Istri Wasiat Tuan Muda

Istri Wasiat Tuan Muda
Bertemu Lucas


__ADS_3

Ray terpingkal-pingkal mendengar cerita istrinya tadi siang ketika menemui dr. Vivian. Apalagi saat makan malam, Abyan disindir-sindir Ibunya sendiri dan sindiran itu benar-benar membuatnya masam.


"Lith, kau lihat tidak tadi mukanya Abyan bagaimana saat Bibi Lidya menyodorkan foto-foto perempuan berlesung pipi dari aplikasi kencan buta online," gelak Ray.


"Tapi Mas, aku tidak enak karena aku yang membantu Bibi mendownload aplikasi itu."


"Hahahahaha ... mukanya lucu sekali saat Bibi bilang kau yang membantu Bibi mendownloadnya," Ray kembali tergelak dan membenamkan wajahnya di bagian empuk dan kenyal favoritnya.


"Tapi kalau Asisten Yan tadi marah, gimana?"


Ray mendongakkan kepalanya melihat wajah istrinya, "Tidak akan. Tidak ada yang berani memarahimu, atau dia akan berhadapan denganku. Yang boleh memarahimu hanya aku."


Litha tersenyum sambil mengusap rambut suaminya yang kembali menempel di dadanya.


"Mas, apa boleh aku menemui Lucas?"


"Apa?!?"


Spontan Ray mengangkat wajahnya lagi dari gunung dan lembah favoritnya, "Untuk apa?" tanyanya heran.


"Entahlah, tapi naluriku ingin menemuinya sebelum ia menjalani proses hukumannya."


Ray diam, tidak memberikan jawaban, dia asyik mere*mas gunung kembar milik Litha sambil sesekali memainkan dan mengecup gundukan kecil warna pink di atas gunung kembar itu.


"Mas ... Sshhh ... Boleh ya?" Litha meremas kuat rambut suaminya.


"Hemmmm ... emmm ... entahlah. Stop bicarakan laki-laki lain, urusi saja laki-lakimu ini."


"Haisshh, engghhh ... Mas!"


Litha tidak bisa melawan tenaga besar suaminya saat mengungkung dirinya, hasratnya selalu menggebu tiap berdekatan, tidak pernah puas dan bosan, padahal kondisi kehamilan Litha yang masuk trimester ketiga membuatnya tidak leluasa membalas gerakan suaminya, tapi tetap saja di mata Ray, istrinya adalah makanan pembuka, utama dan penutup yang selalu menggugah seleranya di setiap malam.


"Mas, boleh ya?" bujuk Litha lagi setelah peluh pergulatan mereka bercampur menjadi satu, mengusap lembut pipi suaminya.


Ray menelentangkan badannya menatap langi-langit kamar. Mereka berdua tanpa busana di bawah selimut dengan sedikit pendar cahaya bulan yang menyusup masuk ke dalam kamar, "Apa itu penting bagimu?"


Litha memeluk suaminya, mencium aroma maskulin yang khas, ketiak Ray adalah tempat favoritnya selama hamil, ia pasti akan mengambil posisi seperti ini jika akan tidur.


"Iya, aku ingin menantang diriku sampai dimana aku bisa menghadapi masa laluku yang menyakitkan. Orang itu sumbernya dan aku rasa aku harus menemuinya agar bebanku hilang. Aku tidak mau menyimpan batu di sakuku, Mas."


"Hmmm... baiklah, tapi aku sendiri yang mendampingimu bertemu dengannya dan ikuti perintahku disana. Kalau sudah kubilang cukup ya cukup, jangan membantah." ujar Ray memberi persetujuan, ia mengecup pucuk kepala istrinya, "Sekarang ayo kita tidur, aku lelah Lith. Belakangan ini aku yang lebih aktif dalam bercinta."


"Ih, protes ya?!? Tidak lihat apa perutku semakin besar, harusnya kau kasihan padaku, ini malah digempur mulu." Litha mengeratkan pelukan di bawah ketiak suaminya yang tertawa kecil.


...***...


Setelah Surat Pemberitahuan Perkembangan Hasil Penyidikan (SP2HP) tingkat penyidikan diterima oleh Pak Prasojo 15 hari kemudian, barulah Ray mengizinkan Litha untuk menemui Lucas. Sengaja ia mengosongkan agendanya pagi ini hingga jam makan siang hanya untuk menemani istrinya bertatap muka dengan penghancur keluarga istrinya 5 tahun silam.


"Kau yakin, Sayang? Kondisimu lagi hamil. Sebaiknya--"


"Aku yakin, Mas. Aku tahu kekhawatiranmu, tenang saja dia kan tidak akan menyakitiku, ada Mas bersamaku."


Kerasnya watak Litha memang kadang muncul, watak yang diturunkan dari ibunya, bahwa apa yang ia yakini benar akan ia pertahankan sampai mati.


Ray menghela nafasnya, "Baiklah. Tapi ingat kalau aku bilang cukup, berarti kau harus mengakhirinya."


Litha mengangguk dan bersiap turun dari mobil. Abyan yang berada di balik kemudi segera mematikan mesin mobil dan juga bersiap turun.


Ruangan interogasi 5 X 6 meter memiliki satu ventilasi udara dan cermin dua arah di satu sisi dindingnya. Disitu diletakkan sebuah meja dan dua kursi lipat besi. Salah satu kursinya diduduki oleh Lucas yang sudah menunggu tamu yang diberitahukan akan menemuinya secara khusus.


Cekrek.


Pintu dibuka dan Lucas menoleh ke arah pintu, sedikit terkejut matanya mendapati Rayyendra dan adik dari wanita yang ia cintai sekaligus ia rusak.


Litha duduk berhadapan dengan Lucas, Ray berdiri di sisinya dan ada dua orang anggota polisi yang berjaga di pintu. Sedangkan Abyan memilih mengamati dari balik cermin dua arah di ruangan sebelahnya bersama beberapa orang polisi, termasuk Andika salah satunya.


Lucas mengawali pertemuan mereka dengan tertawa mengejek, namun ketenangan Litha yang sudah teruji tidak bisa diprovokasi dengan tawa ejekan seperti itu. Justru ia menunggu dengan sabar sampai tawa Lucas berhenti dengan sendirinya.


"Selamat pagi, Saudara Lucas Riguna. Apa Anda dalam keadaan sehat? Kuharap Anda sehat agar bisa menjalani hukuman yang sudah ada di depan mata," sapa Litha formal.


Litha menampakkan senyumannya yang membuat Lucas terkesiap, senyum yang sama dengan senyuman Tisha. Ada kerinduan dalam maniknya.


"Ternyata tamu itu adalah perebut calon kakak iparku toh. Kukira siapa ... Percaya diri juga dia. Katakan apa yang ingin kau sampaikan. Cepatlah!"


Lucas menghardik Litha namun sebenarnya ia tersiksa karena dengan melihat Litha langsung ia seperti melihat kekasihnya dulu. Litha masih dengan ketenangannya tersenyum, tapi tidak dengan Rayyendra, hatinya gelisah bukan main, instingnya mengatakan akan terjadi sesuatu.

__ADS_1


"Lith--" bisik Ray yang langsung dipotong istrinya


"Tunggulah, jangan sekarang."


Litha tahu suaminya ingin mengatakan cukup, maka jangan sampai kata itu terucap, ia belum sampai pada tujuannya.


"Aku ingin menyampaikan padamu, kalau sekarang kesehatan jiwa Kak Tisha semakin membaik. Dia sudah ingat keluarganya dan masa lalunya, bahkan masa paling mencekam yang Anda torehkan. Tapi lihat, bagaimana ia bertahan hingga akhirnya ia bisa menerima kenyataan. Aku punya hadiah yang ingin aku perlihatkan padamu, hanya kuperlihatkan tidak untuk kau sentuh atau kau miliki."


Kening Lucas mengernyit heran, lebih-lebih Ray, ia sama sekali tidak mengetahui maksud dan rencana istrinya. Dia pikir Litha hanya ingin sekedar melihat, memaki dan melampiaskan kemarahannya pada orang yang sudah menghancurkan keluarga bahagianya.


Litha mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya, ia tunjukkan dari jarak beberapa sentimeter di muka Lucas. Seketika raut muka lelaki itu berubah drastis, yang tadinya mengejek dan menghardik menjadi diam seribu bahasa. Wajahnya memerah, matanya nanar, bibirnya mengatup rahang yang bergerak sendiri dan tangannya gemetar menahan sekuat tenaga agar ia tidak meraih benda yang dipegang Litha yang berada di hadapannya. Benda itu sangat menyiksanya.


🍀 flashbak on 🍀


Satu bulan yang lalu, Pak Sas memberikan amplop seukuran kertas folio pada Litha di ruang keluarga.


"Nyonya, ini laporan perkembangan kesehatan Nona Tisha. Sejauh yang saya lihat langsung, Nona Tisha sudah sembuh tapi detailnya ada di amplop ini."


"Benarkah?"


Litha tidak sabar membukanya, satu bendel laporan perkembangan kesehatan mental kakaknya menunjukkan progres ke arah yang signifikan membaik. Sentuhan perhatian dari Suaminya membuat penanganan Tisha menjadi lebih cepat dan tepat. Ada laporan khusus tertulis yang langsung ditulis oleh dr. Siska di lembar paling terakhir.


Kepada Yth. Ny. Pradipta,


Kondisi Nn. Tisha sangat baik. Ia bisa mengingat keluarga dan semua masa lalunya, bisa interaksi dua arah dengan komunikasi yang nyambung, bahkan Nn. Tisha sudah bisa menerima fakta ayahnya telah berpulang. Hanya saja setiap kali ia mengingat kejadian buruk terakhir yang menimpanya, ia akan melamun dalam waktu yang lama.


Tim kami masih menangani dengan terapi dan obat-obatan yang terbaik. Kami juga perlahan akan memberikan kenyataan baru yang belum diketahuinya, bahwa adiknya telah menikah dan ibunya telah wafat. Namun fakta terakhir ini tentu akan mengguncang jiwa Nn. Tisha kembali, sehingga kami akan sangat hati-hati sekali dalam menyampaikannya.


Saya selipkan foto terbaru Nn. Tisha, walau wajahnya masih terlihat pucat, matanya tak lagi hampa dan ia sudah bisa tersenyum menatap kamera. Semoga ke depan Nn. Tisha lebih baik lagi.


...Ttd....


...dr. Siska Anugrah...


Litha menangis sesenggukan membaca surat dari dr. Siska berikut foto terbaru kakak tercintanya. Jauh sangat lebih baik dari terakhir yang ia temui dari sekitar 10 bulan yang lalu. Litha sangat bahagia mendengar kakaknya menuju arah kesembuhan.


"Terimakasih Pak Sas sudah membawa kabar gembira ini. Aku harus berterimakasih pada Suamiku, berkat bantuannya Kak Tisha bisa sembuh dengan lebih cepat," sahut Litha yang hanya ditanggapi dengan senyum dari asisten pribadinya.


🍀 flashback off 🍀


Mata Lucas mulai memerah, "Kau ...!!" desisnya.


Litha sedikitpun tak gentar. Ia menarik foto Tisha dari pandangan Lucas, tapi lelaki itu tak rela, ditarik dan dicengkramnya tangan Litha yang menggenggam foto itu.


"Aaaahhh !!!" pekik Litha kesakitan, spontan ia memberontak menarik lepas ke arah berlawanan dari cengkeramannya Lucas hingga foto Tisha terlepas dari genggamannya.


BUGH.


"Jaga tangan kotormu itu dari istriku, Sialan!!!"


Sebuah pukulan tepat mengenai wajah Lucas hingga ia terjatuh dari kursinya. Ray menggeram marah, tidak terima tangan istrinya ditarik dan dicengkeram kesakitan seperti itu.


Abyan langsung berlari ke ruangan interogasi disusul Andika, mengamankan situasi yang mulai tidak kondusif.


"Mas. Hentikan! Dia tidak pantas disentuh olehmu, walaupun itu pukulan," teriak Litha berdiri, lalu ia memunguti foto Tisha dengan susah payah yang jatuh di lantai dan menyimpannya kembali dalam tas.


Langkah Abyan dan Andika terhenti di ambang pintu yang terbuka. Nafas mereka seakan terhenti melihat Litha dengan gagahnya maju mendekati Lucas yang masih tersungkur di lantai.


"Litha, cu--"


"Jangan sekarang, Mas. Beri aku waktu sedikit lagi," pinta Litha pada suaminya.


"Oh, shitt! Aku tetap tidak bisa menolak permintaannya. Benar kata Abyan, aku sudah menjadi budak cinta istriku." umpat Ray dalam hati kesal.


"Oke, tapi jaga jarakmu."


Litha mengangguk, lalu ia tersenyum ke arah Lucas, senyum yang punya banyak arti.


"Kenapa? Kau belum bisa melupakannya, kan?" tekan Litha tidak bicara formal lagi. Ia akan mengintimidasi Lucas dengan sepenggal info dari Vivian waktu lalu.


"Apa kau tidak merasa bersalah padanya? Heh. Biar kutebak, kau sangat tersiksa, kan? Sampai kau coba menggunakan narkoba untuk melupakannya. KAU MASIH MENCINTAI KAKAKKU, KAN?"


Nada suara Litha meninggi dan makin meninggi di akhir kalimatnya membuat semua orang di ruangan itu tersentak tidak percaya. Litha yang mereka kenal sebagai pribadi yang lembut, yang selalu menjaga nada suaranya jika berbicara dengan orang lain, kini berubah 180 derajat. Karakter Litha yang sesungguhnya dominan, kini nyata terlihat.


"Ka-- kau--" Lucas terbata-bata menjawabnya.

__ADS_1


"Akui saja kalau kau masih mencintai kakakku sampai detik ini. Akui saja kalau kau merasa bersalah membuatnya hancur seperti itu. Kau pikir setelah kau merenggut kesuciannya, dia akan terikat padamu. TIDAK! Karena sebenarnya kaulah yang terikat padanya!"


Emosi Litha sudah berada di level paling atas sampai ia lupa kalau sedang mengandung. Ray hanya bisa menjaga istrinya dari dekat tanpa bisa melarangnya melakukan sesuatu yang istrinya kehendaki.


"Jangan besar kepala dia hilang kewarasan karenamu. Dia seperti itu karena ayah yang kami cintai harus meninggal memperjuangkan keadilan buatnya. Dan sekarang, aku yang akan meneruskan perjuangannya," ujag Litha menatap tajam Lucas.


Lucas beringsut bangun dan berlutut pada Litha, tertunduk dan menangis.


"Ka-- kau benar Aku tidak bisa melupakannya sampai sekarang ... Aku sangat merindukannya ... Aku sungguh-sungguh mencintainya dari dulu hingga sekarang. Meskipun keadaan Tisha seperti itu, aku masih sayang padanya ... Aku bersalah telah melakukan perbuatan keji itu, tapi aku melakukannya hanya karena aku tidak ingin kehilangan dia. Tisha memutuskan cinta kami ... Aku tidak rela, aku sungguh tidak rela ... aku sangat mencintainya ..."


Litha diam tidak bergerak, hanya matanya saja yang meneteskan airmata dengan mata terbuka.


Udara di dalam ruangan itu semakin dingin dan sesak, tidak ada suara apapun terdengar kecuali rintihan dan suara lirih Lucas yang mengakui dosa-dosanya.


"Tidak begitu caranya mencintai seorang wanita. Kalau memang kau mencintainya, harusnya kau menjaga kakakku, bukan malah merusaknya. Kau lah yang sebenarnya ragu akan cintamu sendiri, padahal Kak Tisha telah rela melanggar janjinya pada Ayah yang sangat ia hormati, dan itu pertama kali ia melanggar, hanya demi lelaki baji*ngan yang tidak tahu diri."


Suara Litha bergetar saking emosinya, Ray sudah memeluk bahunya dan ingin mengatakan cukup, namun istrinya sudah lebih dulu mengeluarkan suara.


"Kalau kau mencintainya, setidaknya tunjukkan rasa sesalmu pada keluarga kami saat itu, Brengsekkk!!!"


Tanpa diduga Litha meraih kursi lipat besi itu dan mengangkat dengan kedua tangannya, menghantam bahu Lucas yang posisinya masih berlutut.


BRAKKK ...


Kursi itu terpelanting setelah menabrak badan kekar Lucas. Semua pemilik mata di ruangan interogasi itu dan juga yang melihat dari ruangan sebelahnya melalui cermin dua arah terperangah tidak percaya. Apalagi Ray yang seketika disertai kepanikan luar biasa menenangkan dan menghentikan kegilaan istrinya, tapi sayangnya Litha belum selesai.


Lucas tidak membalas, rasa bersalah yang sangat besar melingkupi dirinya, lebih-lebih setelah melihat foto Tisha barusan. Hatinya tercabik-cabik, ia bagai sudah tidak bernyawa lagi dan pasrah menerima hukuman apapun yang akan diberikan.


"Aku tidak suka berandai-andai, tapi kali ini aku kecualikan ... Andai saja kau tunjukkan mukamu di depan orangtua kami dan menyesalinya, setidaknya Ayahku tidak akan meninggal dan Kak Tisha bisa saja memaafkanmu karena rasa cintanya yang besar. Tapi sayangnya kau terlalu pengecut sebagai laki-laki.


Di luar itu semua, sepenuhnya yang telah terjadi adalah takdir Tuhan untuk keluarga kami. Dan kami pun telah menerimanya dengan ikhlas ... Sekarang, giliranmu menebus semua dosa yang telah kau perbuat, nikmati setiap hukuman dengan cintamu pada Kak Tisha yang tidak akan pernah pudar dari hatimu, selamanya sampai kau mati. Kau tidak akan pernah bisa menghilangkan rasa bersalahmu kecuali kau bisa membangkitkan Ayahku hidup kembali."


Litha mengucapkannya dengan berapi-api dan penuh penekanan hingga ia merasakan sakit pada perutnya. Ia meringis dan memegangi perutnya, kesadarannya kembali kalau ia sedang berbadan dua.


Ray makin panik melihat mimik istrinya yang meringis, kali ini ia tidak akan mengalah pada kemauan istrinya. Ia akan mengatakan cukup dan segera membawa istrinya keluar dari ruangan interogasi.


"Litha, cu--"


"Iya, Mas. Sudah cukup, perutku rasanya mengencang di bagian bawah."


"Bodoh!" umpat Ray pada istrinya.


Litha dipapah Ray keluar ruangan. Begitu akan melewati pintu, serentak tanpa diperintah Abyan dan Andika memberi jalan.


"Bang, apa pengakuannya tadi bisa dijadikan alat bukti yang sah selain keterangan saksi?" tanya Litha pada Andika yang masih terkaget-kaget melihat wanita lembut yang ia sukai bisa berubah menjadi macan betina yang mencakar-cakar mangsanya.


"Ma-- maksudmu apa, Lith?" tanya Andika yang juga sama ditanyakan Ray dan Abyan dalam hati mereka.


"Setahuku, penetapan tersangka oleh penyidik harus berdasarkan bukti permulaan yang cukup, minimal 2 alat bukti sebagaimana termuat dalam Pasal 184 KUHAP ayat 1 yaitu keterangan saksi, keterangan ahli, surat, petunjuk, dan keterangan terdakwa disertai dengan pemeriksaan calon tersangkanya. SP2HP yang kemarin Pak Prasojo terima, belum ada penetapan tersangkanya, hanya tertera keterangan saksi Sdr. Vivian saja."


Andika mengerjap, lagi-lagi tak percaya Litha bisa sedetail itu.


"Sa-- Sayang, kau sengaja melakukan hal barusan?" tanya Ray yang juga sama tidak percayanya.


"Awalnya, ya. Sengaja aku memancing dengan emosi yang ia miliki tapi aku juga ikut terpancing. Maaf, kalau aku tidak memberitahu Mas sebelumnya, maaf juga kalau aku terlihat kasar dan mengumpat. Tapi, setidaknya hatiku lega sekarang. Aku sudah membuang batu di sakuku." jawab Litha enteng.


Abyan menggeleng-gelengkan kepala, takjub.


"Ayo, Mas. Perutku tak nyaman."


"I-- iya, ayo kita pulang sekarang."


Ray benar-benar baru mengetahui sisi lain dari istrinya. Auranya tidak kalah kuat dan menakutkan darinya, bahkan ia sendiri tadi merasa ciut. Segala langkah yang Litha pikirkan sebelumnya dan ketenangan saat mengeksekusi menjadi penentu berhasil tidaknya sebuah rencana yang barusan ia lakukan, menunjukkan bahwa Litha memang pantas menjadi seorang Pradipta.


- Bersambung -


❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️


Catatan :


Author pusing di bab ini karena mesti menyesuaikan fakta mengenai alur proses penetapan tersangka yang real . Maaf kalau ada salah-salah, referensinya bikin sakit kepala, Kak.


Jangan lupa Kak dukungannya Kak biar sakit kepalanya ilang dan lanjut lagi.


Oh Litha, kenapa Author buat karaktermu seperti ini ya, bikin pusing Author sendiri 😅

__ADS_1


Terimakasih 🤗


__ADS_2