
#Kota A #
Bibi Rima celingak-celinguk menutup pintu rumahnya, wajahnya pias menyenderkan badannya di daun pintu, ia menatap suaminya yang tidak kalah pias, malah lebih pucat. Berdua sama-sama bisa merasakan gemuruhnya hati mereka. Gemuruh akan ketakutan yang menjalari urat nadi.
"Bu, apa kita menginap dulu di rumahnya Litha, disana kan ada satpam, lebih aman," sahut Paman Tino mengusap kening dan lehernya yang berkeringat.
"Ya justru jangan. Kalau kita nginap di rumah Litha, maka asal usul ketiga putri Kakak Ipar akan ketahuan dan itu sangat berbahaya. Aku tidak akan bisa melindungi mereka lagi." Bibi Rima berusaha menenangkan irama jantungnya yang berdetak cepat.
"Lalu kita harus bagaimana? Mereka ada dimana-mana tanpa kita tahu sedangkan kita tidak tahu pasti siapa yang mengutus mereka. Lama-lama juga mereka akan mengetahui ketiga putri Kakak Ipar."
"Tidak, itu tidak boleh terjadi. Pesan terakhir Kakak Ipar, siapapun tidak boleh ada yang tahu siapa sebenarnya mereka, terutama anak-anak Kakak Ipar. Itu satu-satunya cara untuk melindungi Tisha, Litha dan Vania."
"Untung saja Vania di asrama dan Litha di Ibukota, Bu. Duh, jantungku rasanya mau copot." Paman Tino mengusap-usap dadanya sembari memejamkan matanya.
"Aku juga Pak." Bibi Rima pun juga melakukan hal yang sama dengan suaminya.
...-----------...
#Apartemen Rayyendra#
Litha serius membaca lembar demi lembar file penawaran yang tadi siang ia terima.
"Serius sekali! Aku saja yang Presdir gak sampe segitunya," ketus Ray.
Hari ini ia pulang cepat, sampai menyisakan beberapa pertemuan yang seharusnya dilakukan malam hari dialihkan ke hari besok hanya demi istrinya, demi memberikan sebuah kalung yang sempat diingatnya tadi siang.
"Hhmmppfhhh ..... Aku takut membuatmu malu, Mas. Belum lagi jika kerjasamanya gagal," ujar Litha beralasan.
"Mungkin mereka hanya penasaran dengan Nyonya Pradipta karena foto nikah kita yang tersebar di media diblur, hehehehe ... Jikapun gagal, aku tidak peduli. Pradipta Corp. tidak akan bangkrut hanya karena tidak menjalin kerjasama dengan AutoTech Inc. Jadi jangan dijadikan beban."
Ray mengusap jemari Litha, menenangkannya hingga Litha mengulas senyum.
"Nah gitu dong, mukanya jangan ditekuk terlalu serius. Aku ingin memberimu ini."
Ray menyodorkan kotak persegi berwarna biru tua. Litha mengernyit, ia seperti pernah melihat kotak itu. Begitu Ray membukanya, ingatan Litha menyeruak, itu kalung yang pernah ia lihat di laci meja kerja suaminya saat diminta tolong mencari berkas. Hati Litha mencelos, sepengetahuannya kalung itu untuk Ramona.
"Apa kau tidak suka? Kurang mewah?" tanya Ray bingung melihat reaksi Litha yang diluar dugaannya.
"Aku suka sekali. Modelnya simple, sesuai seleraku tapi ...."
"Aku bukan ikut-ikutan Firza memberimu kalung, tapi kalung ini sudah lama kubeli dan aku baru mengingatnya tadi siang. Kalau kau tidak suka, aku akan menggantinya dengan yang lebih bagus, atau kau mau memilih sendiri? Atau--"
"Tidak suka karena kalung itu sebenarnya untuk Ramona, kan?"
Ray melongo, "Bicara apa Litha-ku ini?"
"Iya, aku pernah melihatnya di laci meja kerja Mas ketika aku mencari berkas yang pernah kuantarkan ke kantor. Mas sudah lama menyimpannya, kan? Karena sekarang Mas sudah tidak dengan Ramona jadi kalung itu mau diberikan ke aku." Litha menudingnya dengan nada kesal.
Ray tertawa kecil, ia tahu istrinya ngambek bercampur cemburu. Ia mengambil ponselnya lalu menekan nomor Abyan, sengaja ia menyentuh button loudspeaker agar istrinya juga mendengar.
Ya Ray, ada apa?
Yan, kau masih ingat saat aku membeli sendiri sebuah kalung berlian?
Tentu saja. Itu pertama kali kau membeli dan memilihnya langsung. Memangnya kenapa?
__ADS_1
Muka Litha sudah ditekuk-tekuk tidak karuan, bibirnya dimonyong-monyongkan sebal. Ray menahan senyumnya, sangat menggemaskan.
Kau masih ingat aku membelinya untuk apa?
Seingatku hanya karena kau suka melihat matanya yang membulat, kau pikir dengan memberikannya dia akan kaget dan membulatkan matanya.
Hati Litha bergemuruh, semakin mendengar percakapan mereka hatinya kian panas. Ia tidak mau mendengarnya, tapi ia juga tidak bisa melarang mereka membicarakannya. Ia berdiri dan hendak masuk kamar, mau tidur secepatnya, pikirannya gundah. Namun Ray menahan langkahnya dengan menggenggam tangannya.
Kau tahu, aku belum memberikannya waktu itu karena nasehatmu, agar aku tidak melambungkan hatinya kalau akhirnya dia akan jatuh. Tapi sekarang akan kulambungkan hatinya tinggi-tinggi karena aku akan menangkapnya.
Ngomong apa sih kau, Ray!
Karena nasehatmu waktu itu aku menyimpannya dan dia ternyata mengetahuinya.
Ya sudah kalau begitu berikan saja sama istrimu, kan memang kalung itu kau belikan untuknya. Susah amat sih. Jangan menggangguku lagi. Aku mau tidur!
Hahahahaha .....
Tiiitttttt .....
Abyan menutup sambungan telepon dengan kesal karena omongan Ray berputar-putar pada kejadian lalu.
"Yan, kau memang sahabat sekaligus asisten terbaikku. Tidak sia-sia kau selalu mengekoriku. Kau bisa jadi saksi saat kubutuhkan," kata Ray meletakkan ponselnya di meja.
Ya sudah kalau begitu berikan saja sama istrimu, kan memang kalung itu kau belikan untuknya.
Kalimat itu mengelilingi kepala Litha yang diam terpaku.
"Jadi, kalung itu memang buatku? Bukankah saat itu Ray hanya menganggapku istri kontraknya? Tapi kenapa ia membelikanku perhiasan semahal ini? Kalaupun ia terbiasa membelikan untuk Ramona, kenapa tadi Asisten Yan bilang itu pertama kalinya ia membeli dan memilihnya langsung? Aaaahhhh, Ray, kau menyebalkan!"
"Kenapa? Apa aku menyebalkan, hemm?" Ray mengambil kalung itu dari kotaknya dan berdiri, hendak memakaikan di leher istrinya.
Tanpa sadar Litha semakin memonyongkan bibirnya, tapi ia juga mengangkat rambutnya dengan tangan kanannya agar Ray bisa leluasa memasangkan kalung berlian itu.
"Kenapa?-- Kenapa waktu itu kau membelinya?" tanya Litha saat kalung berlian itu terpasang sempurna di lehernya.
Kalung berdesain sederhana namun tetap elegan, hanya seutas rantai berliontinkan sebuah berlian yang menggantung, tidak terlalu mencolok jika dipakai dalam keseharian. Sangat cocok dengan selera Litha.
"Entahlah, aku hanya ingin membelikanmu, apa sebagai pengganti karena kau tidak pernah menggunakan black card yang kuberikan padamu atau karena aku sebenarnya sudah jatuh cinta padamu tanpa aku sadari."
Litha membalikkan badannya. Kini posisi mereka berhadapan. Ia mendonggakkan kepala dan tersenyum hangat, disentuhnya wajah suaminya, dari mata, alis, hidung, pipi hingga bibirnya dengan seksama. Hatinya tenang, tidak lagi bergemuruh, matanya juga berbinar-binar bagai ada ribuan bintang disana.
"Terima kasih. Aku suka."
Pelupuk mata Litha sudah menggenang, dikecupnya bibir suaminya lalu ia memeluk erat dan membenamkan wajah di dada bidang milik suaminya.
"Kenapa kali ini aku begitu bahagia memberi sesuatu pada orang. Biasanya aku tidak peduli, tapi ini-- Ah, aku rasanya ingin selalu memberikan dan terus memberikan sesuatu buatnya."
Ray mencium pucuk kepala istrinya dengan penuh perasaan. Ia benar-benar jatuh cinta setiap hari pada istrinya.
...🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀...
Pagi hari di Ruangan Presdir Pradipta Corp. Rayyendra sangat bersemangat menyambut berkas demi berkas dari Sasha, membaca dengan fokus tingkat tinggi, menelaah proposal dan laporan, menandatangani berkas dengan keyakinan yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya.
"Tuan, apa tadi malam Tuan mendapat mood booster dua kali lipat? Cara kerja Tuan kali ini membuat saya takjub."
__ADS_1
Ray menceritakan kejadian tadi malam hingga alasan ia meneleponnya malam-malam.
"Matanya tidak membulat, Yan, tapi berbinar, berbinar penuh keharuan. Aku sangat menyukainya, aku ingin matanya terus berbinar seperti itu. Apa aku harus membelikan lagi perhiasan yang lebih mahal? Kalung itu lebih murah dari yang biasa Mona ambil."
"Dahlah, bucinnya kumat. Sekalian saja semua perhiasan di tokomu kau bawa dan berikan padanya. Aneh!" umpat Abyan dalam hati.
"Bukan masalah harga, Tuan, tapi perilaku Tuan yang membeli dan memilihkannya langsung yang membuat mata Nyonya berbinar, bahkan jika kalung itu hanya berupa imitasi, mata Nyonya tetap berbinar." Abyan dengan sabar meladeni Tuannya.
"Jadi menurutmu apa lagi yang akan membuatnya berbinar?"
"Akhir pekan besok ada Color Run Festival yang diselenggarakan Asosiasi Pengusaha Kuliner Se-Ibukota. Pradipta Corp. menjadi sponsor utama, dan Tuan akan dijadwalkan mengikuti kegiatan lari tersebut. Semua stand kuliner ada disitu. Nyonya sangat suka makan, pasti Nyonya senang sekali jika Tuan mengajaknya."
"Ah, benar! Kau cerdas sekali, Yan. Dia suka sekali makan selama hamil ini. Kalau begitu buatlah acaranya semeriah mungkin," ujar Ray antusias.
"Hei, Tuan Muda. Kita itu hanya sponsor utama bukan penyelenggara, hhhhhhhh ... "
"Baik, Tuan, aku akan memastikan semuanya berjalan dengan baik."
Abyan serasa menjadi orang munafik di kantor, apa yang dimulutnya sangat tertutur rapi tapi hatinya selalu mengumpat majikannya. Untung saja Litha memberlakukan Ray sebagai Tuan Mudanya hanya di kantor, jadi ia jauh lebih bebas sekarang padahal sebelumnya Rayyendra selalu menjadi Tuan Muda dimanapun, hanya satu tempat yang ia jadi berkawan, ruang VVIP Amore Club&Party.
"Sudah lama sekali Tuan tidak ke Amore Club&Party, biasanya Tuan kesana sekedar memeriksa apakah klub itu berjalan baik atau tidak." Abyan sengaja mempertanyakannya sambil mengerjakan tugasnya seperti biasa, memilah-milih berkas yang sudah ia periksa sebelum ia serahkan ke Rayyendra dengan berdiri di depan meja kerja bosnya.
"Buat apa aku kesana? Aku sudah ada Litha. Klub itu hanya untuk menghibur orang-orang jomblo sepertimu, Yan. Klub itu bagiku sekarang hanya berupa bentuk usaha. Selama laporan Bona bagus, aku tidak perlu turun tangan, kan? Aku percaya penuh padanya."
"Sialan kau Ray, kau pikir aku jomblo karena siapa hah?!? Karenamu tahu! Bahkan setelah kau memiliki Litha ternyata akupun masih direpotkan mengurusimu."
"Kau tidak perlu terlalu mengurusiku lagi, Yan, kadang-kadang saja aku butuh bantuanmu. Carilah pacar atau kekasih atau teman wanita agar kau tidak sendiri. Setidaknya mengurangi pertanyaan Litha padaku tiap pulang kantor yang selalu menanyakanmu."
"Menanyakanku?"
Abyan terkesiap, hatinya bergemuruh. Nada bicara Ray datar saat mengatakannya, tapi entah kenapa ia bisa merasakan perhatian dan ketulusan di sana, hal yang sudah lama ia tidak dapatkan dari Ray sejak menjadi Presdir.
"Ya, setiap pulang kantor ia menanyakan kabarmu? Sudah makan malam atau belum? Apakah aku merepotkanmu atau tidak, heh, padahal kan memang tugasmu, kau digaji untuk aku repotkan. Tapi ia berkilah kalau aku terlalu merepotkanmu, kau tidak akan punya waktu untuk dirimu sendiri termasuk urusan wanita dan cinta. Menurutnya aku terlalu menyita waktumu untuk urusan yang seharusnya bisa aku lakukan sendiri. Lihat, dia sangat peduli padamu, Yan."
"Kau tidak cemburu istrimu memikirkan pria lain selain dirimu?" pancing Abyan, ia lupa mode asistennya, ia bicara santai dengan Ray, namun Ray juga membiarkannya.
"Awalnya aku sangat cemburu, bahkan ingin menggantimu sebagai Asisten. Tapi entah bagaimana dia selalu bisa memasuki nalar berpikirku yang mengedepankan logika. Dia mampu membuka mata dan hatiku untuk melihatmu tidak hanya sekedar sahabat dan Asisten, Litha membuatku menyadari bahwa kau lebih dari itu. Kau Saudaraku, Yan. Dan dia selalu menyebutmu Paman jika berbicara pada bayi kami yang masih berada di perutnya."
Abyan kehabisan kata-kata. Sepanjang ia mengenal Rayyendra dan seseorang di luar keluarganya sendiri, saat inilah ia benar-benar terharu, merasa dicintai dengan tulus. Rasanya ia ingin menangis dan memeluk lelaki yang sering diumpatnya dalam hati, tapi jelas itu tidak mungkin.
Ray bangkit dari duduknya, ia menghampiri Abyan lalu memeluknya.
"Terima kasih, Yan. Aku tidak tahu apa aku pernah berterima kasih padamu sebelumnya. Tapi aku ingin mengatakannya, terima kasih atas segala apapun yang telah kau lakukan untukku dan terima kasih kau tidak pernah menghianatiku. Aku sangat beruntung memilikimu, Bro."
Ray melepas pelukannya setelah menepuk pundak Abyan dua kali. Oh, betapa terenyuhnya hati Abyan mendengarnya dari seorang Rayyendra yang dikenal sebagai pria arogan. Hatinya bergetar hebat dengan kata 'Bro' yang diucapkannya, tidak seperti biasa yang hanya sekedar sapaan, ia bisa merasakan 'Bro' kali ini mempunyai arti.
Abyan sudah tidak bisa menyembunyikan lagi titik air di sudut matanya yang sudah berkaca. Ia segera menekan matanya untuk menghapus titik air itu dengan jari jempol dan telunjuknya.
"Pantas saja Paman meletakkan kesetiaan dengan nyawanya padamu, Nyonya. Kau luar biasa! Kau bisa melunakkan dan melembutkan kerasnya hati Rayyendra. Kerasnya hati yang terbentuk karena merasa ditinggal dan tidak dicintai sejak kecil. Bagaimana ia tidak jatuh cinta padamu tiap hari. Semoga kalian berdua bahagia selamanya." kata Abyan dalam hati.
"Sudah! Ini terakhir kalinya kau mengagumi istriku. Sekali lagi kau melakukannya aku benar-benar akan mengganti Asisten," sahut Ray sambil bersungut yang meledakkan tawa Abyan.
"Yan, sebut aku Tuan dikantor jika di depan karyawan lain. Tapi kalau hanya ada kita berdua meski di dalam kantor, sebut namaku saja seperti biasa," sambungnya lagi.
"Sepertinya Litha bisa membuatmu menjadi manusia yang utuh. Untuk terakhir kalinya aku mengagumi istrimu. Dia sungguh hebat, Bro."
__ADS_1
Rasa haru, bangga dan bahagia menyeruak di dalam hati Ray akan istrinya. Ya istrinya, sangat luar biasa dan itu ia akui.
- Bersambung -