
Atas permintaan keluarga, jasad Ramona sesegera mungkin dikuburkan setelah diautopsi. Dibawah langit cerah di pagi hari, Ramona dikebumikan tanpa ada siapapun yang mengantarkan ke peristirahatan terakhirnya kecuali Winda Riguna dan beberapa orang dari pihak kepolisian dan rumah sakit.
"Selamat pagi, Nyonya Riguna," sapa Ray.
Perempuan paruh baya itu berbalik, melihat rombongan Keluarga Pradipta berpakaian rapi dan ... seorang wanita hamil membawa bunga sebuket anyelir putih yang indah di tangannnya.
"Kami turut berdukacita, Nyonya," kata Litha kemudian.
Winda Riguna diam mengamati Litha, baru kali ini ia melihat langsung Nyonya Pradipta, sosok yang dibenci putri dan suaminya, juga adik dari wanita yang sangat dicintai putra kesayangannya.
Litha berbesar hati dengan datang ke pemakaman orang yang hampir membunuhnya. Ditemani suami, Asisten Yan dan Bibi Lidya juga Bona dan Ninda. Ada rasa malu terselip di hati Winda setelah melihat teduhnya pandangan di mata Litha yang tulus.
"Maafkan putri dan suami saya, Nyonya." kata Winda dengan kepala sedikit tertunduk pada Litha.
Semua tatapan berpusat ke arah Nyonya Pradipta, menantikan jawabannya. Bunga yang berada di tangannya diberikan pada Ray.
Litha tersenyum, "Apakah jahat jika saya belum bisa memaafkan suami dan kedua anak Nyonya, dengan apa yang telah dilakukan mereka terhadap keluarga saya? ... Tapi saya akan mencoba untuk memaafkan mereka semua seiring waktu. Saya kesini berbelasungkawa hanya semata-mata melihat Nona Ramona sebagai seorang manusia, bukan pribadinya."
Retorika Litha membuat siapapun terdiam. Tentu saja luka dan rasa sakit itu masih ada, apalagi setelah ia mengetahui Pak Sas meninggal. Namun Litha mencoba melawan rasa sakitnya dengan mendatangi makam Ramona seperti ia mendatangi Lukas di penjara. Litha ingin tahu sampai dimana level rasa sakitnya agar ia berani menghadapinya dan bisa menghapusnya.
Ray mengusap-usap bahu istrinya lalu mencium pelipisnya setelah ia menaruh bunga di atas pusara yang masih basah.
Bona sampai detik ini masih tidak percaya. Kawannya itu rela berbuat nekat dan akhirnya pergi dengan cara mengenaskan, tertembak peluru ayahnya sendiri karena melindungi pria yang dicintainya. Bona menyesal, ia tidak berusaha lebih keras membelokkan hati Ramona untuk menghentikan cintanya pada Ray.
"Temanmu itu sungguh mengerikan dalam mencintai seseorang. Hiiii ..." bisik Ninda bergidik ngeri ke Bona.
"Semoga dia tidak menjadi arwah penasaran, yang menghantui Litha. Dia tidak akan menjadi mbak kunti, kan Bon?" bisiknya lagi.
"Bisa diam tidak!" desis Bona gemas dengan mencium pipi Ninda. Gadis imut itu mencubit pinggang kekasihnya yang berani menciumnya di depan makam orang yang baru saja meninggal.
Lidya yang dapat mendengar bisikan Ninda hanya menggeleng-gelengkan kepalanya menahan senyum. Ia heran Nyonya Mudanya ini dikelilingi oleh perempuan-perempuan bermulut setajam silet, padahal yang ia tahu Nyonya Pradipta begitu lembut. Kalaupun ia sedang berada dalam keadaan marah atau memperingatkan seseorang, sikapnya justru menunjukkan keeleganan seorang wanita kelas atas.
.
.
.
Setelah dari pemakaman Ramona, mereka mendatangi makam Pak Sas yang berada pada kompleks pemakaman yang sama dengan makam Keluarga Pradipta tanpa Bona dan Ninda.
Sebagai bentuk penghormatan terakhir atas pengabdiannya pada Keluarga Pradipta, Rayyendra menempatkan jasad Pak Sas berada dalam kompleks pemakaman keluarganya, berdekatan dengan makam nenek, kakek dan kedua orangtuanya yang terletak di pemakaman elite dimana harga jual tanahnya per meter mencapai ratusan juta.
Litha sangat senang dan berterimakasih karena suaminya bisa memberikan pengahargaan tertinggi di akhir kehidupan pria yang dikenal manusia tanpa ekspresi itu.
Begitu sampai di pusara, Litha bersimpuh di atas tanah di samping nisan yang bertuliskan nama Sasmita. Diusapnya nisan itu dengan lirih, airmatanya menggenang.
"Pak, jangan khawatir. Aku sudah bahagia bersama Tuan Muda. Laporkan pada Nyonya Besar kalau Bapak sudah melaksanakan tugas dengan sangat baik ... Terimakasih Bapak selalu menemaniku di saat terburukku, memberi pengertian dan menghiburku. Tapi sekarang siapa yang menghiburku kalau Tuan Muda membuatku sedih lagi?"
Semuanya diam, hanyut dalam kesedihan yang ibu hamil itu rasakan. Ray berjongkok di samping istrinya, dirinya merasa tersentil.
"Apa tidak bisa Bapak memohon pada Tuhan untuk menahan sedikit saja waktu Bapak kembali pada-Nya? Paling tidak sampai Bapak melihat bayiku dan berkata, Selamat datang ke dunia Tuan Muda Kecil. Ini Kakek Sas--"
Tangis Litha meledak, begitu juga dengan Lidya. Ia tidak menyangka begitu dalamnya perasaan Litha pada kakak lelakinya. Abyan dan Ray sekuat tenaga mengokohkan bendungan di matanya.
Litha tidak sanggup meneruskan kalimatnya, ia hanya bisa mengucurkan airmatanya dengan kesedihan mendalam seperti saat ia ditinggal ayah ibunya.
Ray langsung merengkuh istrinya, mengambil kepala Litha ditenggelamkan ke dalam dadanya. "Aku tidak akan membuatmu sedih lagi, Istriku. Aku berjanji di depan makam Pak Sas ... Kau masih ingat kan, apa yang aku katakan jika melanggar janji yang telah diucapkan di depan makam seseorang? Sepanjang hidupnya akan dipenuhi kesialan."
"Aihhh ... itu hanya kata-katamu saja," kata Litha pelan dalam pelukan suaminya.
"Pak Sas, nanti setelah Tuan Muda Kecil lahir, kami akan membawanya kesini," sahut Ray menatap nisan.
Lidya dan Abyan sungguh terharu, pengabdian paman dan kakak lelaki mereka sampai hembusan nafas terakhir pada Keluarga Pradipta tidaklah sia-sia. Sikap Litha dan Ray mementahkan apa yang Sebastian katakan, bahwa Sasmita hanya dimanfaatkan sebagai anjing penjaga Keluarga Pradipta. Kenyataannya Sasmita mendapatkan keluarga yang mencintai dan menyayanginya dengan tulus.
.
.
.
__ADS_1
Litha yang menggandeng lengan suaminya menghentikan langkah setelah keluar dari kompleks pemakaman Keluarga Pradipta. Langkahnya akhir-akhir ini terasa berat karena menopang bobot perutnya yang kian membesar, bayinya tumbuh dengan baik dan sehat karena pola makan Litha dan Ray di kontrol oleh Pak Sas dengan panduan dari ahli gizi di Pradipta Hospital.
"Mas, itu Kak Firza bukan?"
Ray mengikuti arah mata istrinya, "Iya Lith, itu Firza. Ngapain dia disitu sendirian?"
"Ayo Mas, kita kesana," ajak Litha.
Sesampainya disana Litha Cs. heran Firza berdiri menundukkan kepala meratapi gundukan tanah yang baru saja dibuat dengan taburan bunga di atasnya.
"Za ..."
Firza menoleh, dia kaget melihat Ray, Litha, Abyan dan Bibi Lidya sudah berada di dekatnya.
"Eh ... sejak kapan kalian disini?"
"Kami menemani Litha mengunjungi Pak Sas," jawab Ray.
Litha mengamati nisan di hadapannya, mukanya mengernyit heran.
"Litha sudah tahu?" tanya Firza pelan yang diangguki Ray.
"Kak Firza, siapa pemilik makam ini?" tanya Litha.
Ray juga Abyan ikut mengamati tulisan yang terukir di nisan.
Fathia Isabella
12 April 1983
15 Oktober 2012
Siapa dia?
Semua benak bertanya seperti itu. Firza diketahui bukan pria yang memiliki banyak teman terutama teman perempuan. Tapi menemukannya di sebuah makam seseorang dengan raut penyesalan, mata sembab dan kepala tertunduk membuktikan makam tersebut mempunyai hubungan khusus dengannya, tapi siapa?
Firza tersenyum pahit, sepahit takdirnya, "Aku memiliki seorang adik perempuan yang terpisah dari kecil karena musibah kebakaran. Aku baru saja bertemu dengannya tapi ternyata kami harus berpisah lagi, kali ini selama-lamanya."
Adik perempuan ???
"Kau tidak pernah mengatakan sebelumnya kalau kau memiliki seorang adik perempuan?" tanya Ray.
"Karena aku masih mencari keberadaannya."
Hening.
Semuanya diam, canggung harus berkata apa. Ray, Litha, Abyan dan Lidya memahami pedihnya perasaan Firza. Adik yang selama ini dicarinya, begitu bertemu harus kembali berpisah.
Litha maju mendekati Firza. Tanpa menyentuh lelaki yang pernah mencintainya, bahkan sampai sekarang masih ada sisa-sisa cinta di hatinya, Litha mencoba berempati dan menguatkannya.
"Bagaimana kabarmu, Lith? Apa lukamu sudah sembuh?" tanya Firza melihat ke arah bahu kiri dan tangan kanan Litha.
Litha mengangguk, ia tahu Firza hanya mencoba mengalihkan rasa sedihnya dengan berbasa-basi menanyakan kabarnya.
"Kak Firza harus kuat. Apa yang kita pikirkan kadang kala tak pernah sejalan dengan yang namanya takdir, sedangkan dalam hidup kita harus berjalan dari takdir satu ke takdir yang lain. Sekeras apapun menolak, yang datang akan tetap datang. Sekuat apapun menahan, yang pergi akan tetap pergi. Semesta juga kadang mengajak kita bercanda dengan takdir yang telah Tuhan tentukan jauh sebelum kita ada di dunia. Tugas kita sebagai hamba Tuhan hanya menjalani takdir-Nya dengan ikhlas ... Kami turut berduka atas apa yang terjadi pada Kak Firza."
Firza tersenyum pada Litha yang juga tersenyum padanya. Litha menundukkan kepalanya sedikit memberi tanda penghormatan dan duka cita padanya. Bagaimana Ray tidak mencintai wanita ini dengan seluruh kehidupannya, ia tahu bagaimana bersikap dan menempatkan diri tanpa melupakan posisinya sebagai istri yang menjaga kehormatan dan perasaan suaminya.
"Terimakasih," ucap Firza.
Kemudian Ray memeluk Firza disusul Abyan dan Lidya untuk menguatkan, sedangkan Litha tetap pada posisinya. Ia menjaga marwahnya dengan tidak menyentuh atau tersentuh dengan lelaki selain suaminya, dan itu membuat Ray merasa bangga memiliki istri seperti Litha.
Namun, perasaan Abyan sedikit terusik. Waktu meninggalnya Ramona dan adik perempuannya Firza sama, pun dilatari dengan musibah kebakaran juga. Apa Ramona adik perempuan Firza? Tapi nama dan tanggal lahir mereka berbeda.
"Ah ... tidak mungkin. Dugaanku saja yang terlalu berlebihan." bathin Abyan.
🍀 flashback on 🍀
Jantung Firza serasa melompat keluar saking cepatnya berdetak. Ia berlari menyusuri koridor menuju ruang ICU, dokter memberitahunya terlebih dahulu sebelum menghubungi polisi karena Firza sudah berpesan agar dia yang paling pertama dihubungi jika menyangkut perkembangan Ramona.
__ADS_1
"Nona Ramona meninggal dunia sekitar pukul 20.15 waktu setempat," ucap dokter yang bernama Frans, berada di samping jasad Ramona yang terbujur kaku. Semua alat medis penyokong kehidupannya baru saja dilepas.
"Beri aku waktu 10 menit dokter, sebelum tim forensik datang."
"Baik, Tuan," kata dr. Frans mengundurkan diri dari ruang ICU, ia juga mengetahui hubungan darah antara Ramona dan Firza.
Firza menyentuh tangan adiknya, masih terasa hangat, "Mengapa kau menyerah dan pergi, Bella? Padahal aku akan membuatmu bahagia. Apa kau tidak percaya pada kakakmu ini?"
Sekelebat ingatannya lewat sewaktu ia dan Ray beradu mulut membahas diangkatnya Ramona sebagai salah satu Direktur di Pradipta Corp.
Ray ngotot dengan keputusan yang dimata Firza hanya sebuah bentuk rasa kasihan, sedangkan perusahaan butuh seorang yang berkompeten dalam menjalankan tugas dan kewajibannya. Saat itu ia mengata-ngatai Ramona hingga emosi Ray terpancing dan membeberkan bahwa Ramona tidak diperlakukan dengan baik di Keluarga Riguna. Pengangkatan Ramona sebagai Direktur oleh Presdir bertujuan untuk memberinya 'harga diri' di mata Sebastian yang selalu mengatai Mona bodoh dan idiot. Ray memberinya apartemen agar gadis itu hidup lebih tenang dan juga status sebagai kekasih Tuan Muda supaya dia diperlakukan dengan baik oleh keluarganya.
"Kau diperlakukan begitu buruk, sampai kau harus terjebak pada cinta yang bukan untukmu. Ray selama ini hanya mengasihanimu. Dia mencintaimu sebatas saudara. Sekarang bukannya kau lepaskan, malah kau genggam erat selamanya cinta itu. Bagaimana bisa Keluarga Riguna membuatmu seperti ini?" kata Firza menatap wajah pucat adiknya.
Ia lalu menutup matanya, tangannya mengepal, rasa marah kian membara di hatinya.
"Tuan, polisi sudah datang," sahut dr. Frans setelah membuka pintu.
Firza mengangguk dan keluar dari ruangan ICU.
"Dokter, kau tahu kan, apa yang harus kau lakukan?" tanya Firza untuk lebih meyakinkan.
"Tentu. Tuan Firza tidak perlu khawatir, saya akan mengaturnya dan tidak seorang pun yang mengetahuinya."
Firza dibantu dr. Frans akan menukar peti jenazah Ramona dengan peti kosong sesaat sebelum dimakamkan. Ia akan menguburkan jasad Ramona dengan identitas yang sebenarnya, sebagai adiknya, yaitu Fathia Isabella.
Ponsel di saku celananya berdering.
"Ya halo, Detektif Zeth."
"Halo Tuan, saya ingin melaporkan kalau Tuan Sebastian berpindah tempat lagi. Sekarang posisinya ada di seputaran wilayah Beringin."
"Tetap ikuti dia, Detektif! Jangan sampai kehilangan. Cari waktu tepat yang meringkusnya sebelum polisi dan Tuan Muda Pradipta. Begitu Detektif sudah menangkapnya, laporkan segera! Sisanya saya yang akan membereskannya."
"Baik Tuan."
"Terimakasih, Detektif."
Tit.
Firza menutup sambungan teleponnya. Hatinya bergemuruh bagai badai membayangkan sosok Sebastian. Rasanya ia ingin mencabik-cabik baji*ngan tua itu dan memberikan dagingnya pada anjing penjaga gudang Pradipta Corp.
🍀 flashback off 🍀
Firza menatap wajah teduh Litha, andai saja ia bisa bertahta di hatinya, ia akan menjadi lelaki paling beruntung dan bahagia di dunia. Namun ia sadar, tidak semua yang diinginkannya akan ditakdirkan menjadi miliknya.
"Kudengar kau mendatangi makam Ramona, Lith? Apa kau memaafkan semua perbuatannya padamu?" tanya Firza.
"Waktu yang bisa menjawabnya, Kak," jawab Litha setelah menghela nafas.
"Aku masih butuh waktu untuk benar-benar memaafkannya. Ternyata memaafkan seseorang tidak semudah membalikkan telapak tangan ... tapi akan tetap kucoba, Kak," lanjutnya tersenyum.
Ray memeluk Litha dari samping, mengusap bahu dan mencium pelipis istrinya. Ia tahu pandangan kakak angkatnya pada Litha masih menyimpan sisa cinta, dan ia tidak suka.
"Kurasa manusiawi kalau Litha belum bisa memaafkan Ramona, Za. Walaupun dia berhati malaikat tapi dia bukan malaikat."
Nada Ray terdengar ketus tapi malah di balas dengan kekehan Firza, ia tahu adik angkatnya itu sedang cemburu padanya.
"Mas, lenganku jangan dicengkram, sakit," bisik Litha.
"Sakit sedikit tidak apa-apa daripada nanti kau maju lagi ke arahnya," balas Ray dengan berbisik juga.
"Apaan sih!?!"
"Hehehe ... Kalian pulanglah, jangan memamerkan kemesraan pada kami. Kasihanilah kami yang tidak memiliki pasangan," gelak Firza mengusir pasangan suami istri itu.
Semua mengira yang dimaksud kami oleh Firza adalah dirinya, Abyan dan Lidya, padahal sebenarnya adalah dirinya dan mendiang Ramona alias Fathia Isabella.
Angin berhembus pelan meniupkan udara panas siang hari. Ray menggandeng Litha dengan sangat hati-hati, sesekali terlihat ia mengusap keringat yang turun di pelipis istrinya dengan saputangan.
__ADS_1
Firza hanya bisa tersenyum dari belakang. Seiring mereka berjalan menjauh kemudian menghilang, begitu juga harapannya. Meski masih ada sisa cinta, ia biarkan saja tanpa pemilik. Entah sampai kapan, seperti kata Litha, waktu yang bisa menjawabnya.
- Bersambung -