mungkin lebih baik Ibu serahkan pada orang yang Ibu percaya, Ibu tinggallah bersamaku di Ibukota. Setidaknya Ibu bisa dekat denganku." Abyan berusaha membujuk ibunya.
Lidya melirik ke arah Pak Sas, meminta jawaban tapi Pak Sas tak bergeming, pandangannya lurus ke depan.
"Nanti Ibu pikirkan lagi, tapi sama saja, justru Ibu disana semakin kesepian tidak ada yang Ibu kerjakan kalau kamu bekerja, Yan."
"Bibi bisa tinggal di rumah utama. Bibi bisa menemani istriku, dia juga kesepian kalau aku bekerja. Dia seumuran dengan Dinda."
Sekali lagi Lidya melirik ke Pak Sas, mencari jawaban iya dan tidak. Tapi lagi-lagi kakaknya itu hanya diam saja.
"Nanti akan Bibi pikirkan, Tuan. Tapi kalaupun jadi, Bibi harus mengurus semua hal disini dulu yang akan Bibi tinggalkan. Terimakasih atas kebaikan Tuan Muda sudah memikirkan hidup Bibi."
"Abyan sudah seperti saudaraku, Bi, hanya saja pekerjaannya yang menjadikannya anak buahku, dan Bibi juga sudah menganggapku anak sendiri. Jangan sungkan, kalau butuh bantuan atau sesuatu bilang saja langsung ke saya Bi, kalau Bibi bilang ke Abyan, tidak akan sampai ke saya. Bibi masih menyimpan nomorku kan?"
Lidya mengamati wajah Rayyendra, wajah yang dulu setelapak tangannya saat ia gendong. Waktu ternyata sudah banyak dilewatinya, bayi itu kini akan menjadi seorang ayah.
.
__ADS_1
.
.
# Kamar Tidur Utama #
Vania takjub mengamati kamar tidur kakaknya yang luas dan sangat nyaman. Semuanya sudah tersedia disitu, "Pantas saja Kakak dan Kakak Ipar jarang keluar kamar. Kalau aku punya kamar begini bukan jarang lagi tapi tidak akan keluar kamar," gumam Nia berdiri di samping ranjang memeluk bantal gulingnya yangbia bawa dari kamarnya.
Litha terkekeh melihat adiknya yang masih mengagumi kamarnya. Bantal, guling dan selimut, kecuali kasur yang biasa Ray pakai saat tidur, disimpan Litha sesuai perintah suaminya untuk tidak tersentuh orang lain selain istrinya.
"Kak, beneran aku tidur sama Kak Litha malam ini?" ujarnya meyakinkan.
"Iya, Kakak Iparmu sudah mengijinkannya. Selama ia di Daerah C. Kau akan menemaniku tidur."
"Asyiiikkk ... !!!" seru Vania kegirangan dan langsung meloncat ke ranjang memeluk kakaknya.
"Sudah lama kita tidak tidur bersama ya, Kak. Aku rindu sekali. Aku dulu biasanya tidur sambil memegang kuping Kakak, boleh ya kalau aku pegang kuping Kakak malam ini."
Litha tergelak, di uyel-uyel pipi adiknya dengan gemas. "Ya, mumpung Kakak Iparmu tidak ada lakukan apa yang kau mau pada Kakakmu ini."
Vania memeluk Litha dengan senang sekali. Mereka lalu berbaring bersama, terlentang menatap langit-langit kamar.
"Kak."
"Ya."
"Kudengar kasus Kak Tisha dibuka kembali oleh Kakak Ipar ya?"
"He-eh."
"Kata Bibi, Kakak Ipar sudah menemukan saksi kuncinya. Kuasa Kakak Ipar hebat sekali, dengan cepat menemukannya dan membuatnya bersedia bersaksi. Andai saja waktu itu kita sudah kenal dengan Kakak Ipar, pasti Ayah masih ada."
"Kata andai itu sering disebut oleh orang yang belum bisa menerima takdir, dan aku harap kamu tidak begitu, Nia."
"Kakak sudah bertemu dengan saksi kunci itu?"
"Belum, tapi aku pernah bertemu sebelumnya. Dia Kak Vivian, teman Kak Tisha yang malam itu juga mengerjakan tugas laporan prakteknya di lab. Sekarang dia sudah menjadi dokter di RS. Pradipta."
"Oh."
"Ku beri tahu satu rahasia, tapi kau jangan mengatakannya kemana-mana."
"Apa?"
"Iya, janji. Apaan?"
"Asisten Yan menyukai Kak Vivian, hihihi ... "
Vania terdiam, kenapa dalam hatinya ada rasa sedikit sedikit tidak nyaman mendengarnya dan rasa ... kecewa.
"Oh, beruntung sekali teman Kak Tisha di sukai Asisten Yan." Suara Vania berubah agak ketus, tapi Litha tidak peka.
"Ya, Asisten Yan lelaki yang sangat baik. Dia tidak pernah menaruh rasa pada perempuan sebelumnya, eh sekalinya jatuh hati pada wanita yang sudah bertunangan. Rumit kan?"
"Apa? Dokter itu sudah bertunangan, artinya dalam waktu dekat mereka sedang merencanakan pernikahan. Apa Asisten Yan tahu?"
"Entahlah, tapi kusuruh Kakak Iparmu untuk menjadikannya dengan Asisten Yan saja."
"Kak!" tiba-tiba Vania berteriak.
"Apa? Kupingku sakit kau berteriak di telingaku. Bayiku nanti kaget, Nia."
"Kak Litha sadar gak sih? Perbuatan Kakak itu menyakiti hati orang lain. Kak Litha yang kukenal tidak pernah melakukannya."
"Enggg ... aku hanya ingin Asisten Yan juga bahagia punya pasangan, dan Kak Vivian wanita pertama yang ia suka."
"Tapi tidak begitu caranya Kak. Entah Dokter itu juga menyukai Asisten Yan atau tidak, yang jelas jika pertunangan mereka bubar karena perasaan Asisten Yan, bukan hanya Si Tunangan Dokter itu yang sakit tapi juga orangtuanya, keluarganya. Dan kalau Kakak dan Kakak Ipar terlibat, kalian sudah menabung keburukan di masa depan untuk kalian atau keturunan kalian."
Litha gamang, apa yang dikatakan Vania benar. Ia egois, ia hanya memikirkan perasaan Asisten Yan, tapi tidak dengan Si Tunangan Dokter itu dan keluarganya.
"Apa berarti aku menyakiti Ramona kalau begitu?"
"Ya jelas beda lah! Kakak menikah kan, karena sebuah wasiat dan dia juga hanya pacar yang tidak dicintai Kakak Ipar sejak awal."
"Kau tahu dari mana, ha?!? Apa kebiasaan mengupingmu itu belum hilang. Katakan, apa lagi yang kau dengar?"
"Hahahahaha ... Kak, ampun! aku tidak perlu mengatakannya dari mana yang jelas, hubungan Kakak dan Kakak Ipar itu sudah takdir Tuhan. Terimalah dengan bahagia, Kak ... Aku juga pengen punya suami seperti Kakak Ipar, meski ia nanti terus memaksaku bercinta di dalam mobil saat hamil, tidak apa-apa, aku ikhlas ... "
"Nia, kau ini ... "
Muka Litha merah padam perkataannya kemarin malam diulang kembali, dicubitnya keras perut adiknya.
"Kak! Sakiiittt!"
__ADS_1
"Kau sangat tidak sopan berbicara begitu pada Kakakmu. "
"Bagian mana yang tidak sopan? Aku hanya mengutarakan harapanku kok dibilang tidak sopan?"
"Bukan yang itu."
"Lantas yang mana? Yang bercinta di mobil maksud Kakak."
Litha mencubit lagi dan Vania mengaduh lagi.
"Tahu apa kau soal bercinta! Kau belum cukup dewasa untuk membahasnya, belum juga lulus dari putih abu-abumu sudah bicara hal tabu."
"Yah, Kak. Kita ini hidup di jaman apa sih? Jaman milenial pun sudah lewat. Se*x Education bukan hal tabu lagi di jaman sekarang. Justru itu penting, supaya remaja labil kayak aku ini tidak akan salah kaprah. Aku tahu apa itu bercinta, foreplay, penetrasi, ereksi, orgasme, masturbasi, onani, bahkan sofa Kakak itu, sofa bercinta yang lagi viral kan? yang bisa digunakan dengan berbagai gaya. Apa mau aku sebutkan gaya-gayanya?" terang Vania menunjuk sebuah sofa yang dibeli Ray saat baru pindah ke rumah utama dari apartemennya.
"Nia!"
Litha terlonjak kaget dan wajahnya memerah dengan istilah-istilah yang ia saja baru tahu dari suaminya, namun kini adiknya dengan lantang mengatakan itu semua.
"Jangan katakan kau pernah menonton film dewasa."
"Pernah sekali di rumahnya Keysha karena aku penasaran. Kenapa bercinta bisa membuat orang ketagihan? Dan kenapa bisa membuat orang melakukannya dengan paksa?"
Deg ...
Jantung Litha berdetak keras mendengar kalimat terakhir Vania.
"A-- apa maksudmu, Nia? Apa kau tahu ceritaku, tapi dari mana? Tidak mungkin Bibi atau Paman. Apa kau menguping lagi?" Litha bertanya-tanya dalam hati.
"Kadang jika aku menguping itu karena ketidaksengajaan. Aku bukan orang yang selalu kepo dengan urusan orang lain."
Vania memang karakter yang out of the box, seperti saat ini Litha terperangah melihat adik kecilnya itu sudah berani adu argumen dengannya. Benar-benar argumen dari isi kepala tanpa melihat siapa yang diajak beradu.
"Nia ... " suara Litha memelan.
"Ayah selalu bilang, jangan dekati teman laki-laki. Mereka akan menuntut lebih. Waktu Ayah mengatakan itu, apa yang terlintas dalam pikiran Kakak?"
"Engg ... apa ya? Mungkin menuntut lebih banyak jawaban misalnya kalau kita belajar bersama tapi saat ujian dia meminta jawaban," jawab Litha ragu yang dibalas dengan senyuman sinis.
"Ayah salah. Ayah tidak pernah jujur dengan semua larangannya, dan akhirnya membuat kita bertanya-tanya tidak jelas dan mencari sendiri jawabannya. Itu yang terjadi pada Kak Tisha. Ia menuruti semua perintah Ayah, hingga akhirnya ia mencari jawaban di tempat yang salah."
"Ma-- maksudmu kau menyalahkan Ayah? Jahat sekali kau Nia." Litha terhenyak.
"Untuk satu itu ya," jawabnya tegas, "Tapi aku tidak menafikan kebaikan dan pengorbanan Ayah yang luar biasa. Sama halnya Ibu, banyak yang ia sembunyikan pada kita. Padahal kita berhak tahu karena kita anak-anak Ibu. Ibu membuat dirinya menderita sendiri, seharusnya ia berbagi dengan kita, anak-anaknya. Bukankah kita terbiasa berbagi sejak dalam kandungan, berbagi makanan dengan satu plasenta."
"Nia, Kakak tidak tahu arah bicaramu kemana?"
"Aku juga sama Kak. Aku tidak tahu karena kita tidak pernah diberi tahu."
Litha menelan salivanya, adiknya sekarang bukan lagi bocah imut dan lucu. Ia bisa menjadi garang menyerang orang yang mengancamnya.
"Kak."
Satu tangan Vania memeluk lengan Litha, satunya lagi mengusap perut Kakaknya, "Apa Kakak tidak pernah menyesali takdir Kakak? Yang nampak dan yang masih tersembunyi?"
"Kau kenapa Nia?" Litha menghadapkan badannya ke adiknya, ia tahu ada yang mengganjal di hati gadis berkulit putih itu, lebih putih darinya.
Vania menggelengkan kepalanya, tapi Litha tahu adiknya ini sedang berusaha melawan sesuatu di dalam hatinya yang tidak mau ia terima.
"Dek, apapun takdir itu, yang nampak atau tersembunyi. Kita pasti tetap akan melewatinya, sekarang pilihan yang ada di tanganmu itu menerimanya atau tidak. Jika kau pilih tidak maka kakimu akan tertanam disitu selamanya. Aku tidak tahu apa yang terjadi padamu sekarang, yang jelas aku akan selalu di sampingmu. Bukan hanya aku tapi Kakak Iparmu juga. Dia sudah menganggapmu adiknya sendiri," kata Litha panjang lebar sambil menciumi pucuk kepala Vania.
"Aku sangat menyukai Kakak Ipar."
"Apa!?? Mas Rayyendra suamiku, Nia. Jangan macam-macam!" Litha melepas pelukannya dan mendorong adiknya.
"Jiahhh ... bukan maksud menyukai sampai mau merebutnya darimu, Kak. Aku menyukai cara dia mencintai Kakak, all out dalam mencintai wanitanya. Makanya aku tidak suka sekali mendengar ada kata cerai diantara kalian meski hanya bercanda atau dalam keadaan marah."
Litha tersenyum, "Sudah yuk, kita tidur. Obrolan sebelum tidur kita akhiri sampai disini ya. Kau boleh memegang telingaku sampai tidur."
""He-eh."
Vania mencari posisi nyaman untuk tidur, lalu ia berkata pelan pada Kakaknya, "Aku sangat menyayangimu, Kak dan juga Kakak Ipar. Aku tidak rela kau akan menjadi putri mahkota jika pada akhirnya itu akan membuat kalian kembali pada ego masing-masing. Huaaahhh ..."
"Bicara apa kau ini, Nia?!? Ayo tidur." ujar Litha menepuk-nepuk bokong adiknya.
"He-eh. Kak, untung saja kutukanmu jatuh pada Kakak Ipar, tidak seperti Kak Tisha jatuh di orang yang salah. Kalau aku, aku-- akan beri kutukan ini ke siapa? Apa Asisten Yan saja ya? Ahh-- tidak-- dia terlalu tua untukku, andai saja dia ada versi mudanya, seumuran denganku, pasti sudah kujerat dengan kutukanku."
"Sssshhh, tidur Nia, jangan meracau yang tidak-tidak," ujar Litha masih menepuk-nepuk bokongnya dan ia biarkan adiknya memainkan daun telinganya.
"Kau sama saja dengan Mas Rayyendra sering sekali menyebut kutukan, ckckck ... " gumamnya pelan.
Litha merasa mengantuk, tapi terdengar bunyi notifikasi chat masuk. Dibukanya aplikasi chat untuk melihat gambar yang dikirim suaminya barusan.
Nampak sebuah foto Ray setelah selesai mandi hanya menggunakan handuk di pinggangnya, dadanya yang bidang dan lengannya yang kuat membuat jantung Litha kembali berdegup kencang, Ia lalu membiarkan chat suaminya tanpa membalas.
__ADS_1
- Bersambung -