
# Ruang Presdir #
Belakangan ini Ray lebih banyak diam di kantor dan di rumah, hanya di depan istrinya saja ia sebiasa mungkin bersikap. Bawaannya lebih serius tapi tidak mudah marah, jika ada hal-hal yang membuatnya kesal, ia serahkan sepenuhnya pada Abyan, terserah sahabatnya itu mau melakukan apapun.
"Ray, apa yang ada kau pikirkan?"
"Aku tidak bisa tenang Yan, kalau Baji*ngan itu belum tertangkap. Apa kau sudah mencari tahu dimana dia bersembunyi?"
Abyan tahu siapa Baji*ngan yang dimaksud Ray, "Ya, tapi dia tahu kalau sedang dalam pencarian, makanya dia selalu berpindah tempat."
Ray mengetuk-ngetuk pulpennya di meja, berpikir sesuatu, "Lalu pendonor itu sudah kau temukan orangnya?"
"Namanya Nezar Abigail. Kata petugas donor, dia tidak sengaja lewat di depan rumah sakit, lalu melihat ada keramaian wartawan dan mengetahui Nyonya Pradipta sedang membutuhkan darah. Tapi dia juga sering berpindah tempat, alamat di KTPnya adalah tempat tinggal kakaknya yang sudah menikah. Mereka jarang berkomunikasi, jadi ia tidak tahu adiknya tinggal dimana sekarang."
"Hah! Bisa-bisanya adiknya sendiri tidak tahu tinggal dimana, apa hubungan mereka tidak baik?"
"Entahlah, mungkin karena keterbatasan ekonomi. Kakaknya dengan istri dan 4 orang anakyang masih kecil tinggal di rumah petak sewaan di daerah padat penduduk pinggiran kota."
Hening sejenak.
"Kabar Ramona bagaimana, Yan?" tanya Ray kemudian.
Abyan tersenyum kecut, "Kau berharap apa? Hidup atau mati?"
Ray menyandarkan tubuhnya di kursi, "Kenapa dia bisa segila itu? Seperti apa cinta yang dia punya, kenapa sangat mengerikan? Ayah dan adiknya juga sama, mereka keluarga gila!"
"Dia memberikan badannya untuk melindungimu dari tembakan Sebastian. Apa kau tidak luluh padanya?" sindir Abyan.
"Litha juga akan melakukan hal yang sama jika di posisinya, dan aku juga akan melakukan hal yang sama untuk melindungi istriku."
"Cih. Pak Sas juga melakukan hal yang sama untuk Nyonya, bahkan aku juga akan melakukannya."
Ray terdiam. Di kadang bingung sendiri bagaimana pola pikir Pak Sas, Pak Is dan Abyan terhadap keluarganya, mengapa bisa se-setia itu? Apa yang membuat mereka rela mempertaruhkan nyawa dan hidup mereka untuk Keluarga Pradipta? Dimana neneknya menemukan orang-orang ini?
"Yan, kenapa kau tidak pernah memberitahuku kalau Pak Sas adalah pamanmu?"
"Itu tidak penting, Ray."
"Sialan! Bagimu tidak penting, tapi bagiku penting."
"Lalu apa yang mau kau lakukan kalau tahu aku keponakannya Pak Sas?"
"Tentu saja aku akan mengadu padanya saat kau membuatku kesal."
Abyan tergelak, "Dasar Bocah Egois!"
Ray pun ikut tergelak. Dia tidak pernah marah diumpat Abyan, karena ia tahu umpatannya hanya berada di bibirnya saja.
"Yan, kudengar Pak Sas menitipkan pesan buatmu agar kau melepaskan dr. Vivian untuk tunangannya dan mencari wanita lain untuk kau nikahi. Apa aku perlu membantumu?"
Uhuk.
"Siapa yang mengatakannya?" tanya Abyan canggung.
"Bibi Lidya meminta bantuanku mencarikanmu wanita yang baik seperti Litha untuk kau nikahi."
"Apa!?! Bisa-bisanya Ibuku mengatakan hal itu padamu."
"Bibi Lidya tidak mengatakannya langsung, ia menyampaikan melalui Litha. Dan kau tahu kan bagaimana Litha kalau menyangkut urusan wanitamu. Semangatnya melebih Ibumu. Aku yang dipusingkan, tiap melihatku pasti yang ia tanyakan, 'Sudah dapat, Mas?'. Hah, dipikirnya pekerjaanku itu mengurus jodohmu apa!"
Abyan tertawa mendengar gerutuan Ray. Ia bisa membayangkan mimik Litha saat menanyakanya.
"Yan, bagaimana kalau kau sama Si Tawon saja?" canda Ray.
"APA!?! Kau mau aku jadi adik iparmu! Huahahahaha ... Istrimu saja seumuran Dinda, apalagi Si Tawon, masih bau kencur hahahahah ..." sanggah Abyan merasa lucu kalau sampai terjadi.
"Jangan menilai orang dari luarnya. Kalau kau kesulitan mencari pengganti dokter itu, kau sama Vania saja. Meski bau kencur, dia tidak kalah dengan wanita dewasa untuk urusan keintiman dalam suatu hubungan. Aku pun kaget, dia bahkan jauh lebih pandai dari kakaknya. Hahahahahaha ..."
"Kurang ajar kau, Ray! Kau kira aku nantinya menikah hanya untuk begituan. Aku bukan maniak sepertimu!" kata Abyan kesal melemparkan bantal sofa yang ditangkap Ray dengan cengengesan.
"Kan ... ketahuan ... kau masih perjaka, kan? Kau belum pernah merasakan nikmatnya bercinta. Ah iya, aku lupa, kapan kau dekat dengan perempuan, hahahahahaha ... Percayalah Yan, kau akan maniak pada waktunya hahahahaha ..."
Ray habis-habisan menggoda Abyan yang mukanya sudah memerah, entah karena marah atau malu. Tanpa berkata apapun, dia berdiri lalu berjalan keluar diiringi suara tawa Ray yang membahana.
...***...
Setelah dua minggu Firza mengajukan sample rambut Ramona dan rambutnya, kini amplop tertutup itu di genggam Firza dengan tangan bergetar.
Di dalam mobil yang terparkir di area parkir sebuah laboratorium, Firza dengan jantung yang berdegup kencang membuka amplop coklat seukuran kertas HVS A4. Matanya terbuka lebar saat membaca bahwa tingkat probabilitas kecocokan antara dirinya dan Ramona adalah 92% atau dengan kata lain mereka adalah saudara kandung.
AAARRRRGGGGHHHH....
Firza berteriak histeris dan memukul-mukulkan tangannya ke setir kemudi. Ia serasa dipermainkan oleh takdir. Ramona adalah Fathia Isabella yang sepanjang hidupnya ia cari. Ramona yang selama ini berada di sekitarnya tanpa ia ketahui ternyata adik kandungnya.
Dddddrrrttt ... Dddddrrrrttt ...
__ADS_1
Ponselnya bergetar, nama Detektif Zeth tertera di layar ponsel.
"Ya halo, Detektif," suara Firza agak sedikit serak.
"Maaf, Tuan. Aku tidak tahu apa informasi ini penting bagi Anda atau tidak. Kemarin saya tidak sengaja bertemu dengan Tuan Sebastian, dia hidup berpindah-pindah sejak ditetapkan dalam Daftar Pencarian Orang oleh polisi. Saya mengikutinya sekarang, dia menginap di salah satu rumah sewaan di daerah Simpangan."
"Benarkah?" Kau bisa memastikannya?"
"Ya, Tuan. Saya yakin."
"Kalau begitu, tetap ikuti dia, jangan sampai kehilangan jejak."
"Baik, Tuan."
Sambungan telepon diputus. Firza masih memandangi angka-angka yang tertera di kertas itu, ia tidak tahu apa artinya, ia hanya paham DNA-nya cocok 92% dengan DNA Ramona, dan ia sudah tidak bisa menampiknya lagi.
Bahagia menemukan adiknya sekaligus kecewa. Ia tidak mengharapkan Ramona adalah Fathia kecil meski dari cerita Abyan sudah mengarah pada petunjuk sosok adiknya. Apalagi Ramona terlibat dalam insiden yang sangat buruk dan melukai Litha, wanita yang sangat disayanginya.
Namun bagaimanapun juga Ramona adalah adik kandungnya, satu ayah dan satu ibu. Mau tidak mau, suka tidak suka ia harus menerima kenyataannya. Firza tidak dapat menahan gejolak di dalam diri, ditelungkupkan wajahnya pada kedua tangan yang bertumpu di kemudi mobil. Ia menangis sesenggukan. Perasaannya bercampur aduk dan kemudian tangannya mengepal kuat.
"Jika saja dia diadopsi dengan tulus, Fathia kecilku tidak mungkin memiliki perangai seperti Ramona. Kau memanfaatkannya untuk mencapai tujuanmu. BANG*SAT KAU SEBASTIAAAAANNN!!!"
Firza kembali memukul-mukulkan kemudi setirnya dengan marah. Kemudian ia melajukan mobilnya dengan kencang ke rumah sakit, tempat Mona berada dalam keadaan koma.
.
.
.
Firza duduk di samping Ramona yang lemah tidak berdaya. Berkali-kali ia menekan bola matanya agar tidak mengeluarkan airmata.
"Ramona, aku tahu kau bisa mendengarku. Aku Firza Nathan Pradipta, Kau tahu siapa aku kan?"
Firza berhenti sejenak, mengatur suaranya agar tidak bergetar.
"Ya, aku bos mu." Firza tertawa getir.
"Apa kau diperlakukan baik oleh Keluarga Riguna? Apa mereka menyayangimu?"
Firza menatap lekat wajah cantik Ramona, ia sebelumnya tidak pernah memperhatikan gadis itu sedekat ini. "Apa mereka kerap menyakitimu?"
Firza tidak bisa menahan emosinya, wajahnya tertunduk. "Katakan padaku, Adikku, Fathia kecilku."
Pertahanan terakhir Firza runtuh juga, dengan menggenggam tangan Ramona ia menangis, "Kau adikku yang selama ini aku cari-cari, ternyata takdir berlaku kejam dan seenaknya pada kita. Setelah kita terpisah cukup lama, sekarang kita dipertemukan dalam keadaan seperti ini."
Meskipun Ramona dalam keadaan vegetatif, ia masih bisa mendengar suara di sekitarnya. Bisa dibayangkan betapa terkejutnya dia mendengar semua penuturan Firza yang diketahui adalah kakak kandungnya. Ia berusaha menjawab dan berteriak pada Firza, namun suara itu hanya tertahan dalam dimensi yang hanya bisa didengarnya sendiri. Ramona mencoba lagi, dan lagi, namun tetap saja tidak bisa di dengar Firza. Ia putus asa, lelah dan akhirnya menangis.
Airmata yang keluar dari sudut mata Ramona menuruni pelipisnya, Firza melihatnya dan menghapusnya.
"Jangan menangis Bella. Berjuanglah untuk hidup, aku akan membawamu ke suatu tempat dimana kau hanya akan menemukan kebahagiaan, tidak ada lagi kesedihan. Lupakan Rayyendra ... lepaskan dia. Cintamu padanya hanya kesia-siaan sama seperti cintaku pada Litha. Kita pergi dari kehidupan mereka, dari keluarga Pradipta maupun Keluarga Riguna. Kita akan memulai hidup baru dan menemukan cinta yang baru, Bella."
Pada akhirnya Firza dengan besar hati menerima kenyataan bahwa Ramona adalah adiknya. Segala penyangkalan yang sebelumnya ia rasakan luluh di hadapan adiknya. Seburuk apapun Ramona, ia adalah seseorang yang harus Firza bela dan lindungi karena dirinyalah tempat Ramona kembali dan keluarga sejatinya.
"Aku akan mengurus kepindahanmu ke London. Akan aku kembalikan identitas aslimu sebagai Fathia Isabella. Kau akan di rawat disana sampai sadar. Berapa lama pun akan aku tunggu. Tenanglah ... ada Kakakmu, panggil aku Kak Firza, percaya padaku," bisiknya di telinga Ramona, sekali lagi gadis itu meneteskan airmata ke pelipisnya. Apa yang ia rasakan hanya dirinya dan Tuhan yang tahu.
Merasa cukup, ia pamit dan keluar dari ruang ICU untuk segera mengurus apa yang tadi sudah ia bisikkan pada adiknya.
.
.
.
"Ray ..."
Betapa kagetnya Firza bertemu Rayyendra di depan pintu masuk ruangan. Mata mereka bertemu, Ray menemukan keanehan karena mata Firza sembab dan sedikit kemerahan.
"Za, kenapa kau ada di ruang ICU Mona? Apa yang kau lakukan?" tanya Ray menyelidik.
"Eh ... a-- aku ... aku hanya ingin melihatnya," ujar Firza gelagapan.
"Untuk apa?"
"Dia telah melukai Litha yang sudah kuanggap adik dan karenanya Pak Sas juga harus tewas karena berusaha melindungi Litha."
"Tapi kau terlihat seperti habis menangis?"
"Hhmmpppfff ... aku terbawa emosi dan perasaan, Ray," jawab Firza memberi alasan.
"Kau masih mencintai istriku, Za? Kenapa kau begitu terbawa perasaan?" cecar Ray mencurigai kakak angkatnya masih menaruh hati pada Litha.
Firza tersenyum, "Ray, apa aku boleh bicara denganmu?"
.
__ADS_1
.
.
Disinilah mereka berdua, duduk di taman yang berada beberapa meter dari ruang ICU.
"Ray, maaf kalau aku kali ini aku menyinggung ranah pribadimu."
"Ranah pribadi? Maksudmu istriku?"
Firza tertawa, adik angkatnya ini masih saja cemburu padanya.
"Bukan ... bukan Litha, tapi Ramona."
"Ramona?" Alis Ray menaut.
"Apa kau membencinya? Setelah yang ia lakukan pada istrimu namun juga melindungimu."
"Apa hubungannya denganmu?"
"Aku hanya ingin mendengar dari sudut pandangmu saja."
Ray berdiri dan memasukkan tangannya ke dalam saku celana, ia melangkah maju selangkah, matanya menatap langit yang berarak ke arah barat.
"Entahlah, Za. Aku tidak berhak melarangnya untuk mencintai siapapun termasuk diriku. Tapi aku memintanya untuk melepaskan cintanya padaku karena aku ingin melihatnya bahagia, tidak terpenjara oleh cinta yang semu karena aku tidak bisa memberinya harapan walaupun sedikit."
"Apa kau memang tidak mencintainya sama sekali, dulu mungkin, saat di Amerika?"
Ray tergelak, "Hubungan kami hanya keakraban layaknya saudara. Aku menganggapnya seperti Abyan dan Bona. Aku menjadi kekasihnya hanya untuk membuatnya senang, karena pikiranku hanya terfokus pada perusahaan apalagi setelah menggantikan Nenek menjadi Presdir. Berbeda dengan Litha. dia menarik perhatianku sejak mengajukan pertanyaan sindiran saat kuliah umum di kampusnya."
"Ramona yang salah memaknai arti cinta. Entah siapa yang mendoktrinnya bahwa cinta harus dimiliki bagaimanapun caranya. Tidak sepertimu yang bisa melepas Litha dengan pilihan hatinya," sambung Ray lagi.
Firza tersenyum kecut, ia ikut berdiri mensejajari Ray, "Kalau kau sendiri apa bisa melepas Litha seandainya dia memilihku?"
"Ya. Jika itu pilihannya dan membuatnya bahagia selama bukan karena suatu alasan tertentu."
Firza menepuk pundak Ray, "Itulah yang Nenek ajarkan, bahwa tidak selamanya apa yang kita inginkan selalu akan kita dapatkan meski bisa saja kita mendapatkannya ... Kau benar, Ramona menerima doktrin yang salah. Siapa lagi kalau bukan dari Sebastian."
Ada rasa pilu dalam hatinya saat mengatakannya. Dia dibesarkan dengan ajaran yang berbudi luhur, berbanding terbalik dengan didikan yang diterima adiknya.
"Za, aku akan melihat Ramona. Bagaimanapun juga aku harus berterimakasih padanya telah menjadi tameng dari timah panas yang ditujukan buatku."
"Kau tidak marah padanya?"
"Aku marah. Sangat marah dengan apa yang dilakukannya pada Litha dan bayiku. Tapi aku juga tidak bisa mengabaikan pengorbanannya untukku. Itu dua hal yang berbeda, Za. Seperti air dan minyak yang tidak bisa tercampur."
Firza terhenyak, dalam hatinya, ia salut pada pemikiran dewasa dari pria yang biasa bersikap temperamental. Ia kinu bisa membedakan hitam dan putih dengan menyampingkan egonya.
"Ternyata Litha banyak merubahmu ke arah yang lebih baik. Berbahagialah dengannya, Ray ..." bathin Firza mengantar kepergian Ray menuju ruang ICU.
.
.
.
Rayyendra menatap wajah mantan kekasihnya. Ada rasa benci karena hampir menghilangkan nyawa istri dan anaknya, namun juga masih tersisa sedikit rasa iba. Iba karena Ramona tidak bisa menerima kenyataan bahwa dirinya memilih Litha sebagai belahan jiwanya.
Ia duduk tegap di samping Ramona, tempat yang sama diduduki Firza. Dilihatnya sekilas alat penanda untuk adanya kehidupan si pasien sedang bekerja.
"Ramona, aku tahu kau masih bisa mendengarku, meski kau tidak bisa meresponnya," ucap Ray.
Mengambil nafas sejenak, lalu dihembuskan secara perlahan.
"Litha berbesar hati memberiku izin menemuimu untuk berterimakasih. Terimakasih sudah melindungiku dengan tubuhmu. Kalau tidak, aku yang berada di posisimu saat ini. Terimakasih kau masih mencintaiku dengan segenap nyawamu meski pada akhirnya aku tetap tidak bisa membalas cintamu."
Mengambil nafas sejenak lagi, lalu dihembuskan secara perlahan-lahan.
"Lepaskan aku, Mona ... agar hati dan jiwamu damai. Kau berhak bahagia walau tidak bersamaku. Aku mencintai istriku dan tidak bisa digantikan oleh siapapun meski ia sudah tidak ada lagi di dunia ini, bahkan di kehidupan berikutnya aku tetap ingin mencintainya. Usahamu sia-sia jika yang kau inginkan adalah menggantikan tempatnya setelah kau membunuhnya."
Ray mengintip arloji di pergelangan tangannya, ia tersenyum seakan memundurkan waktu ke beberapa tahun silam, "Kau ingat kenangan kita berempat di Amerika, kenangan sebelum kau memintaku menjadi kekasihmu. Bukankah itu kenangan yang paling indah? Kita berempat bersama karena persaudaraan. Kita seharusnya tetap seperti itu, Mona. Karena aku dari awal menyayangimu sebagai saudara dan itu tidak akan pernah berubah."
Ray berdiri, menatap Ramona lagi sebelum keluar dari ruang ICU. Meskipun dalam keadaan vegetatif Ramona masih bisa mendengar suara di sekitarnya, apalagi suara dari lelaki yang ia selalu rindukan.
Dalam dimensinya, Ramona berteriak memanggil nama Ray berkali-kali, ia memohon untuk jangan pergi meninggalkannya. Tapi, suaranya hanya didengar olehnya sendiri. Ia putus asa, buliran hangat mengaliri pelipisnya. Sayang, Ray tidak melihat dan mengusapnya seperti yang dilakukan Firza. Pria itu berlalu begitu saja meninggalkan dirinya.
Sakit.
Tentu saja menyakitkan.
Tidak ada lagi keinginannya untuk hidup meski ditawari kehidupan yang lebih baik dari kakak kandung yang baru diketahuinya. Ramona hanya butuh Ray, tidak siapapun atau apapun. Dia sudah melindungi lelaki yang dicintainya dari tembakan Sebastian dan berharap dirinya akan diterima di hati Ray, kini pupus sudah. Dengan gamblang Ray malah mengatakan betapa ia mencintai istrinya sekarang dan di kehidupan berikutnya atau di kehidupan lain.
Jadi, buat apa dia hidup kalau begitu? Tidak demi kakak yang baru diketahuinya juga. Selama ini ia merasa sendiri dan sampai kapanpun dia juga tetap sendiri.
Tiiittt ...
__ADS_1
Pukul 20.15 waktu setempat Ramona memutuskan untuk tidak akan pernah melepaskan cintanya pada Rayyendra, ia lebih memilih untuk melepas dirinya dari dunia dengan membawa serta cintanya.
- Bersambung -