Istri Wasiat Tuan Muda

Istri Wasiat Tuan Muda
Berjuang Sampai Akhir


__ADS_3

Seperti biasa di akhir pekan Rayyendra bermain golf dengan beberapa kolega bisnisnya, berolahraga sembari membicarakan bisnis merupakan tujuan Rayyendra rutin bermain golf di sabtu pagi.


Litha juga tidak mau kalah sibuk, ia ingin memanjakan diri di spa, melakukan perawatan diri bersama sahabat tentu yang pilihan tepat. Litha tidak diperkenankan Pak Sas untuk bepergian sendiri jadinya ia diantar jemput oleh mantan asisten Nyonya Besar itu.


"Tha, kau kini layaknya sosialita, kemana-mana naik mobil mewah yang disopiri asisten pribadi. Mana berlianmu, Tha?" Ninda menggoda Litha dengan berbisik, tapi Pak Sas yang berada di balik kemudi tetap dapat mendengar celotehan Ninda, ia melirik sebentar ke arah dua wanita muda itu melalui kaca spion depan.


Litha mencubit lengan Ninda menyuruhnya diam, ia tidak enak kalau sampai didengar Pak Sas. Asisten Pribadi? Sopir? Dia sama sekali tidak pernah menganggap Pak Sas seperti itu, ia menghormati Pak Sas seperti menghormati ayahnya karena usia mereka tidak terpaut jauh, begitu pula dengan Pak Is. Litha sesunggguhnya penasaran dengan latar belakang mereka berdua dan bagaimana mereka bisa sangat setia pada Nyonya Besar Pradipta padahal beliau sudah tidak ada di dunia.


Litha dan Ninda sangat menikmati pelayanan perawatan tubuh dari sebuah spa yang kini lagi naik daun. Tidak disangka, ketika mereka baru saja keluar dari sauna bertemu dengan Ramona yang baru saja mau memulai perawatan.


Ini kali pertama si istri bertemu dengan mantan kekasih dari sang suami. Ada sedikit canggung antara Litha dan Ramona, sedangkan Ninda ingatannya masih meloading wajah Ramona, entah bertemu dimana tapi ia merasa familiar dengannya. Litha hanya menunjukkan reaksi tersenyum dan permisi melewati Ramona.


"Tunggu." Ramona menghentikan langkah Litha, juga Ninda.


"Kau Litha, kan? Istri presdir yang wajahnya diblur?" sindir Mona sinis.


Litha menanggapinya dengan tersenyum dan mengangguk menanggapi sindiran untuknya. Ninda kaget mendengarnya, ia baru menyadari bahwa wanita yang menghentikan mereka adalah Ramona, kekasih presdir Pradipta Corp. yang sering muncul di majalah fashion.


"Waduh, bakal ada pertarungan sengit ini!" bathin Ninda gugup.


"Tidak tahu malu! Berapa kau dibayar untuk menjadi istri kontraknya?"


Mona mulai tersulut emosi yang ia pancing sendiri. Litha dan Ninda pun terkejut dengan apa yang dikatakan Ramona barusan.


Kontrak.


Dia tahu darimana? Suara hati Litha dan Ninda kompak bertanya dalam hati.

__ADS_1


"Tidak perlu kaget begitu. Kau kira aku tidak tahu apa? Kau hanya istri kontraknya demi memenuhi wasiat Nyonya Besar. Pasti kau heran aku tahu darimana? Tentu saja dari sumbernya langsung. Aku hanya perlu bersabar sedikit lagi. Setelah waktu kontrak selesai kau akan ditendang."


Ramona memprovokasi dengan melukai harga diri Litha, namun Litha hanya menatap lurus manik Mona dengan senyum yang masih terpasang di wajahnya.


"Tha..." bisik Ninda pelan.


Litha sangat sadar bahwa apa yang dikatakan Ramona benar adanya, dan ia tahu posisinya di rumah utama penuh dengan manipulasi. Tapi ia lebih menyadari, tidak ada yang membelanya selain dirinya sendiri dan ia harus kuat di depan orang yang merendahkan dirinya, kalau tidak harga dirinya akan semakin terinjak.


"Lalu kenapa?" satu sudut bibir Litha naik ke atas, menantang provokasi Ramona.


"Kau masih tanya kenapa? Sadarlah! Apa bedanya seorang pelacur denganmu? Caramu saja lebih halus tapi intinya sama, menjual tubuh demi mendapatkan uang. Wanita sepertimu pasti memanfaatkan wasiat itu."


Ninda yang ikut mendengarnya sangat marah dan sakit hati, tangannya mengepal ingin membalas perkataan Ramona, tapi diurungkan niatnya karena Litha masih bisa menatap tajam lawannya.


"Oh ya? Sampai sejauh itu kau tahu ternyata. Meski aku hanya istri bayaran setidaknya posisiku sekarang adalah istri sah yang diakui secara agama dan negara. Bagaimana denganmu? Apa yang bisa kau katakan dengan posisimu? Walaupun kau wanita yang dicintai Rayyendra tapi apa yang bisa kau perbuat?"


Litha menutup serangannya dengan apik hingga Ramona tidak bisa membalasnya.


"Litha, kau memang luar biasa! Kau sama sekali tidak menunjukkan kelemahanmu padahal aku tahu, kau pasti terluka," bathin Ninda menatap kagum sahabatnya.


Litha berbalik dan meninggalkan Ramona yang bingung mau membalas apa, justru semakin mengacaukan kepercayaan dirinya sendiri. Jangan-jangan memang benar ia merasa terancam dengan kehadiran Litha di sisi Rayyendra?


Ninda menyusul mengikuti Litha ke ruangan sebelah untuk tahap message, setelah menekan tombol stop rekam suara di ponselnya.


Litha sebenarnya cukup syok dengan perkataan Ramona tadi, memorinya melayang ke arah kampusnya dengan rumor yang menudingnya baby sugar. Dalam hidupnya ia akui, ia memang sangat membutuhkan uang, dan ia akan bekerja keras untuk mendapatkannya, namun ia juga tahu batasan mencari uang dalam norma agama dan adat ketimuran. Ironisnya, ia malah terjebak dalam kontrak yang dibuatnya sendiri.


"Tha, apa kau baik-baik saja?" Ninda melihat air yang menggenang di pelupuk mata gadis cantik itu.

__ADS_1


Litha hanya mengangguk dan lagi-lagi tersenyum. Namun Ninda tahu ia sedang tidak dalam keadaan baik-baik saja. Tanpa diminta ia langsung memeluk sahabatnya.


"Makasih, Nin. Semoga ini semua cepat berlalu."


Litha melepas pelukan Ninda. Ini memang tidak mudah untuknya, tapi ini keputusan yang sudah ia ambil, jadi bagaimanapun juga ia harus berjuang sampai garis akhir.


...🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀...


"Yan, ada kemajuan di kasus ekspor batu bara kemarin?" tanya Ray di dalam mobil, menuju rumah sepulang dari lapangan golf.


"Sementara ini, bagian audit butuh waktu untuk memastikan jika Sebastian terlibat agar tidak muncul kesalahpahaman, karena dia ayah Ramona."


"Apa Firza tahu mengenai hal ini?"


"Secara langsung, saya tidak tahu, Tuan. Tapi saya rasa Tuan Firza sudah mengetahuinya, karena ia wakil presdir, bagian audit kan di bawah kewenangannya."


"Kalau ia memang sudah tidak tahu, kenapa dia tidak menghubungiku dan sewot seperti kasus Sebastian dulu?"


Di benua lain yang terpisah oleh jarak bermil-mil jauhnya, Firza mengawasi bagian audit, atas perintahnya langsung ia meminta agar tim khusus yang menyelidiki kasus penggelapan ekspor batu bara lebih fokus untuk memastikan bahwa Sebastian punya andil disitu.


Jika Sebastian terbukti merugikan perusahaan, ia sebagai wakil presdir akan mengambil tindakan tegas meski ia akan melawan Ray secara terang-terangan di depan petinggi perusahaan. Dulu ia mengalah di rapat evaluasi saat pemberian hukuman disiplin pada Sebastian karena ia tidak ingin bersiteru panjang mengingat jantung Nenek yang lemah.


Namun tidak kali ini, ditambah dengan penyebab sejarah kelam hidup gadis yang ia cintai. Firza akan menempuh jalan lain untuk membalas perbuatan Sebastian di masa lalu dikarenakan Litha tidak ingin mengungkitnya kembali sekaligus melindungi hasil jerih payah yang telah dibangun Keluarga Pradipta.


Informasi dari Detektif Zeth tentang kemarahan Sebastian karena Ray tidak menikahi putrinya membuat Firza juga mencurigai sesuatu. Mengapa ia begitu marah dan berambisi agar ia menjadi mertua dari Presdir Pradipta Corp.? Apa Ramona selama ini memanfaatkan hati polos Ray yang tidak pernah berinteraksi dengan wanita selain Nyonya Besar? Begitu banyak pertanyaan konspirasi yang berputar di kepalanya?


Tujuan hidupnya kini adalah menyelamatkan Pradipta Corp. dari orang-orang yang berniat jahat, melindungi Rayyendra yang telah ia anggap adik kandungnya sendiri dan mencintai Litha dengan cara berbeda karena ia menyadari gadis yang ia cintai setulus hatinya tidak berada di garis takdirnya.

__ADS_1


- Bersambung -


__ADS_2