
Pesawat sudah siap untuk take off, Litha dan Ninda segera memasang seatbelt. Pelayanan kelas VVIP diberikan kepada kedua sahabat itu, dengan noraknya mereka saling berkomentar, menyentuh, mengagumi dengan sorot mata takjub seisi pesawat.
"Agenda Nyonya Muda setelah sampai di Kota A akan saya sampaikan 10 menit sebelum landing. Jika dalam perjalanan ini Nyonya Muda dan Nona Ninda membutuhkan sesuatu bisa menghubungi saya atau awak kabin," ujar Pak Sas.
Litha mengangguk mengerti, disusul Pak Sas membungkuk hormat dan beranjak dari ruang kabin Litha dan Ninda.
Ninda tidak bisa berkata apa-apa, saat ini dia bisa merasakan naik pesawat pribadi dan dilayani dengan eksklusif berkat sahabatnya menjadi Nyonya Muda Keluarga Pradipta.
Sesampainya di Kota A, jadwal Litha sudah menanti. Esok lusa ia akan resmi menjadi istri presdir, segala rangakaian persiapan menjelang pernikahan kini dilakoni.
"Tha, ini tidak nampak sekali seperti pernikahan kontrak. Semua disiapkan dengan matang sekali, padahal waktunya hanya satu minggu setelah kau mengiyakan. Kurasa ini memang sudah dipersiapkan sebelumnya deh," bisik Ninda saat mereka berdua di ruangan spa.
"Pssstttt, Ninda jangan ucapkan kontrak lagi. Itu kata yang sangat tabu, oke? Anggap saja ini pernikahan sungguhan." Litha melotot ke Ninda.
"Iya, iya, ini kan memang nikah sungguhan, bukan adegan sinetron. Resmi dicatat negara dan sah secara agama."
"Pssssttt, sudah kubilang, hentikan! Gimana kalau ada yang dengar, bisa kacau semua. Sudah, daripada membicarakan aku, lebih baik kau ceritakan calon suami palsumu, terus terang semalaman aku terganggu dengan teleponnya yang tidak kau angkat-angkat."
"Ah, Bona sangat membuatku kesal, Tha."
"Oh ... Namanya Bona? jadi ingat Si Bona, gajah kecil berbelalai panjang di majalah Bobo, hahahaha...."
"Husss ...."
"Maaf, maaf, tapi kenapa kau kesal?"
"Entah bagaimana, mantan pacarnya tahu kalau aku calon istrinya Bona, dan dia meneror teleponku untuk putus dengannya, kubilang padanya sabar dulu, tunggulah sebulan, aku dan Bona akan putus. Bona marah aku mengatakan seperti itu pada mantan pacarnya."
"Kenapa dia marah?"
__ADS_1
"Gak tahu! Dan Bona berani menciumku tanpa ijin di depan Airin, mantannya itu, ketika kami tidak sengaja bertemu di sebuah restoran. Dia mengatakan akan menyewaku untuk tetap menjadi calon istrinya jika waktu kesepakatan kami telah berakhir supaya Airin cemburu."
"Kamu dicium? dan menyewa, maksud menyewa bagaimana?" tanya Litha kaget, ia lupa ia juga pernah dicium tanpa ijin.
"Salahku, aku pernah menawarkan padanya jika ia masih butuh calon istri semu bisa menyewaku 5 juta perbulan."
"Ha? Ninda! Kamu murahan banget sih! Okelah waktu itu demi nolongin Evan dan teman-temannya, tapi kenapa kamu ingin dibayar, iiihhh... " Litha kesal mendengar jawaban sahabatnya.
"Waktu itu sebenarnya aku bermaksud ia menyewaku hanya untuk di depan keluarganya saja, ya, aku sekalian minta tarif, masak aku sukarela jadi calon istri semunya sih, Tha. Tapi sekarang dia malah ingin menyewaku untuk memprovokasi Airin. Tidak sudi!"
"Hhhhhh.... salahmu, Nin."
"Dibayar 5 juta, tapi aku diteror mulu sama Airin. Jelas aku tolaklah! Nah, ketika memang sudah waktunya kami putus, dia berganti alasan mau menyewaku karena Mami dan Milla Milly marah aku putus dengannya. Dasar lelaki banyak alasan! Aku tidak mau mengangkat teleponnya. Itu urusan dia dengan keluarganya. Aku sudah tidak mau ikut campur lagi."
"Aihhh.... pusing aku Nin, mendengar ceritamu," ujar Litha memijit keningnya.
Di saat yang sama, Bona merengek meminta jalan keluar pada Abyan untuk membujuk Ninda mau bersandiwara lagi di depan keluarganya.
"Ah, Yan ... setidaknya katakan sesuatu padaku. Ray saja yang kau pedulikan," sungut Bona.
Abyan menghela nafasnya dan akhirnya meluangkan waktu duduk di samping Bona, "10 menit untukmu."
"Airin memintaku kembali padanya. Aku bingung, karena Mami dan Milla Milly hanya setuju aku dengan Ninda."
"Hhhhhh ... kau menggali kuburmu sendiri, Bon. Bagaimana seandainya mereka tahu selama ini kau berpura-pura?"
"Aku terpaksa memberitahu kalau selama aku bersandiwara karena mereka sangat cerewet. Tapi malah aku yang dimarahi dan mereka tidak mau tahu, aku harus membawa Ninda kembali ke rumah bertemu mereka. Mana sekarang aku tidak tahu Ninda dimana, dia tidak mau mengangkat teleponku. Aaarggghhh... "
"Ninda? nama itu terasa tidak asing bagiku. Ah, biarkan Bona dengan masalahnya, masih banyak yang harus ku urus." gumam Abyan tidak peduli.
__ADS_1
Abyan berdiri, ia menepuk pundak Bona, "Lupakan sejenak, bebaskan pikiranmu dulu. Bersiaplah ke Kota A besok, sapatau disana kau akan mendapat pencerahan. Aku permisi dulu, aku harus yakin Mona tidak akan mengganggu pernikahan Ray, wanita itu sekarang sering diluar kendali."
"Ya, mungkin lebih baik seperti itu. Aku sebenarnya kasihan dengan Mona, bagaimanapun dia sangat mencintai Ray, ditinggal menikah dengan wanita lain pasti membuatnya gila."
Abyan tersenyum dan meninggalkan Bona sendiri di ruangan. Ia adalah orang yang paling disibukkan dengan pernikahan Tuannya setelah Pak Sas.
...🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀...
#Malam terakhir sebelum Litha melepas masa lajangnya#
Berada di kamar president suite, lantai dua belas sebuah hotel termewah di kotanya membuatnya leluasa memandang langit cerah bertabur bintang dari jendela kamarnya. Ini adalah kamar pengantinnya, tapi ia meminta untuk tidur sekamar dengan ibunya malam ini.
"Apa kau merasa tegang dengan pernikahanmu besok?" tanya Ibu mendekatinya yang sedang melihat langit malam.
"Tidak, Bu. Sama sekali tidak. Aku hanya teringat waktu-waktu yang lalu, saat kita semua masih lengkap dan berkumpul." Litha menurunkan tubuhnya bertumpu pada lutut agar wajahnya sejajar dengan wajah Ibu.
"Mulai besok, hidupmu pasti akan berubah, Nak. Tapi Ibu yakin, Litha-nya Ibu tidak akan berubah sama sekali. Selalu tegar, penuh semangat, pantang menyerah dan baik hati." Ibu menangkup wajah Litha dengan senyum tulusnya, memberi kehangatan.
Litha memeluk ibunya lama, lalu berkata lirih, "Ibu, aku takut."
Seketika airmata ibunya jatuh. Dipeluknya erat-erat untuk mentransfer sisa kekuatan yang ia punya untuk putrinya. Ia bisa merasakan ketakutan Litha saat ini, ketakutan akan sesuatu yang tidak nampak namun jelas terasa, ketakutan yang tidak diketahui akan berujung dimana, ketakutan seperti di sebuah lorong gelap tanpa harus tahu mau bergerak kemana.
"Litha, tiada harapan tanpa adanya kecemasan. Jangan takut, sebuah terowongan memang gelap dan panjang, tetapi begitu kau mulai melangkah di dalamnya, kau sudah menuju jalan keluar dari situ. Percaya pada dirimu, Nak."
"Ibuuuuuuuuuu ........ "
Litha memanggil ibunya pilu dengan terisak keras, bahunya naik turun mengguncang tubuh ibunya. Baru kali ini ia berani mengungkapkan rasa takut yang selama ini ditahannya sendiri.
Ibu menepuk pundaknya pelan beberapa kali, seakan mengatakan, 'tidak apa-apa, ada Ibu disini' meski mata Ibu juga bercucuran dengan airmata.
__ADS_1
Ternyata Litha tak sekuat yang dirinya kira, ia hanya berupaya terlihat kuat dan baik-baik saja. Litha hanyalah perempuan biasa, perempuan yang juga memiliki emosi juga rasa sedih, takut, cemas, bimbang dan perasaan lainnya.
- Bersambung -