Istri Wasiat Tuan Muda

Istri Wasiat Tuan Muda
Hang Out ke Mall (Part 1)


__ADS_3

# Ruang Keluarga di Rumah Utama #


Akhir pekan Litha dan Ninda berjanji hang out bareng ke mall. Ninda meminta hadiah yudisiumnya - pengumuman resmi fakultas yang menentukan lulus atau tidaknya mahasiswa dan berhak atau tidaknya mahasiswa mengikuti wisuda - pada Litha dengan menikmati waktu bersama mereka seperti dulu sebelum Litha menikah. Tentu saja Litha harus berupaya keras membujuk suaminya untuk mendapatkan izin. Sehari, dua hari, tiga hari Litha membujuk tetap tidak diizinkan, namun ketika Litha menangis dalam diam, hati Ray luluh. Ia memberi izin dengan syarat dan ketentuan berlaku, pergi ditemani Pak Sas, pulang sebelum jam 4 sore, tidak boleh naik turun tangga konvensional dan malamnya sebelum Litha pergi, ia harus bersedia di'tandai' di bagian tubuh yang gampang terlihat agar semua orang tahu Litha adalah miliknya.


"Kenapa tidak sekalian suamimu ikut dan menggendongmu seperti waktu Color Run Festival. Syaratnya banyak sekali, kita mau JJS, jalan-jalan sore tapi di suruh pulang sebelum jam empat, jadi ini namanya jalan-jalan siang. Mana ditemani Pak Sas lagi, haissss.... dan itu lihat! lihat! lehermu penuh tanda merah miliknya. Apa perutmu itu belum bisa membuktikan kalau kau sudah bersuami, ck." kata Ninda sebal setelah Litha mengatakan syarat izin suaminya.


"Hahahahaha ... mau bagaimana lagi, yang penting sudah dapat izin, kan?."


"Cih. Gak asik ah, Tha ..."


"Dimaklumi saja, Nin. Itu sudah keputusannya, dan aku tahu itu sudah batas toleransinya. Dia hanya terlalu khawatir padaku dan bayi kami, hehehehe ... lihat saja di kamar kami dilengkapi segalanya, kalaupun ingin keluar harus bersamanya minimal ditemani Pak Sas."


"Hhhhhhh ... susah memang punya sohib istri Tuan Muda, mau jalan saja seperti mau kemana padahal kan juga kita pergi ke mall miliknya, ckckckck ... "


Litha tertawa mendengar Ninda mengomel, dia biarkan saja karena kalau ada suaminya mulut Ninda seperti dilem, cuman hatinya yang ngedumel.


"Tapi tadi Mas Rayyendra chat katanya kita pergi setelah dia pulang dari main golf. Kita tunggu dulu ya, Nin."


"Eh, apa?!? Lalu kita jalan jam berapa, Tha? Niat gak sih itu suamimu ngasih izin?"


Lagi-lagi Litha tertawa, kali ini lebih keras sampai ia harus memegangi perutnya. Mau tidak mau mereka menunda jam berangkat karena titah Tuan Muda, Selama menunggu Litha dan Ninda banyak mengobrol, hal yang sudah lama tidak mereka lakukan.


"Jadi kamu sudah pulang ke rumah?" tanya Litha.


Ninda mengangguk, "Batas izin Papa sudah habis, hehehehe ... Aku tidak diizinkan keluar rumah lagi, kecuali nanti mengikuti suami."


"Kabar Evan gimana, Nin? Aku gak enak sama Om Danu. Selama ini dia sangat baik, dulu suka menggratiskan kita makan di kafe beliau. Aku sempat minta agar niat investasi Pradipta Corp. ke usaha Om Danu jangan dibatalkan, tapi ya begitulah Suamiku ... Kamu sudah sampaikan permohonan maafku pada beliau kan, Nin."


Ninda tersenyum, "Tidak apa-apa, Tha. Om Danu mengerti kenapa investnya dibatalkan karena perbuatan Evan, yang dia tidak mengerti kenapa calon mantu idamannya bisa jadi istri Tuan Muda hahahahahaha ... Mana Evan dihajar Om Danu lagi karena kecewa anaknya gagal mendapatkan hatimu juga kehilangan invest skala besar. Setelahnya aku tidak tahu lagi kabar Evan."


"Duh. Mudah-mudahan Evan tidak mendendam ya, Nin." kata Litha khawatir.


"Awas saja kalau dia mendendam padamu, aku yang harus dia hadapi dulu."


"Hahahahaha ... sepupumu aneh, dari dulu aku tidak punya perasaan padanya kenapa juga masih disimpan sampai sekarang." Litha menghela nafas panjang, "Oh ya Nin, kapan wisuda? Akhirnya kamu duluan kan wisudanya."


"Dengar-dengar sih satu dua bulan kedepan, Maunya aku, kita barengan biar kenangannya lebih dramatis."


"Aku juga maunya begitu, Nin. Tapi sudah jalannya begini, ya dinikmati saja, beberapa bulan setelah melahirkan aku akan melanjutkan lagi skripsiku."


"Padahal kamu sudah bab akhir kan, Tha? Bisa dibilang tinggal maju meja saja karena skripsimu itu minim revisi, atau kamu susul saja."


"Haisss, mana ada ceritanya ujian meja dibuka lagi setelah yudisium, lagian apa kau mau buat satu kampus bergosip ya?"


"Katakan saja kau istri Tuan Muda, selesai, kan?"


"Kau kira mereka percaya? Dimata mereka aku sama sekali tidak masuk kriteria istri yang cocok dari segi manapun, yang ada aku dituduh berhalusinasi, buktinya saja Evan mengira kau membual, kan?"


Ninda terdiam, dalam hati ia membenarkan apa yang dikatakan sahabatnya tapi itu terdengar sangat menyakitkan. Untuk sesaat Litha dan Ninda berada dalam suasana canggung.

__ADS_1


Tidak berapa lama dari arah pintu masuk utama muncul sosok yang ditunggu-tunggu.


"Aaaaaa ... Suamiku sudah datang!!!" Litha berdiri dan berjalan ke arah Ray merentangkan tangannya, hal yang selalu ia lakukan untuk menyambut suaminya pulang.


Mereka berpelukan sebentar, tidak peduli mata Ninda membulat melihat bayangan seseorang di belakang Tuan Muda.


"Kau mau lari kemana, hah! Enak saja kau menghilang dan memblokir nomorku!" Mata Bona menajam ke manik Ninda yang terbuka lebar.


"Sayang, aku ikut kau jalan-jalan ya?" tanya Ray setelah melepas pelukannya.


"Eh, kenapa? Kan sudah ditemani Pak Sas, lagipula Mas sudah memberi tanda di leherku, sampai aku malu dilihat Ninda."


Ray terkekeh geli mengingat perbuatannya semalam. "Aku berubah pikiran, sepertinya lebih seru kalau kami ikut kalian."


"Kami?"


"Ya, siapa lagi kalau bukan Suamimu yang tampan ini, Abyan dan Bona."


"Hahhhh!!!" pekik Ninda spontan. Semua mata mengarah padanya, heran kecuali para lelaki.


"Tapi kenapa? Apa mereka tidak punya kegiatan di akhir pekan? Kami ingin jalan berdua saja membicarakan hal-hal yang hanya diketahui wanita."


"Heheh ... Kau kira Pak Sas wanita juga. Sudah, aku tidak menerima bantahan, kami akan berganti baju dulu, dan karena Bona membawa mobil sendiri, Ninda bisa ikut dia."


"Tidak, aku tidak mau Tuan. Izinkan aku bersama Litha," mohon Ninda cepat, Bona melihat Ninda dengan senyum sinis yang mematikan.


"Kau siapa bisa menyelaku," kata Ray dingin.


"Aku ganti baju dulu," Ray memberitahu istrinya, lalu menoleh ke arah Abyan dan Bona, "Kalian juga."


"Aku temani Suamiku berganti baju dulu ya, Nin," pamit Litha ke Ninda lalu mengikuti langkah panjang Ray di kamar.


.


.


.


"Mas, kok bisa Bona bersama Mas? Dia kan tidak main golf," tanya Litha sambil menggerakkan tangannya memilihkan baju casual untuk Ray kenakan.


"Siapa yang bilang dia main golf."


"Lah terus?"


"Dia meneleponku dari semalam, tapi ku abaikan ternyata dia menelepon Abyan juga hahahahaha ... Kami berdua pusing dibuatnya."


"Memangnya kenapa?"


"Ninda tidak cerita padamu?"

__ADS_1


Litha menggeleng, tapi matanya menatap lekat ke dada bidang dan perut kotak-kotak milik suaminya.


"Hahahahahahahaha ... Bisa ya perempuan itu mengatakan dan memikirkan hal yang berbeda secara bersamaan ?" Ray menyindir istrinya.


"Karena perempuan itu mahluk multitasking, pandangannya pendek melebar ke segala arah sedangkan laki-laki pandangannya lurus, jauh terfokus ke depan seperti pakai kacamata kuda."


Ray makin tertawa mendengar Litha yang tidak paham kalau suaminya ini tengah menyindirnya, mulutnya bertanya tentang Ninda tapi pikirannya ke tubuh kekar di hadapannya.


Ray meraih tangan Litha yang masih memegang baju kaos yang terlipat, "Entah apa ucapanmu, yang jelas pikiranmu ada disini, kan?" tangan Litha diletakkan dan diusap-usapkan ke dada miliknya, "Kalau kau menginginkanku, kita bisa short time disini."


"Bu-- bukan maksudku begitu, aku hanya mencocokkan warna bajunya dengan kulit Mas. Jangan berpikiran macam-macam." Litha menarik tangannya dengan gugup.


Ray tergelak nyaring, ditekannya pipi chubby Litha hingga bibirnya mengerucut, lalu diputar-putar, bibirnya juga ikut berputar. Litha diam saja diperlakukan demikian oleh suaminya.


"Kenapa kau bisa menggemaskan begini sih? Aku sangat menyukai mata lebarmu, semoga anak kita memiliki matamu."


Cup ... cup ... cup.


Dikecupnya bibir yang mengerucut itu tiga kali baru ia lepaskan tangannya dari pipi Litha.


.


.


.


"Tha ... izinkan aku naik mobil bersamamu. Aku bisa duduk di depan, samping Asisten Yan," rengek Ninda berbisik saat mereka keluar menuju area parkir rumah.


"Gak bisa, Nin. Aku tidak bisa merubah apapun kalau sudah jadi keputusannya, Memangnya ada apa antara kamu dan Bona? Kau menghindarinya?"


"Enggg ... tidak ... tidak ada."


"Awas saja kalau kau menyembunyikan sesuatu dariku." ancam Litha.


"Sayang, mau sampai kapan kau mengobrol dengannya. Ayo masuk!" perintah Ray yang sudah membukakan pintu mobil untuk istrinya.


"Iya Mas." Litha menjawab perintah suaminya, lalu menoleh kembali ke arah Ninda, "Ayo! Kau juga lekas naik, Bona sudah menunggumu."


Ninda dengan berat hati menyeret langkahnya naik ke mobil yang pintunya sudah dibukakan Bona. Mukanya tertekuk tidak karuan menyambut senyuman Bona.


Litha sudah tahu maksud suaminya ikut hang out beserta sahabat-sahabatnya. Dia tidak bisa menolak permohonan suaminya yang ingin membantu usaha Bona mendekati Ninda lagi. Sebenarnya Litha enggan, karena ia tidak mau memaksa Ninda untuk menerima perasaan Bona jika Ninda tidak menginginkannya, sama seperti Ninda yang juga enggan menjadi comblang meski Evan berlutut padanya. Tapi ada satu kalimat Ray yang membuatnya berpikir ulang.


"Bona tidak bisa mengungkapkan perasaannya dengan cara yang benar karena dia terlalu gugup kalau memandang wajah Ninda untuk hal serius. Dia meminta Ninda untuk menjadi pacarnya sambil lari dan memotong steak, hahahahahahaha ... tapi lucunya sahabatmu itu marah dan ngambek sampai ia memblokir nomor Bona. Mereka itu saling suka tapi bingung hahahahahaha ... Kasihan aku melihat Bona, sewaktu putus dengan Airin pun dia tidak sekusut ini."


tapi lucunya sahabatmu itu marah dan ngambek sampai ia memblokir nomor Bona. Mereka itu saling suka tapi bingung.


"Apa Ninda benar menyukai Bona, Mas? Dia tidak pernah mengatakannya padaku."


"Kalau dia tidak memiliki perasaan apapun, pasti dia akan cerita padamu kalau Bona menembaknya dua kali." Jawaban Ray membuat Litha tersenyum dan membenarkan analisa suaminya.

__ADS_1


- Bersambung -


__ADS_2