
Semarak kebun belakang dihias menyambut kelahiran Baby Zean. Sebagai ayah baru yang sangat bahagia, Rayyendra ingin berbagi kebahagiaan dengan para kerabat dan koleganya, ia ingin menunjukkan betapa mirip putranya dengan dirinya.
Untuk pertama kali dalam sejarah semenjak wafatnya Nyonya Rianti, ibunda Ray, kediaman utama Keluarga Pradipta menyelenggarakan pesta atau acara besar dengan mengundang banyak orang.
Didominasi warna putih tulang kombinasi biru muda, kebun disulap menjadi lokasi pesta kebun yang indah. Tiga tenda super besar nan megah didirikan dan dilengkapi dengan area bermain anak dan kids corner agar anak-anak yang dibawa serta para undangan juga dapat merasakan kebahagiaan si empunya acara. Jangan ditanya mengenai menunya, Litha, si Nyonya Rumah sangat menyukai makanan, jadi bisa dipastikan makanan dan minuman yang tersedia sangat menggiurkan. Hari ini merupakan surga buat anak-anak.
Oskarita dan Ana sudah ada sedari tadi di rumah utama. Meski dijadwalkan kedatangannya jam 7, kakak beradik itu datang jam 6 pagi, tidak sabar ingin melihat Baby Zean. Tapi mereka harus gigit jari karena Ray sangat protektif, ia tidak mengizinkan siapapun melihat bayinya sebelum acara di gelar.
Aura kebapakan menguar di sekitar sosok Presdir Pradipta Corp., Baby Zean selalu dalam gendongannya ketika menyapa para tamu undangan, Litha hanya akan mendapat kesempatan jika Baby Zean ingin menyusu. Rasa bangga, haru dan bahagia bercampur jadi satu ketika semua pujian tertuju pada bayinya. Ah, ternyata menikah dan menjadi suami sekaligus ayah itu sangat menyenangkan, dirinya dulu sempat berpikir menikah hanya membuat hidupnya terikat pada komitmen, nyatanya jika dalam pernikahan terdapat unsur dicintai dan mencintai, itulah yang dinamakan 'rumah'.
Ucapan selamat dan doa dari semua yang hadir disitu terdengar tiada henti, termasuk beberapa pemuka agama yang diundang untuk turut mendoakan Zeandra.
"Lihat! Bayiku sangat mirip denganku, bukan? Ketampanannya memang sudah terlihat sejak lahir, itu karena Ayahnya juga sudah tampan dari lahir. Rambutnya juga sangat lebat dan kulitnya putih kemerahan sepertiku dulu."
Kalimat itu berulang-ulang ia dengungkan di setiap kali ada yang menyapanya, sampai Litha hafal titik koma kalimat suaminya.
"Apa Kakak senarsis itu?" bisik Nia di telinga Litha.
"Suamiku memang narsis, tapi kian bertambah sejak Zean lahir. Huuffttt ..."
Bona menepuk pundak sahabatnya, "Sah juga kau jadi Ayah, Ray. Aku ikut bahagia, semoga sifat pemarahmu tidak menurun padanya," sahut Bona sambil melihat bayi mungil yang mulai membuka matanya.
"Aiihh, Baby Zean sudah bangun. Tapi aku agak takut sama matanya, Tha. Kenapa ia tidak memiliki mata ibunya saja," gumam Ninda yang membuat Litha tergelak.
"Masih bayi, dia sudah bisa mengintimidasi, hiiii ..." Bona bergidik menanggapi gumaman kekasihnya.
Ray gerah mendengarnya, "Kenapa semua orang mengharapkan sifat anakku sama seperti ibunya? Apa tidak ada yang menginginkannya sepertiku yang tampan, kuat, berwibawa dan ditakuti."
Tidak berapa lama, semua perhatian tertuju pada dua mobil box yang baru saja memasuki pekarangan rumah utama, langsung parkir di depan salah satu tenda.
"Tuan, Nyonya, ini semua hadiah dari London. Tuan Firza ingin melakukan panggilan video setelah semua hadiah diterima," ujar Pak Is menjelaskan.
"Apa?!?" Litha takjub dengan banyaknya hadiah yang dikirimkan langsung dari benua Eropa untuk putranya dan itu pasti dibeli dengan harga yang tidak murah.
"Ck. Kenapa datangnya di saat seperti ini. Dia sengaja sekali," gumam Ray sebal, "Zean, Pamanmu menunaikan janjinya, hadiah yang banyak dari London untukmu." ia berbicara pada bayi dalam gendongannya.
"Letakkan semua di bawah tenda sebelah sana," perintahnya pada Pak Is.
"Baik, Tuan."
Berbagai hadiah yang dibungkus apik dengan ukuran yang berbeda-beda. Litha dan Vania sibuk menebak-nebak isinya. Setelah semuanya selesai diturunkan, Ray melakukan panggilan video.
"Hai, Za. Bagaimana kabarmu?" sapa Ray duluan.
"Minggir! aku bosan melihat wajahmu. Aku mau melihat keponakanku."
"Sial-- Aaauuwww ... Sakit Lith, kau ini kenapa suka sekali mencubit di bagian perut sih?" sungut Ray sebal.
"Sudah kubilang tidak boleh mengumpat di depan Zean. Aku tidak mau nantinya anakku jadi pengumpat, cukup ayahnya saja," potong Litha ketus.
"I--iya," jawab Ray terbata, "Ibumu sekarang makin galak," bisiknya di telinga putranya.
Mata Litha memicing setipis dan setajam belati ke arah suaminya, meski berbisik ia bisa mendengarnya dengan baik.
"Tapi Ayah juga makin mencintai Ibumu."
Ray meralat ucapannya dengan senyum yang dipaksakan, kali ini suaranya tidak berbisik. Siapapun yang melihatnya pasti akan menilai kalau ternyata Presdir yang paling disegani di kalangan pebisnis di seluruh negeri eksotis ini termasuk golongan suami-suami takut istri.
Firza terbahak melihat tayangan langsung jarak jauh di ponselnya. Hatinya menghangat saat udara London yang dingin menyergapnya di musim peralihan, dari musim gugur ke musim dingin. Tak puas rasanya melihati Baby Zean dari layar ponsel, hingga ia enggan menutup sambungan videonya.
"Kalau masih rindu padaku, Paman Firza cepat pulang. Jangan terlalu lama disana, nanti jadi boneka salju," kata Litha memerankan bayinya yang bicara.
"Nanti, kalau Paman sudah dapat pengganti Ibumu," balas Firza, ia sengaja mengatakannya agar Ray terbakar.
"Kau--"
Lagi-lagi Litha mencubit perut kotak-kotak suaminya, menyuruh diam, "Kalau begitu lekaslah cari. Baju pengganti tidak harus sama persis, kan? Yang penting fungsinya sama."
"Kau pikir dirimu itu baju apa?" Ray tanpa sadar mulai mengajak istrinya berdebat.
"Namanya suami istri kan, memang diibaratkan baju bagi pasangannya."
"Kau mau dianggap barang?"
"Lah, itu kan hanya perumpamaan saja, sering digunakan untuk menggambarkan perihal menutupi kekurangan dan aib pasangan."
Saat Ray ingin membalas, Zean menangis, mencari sesuatu yang hanya ada pada ibunya. Litha segera mengambil bayinya dari gendongan suaminya.
"Dia haus, Mas," ujar Litha lembut.
Ray mengangguk sambil berbisik di telinga istrinya, "Aku juga haus."
__ADS_1
"Aaauuuwww ..."
"Kak Firza, maaf ... Zean menangis, sepertinya dia haus. Aku akan menyusuinya dulu," pamit Litha.
"Iya Lith, susuilah Zean dengan tenang. Aku akan menahan ayahnya yang haus agar tidak mengganggu."
"Kau--" geram Ray tertahan, "Mudah-mudahan ada wanita atau keturunan suku Ragnaya disana. Biar kau tahu rasanya kena kutukan."
"Kau-- kenapa? ... Ya Tuhan, Ray ... Kau terlihat sangat lucu kalau menahan emosi. Apa demi Zean kau begitu? Atau lebih karena takut dengan istrimu? Huahahahaha ..."
Tanpa basa-basi, Ray langsung memutus sambungan video. Ia benar-benar jengkel. Litha tergelak melihat dari jauh air muka suaminya yang sangat kesal setelah menutup panggilan video kakak angkatnya.
Di sisi lain, Vania asyik memotret setiap moment di acara ini. Tiba-tiba sorot matanya menangkap sosok gadis berkacamata dan berlesung pipi yang dihampiri Abyan. Ia memang tidak tahu siapa gadis itu, tapi dari ciri-ciri yang pernah kakaknya sebutkan, ia yakin itu adalah dr. Vivian.
"Selamat siang Dokter, bagaimana kabar Anda?" sapa Abyan memberikan segelas Mocktail pada gadis yang ia ajak bicara.
Vivian tersenyum senang disapa duluan oleh lelaki yang disesalinya, disesali karena kehadirannya terlambat setelah ia menerima pinangan dari kawan sejawatnya.
"Baik."
"Dalam waktu dekat Dokter akan dimintai keterangan sebagai saksi di pengadilan. Semoga semua berjalan lancar."
"Ya. Semoga kesaksianku bisa memberatkan hukuman lelaki bejat itu."
Abyan mengangguk, Diteguknya minuman dalam gelasnya hingga tersisa setengah, "Dokter datang sendiri?"
"Ya. Tuan kira aku akan datang dengan siapa?"
"Tunanganmu."
Glek.
Vivian tidak jadi meminum minumannya, padahal ia sudah memiringkan gelas dan isi gelas itu juga sudah menyentuh bibirnya.
" ... "
Suasana seketika menjadi canggung.
"Ku-- kupikir undangan hanya untuk yang bersangkutan. A-- aku tidak tahu kalau bisa membawa teman."
Abyan tergelak, "Teman? Hahahaha ... Kau jahat sekali Dokter, harusnya kau ajak tunanganmu bukan temanmu."
" ... "
"Aku menyukaimu, Dokter."
"Hah!?! Apa???"
Abyan tersenyum menyembunyikan kegugupannya. Ia letakkan gelas minumannya ke nampan pelayan yang melewatinya, "Maafkan aku, jika pernyataanku barusan mengagetkanmu. Jangan terbebani, Dokter ... Aku tahu Dokter akan segera menikah dan aku tahu Dokter bukanlah seorang wanita yang bisa kumiliki meski memperjuangkannya. Aku hanya ingin berusaha melepasmu saja dengan mengakui perasaanku di depan orangnya, biar tidak ada penyesalan nantinya."
Raut wajah Vivian memucat, dadanya bergemuruh kencang ingin meledakkan tangis yang ia tahan. Entah tangis apa itu, tangis bahagia karena ternyata orang yang diam-diam disukainya juga memiliki perasaan yang sama tapi juga tangis pilu kesedihan karena ia seperti terhempas ke jurang terdalam di bumi.
Tanpa bicara, dokter manis itu berlari menjauhi Abyan, ia tidak ingin menjatuhkan airmata di depan seseorang yang sudah mengungkapkan isi hatinya.
"Dokter!" seru Abyan tetapi tidak digubris Vivian.
Sepasang telinga mendengar percakapan mereka sembari meminum Moctail bercitarasa strawberry, buah kesukaannya.
"Kau menguping ya?" tegur Abyan yang hampir membuat minuman di gelasnya tumpah.
"Mmm ... Menguping? Menguping apa? Aku tidak tahu maksudmu?"
Vania ingin segera beranjak pergi, tapi lengannya di tahan, "Kau bisa lihat aku bukanlah pecundang seperti yang kau sebut, kan, Nona?"
" ..."
Vania ingat kejadian sesaat sebelum menabrak kandang burung. Tapi bukan Vania namanya yang tidak bisa mengelak dengan berbagai alasan.
"Oh ya? Mengungkapkan perasaan seharusnya adalah suatu kesungguhan hati, bukan karena tidak terima disebut pecundang ... Itu malah membuktikan dirinya adalah seorang pecundang sejati," ujar Vania sembari mengangkat satu sudut bibirnya dan memandang Abyan dengan ujung ekor mata, pandangan yang merendahkan.
"Sebaiknya Tuan Asisten berguru pada Tuan Muda bagaimana caranya menyampaikan isi hati," sambungnya lagi dan langsung berlalu dari tempatnya berdiri.
"Kau--" pekik lelaki bermata teduh itu menahan emosinya dengan kedua tangan terkepal. Emosi yang sama seperti sesaat sebelum Vania menabrak kandang burung, bedanya kali ini Vania mengambil alih keadaan.
"S*hit! Tawon Kecil ini sangat berisik! Harusnya dia kubungkam dengan--"
Mata Abyan membulat mendengar kalimatnya sendiri mengumpat adik ipar saudara susunya.
"Aaarrrrggghhh ..." teriak Abyan kesal.
"Kau kenapa, Yan?" Ray menyentuh pundaknya dari belakang.
__ADS_1
"Ray, kenapa adik iparmu sangat berisik?!? Apa dia tidak bisa diam selain di saat dia pingsan?"
Ray menautkan alisnya, sejak kapan Abyan yang ia kenal manusia paling sabar bisa kehilangan kontrol emosinya saat berhadapan dengan adik iparnya.
"Yan ..."
"Ah, sudahlah! Dia memang selalu menguji kesabaranku! Kasihan sekali laki-laki yang menjadi jodohnya nanti," sengitnya sambil berlalu meninggalkan Ray yang semakin kebingungan.
...***...
Sudah dua minggu Ray enggan ke kantor, dia melakukan semua pekerjaannya dan berbagai rapat secara virtual. Baby Zean benar-benar menyita perhatiannya, ia tidak bisa jauh sedetikpun dari anak kesayangannya. Bahkan disaat malam hari, ia rela menahan ngantuk menemani Litha menyusui. Sampai saat ini Litha tidak menghendaki memakai jasa baby sitter, karena ia merasa mempunyai banyak waktu untuk mengurusi bayinya. Ia ingin membangun bonding lebih dalam dengan putranya, dibantu Lidya dan terkadang Vania sudah lebih dari cukup buatnya dalam mengasuh Baby Zean.
Aroma kamar utama juga sudah berganti dari wangi alami bunga segar yang biasa di letakkan Litha di sudut-sudut ruangan menjadi aroma minyak telon. Saking candunya Ray terhadap Baby Zean, kemana-mana ia mengantongi kemasan minyak telon yang paling kecil.
"Kenapa dia lama sekali minum susunya?" kata Ray mengusap pipi putranya yang sedang menyusu, tangan mungilnya memegang kuat sumber minumannya.
Ray menelan saliva berkali-kali, kini daerah kekuasaannya di tubuh istrinya sudah diambil oleh mahluk kecil nan egois. Seakan tidak mau berbagi, Baby Zean akan menangis kencang jika pu*ting payu*dara ibunya terlepas dari mulut kecilnya, sekalipun ia tertidur.
"Egoisnya sama denganmu, Mas," ujar Litha tersenyum menatap gerak mulut bayinya saat meminum ASI. Ray hanya bisa menghela nafas, pasrah.
Bunyi pintu kamar di ketuk, setelah Ray memasang apron untuk menutupi putranya yang tengah menyusu ia mempersilakan si pengetuk pintu masuk.
"Maaf, Tuan dan Nyonya. Apa saya mengganggu waktu Tuan dan Nyonya."
Ray paham ada sesuatu yang ingin disampaikan Pak Is.
"Silahkan duduk, Pak Is. Ada apa?"
" ... "
"Pasti ini penting, karena Pak Is begitu gugup mengatakannya."
Pak Is tersenyum, Ray berjalan menutup pintu yang belum menutup sempurna, "Aku hanya memastikan tidak ada celah di pintu ini."
Kemudian Ray duduk di sofa berhadapan dengan Pak Is, sedangkan Litha masih di tempat tidur bersandar pada headboard menyusui Baby Zean. Ibu muda itu bisa merasakan kalau bayinya sudah tertidur pulas. Ada hembusan samar-samar nafas hangat yang teratur di sekitar aerolanya dan sudah tidak ada gerak hisapan pada payu*daranya. Tapi Litha tidak segera meletakkannya di box bayi, karena Baby Zean pasti akan segera terbangun.
Merasa terbebani semenjak saudara tak sedarahnya lebih dulu berpulang. Pak Is dengan sangat berat hati menyampaikan apa yang menjadi keinginan terakhir Sasmita, memohon maaf atas perbuatannya di suatu malam. Pak Is menceritakannya dengan terisak.
"Ka-- mi memohon maaf dan ampunan, Tuan, terlebih kepada Nyonya. Saya siap menanggung hukumannya dan saya juga bersedia menanggung hukuman yang akan diberikan pada Sasmita," katanya tertunduk.
Ray dan Litha sama-sama terhenyak di tempatnya masing-masing. Hati mereka berdebar, apalagi Litha, selama ini ia menuding suaminya tidak menghormati dirinya saat itu dan memanfaatkan keadaan ekonominya yang memang sedang butuh uang. Kejadian malam itu merusak citra Rayyendra Putra Pradipta di matanya yang sebelumnya ia nilai positif.
Ray menatap lurus ke sosok paruh baya di depannya. Ia tidak menyangka mereka seloyal itu melaksanakan perintah neneknya sebelum wafat dengan cara yang 'gila'.
"Secara pribadi, Pak Is dan mendiang Pak Sas aku maafkan. Meski kecewa, namun tidak bisa aku pungkiri, bahwa dengan perbuatan kalian telah memberiku kebahagiaan yang tidak pernah aku rasakan. Jika kalian tidak melakukannya, rumah ini akan terus suram dan anakku yang sangat aku sayangi juga tidak akan ada."
Pak Is masih menundukkan kepalanya dalam-dalam. Ia tidak berani menatap wajah tuannya.
"Tapi aku tidak bisa mengatakan maaf untuk istriku. Aku serahkan padanya, apa dia bisa menerima semua ini atau tidak. Seandainya dia tidak ingin melihatmu lagi, dengan menyesal Pak Is harus segera keluar dari rumah ini," ujar Ray lagi menoleh ke arah Litha di atas pembaringan.
Gadis yang dijuluki Miss Responsibility dulu oleh Presdir Pradipta Corp. berdiri dan meletakkan penuh hati-hati Baby Zean ke dalam box bayi agar tidak terbangun. Dirapikan bajunya terlebih dahulu dengan posisi berbalik sebelum ia menghampiri suaminya. Litha tersenyum kecut, rasanya ia sedikit dipermainkan takdir, tapi ia juga tidak bisa memungkiri kalau itu hanyalah jalan menuju kebahagiaannya.
"Pak Is, setelah malam itu-- aku merasa hidupku hancur dan terhina, karena tubuhku disetarakan dengan sejumlah uang. Apa bedanya aku dengan pela*cur yang juga menjual tubuhnya, sama-sama ujungnya uang, kan? Aku juga tidak bisa mempertahankan harga diriku karena terus terang aku sangat membutuhkannya ... Hanya saja aku lebih mujur dengan memiliki status istri untuk menutup aib malam itu."
Suara isakan Pak Is terdengar lebih menyayat hati, seakan bisa memahami apa yang barusan Litha katakan.
"Apalagi setelah aku keluar dari rumah dan mengetahui aku hamil. Itu masa tersulit buatku, untungnya aku pernah merasakan sakit meregang nyawa, jadi aku tidak akan pernah melakukannya lagi, hehehe ..."
Kekehan Litha sama sekali tidak terdengar seperti senang melainkan ungkapan perih yang teramat sangat. Ray pun merasa bersalah, seharusnya saat itu ia mencari dan meminta istrinya kembali ke rumah karena mereka belum resmi bercerai. Ia terlalu gengsi melakukannya sehingga membuat Litha seperti orang buangan yang bertahan hidup sendiri.
"Angkatlah wajahmu, Pak Is. Jangan menunduk terus. Bagaimana etikanya kalau kita berbicara, bukankah harus melakukan kontak mata?"
Pak Is menggeleng kuat, ia sungguh tidak berani menatap mata Litha.
"Pak, ini perintah. Angkatlah wajahmu, lihat aku!"
Dengan ketakutan yang luar biasa Pak Is mengangkat mukanya melihat wajah Nyonya Pradipta yang tersenyum padanya.
"Benar kata suamiku, tanpa kejadian malam itu, Zean tidak akan ada di dunia ini dan kami juga akan bercerai setelah habis masa kontrak."
Litha menghela nafasnya, "Mungkin itu sudah skenario Tuhan untuk menghadirkan Zeandra ... dan aku tidak menyesalinya, Pak Is, karena aku yakin kejadian malam itu hanya sebuah jalan untuk mendapatkan putra yang sehat dan setampan ayahnya, mendapatkan cinta kasih sayang suami yang tidak terbatas dan tentu saja kehidupan yang tak pernah kekurangan. Aku akan serakah jika masih menginginkan hukuman untuk Pak Is dan Pak Sas.
Melewati waktu dengan rasa bersalah sejak malam itu sampai hari ini rasanya sudah cukup setimpal ... Aku memaafkan semuanya, Pak Is ... Tetaplah disini. Jangan kemana-mana, sehatlah dan temani putraku tumbuh dewasa seperti yang Pak Is lakukan terhadap ayahnya. Semoga Pak Sas dapat beristirahat dengan tenang, aku memaafkannya dengan tulus. Aku menyayangi kalian berdua layaknya ayahku sendiri dan Zean pasti akan senang memiliki kakek sepertimu dan Pak Sas."
Tak tertahankan lagi, lelaki paruh baya bernama Iskhak itu bersujud di kaki Nyonya Pradipta dengan menangis. Spontan Litha menghindar dan menarik dirinya ke arah suaminya, "Jangan begini Pak Is! Aku tidak mau kualat. Bangunlah!"
"Duduklah kembali di sofa, Pak," titah Ray melihat Pak Is yang bergeming.
"Sa-- saya sungguh berterimakasih atas kemurahatian Nyonya dan Tuan."
Ray tersenyum, dalam hati justru ia yang berterimakasih pada mereka, tentu jalan ceritanya akan berbeda jika ia tidak menghabiskan whisky malam itu. Ah, kenapa dia jadi ingin mencobanya lagi, memaksa istrinya melayani hasratnya setelah mengkonsumsi obat perang*sang.
__ADS_1
"Kutunggu kau selesai masa nifasmu, Sayang. Aku akan meminta Pak Is melakukannya lagi, hehehehe ..."
- Bersambung -