Istri Wasiat Tuan Muda

Istri Wasiat Tuan Muda
CRF : Menarik Perhatian


__ADS_3

#Di lain tempat, ketika Ray dan Abyan masih berada di mobil#


"Lithaaaa ... !!!"


Yang punya nama menoleh ke arah sumber suara.


"Nindaaaa ... !!!"


Mereka berpelukan seakan sudah lama tidak bertemu, pelukan erat dan bergoyang ke kanan ke kiri. Pak Sas mengode Ninda untuk tidak melakukan gerakan berlebihan dengan ekor matanya yang tajam, padahal itu memang cara mereka kalau berpelukan.


"Kenapa di sini? Kamu ikut lari, kan?"


"Iya, tapi acaranya belum dimulai, masih nunggu Suamimu. Dimana dia?"


"Lah, seharusnya dia turun dari mobil setelah aku keluar, tapi-- mungkin saja Asisten Yan yang enggan."


"Kenapa emangnya?"


"Aku memaksanya memakai celana lari warna pink. Apa aku keterlaluan Nin? Aku jadi gak enak sama dia?"


"Hah! Celana pink? Asisten Yan lari pakai celana pink. Huahahahahahaha .... Litha, kau akan membuatnya viral nanti hahahahahahah .... "


Ninda terbahak-bahak membayangkannya dan akhirnya juga membuat Litha ikut melakukan hal yang sama.


"Ck, aku sepertinya keterlaluan banget, Nin. Pak Sas, kita kembali ke mobil ya, memberi celana ganti buat Asisten Yan."


"Tidak perlu Nyonya, acaranya sudah akan dimulai. Biarkan saja dia dengan celana pink-nya, seperti yang Nyonya bilang, dia terlihat imut. Nyonya berganti pakaian saja dulu."


"Kau mau ganti pakaian? Kenapa?" tanya Ninda pada Litha.


"Iya, sesak Nin. Perutku cepat sekali membesar, aku ingin berganti dress saja, temani aku dulu ya ke sana," kata Litha menunjuk kamar ganti umum.


"Kok gak ganti di kamar ganti Tuan Muda saja, Tha? Kan, sponsor utama pasti disediakan tempat tersendiri, kenapa ke kamar ganti umum?"


"Udah, jangan cerewet! Cukup temani aku saja, lalu kau ikut lari dan aku mengelilingi tempat ini mencoba semua makanannya, mumpung Suamiku memberi izin aku boleh memakan apapun di sini. Pak Sas, aku ganti baju ditemani Ninda, Bapak tunggu di sini saja ya?"


"Pastikan Anda tidak terluka, Nyonya, dan tolong jaga Nyonya, Nona Ninda," kata Pak Sas berbicara dua arah, pada Ninda dan Litha.


Ninda hanya mengangkat jempolnya lalu membiarkan tangannya si gandeng sahabatnya menuju kamar ganti.


"Tha, ada menu baru yang enak banget di kafe Om-ku. Kau harus coba!"


"Pasti Nin, itu sudah masuk dalam rencanaku, aku juga akan menunggu Suamiku di sana,"


Litha masuk ke dalam salah satu bilik kamar ganti, Ninda menunggunya di luar bilik sambil menge-chat Bona.


Tunggu bentaran ya, Bon. Aku lagi temani Litha berganti pakaian. Oh ya, nanti kalau ketemu Asisten Yan, jangan lupa foto seluruh badannya ya biar kelihatan celana pink-nya hahahahaha....


Setelah mengklik send, Ninda dengan senyum-senyum sendiri, membayangkan raut muka Asisten Yan.


"Apa yang membuat Asisten Yan mengenakan celana berwarna pink? Okelah kalau untuk di rumah, lah ini ... dipakai di acara semeriah ini dan diliput media. Apa dia sengaja ingin menarik perhatian?


Tapi-- manis juga sih kalau cowok pakai sesuatu yang berwarna pink. Misalkan Bona pakai baju pink sepertinya sweet sih ... Halah! berpikir apa aku!"

__ADS_1


Lagi asyik-asyiknya Ninda bermonolog ia mendengar suara pintu bilik kamar ganti dibuka, Ninda mengira Litha sudah selesai, namun retinanya bukan manangkap sosok Litha melainkan Ramona.


Deg ....


"Kenapa kebetulan sekali si Mak Lampir ada di sini? Duh, Lith, kamu jangan keluar dulu ya, hush ... cepatlah pergi!" harap Ninda cemas dalam hati, sangking cemasnya, ia tidak sengaja menekan pilihan jawab pada ponsel yang masih berada dalam genggaman tanpa melihat siapa yang meneleponnya.


Ninda pernah mendengar kalau Ramona berusaha memprovokasi Litha dan menamparnya di Kota A dari Bona, kejadian itu bahkan bisa terjadi di depan suaminya. Bukan tidak mungkin hal tersebut akan terjadi lagi, tapi sekarang tidak ada siapapun di ruangan ini yang melindungi Litha.


"Dia kan temannya Litha, lagi nungguin siapa? Tidak mungkin temannya itu, kan? Masak dia berganti pakaian di tempat umum begini," kata Ramona dalam hati menelisik diam-diam gadis imut itu.


Ceklek.


Mata Ninda terbelalak menatap pintu bilik di depannya yang akan terbuka, sedetik kemudian seorang wanita hamil keluar dari dalam dengan tersenyum lega karena sesak di tubuhnya menghilang.


.


.


.


Bona yang menerima chat dari Ninda, mengernyit heran.


"Apa maksudnya? Foto Abyan? Celana pink?"


Semenit kemudian ia baru paham maksud Ninda, ia terpingkal-pingkal melihat Abyan yang mengenakan celana olahraga berwarna pink. Tidak menyia-nyiakan kesempatan, ia segera mengambil foto candid sahabatnya.


.


.


.


Ray memang tidak melihat bagaimana Abyan berjalan di belakangnya, tapi pandangan orang-orang yang terpukau melihat kawannya itu cukup membuatnya geli. Ia justru enggan melihat Abyan, ia pasti tidak akan bisa menahan tawanya jika melihatnya sendiri, dari jauh dia juga melihat Bona yang tertawa tanpa henti.


Abyan benar-benar seperti melewati ujian mental terbesar dalam hidupnya karena titah tertinggi, Nyonya Muda-nya. Dia menjadi bintangnya kali ini, semua mata berpusat pada dirinya, pada celana pink yang dipakainya meski ada sosok Tuan Muda Pradipta yang selalu mencuri perhatian di setiap kesempatan, kecuali saat ini. Tidak ada jalan lain selain tetap percaya diri, menegakkan kepalanya seperti biasa.


Di kala Abyan sedang membangun percaya dirinya, netranya menangkap dr. Vivian yang menahan senyum ke arahnya. Kontan rasa malu luar biasa menyergap seluruh tubuhnya, ia tak bisa mengangkat wajahnya lagi.


"Selamat datang, Tuan Pradipta, Tuan-- Ab-- Abyan," sambut Danu Kusuma agak terbata menyebut nama Abyan karena matanya menangkap warna yang identik dengan perempuan di tubuh Asisten Tuan Muda itu. Ia lalu menyilakan mereka berdua untuk ikut bergabung bersama rombongan orang-orang penting lainnya.


Begitu Ray dan Abyan bergabung, semua media langsung beraksi meliput. Banyak orang penting disana, tapi yang menarik perhatian mereka adalah celana olahraga milik Abyan yang sangat mencolok.


"Selera Anda sangat berbeda, Tuan Abyan," ucap Gubernur Johan menahan senyumnya.


"Anda nampak berbeda namun sangat tampan," komentar istri Gubernur Johan yang diselingi tawa lainnya.


"Benar, pria penyuka warna pink adalah pria yang percaya diri, romantis, hangat dan ramah. Kami, kaum perempuan menyukainya." Walikota Irene ikut menimpali, jujur ia terkesima dengan penampilan Abyan yang terlihat menyegarkan di matanya.


"Ya, Walikota Irene, betisnya pun terlihat sexy," sahut istri Gubernur Johan lagi yang langsung mendapat kecaman dari mata suaminya. Semua yang hadir disitu terbahak melihatnya.


Abyan sudah tidak tahu harus bagaimana menanggapi mereka, ia tidak begitu memperhatikan, netranya hanya menatap dari kejauhan sosok wanita berkacamata yang tadi menahan senyumnya kini tengah dirangkul seorang pria yang juga berkacamata dan mereka melakukan swafoto.


"Hahahaha ... ternyata tidak salah istriku memilihkan warna ini untuknya, katanya Asisten Yan akan lebih mudah menarik perhatian kaum hawa kalau mengenakan baju warna pink. Tapi karena kita harus memakai baju putih, jadi celananya saja yang pink." terang Ray berkelakar, tapi itu memang benar, itulah alasan Litha membelikan Abyan celana olahraga warna pink, agar ia mudah menarik perhatian wanita.

__ADS_1


Abyan tersenyum kecut mendengarnya, "Apa kalian ingin mencarikan aku kekasih, hah!"


"Oh ya, dimana Nyonya Pradipta? Mengapa ia tidak dibawa serta? kegiatan ini sangat cocok untuk keluarga." Giliran Danu Kusuma yang angkat suara.


"Dia ikut, Tuan, hanya saja istriku sedang mengandung anak pertama kami, jadi dia cukup menikmati kuliner saja. Dan dia menanyakan kafe Anda, dia sangat menyukai beberapa menu di sana."


"Wah, selamat Tuan, sebentar lagi akan menjadi seorang ayah."


"Selamat Tuan, semoga dilancarkan sampai hari kelahiran."


"Selamat Tuan, kalau saja media tahu pasti ini akan jadi headline news seperti sewaktu Anda menikah diam-diam kemarin."


Semua orang-orang penting disitu memberikan ucapan selamat karena mengetahui Nyonya Pradipta hamil, tapi komentar terakhir yang di dengar Ray justru membuatnya flashback pada masa lalu, di saat ia yang menghendaki pernikahannya tidak diketahui publik, sekarang saat istrinya hamil, justru Litha yang belum siap untuk muncul di tengah-tengah publik.


"Apa seperti ini yang kau rasakan waktu itu, Litha? Tapi kau memendamnya sendiri ... " bathin Ray merasa bersalah pada istrinya.


.


.


.


Saat MC mengumumkan bahwa acara akan segera di mulai, Bona gelisah menunggu Ninda. Di-chatnya nomor gadis itu, tapi tak juga dibalasnya.


"Dimana Kak Ninda, Kak?" tanya Mila.


"Kak Ninda jadi kesini, kan? Aku mau ngasih tahu kalau Kak Abyan manis banget pake celana pink," sahut Mili.


"Hah! Manis?!? Iya manis ... Abyan seperti gulali yang berwarna pink itu hahahaha .... Gak perlu ngasih tahu Ninda, dia malah yang memberitahuku kalau Abyan pakai celana pink hahahaha .... Tapi dia dimana ya? Dimana Litha berganti pakaian?"


"Litha?!? Istrinya Kak Ray maksudnya ya? Wah, pengen lihat Kakak Ipar! Dia seperti apa ya sampai bisa menaklukan laki-laki cool seperti Kak Ray?"


Mila antusias mendengar nama Litha, selama ini ia sangat penasaran dengan sosok Litha, sering ia bertanya pada kakaknya, tapi tidak ada informasi sedikitpun yang bisa di dapat. Mila Mili memanggil Litha dengan sebutan Kakak Ipar karena mereka berdua sudah dianggap adik oleh Ray, bahkan setiap ulang tahun mereka, hadiah dari Ray adalah hadiah yang paling ditunggu.


"Salah! Kak Abyan yang cool, kalau Kak Ray itu cooldest sampai orang-orang disekitarnya ngefreeze. Iya ... aku juga penasaran dengan Kakak ipar, apa dia secantik Kak Ramona?" tanya Mili.


"Hah! Kalian ini ribut sekali! Jangan banding-bandingkan dia dengan perempuan lain, dia akan sangat marah dan marahnya itu mengerikan sekali," jawab Bona bergidik mengingat bagaimana Litha memukulnya karena membandingkannya dengan Ramona.


"Wawww ... Keren!!!" kata Mila Mili bersamaan takjub.


"Hah! Apanya yang keren! Itu namanya galak. Sudahlah aku akan menelepon Ninda," sanggah Bona yang melirik jam di pergelangan tangannya diiringi tawa Mila Mili.


"Lama sekali Ninda menemani Litha ganti pakaian," gumam Bona sambil menekan nomor Ninda.


Mila Mili saling berpandangan, mata mereka membulat, "Kak Ninda temenan sama Kakak Ipar?" tanya Mila pada Bona.


Bona tidak begitu menghiraukan pertanyaan adiknya, panggilannya di angkat Ninda, tapi bukan suara Ninda yang terdengar melainkan suara seseorang yang ia kenal, itupun ada jeda beberapa detik sebelum terdengar suara itu.


"Iya," jawab Bona singkat.


"Wawww ... Keren!!!" sahut mereka bersamaan lagi.


Bona menggelengkan kepalanya melihat tingkah adik kembarnya yang sangat kekanak-kanakan dan ia berlalu dari kedua adiknya yang ribut sendiri sambil menajamkan pendengarannya di ponselnya.

__ADS_1


- Bersambung -


__ADS_2