Istri Wasiat Tuan Muda

Istri Wasiat Tuan Muda
Bertahanlah, Nyonya ...


__ADS_3

"Nyonya ... bertahanlah. Saya akan melindungi Tuan Muda Kecil sekali lagi," kata Sasmita membuka pintu mobil lalu menguncinya.


Ia lalu berjalan mendekati dua orang yang juga berjalan ke arahnya.


"Bastian!!! Jangan jadi pengecut dengan bersembunyi di belakang 2 cecungukmu ini! Hadapi aku!" teriak Sasmita lantang.


"Hah!!! Dasar belum juga bertindak aku sudah ketahuan! Sial!!!"


Bruakkhh ...


Dengan cepat Pak Sas menghindar pukulan dari salah seorang pesuruh Sebastian yang waktu itu juga pernah ingin memperkosa Litha.


Bugh ...


Bugh ...


Meski usianya tidak lagi muda, kemampuan bela diri Sasmita jauh diatas dua preman pesuruh Sebastian. Namun sayang, kelemahan penglihatan di redupnya malam membuatnya kurang awas dikeroyok dua orang, apalagi setelah kacamatanya terpelanting ke tanah dan terinjak oleh John.


"Hei! Hentikan! Kini giliranku! Akan kuhabisi pria tua itu karena dia sudah mengetahui siapa aku," teriak Sebastian sambil berjalan menghampiri Sasmita.


"Apa kau ingin mengulang dosamu-- di masa lalu? Kau yang menyebabkan-- Nyonya Rianti meninggal-- dan Tuan Muda lahir-- sebelum waktunya" sahut Sasmita ngos-ngosan. Posisinya berlutut, wajahnya babak belur dan kondisi badannya yang penuh memar dihantam pipa besi oleh Nick dan John, namun ia masih bertahan.


"Cih! Aku melakukannya untuk putriku. Siapa suruh wanita itu masuk mengganggu dan merusak cinta yang telah dijalin putriku dengan Tuan Muda."


"Hahahahahaha ... Putrimu kau bilang? Sejak kapan Winda Riguna melahirkan seorang putri. Kau hanya mengadopsinya untuk rencana busukmu. Kau kira aku tidak tahu, hah!"


GEDEBUK ...


Sasmita luruh jatuh ke tanah ditendang kuat oleh Sebastian, "Tutup mulutmu!"


Pria tamak itu takut Ramona mendengar apa yang dikatakan Sasmita, beruntung Ramona berada di samping mobil mengintimidasi Litha untuk keluar dari mobil yang selanjutnya akan dibawa ke suatu tempat.


Sasmita berusaha bangkit dan duduk, membuang ludah yang bercampur darah dari mulutnya, "Apa kau tidak punya rasa terimakasih kepada orang yang telah menyelamatkan nyawa kita. Organ tubuh kita akan habis dijual kalau Nyonya Besar dan Tuan Besar tidak menolong kita."


"Dasar bodoh! Dia hanya memanfaatkan kondisi kita. Dia tahu kita adalah orang-orang terbuang yang membutuhkannya. Dia menjadikan kita anjing penjaganya. Dan lihat sampai detik ini pun kau masih menjadi anjing penjaga hahahahahahaha ... "


"Setidaknya aku memiliki Tuan yang memanusiakan anjing penjaganya daripada hidup yang katanya seperti manusia tapi sesungguhnya dia adalah anjing yang terjepit."


"BANG*SAT KAU SASMITA!!!"


Sebastian naik pitam, ia tersulut dengan kata-kata lelaki yang dulu menjadi kawannya hingga ia melayangkan tinjunya ke arah muka Sasmita. Meski tidak begitu jelas melihat, indra pendengarannya cukup terlatih mendengar ada bunyi ancaman dari samping, dengan gesit ia hindarkan kepalanya yang malah membuat Sebastian terjerembab ke tanah karena ia hanya meninju udara kosong.


Dari tempatnya Sasmita melihat Litha keluar dari mobil, "Nyonya kenapa Anda keluar!?!" pekiknya dalam hati.


"Hilangkan kerakusan dari hatimu. Apa kau tidak kasihan melihat putramu sekarang seperti tidak bernyawa, hanya karena ia menuruti kemauanmu untuk tidak boleh memilih gadis yang ia cintai."


John bawa mobil kesini, cepat!


Sebuah suara wanita berteriak memberi perintah pada salah satu pesuruh yang ditanggapi dengan sangat cepat. Pesuruh itu berlari menuju suatu tempat dimana mereka memarkir mobilnya


Kondisi Litha makin terpojok di samping mobil, Sasmita harus segera menolong Nyonya Mudanya. Dengan sisa tenaga ia menghajar Sebastian dan satu pesuruhnya yang tersisa. Perkelahian tidak terhindarkan, dua lawan satu. Penglihatan yang tidak begitu baik jelas membuat Sasmita kesulitan menghadapi mereka berdua sekaligus. Namun begitu, Sasmita justru mengunci Sebastian hingga tidak berkutik.


"Eghhh ... egghhh ... Nick!" Sebastian meminta tolong dengan memberontak dan berusaha melepaskan diri. Nafasnya sudah tersengal-sengal kekurangan oksigen.


"Lepaskan Nyonya!!!"


"Eggghh ... Nick to---"


BUGH.


Dengan sekali hantaman kuat di kepala bagian kepala, Sasmita tersungkur, dari hidungnya mengalir darah segar.


"BAPAAAKK!!!"


Terdengar jeritan Litha memanggil Sasmita dengan pilu. Dalam keadaan remang ia masih bisa melihat kilau airmata yang membasahi mata tulus pemiliknya.


"Nyonya bertahanlah ... Sedikit lagi Tuan Muda akan datang ..." rintih Sasmita dalam hati sebelum kesadarannya benar-benar menghilang.


.


.


.


# Beberapa saat sebelumnya #


Di dalam mobil, airmata Litha sudah membanjiri wajahnya melihat Pak Sas berkelahi demi mengulur waktu hingga suaminya datang.


Tok ... tok ...


Kaca depan mobil diketuk, seseorang berjaket hitam dengan hoodie dan masker menutupi identitasnya sedang menunjukkan jerigen 5 liter yang penuh terisi dengan tangan satunya membuat isyarat agar Litha segera keluar dari mobil.


Litha paham orang itu sedang mengancam untuk membakar mobil yang ia tumpangi jika ia tidak segera keluar. Terus terang ia sangat takut, tapi daripada ia mati konyol terbakar di dalam mobil, lebih baik ia keluar, walaupun kecil, tetapi peluangnya untuk selamat lebih besar daripada ia terus berada di dalam.


Ceklik.


Litha keluar, meski nyalinya ciut menghadapi orang itu tapi sebisa mungkin ia tidak tunjukkan ketakutannya.


"Apa sebenarnya yang ka-- kalian inginkan?" tanyanya menutup pintu mobil.

__ADS_1


Pertanyaannya tidak dijawab, ia malah didorong hingga jatuh tersandar dalam keadaan duduk di samping mobil.


"John, bawa mobil kesini cepat!" teriak orang mendorongnya.


Litha terperanjat, ia mengenal suara itu. Suara yang selalu memprovokasinya.


"Ra-- Ramona?"


Wajah tertutupi masker itu menatap tajam ke arahnya, "Heh! Tidak kusangka kau mengenal suaraku! Apa kau selalu mengingatku, Litha? Hahahahaha ... Jangan katakan kau selalu mengingatku bahkan saat kau bercinta dengan kekasihku."


Ketakutan yang tadi menggunung kini spontan mengecil seukuran batu kali yang bisa ia genggam, ketakutan itu hanya tersisa pada bayi yang ada di dalam perutnya. Ia takut wanita ini bisa menggila dan menyasar pada perutnya.


BUGH.


Suara benda berat jatuh ke tanah, Litha melihat dari tempatnya, Pak Sas rubuh tersungkur karena dipukul. Airmatanya kembali luruh dengan deras, tubuh tua yang selalu melindunginya, kini ia saksikan dengan mata kepalanya sendiri menjadi tidak berdaya. Mata mereka sempat bertemu sebelum Pak Sas benar-benar menutup matanya.


"BAPAAAKK!!!" jerit Litha memecah keheningan malam.


"Apa yang kau inginkan?" tanya Litha sedikit gemetar, rasa takut yang bercampur amarah. Tangannya di tanah mengepal kuat.


"Tentu saja Rayyendra, bit*ch!" umpatnya seraya membuka tudung kepala dan maskernya


"Hati Rayyendra hanya ada aku, istrinya," ucap Litha penuh penekanan mencoba menantang wajah rivalnya.


"Aku tidak peduli di hatinya ada aku atau orang lain, yang penting dia akan bersamaku setelah kau tidak ada," ujarnya pelan tapi tangannya kuat menjambak rambut Litha sampai ibu hamil itu merintih kesakitan memegangi rambutnya.


Dengan jarak yang begitu dekat, mata Ramona mendapati jejak bekas ciuman dalam beserta gigitan berwarna merah gelap di sekitar leher Litha yang tertutupi rambut dan scraft.


"Sialan! Kenapa aku sangat marah melihat tanda ini di lehernya!"


Ramona mengambil belati lipat yang tajam dari kantong saku jaketnya.


Sreeekk.


Scraft Litha disobek, lalu nampaklah banyak tanda yang sangat memicu amarah Mona. Rahangnya bergetar menahan sesak di dadanya, matanya menuju satu tanda yang mencolok di bagian bahu kiri di bawah tulang selangka.


"Harusnya tanda itu ada di tubuhku!"


Litha tahu ia sedang dalam keadaan terancam, raut wajah Ramona sangat mengerikan. Ia beringsut mundur, tapi badannya sudah mentok pada body mobil.


"Aku akan mengambil apa yang seharusnya menjadi milikku, Pencuri Gaun!"


Tanpa aba-aba Ramona menusuk tepat di atas tanda jejak kepemilikan yang paling mencolok.


"AAAKKHHHH ..." teriak Litha kesakitan seiring darah mengalir ke dadanya.


"Aaakkhhh, sa-- sa-- kit--" Litha merintih kesakitan. Bahunya terasa begitu perih dan menyakitkan.


"Setelah pisau ini kucabut, akan kutusukkan sekalian ke perutmu. Biar kau dan bayimu mati bersama."


Ramona lupa dengan rencana awal mereka karena termakan emosinya sendiri melihat tanda-tanda merah di leher dan dada Litha.


Crashh.


Gadis itu kepalang gelap mata, ia mulai menggila dengan mencabut belatinya yang meninggalkan lubang di bahu Litha hingga darah mengalir tanpa henti. Sejurus kemudian ia mengarahkan belatinya ke perut.


"Ja-- ja-- ngan-- Mona. Bayiku-- ti-- dak bersalah," ucap Litha dengan menahan pisau dengan tangan kanannya sekuat tenaga, tangan kirinya lemah tak bertenaga setelah bahunya ditusuk. Badannya pun ia sandarkan sepenuhnya pada mobil.


"Tidak bersalah katamu! Justru karena dia, Ray benar-benar mencampakkan aku. Kita lihat bagaimana jika dia kehilangan bayi ini."


"Ja-- ngan-- ku mohon--" pintanya dengan menangis.


"Mas, cepatlah datang. Aku sudah tidak kuat menahan pisau ini ..." teriak Litha dalam hati. Kekuatan tangannya mulai melemah.


"Mona!!!" panggil Sebastian, ia terperanjat melihat putrinya bertindak nekat.


"Begitulah Bos, wanita bisa begitu mengerikan ketika cintanya tersakiti," seloroh Nick.


"Bodoh! Harusnya Mona menyiksanya di tempat yang kita sudah siapkan. Dasar wanita! Selalu saja memakai emosinya dalam bertindak. Kita harus segera pergi karena bisa jadi Sas sudah menghubungi Tuan Muda. Rencana kita akan gagal total jika dia tahu kita pelakunya. Mana John? Mengambil mobil saja lama sekali!" gerutu Sebastian marah.


Bunyi suara langkah orang berlari, dalam hitungan detik Ray dan Abyan sudah di hadapan mereka.


"MONA!"


.


.


.


Beberapa menit sebelumnya ketika Nick akan masuk ke dalam mobil sewaan yang tidak jauh mereka parkir dari tempat mencegat mobil Litha, tiba-tiba ada tangan besar mencekiknya.


"Siapa yang menyuruhmu?"


Nick tidak dapat bergerak, tangan itu sangat kuat menekan pembuluh darah di lehernya.


"Ray, biar aku yang tangani dia. Lekaslah ke sana," sahut Firza yang menunjuk ke arah cahaya lampu mobil yang berpendar dan langsung melumpuhkan Nick dengan satu kali pukulan tepat di rahangnya.


"Oke. Hubungi polisi sekalian, Za."

__ADS_1


"Ya." Firza menganggukkan kepalanya.


Ray segera berlari menuju cahaya itu diikuti Abyan dari belakang.


BAPAAAKK!!!


Ray terkesiap mendengar sayup-sayup suara jeritan di tengah malam, suara milih istrinya.


"Ray, itu Sebastian dan Ramona," tunjuk Abyan dengan matanya.


"Apa?!?"


Ray memicingkan matanya untuk melihat kebenaran dari kalimat Abyan. Betapa terkejutnya ia mendapati istrinya tersandar di samping mobil tengah kesakitan seperti menahan sesuatu yang diberikan oleh seseorang yang ia kenal.


"MONA!!!"


Ramona berbalik, dilihatnya kekasih yang ia rindui dengan mata menyalang merah dan badan yang berguncang saking menahan amarahnya setelah melihat ada darah di bahu istrinya.


"Ra-- Ray--"


Ramona terbata-bata tidak menyangka dipergoki karena rencana awal tidak seperti demikian. Ray tidak boleh tahu kalau dia yang akan menculik, menyakiti dan menghabisi Litha, karena setelah Litha tiada, dia yang akan masuk perlahan di kehidupan Ray selanjutnya. Tapi, sekarang itu tidak mungkin terjadi. Pria yang dicintainya sudah melihat jelas perbuatannya, sampai mati pria itu tidak akan mau memaafkannya .


"A-- Ayah ..." panggil Ramona gugup, tangannya otomatis melepas pisau yang mengancam nyawa bayi Litha.


Litha lega, dengan nafas yang tersengal-sengal ia membuang pisau itu sejauh yang ia bisa, tapi tenaganya melemah.


"Dasar anak bodoh!!! Idiot!!! Kau mengacaukan semuanya!" maki Sebastian sangat kesal sekaligus sangat marah.


Rencana yang ia susun hancur dan gagal total. Kesempatan satu-satunya hilang, sekarang yang ada malah ia harus menghadapi Tuan Muda.


Bak ... Buk ...


Abyan menghajar Sebastian dan Nick, sedangkan Ray segera menghampiri istrinya dan mendorong Ramona hingga jatuh ke tanah, "Urusan ini belum selesai! padahal kau sudah kuperingatkan agar jangan muncul di hadapanku lagi."


"Tidak, Ray..." Mona menggeleng-gelengkan kepalanya.


Ray panik dan bingung melihat istrinya bersimbah darah. Diambilnya scraft yang ada di tanah, ia membagi dua, satu dililitkan ke tangan istrinya yang terluka karena menahan pisau tadi, dan satunya lagi ia gulung-gulung, diikat lalu di tekannya kuat-kuat luka terbuka yang ada di bahu Litha. Sakit dan perih tidak terkira yang dirasakan Litha akibat Luka tusukan itu.


"Sa-- sayang-- maafkan aku terlambat--"


Suara Ray terbata ketakutan melihat wajah Litha yang pucat, kulitnya yang dingin dan mata yang hampir tertutup. Ia tidak peduli apapun, ia hanya terfokus pada keadaan istrinya


"Mas-- Pak Sas-- tolong--"


"Iya, iya-- bertahanlah, Lith."


Litha tersenyum sebelum akhirnya ia menutup matanya, tidak sadarkan diri. Ray semakin panik, segera diangkatnya tubuh Litha untuk dibawa ke mobil dan selanjutnya ke rumah sakit.


DOR!


Bunyi peluru dilepaskan dari selongsongnya dan membuat seseorang ambruk.


.


.


.


# Beberapa saat sebelumnya #


Bak ... Buk ...


Abyan menghajar Sebastian dan Nick, sedangkan Ray segera menghampiri istrinya. Sebastian dan Nick dengan bersenjatakan pipa besi di tangannya cukup merepotkan Abyan.


Abyan tidak bisa melumpuhkan kedua orang itu sekaligus, maka ia putuskan untuk melumpuhkan Nick terlebih dulu karena dia memegang pipa besi. Abyan tidak mengetahui kalau Sebastian menyimpan senjata api di balik jaketnya.


Ditengah perkelahiannya dengan Abyan, Sebastian melihat Mona didorong Ray hingga jatuh ke tanah dan mengatakan sesuatu pada putrinya hingga Mona seperti orang linglung menggeleng-gelengkan kepalanya.


Sudah kepalang basah, Sebastian berpikir lebih baik ia habisi saja semuanya sekalian, dengan begitu tidak ada lagi yang perlu disesali. Disaat Abyan sibuk dengan Nick, ia mengambil senjata apinya dari balik jaket sambil berjalan dan membidiknya ke arah Ray.


Mona yang melihat ayahnya akan menembak Ray langsung berdiri memasang badan untuk kekasih yang sangat ia cintai. Saat itu Ray belum paham akan situasinya, ia hanya peduli dengan keadaan istrinya yang kritis.


"Jangan Ayah! ... Kalau Ayah membunuhnya, artinya Ayah juga membunuhku," mohon Ramona menangis.


"Minggir Anak Bodoh Tidak Tahu Diuntung! Persetan kau mau mati atau tidak! Kau membuat segalanya kacau dan gagal! Sekalian saja aku akhiri semuanya. Dia seharusnya tidak pernah lahir ke dunia! Kelahirannya adalah sumber kesialanku!" geram Sebastian.


"Maksud Ayah apa?" tanya Mona bingung.


Ayahnya tidak menjawab. Ia menarik pelatuk dari pistolnya dan ...


DOR!


Bersamaan dengan tendangan maut Abyan mengenai muka Nick yang tersungkur tidak sadarkan diri ke tanah.


Bersamaan dengan datangnya beberapa mobil polisi dan ambulans yang dihubungi Firza.


Suara tembakan itu diikuti dengan suara ambruknya tubuh seseorang ke bumi.


- Bersambung -

__ADS_1


__ADS_2