
Keesokan paginya, ruang makan sudah ramai, namun Tuan dan Nyonya Pradipta belum juga menampakkan batang hidung mereka.
"Pak Is, coba periksa kamar Tuan Muda, siapa tahu ada sesuatu," cemas Lidya melihati pintu kamar utama dari tadi.
"Haisshh ... Bibi tidak perlu khawatir, palingan sebentar lagi Kak Litha keluar. Bumil kan gak bisa tahan lapar, kalau masih dicegah Kakak, siap-siap saja kita dengar teriakan--"
"NIAAAA ... "
"Ya Kakak ... Aku datang!!!" Vania membalas teriakan dari dalam kamar utama, "Tuh, kan Bi ... ini saatnya Sang Penyelamat datang hahahaha ... " sahut Vania dengan tertawa dan langsung berlari menuju pintu kamar.
Memanggil nama Vania memang jurus penyelamatan jitu yang dilakukan Litha jika sudah kewalahan mengahadapi kebuasan pemilik tongkat sakti. Vania dengan tidak tahu malu akan terus menggedor pintu kamar tanpa henti sampai ia dibukakan pintu.
.
.
.
"Ray, gudang kita yang di daerah Rawa Duri habis terbakar."
Abyan memberikan informasi saat mereka semua sarapan.
"Terbakar? Kapan?" tanya Litha kaget, bukan hanya Litha saja tapi semua yang ada disitu.
"Tadi malam. Gudang itu gudang pertama yang dibangun oleh Pradipta Corp. Sudah lama tidak digunakan karena letaknya jauh dan biaya renovasinya besar," jawab Abyan.
"Sudah, tidak apa-apa. Itu hanya gudang tua yang terbengkalai ... Syukurlah terbakar, karena setahun terakhir gudang itu sering dijadikan tempat uji nyali. Bahkan kalau tidak terbakar tadi malam, akhir tahun ini, aku yang akan meratakannya dengan tanah," sahut Ray mengiris roti isi daging asap atau yang biasa disebut sandwich.
Tiba-tiba Litha meringis memegangi perutnya, semuanya panik. Ketika Ray meminta Pak Is untuk menelepon dr. Lena, Litha segera bersuara, "Tidak apa-apa-- Sakitnya sudah hilang. Maaf, mengacaukan sarapan pagi ini ... Ha-- hanya sedikit kontraksi, tapi sudah hilang, memang seperti ini kan, Bi menjelang HPL?"
Lidya mengangguk, tersenyum canggung.
"Ah, kau Lith ... hampir saja membuat jantungku mau copot. Ku kira sudah waktunya." Ray menghela nafasnya lega, tadi ia yang terlihat paling panik.
"Siapa suruh buat Kak Litha orgas*me? Orgas*me sewaktu trimester ketiga kehamilan kadang akan menimbulkan kontraksi," celetuk Vania mengiris sandwich tuna mozarellanya
Litha menundukkan kepalanya, sangat malu pada adik perawannya itu menyebut kata vulgar tanpa sensor saat sarapan di meja makan, dan di dengar oleh banyak orang, termasuk Lidya dan Pak Is yang jadi salah tingkah. Muka Ray merah padam dan kehilangan selera makannya. Begitu juga Abyan yang memerah wajahnya tapi karena setengah mati menahan tawa.
"Bagaimana bisa dia mengatakan orgas*me begitu santai di depan pelakunya, astagaaaa Tawon kecil ini sungguh berbahaya huaaahhahaha ..." (Abyan)
"Lith, kau lihat adikmu menelanjangi kita di depan Pak Is, Bibi dan cecunguk satu ini. Ya, tertawalah sepuasnya sekarang ... " (Ray)
"Niaaa ... Kau kurang ajar sekali!!! Ingin aku robek mulutmu-- Lihat! Asisten Yan menahan tawa seperti itu membuatku sangat malu. Pasti dikiranya aku maniak seperti suamiku. Haissshhh ... Punya suami modelan Tuan Muda yang tidak bisa ditolak juga sungguh merepotkan, aihhh ... Kenapa juga dia sangat pandai mempermainkan titik sensitif di tubuhku sampai aku juga tidak bisa menahannya. Oohhh **** kalian semua!!!" maki Litha sangat kesal dalam hatinya.
"Apa aku salah?" tanya Vania tidak merasa bersalah sambil mengunyah dan melihat satu-persatu orang di sana.
"Ehmmm ..."
Ray berdehem, berusaha menguasai keadaan, situasi dan kondisi.
"Lupakan masalah tadi ... Itu tidak penting dibahas." Ray menelan salivanya untuk melanjutkan kalimatnya, "Vania, Kakakmu benar kadang mulutmu itu sangat lancang dan-- mematikan. Jadi-- lebih baik kau belajar sesuatu yang bermanfaat." Ray melihat Litha yang masih menunduk malu, "Kakak kesayanganmu sudah memberi izin padamu untuk mengendarai mobil."
Garpu dan pisau yang digenggam gadis remaja itu terlepas dari genggamannya, ia tidak percaya dengan apa yang di dengarnya.
"Benarkah?" serunya girang tak terperi.
"Dengan satu syarat."
"Apa? Lekas katakan Kak!"
"Litha hanya ingin kau diajari mengemudi oleh Abyan."
APAAA!!!
Keduanya kaget dan berteriak bersamaan.
"Tidak mau!" Vania berkelit.
"Maaf Ray, pekerjaanku banyak yang lebih penting. Kau bisa menyewa guru mengemudi profesional," sahut Abyan.
"Ini bukan perintahku. Ini titah tertinggi dari Nyonya Pradipta. Aku hanya meneruskan saja." Ray mulai membalikkan keadaan, "Hah! Sekarang giliranmu hahahaha ..."
"Kak, aku tidak mau diajari Asisten Yan, aku lebih baik belajar sendiri liat di yutub."
"Maaf Nyonya, apa sebaiknya--"
Cling.
Litha mengangkat wajahnya yang tertunduk dan matanya tajam menusuk pandangan Abyan hingga lelaki itu menghentikan ucapannya, setelah itu ia hunuskan tatapannya ke adiknya yang bermulut tajam itu.
"Kalau kalian tidak mau ya sudah! Jangan kau harap aku mengizinkanmu mengemudi mobil, Nia ... Dan Asisten Yan kalau kau tidak mau melaksanakannya, aku anggap kau membangkang perintahku."
"Lith, mau kemana?" tanya Ray melihat istrinya berdiri.
"Aku kehilangan selera makanku karena semeja dengan manusia bermulut tajam dan pembangkang."
Glek.
__ADS_1
Semua diam, tegang termasuk Ray, sudah lama ia tidak melihat istrinya meradang, terakhir, waktu ia memukuli Bona saat mencium Ninda di acara pernikahan mereka.
"Kak ..."
"Maafkan saya Nyonya atas kelancangan saya. Saya akan melaksanakan perintah Nyonya, mengajari Nona Vania mengemudi mobil."
Abyan berdiri dan meminta maaf dengan menunduk hormat. Ray tersenyum samar melihatnya. Litha mengurungkan niatnya kembali ke kamar, sebenarnya tingkahnya barusan hanyalah untuk menutupi rasa malunya yang teramat sangat.
...***...
# Gedung Kantor Pusat Pradipta Corp. #
Abyan masih terkekeh sekaligus takjub mengingat perkataan Vania tentang orgas*me, "Ray, adik iparmu sungguh luar biasa. Apa dia sepandai itu mengetahui hubungan intim? Dia bahkan belum lulus SMA."
"Hhhmmmppffhh ... Hanya buat dia, aku memaklumi semua ucapan yang dia keluarkan untukku, selain Litha tentunya."
"Hah!"
"Aku berharap kelak nanti dia bisa mendapatkan lelaki yang baik sebagai tempat bersandarnya. Kau tahu, Yan, entah kenapa aku seperti kakak lelaki sungguhan, bukan sekedar kakak ipar buat Vania. Aku benar-benar menyayanginya dan tidak ingin dia terluka seperti yang diinginkan Litha."
"Cih. Apa kau tidak ingat dulu dia berani menantangmu sparing?"
"Justru dari situ, aku bisa melihat ketulusannya untuk orang-orang tersayangnya. Saat ini Litha satu-satunya keluarga yang bisa ia peluk, sama seperti aku, Litha satu-satunya keluarga yang aku miliki sekarang."
Abyan diam, pun sama dengannya, ia hanya punya seorang ibu sekarang. Ah, ternyata mereka adalah sekumpulan orang-orang yang mencari kehangatan sebuah keluarga, termasuk Firza.
"Ray, ini rekaman dari CCTV di luar gedung yang masih bisa diambil sebelum terjadi kebakaran. Kau akan kaget jika melihatnya," ujarnya menyodorkan tablet.
Mata Presdir Pradipta Corp. memicing, "Firza?!?"
Abyan mengangguk.Ray menghela nafas dan menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi, berusaha mengurai sisi misterius Firza. Tidak masalah gudang itu terbakar, ia malah ingin merobohkannya beberapa bulan kedepan, tapi kedatangan Firza dengan seseorang yang membawa seorang lagi jelas terekam di CCTV membuatnya berpikir keras.
"Aku akan mencari tahu."
"Tidak perlu. Akan kutanyakan langsung sendiri. Nenek menyukainya karena. dia tidak pernah berbohong. Aku minta kau siapkan aja keperluan dan kebutuhannya selama tinggal di London."
"Baik, Ray."
"Satu lagi, akhir pekan besok batalkan jadwal bermain golf di pagi hari dan pending semua jadwal yang tidak berkaitan langsung dan urgent sampai Litha melahirkan."
"Calon ayah yang baik, menjadi suami siaga. Tapi memang harus begitu karena kau yang membuatnya kontraksi dini, hahahaha ..."
"Sialan!" Ray melempar pulpen ke arah Abyan yang terbahak, "Besok pagi kau ajari Vania menyetir. Seharian dia akan menjadi muridmu."
Wajah Abyan langsung berubah, ia mengacak rambutnya, "Apa kau tidak bisa membujuk istrimu agar mencarikan guru lain saja? Aku tidak pernah mengajari orang menyetir, Ray."
Mimik muka Abyan menunjukkan kalau dia kesal namun tidak berani membantah, Ray terkekeh dalam hati, esok hari ia akan bersenang-senang dengan istrinya, ia berencana mengajak Litha seharian berkeliling Ibukota dan menikmati kuliner yang ia inginkan, sedangkan Abyan akan terikat pada tugasnya mengajari Tawon Kecil yang akan terus berisik.
.
.
.
"Masuk."
Ray membuka pintu ruang Wakil Presdir.
"Oh, kamu Ray. Ada apa?"
Ray menyerahkan sejumlah dokumen yang diberikan Abyan berkenaan dengan kepindahannya dalam waktu lama ke London.
"Ku kira yang akan menyerahkannya Abyan."
"Apa aku tidak boleh menyerahkannya langsung? Kau berencana akan tinggal disana cukup lama. Anggap saja aku menemuimu sekarang untuk menggenapkan rasa rindu."
"Brengsek! Kau mengejekku, hah!" tinju Firza mendarat di perut kotak-kotak Ray.
Ray tergelak, hubungannya dengan kakak angkatnya sebelumnya tidak pernah sebaik ini.
"Apa karena adikmu, Za, kau pergi meninggalkan negeri ini?"
"Hmmm ... salah satunya. Aku perlu memulihkan diriku, Ray. Kehilangan adik yang aku cari-cari selama ini dan cinta bertepuk sebelah tangan, apa yang lebih menyakitkan dari itu?"
"Heh. Apa kau belum melupakan Litha?" suara Ray berubah tidak ramah.
"Hahahaha ... Lihat! Apa kau selalu cemburu jika aku menggodamu?"
"Ck."
"Ray--" Firza merangkul adik angkatnya. "Berhentilah cemburu padaku. Besok pagi aku akan berangkat, semoga London akan menghiburku. Tenanglah, aku pergi tanpa membawa masa lalu, kutinggalkan semua disini tanpa sisa. Disana aku hanya fokus bekerja mengembangkan Pradipta Corp."
"Termasuk gudang yang tadi malam terbakar."
Firza kaget tapi dengan cepat ia menguasai diri. Dilepaskan rangkulannya dari pundak Ray.
"Katakan padaku? Apa ada hubungannya denganmu?"
__ADS_1
Firza terdiam, ia berdiri dan berjalan mendekati jendela yang menampakkan gambaran Ibukota dari gedung tinggi .., lalu berbalik lagi.
"Ya, aku yang membakar gudang itu bersama Sebastian di dalamnya."
"APA!?!"
Mata Ray terbelalak, kaget dan tidak percaya.
"Apa kau akan melaporkan aku?"
Ray bingung, "Ta-- tapi kenapa? Kau tidak memiliki dendam padanya."
"Memang aku tidak punya dendam untuknya, tapi dia melakukan suatu perbuatan yang sama sekali tidak bisa aku maafkan, bahkan dengan kematiannya yang terpanggang pun aku masih merasa ingin mengulitinya."
Ray tertarik dengan amarah Firza yang tidak pernah ia lihat sebelumnya.
"Apa yang dia lakukan?" tanya Ray.
"Maaf Ray, itu sangat privasi buatku. Aku tidak ingin seorang pun tahu."
"Ada kaitannya dengan istriku?"
"Hahah. Tidak ada. Kau selalu mencurigaiku."
"Tapi, aku punya alasan untuk mencurigaimu."
Firza menepuk bahu Ray, "Aku mau berharap apa lagi kalau dia sudah bahagia memilikimu. Percayalah, ini tidak ada kaitannya dengan istrimu."
Ray menarik garis bibirnya, "Aku percaya padamu. Tapi lain kali kau harus lebih teliti. Apa kau lupa, meski gudang itu terlantar, masih ada CCTV yang diletakkan di luar gedung."
"CCTV?"
"Kau pikir aku tahu darimana kau ada kaitannya dengan terbakarnya gudang itu, ha?"
Firza menutup mata, menyadari kekeliruannya. Gantian Ray yang menepuk bahunya. "Aku sudah menyuruh Abyan untuk menyingkirkan rekaman CCTV itu, dan aku akan mengakui kalau aku yang membakarnya, anggap saja kau mempercepat rencanaku yang akan meratakan gudang tua itu. Untungnya tidak sampai menjalar ke pemukiman penduduk. Yah ... Pradipta Corp. akan memberikan sedikit kompensasi pada dinas terkait karena menghanguskan lingkungan hidup di sekitar gudang."
Firza mematung, ia tidak menyangka adik angkatnya berbuat demikian, padahal ia tidak akan mengelak jika disuruh bertanggungjawab akan perbuatannya.
"Aku mengizinkanmu pergi, semoga ada kedamaian yang kau cari disana. Jika kau ingin kembali, tak perlu berpikir dua kali, rumahmu ada disini. Kami akan selalu menyambutmu," kata Ray tersenyum.
Bagaimana Firza tidak terharu, ini kali pertama Ray melakukan sesuatu untuknya dengan tulus. "Mungkin terlihat bodoh, tapi tidak salah kalau Bella mencintaimu sampai mati." bathinnya.
"Aku sudah menelepon Kapten Adi untuk mengantarmu ke London besok pagi jam 6. Jangan membantah, ini perintah Presdir."
"Cih. Sudah berlagak kau rupanya," kata Firza memiting leher suami dari cinta pertamanya.
Mereka bersenda gurau sejenak, mengenang kembali masa kecil sebelum kebencian tercipta di hati Ray, sampai akhirnya Firza memeluk lelaki yang sebentar lagi akan menjadi ayah.
"Terimakasih, Ray," Firza mengurai pelukannya, "Harus aku akui, kau akan menjadi seorang ayah yang hebat. Ajarkan dia segala kebaikan dan kewibawaan Pradipta. Dulu kukira kau yang beruntung mendapatkan Litha, tapi ternyata aku salah, kalian beruntung dengan saling memiliki. Anak-anak kalian akan tumbuh dengan sangat baik."
"Cepat kembali, jangan sampai putraku tidak mengenali Pamannya karena sibuk menenangkan diri."
Alis Firza berkerut, "Putra? Oh my God ..." matanya berbinar dan terbuka lebar, kemudian ia berjalan kesana kemari sambil memegangi kepalanya sendiri dengan kedua tangan, meremas rambutnya dengan mimik wajah terkejut yang membahagiakan.
"Ray, you rock, brother!'" Firza memeluk adiknya lagi lebih erat dari sebelumnya dan menepuk-nepuk punggung Rayyendra. Jelas terlihat ia sangat bahagia.
"Thanks."
"Sampaikan salamku buat Litha. Aku turut bahagia dengan kalian. Begitu putra kalian lahir, langsung kabari aku, oke!"
Ray hanya tersenyum lucu melihat antusias saudara angkatnya setelah tahu jenis kelamin bayinya. Calon ayah itu sudah tidak sabar menyambut kelahiran putranya. Selama ini ia menyembunyikan jenis kelamin bayi yang masih berada dalam perut istrinya, ia ingin semuanya terkejut bahagia saat anaknya lahir nanti, sama seperti yang Firza rasakan saat ini.
"Kau yang pertama kuberitahu, Za, karena kau tidak akan berada di dekat putraku saat ia lahir ke dunia."
"Aku akan mengirimkan banyak hadiah untuknya dari London, hadiah terbaik."
"Za, semoga disana kau menemukan cintamu kembali," ucap Ray menatap ke arah jendela, kedua tangannya di masukkan ke dalam saku celananya.
"Semoga ... aku pun juga berharap begitu." Firza mengikuti Ray menatap ke arah jendela dan memasukkan tangannya ke dalam saku celana.
.
.
.
Pesawat pribadi Keluarga Pradipta mengudara menuju negara yang dijuluki dengan sebutan The Black Country. Dikatakan sebagai 'negara hitam' karena parahnya polusi udara di Birmingham dan Sheffield, jantung Revolusi Industri Inggris.
Pesawat itu mengantarkan Firza mencari ketenangan dan kedamaian hati. Semoga saja suatu saat nanti cintanya yang layu akan mekar kembali dan hatinya kembali menghangat.
- Bersambung -
❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️
Hai Kakak, yang pengen tahu lebih banyak tentang Vania, Si Tawon, Author buatkan spin off-nya. Jangan lupa dukungannya ya Kak🙏 visualnya kurang lebih seperti yang ada di cover.
Jangan lupa di tap love-nya ya Kak... ❤️
__ADS_1