Istri Wasiat Tuan Muda

Istri Wasiat Tuan Muda
The Big Day : Seleksi Akhlak


__ADS_3

Ehemm ...


Ray memulai dengan kata sambutan formal yang singkat, itupun sudah membuat wajah dan tubuh Litha menegang, mukanya pucat, tangannya juga sedingin es.


"Hari ini adalah hari yang penuh suka cita termasuk saya. Maka dari itu, sebagai Presiden Direktur Pradipta Corp. akan memberikan kesempatan bagi lulusan wisuda periode ini jurusan apapun itu, untuk memasukkan lamarannya pada Pradipta Corp. mulai besok sampai akhir bulan ini, karena bulan ini adalah bulan ulang tahun wanita yang sangat aku cintai. Jika kalian beruntung dan memenuhi kualifikasi, kalian akan langsung bergabung bersama perusahaan. Ini saya lakukan karena ungkapan rasa syukur kami, saya dan istri."


Bagai membuka sebuah surprise box, semuanya bersorak menyambut tawaran dadakan Si Presdir. Pernyataan Ray membuatnya menggeleng-gelengkan kepala membayangkan bagaimana ramainya dan sibuknya departemen HRD kantor pusat dan kantor cabang menerima berkas lamaran dari 1258 lulusan yang di wisuda hari ini.


"Gila kau Ray! Kau mengerjai kami namanya. Menyeleksi berkas sekian banyak orang yang lulus disini sama saja dengan kerja rodi. Bagaimana bisa kau berpikir demikian?"


Tentu saja semua yang baru saja resmi menyandang gelar sarjana akan berbondong-bondong mengirimkan berkas lamaran mereka. Siapa yang tidak mau bekerja di perusahaan skala internasional dengan gaji, tunjangan dan fasilitas yang sangat menjanjikan bagi karyawannya.


Tidak terkecuali Ninda, ia merengek meminta agar diloloskan berkas lamarannya pada Litha yang masih mematung memandang suaminya dengan nanar, ia tahu, Ray masih meletakkan koma pada kalimatnya.


"Namun untuk penyeleksian kali ini ada perlakuan khusus. Sebelum seleksi berkas yang akan ditangani oleh bagian HRD kami, pelamar akan melalui seleksi akhlak terlebih dahulu yang akan diseleksi langsung oleh istri saya."


Tringgg ...


Seleksi Akhlak


Ninda menahan tawanya sekuat tenaga sampai ia harus menundukkan badan untuk memegangi perutnya. Ia tertawa tanpa suara hingga mengeluarkan airmata.


"Kau kenapa? Ayanmu kambuh?" ledek Gayatri, ia merasa terganggu dengan tingkah Ninda, terganggu karena sedang menikmati suara berat khas pria dewasa milik suami saingan terberatnya.


"Mulutmu itu memang tidak bisa dijaga ya! Sebentar lagi kau yang akan kejang-kejang hahahaha ... "


Ninda sudah tidak bisa menahan tawanya dan akhirnya lepas. Seketika Litha mencubit pahanya dan Abyan menolehkan kepalanya ke arah Ninda tanpa ekspresi.


"Duh, Mas ... Mas ... Kau ini memang Alien, selain bisa tahu kata hati orang, kemauanmu juga aneh-aneh!" gumam Litha pelan memijat keningnya.


Awalnya ia ingin memberi kebahagiaan bagi teman-teman Litha yang kemudian digeneralisasi untuk semua wisudawan/wisudawati dengan memberikan kesempatan berkarir di perusahaannya. Namun, semua di improvisasinya secara tiba-tiba karena mendengar langsung bagaimana istrinya direndahkan. Baru satu kali mendengar ia sudah sakit hati, ia tidak bisa membayangkan bagaimana luka di hati istrinya yang akrab dengan umpatan seperti itu sekian lama. Pantas saja jika akhirnya Litha mengalami degradasi rasa percaya diri sampai sekarang dan membuatnya merasa tidak pantas untuk tampil di hadapan publik sebagai Nyonya Pradipta.


Semua bertanya-tanya maksud seleksi akhlak. Apa itu penting dalam suatu penerimaan kerja dan bagaimana cara menyeleksinya? Abyan hanya menghela nafas dan sekali lagi menggeleng-gelengkan kepalanya. Ia hafal tingkah sahabatnya, ia memiliki tujuan dan sebelum mencapai tujuan itu ia kan memukul telak bagi siapa saja yang mencoba menghalanginya walaupun kadang caranya aneh dan sedikit nyeleneh, termasuk seleksi akhlak ini.


"Mana ada seleksi akhlak? Kau pikir mereka mau ke surga, Ray! Hahahahaha ... Sekalian saja kau timbang amal baik dan amal buruk mereka, hahahaha ... " bathin Abyan menundukkan kepala mengulum bibirnya menahan tawa.


"Hei kalian yang tertawa, saya tidak bercanda dan sangat serius dengan apa yang kalian tertawakan"


Spontan mereka yang tertawa maupun sekedar senyum langsung memasang mimik serius kembali, termasuk Ninda dan Abyan yang terkaget dan kembali ke posisi duduk yang serius.


"Kelulusan ini sangat berarti bagi istri saya, walaupun pada akhirnya dia tidak menggunakan ilmunya untuk masyarakat alias hanya menjadi Ibu Rumah Tangga. Saya tahu bagaimana dia tetap berjuang sampai akhir untuk mendapatkan sebuah gelar di belakang namanya, karena itu adalah bukti dari jerih payahnya selama ini yang akan diceritakan pada anak-anak kami kelak. Dia tidak pernah mengeluh meski banyak airmata dalam perjuangan itu, jadi wajar, jika saya sebagai suaminya merasa sangat bangga dan bersyukur memilikinya dalam hidup saya. Dia adalah role model seorang wanita di mata saya."


Mata Litha berkaca-kaca mendengarnya. Ia tidak menyangka suaminya akan menghargai sebuah usaha yang selama ini ia kerjakan dengan tekad yang kuat.


"Karenanya sebagai rasa syukur yang kami rasakan saat ini, saya membuka kesempatan bagi para sarjana disini yang ingin bergabung dengan Pradipta Corp. Sayangnya saya menyaksikan sendiri ternyata ilmu yang mumpuni tidak sebanding dengan akhlak yang baik. Begitu mudahnya mengeluarkan kata-kata yang masih diragukan kebenarannya dan langsung mengklaim tanpa dasar atau bukti. Gampang termakan hoax dan menelannya mentah-mentah tanpa diolah dulu. Apa seperti ini pola pikir seorang sarjana? Setahu saya, itu adalah orang-orang yang tidak berpendidikan, atau mungkin Sarjana yang Tidak Berpendidikan?"


Semua terdiam, sarkasme Ray benar-benar menusuk hati semua orang. Beberapa ada yang merasa tersindir, baik itu wisudawan/wisudawati maupun para dosen. Litha sudah tahu kemana arah pembicaraan suaminya, kepalanya tertunduk, berusaha menahan agar kaca-kaca di matanya tidak retak.


"Apakah orang seperti itu yang ingin saya pekerjakan. Saya seorang pebisnis. Saya harus selalu memperhitungkan untung rugi, dan perusahaan akan sangat rugi mempekerjakan orang-orang seperti itu, bahkan dia bisa menjadi kanker yang pelan-pelan menyebar dan menggerogoti untuk merusak sistem kerja yang sudah baik. Dan saya bisa pastikan orang-orang seperti ini tidak akan ada yang mau menerimanya bekerja!"


Suara Ray meninggi, ia terbawa emosi. Jantung Litha berdetak sangat cepat, ia mengepalkan tangan dan menutup matanya, semakin menguatkan pertahanannya. Ninda menggenggam tangan Litha, membantu menguatkannya.


"Mengapa saya memilih istri saya yang menyeleksi akhlak? Karena ia pernah menjadi korban bobroknya akhlak para Sarjana yang Tak Berpendidikan di sini. Difitnah dan dituding terang-terangan tanpa pernah membalas."


Ray mengambil nafas untuk jeda, matanya memerah melihat Litha menundukkan kepala, dan tangannya sedang digenggam sahabatnya. Ia tahu istrinya sekuat tenaga menahan tangis. Sedangkan hadirin yang lainnya semakin berspekulasi menjadikan suasana sedikit ribut.

__ADS_1


"Navia Litha Sarasvati, angkat wajahmu! Jangan kau sembunyikan wajahmu terus di balik kepalamu yang tertunduk. Menjadi istri yang paling kucinta dan mengandung anakku bukanlah suatu aib karena kita menikah dengan sah secara agama dan hukum di negara ini."


Hening ...


Semuanya kaget, tidak menduga, meski ada yang sudah menduga tetap saja kaget. Suasana makin riuh, teka-teki siapa ayah dari anak yang dikandung Litha terjawab sudah. Wanita cantik itu menyerah, meski dengan kepala tertunduk kaca-kaca di matanya akhirnya pecah jua dan menghamburkan air asin keluar begitu deras. Ia tidak berani mengangkat muka karena sudah pasti semua mata tengah menyorotnya.


"Terima kasih atas waktu dan perhatiannya. Terakhir, lihatlah di bawah kursi masing-masing, bagi yang beruntung akan mendapatkan kejutan. Percayalah, Semua hal baik akan datang pada orang baik."


Sedikit mengucapkan salam penutup formal, Rayyendra menuruni mimbar dan berjalan ke arah istrinya yang masih menunduk dan mengelap airmatanya. Litha sungguh tidak menduga suaminya begitu gamblang memberitahukan pada dunia bahwa dirinya adalah istri seorang Presdir Pradipta Corp. dan tanpa Litha tahu beberapa awak media merekam dan menyiarkannya.


MC pun akhirnya resmi menutup dan membubarkan acara ini dengan mempersilakan para tamu undangan dan wisudawan/wisudawati untuk menikmati hidangan yang telah disediakan di aula A dan aula B dengan tertib.


Firza menonton pidato 'nyeleneh' itu dari apartemennya. Ia salut dengan sikap gentle adik angkatnya yang mengumumkan siapa istrinya setelah sekian lama Litha bersembunyi di balik foto pernikahannya yang di blur.


Ramona juga menontonnya, ia masih merasakan sakit jika bersinggungan dengan Ray dan Litha. Ia merasa menjadi pecundang dalam kisah cintanya sendiri. Terus menipu diri dan selalu berpegangan pada kenangan usang yang ia dan Ray jalani sewaktu di Amerika dulu.


"Lihat! Aku mendapatkannya di bawah kursiku. Apa ini untukku?" tanya seorang wisudawan memegang box ponsel yang masih tersegel merk ternama dan termahal keluaran baru.


"Yah ... aku hanya mendapatkan ini." Seseorang lagi berkata dengan menunjukkan sebuah mug.


"Sama ... mug juga." Suara kecewa terdengar.


"Hei! Aku dapat ini!" kata yang lainnya lagi memperlihatkan sebuah box ponsel dengan tipe yang berbeda.


Semua sibuk memeriksa bagian bawah kursinya masing-masing yang tertutupi kain. Tidak terkecuali teman-teman satu jurusan Litha, namun sayangnya mereka hanya mendapati ruang kosong di bawah kursi kecuali seorang lelaki berkacamata yang culun, Dodo mendapatkan sebuah ponsel. Ninda pun ikutan berjongkok menyingkap kain, ia sangat antusias saat meraih sebuah kotak beludru merah. Matanya membulat besar setelah melongok isinya, sebuah set perhiasan emas putih.


"Tha, lihat. Aku dapat ini!" Ninda menyodorkan kotak beludru yang terbuka pada Litha.


Namun, mulutnya langsung tak bersuara kala melihat Tuan Muda sudah berlutut di hadapan Litha yang masih duduk tertunduk.


"Kenapa kau masih malu, Sayang?" tanya Ray lembut sembari mengusap mata istrinya yang basah.


"Aku minta maaf kalau sudah membuatmu malu selama ini," ucap Ray lirih.


Masih diam, tanpa suara, hanya airmata yang kembali jatuh dengan gerakan kepala Litha yang menggeleng ke kiri dan kanan.


"Aku mencintaimu, Litha."


Ray memeluk istrinya di dadanya yang bidang di saat yang lain masih sibuk dengan kejutan di bawah kursi. Teman-teman Litha termasuk Gayatri shock setelah mengetahui fakta gadis yang sering mereka cemooh itu adalah istri Tuan Muda. Ibarat termakan batu yang mereka lempar sendiri hingga tersangkut di tenggorokan.


"Kalian lihat, kan! Kemarin-kemarin kalian dengan senangnya menyakiti hati seseorang, tapi sekarang kalian juga berharap mendapat hadiah kejutan dari suaminya. Siapa yang sebenarnya tidak tahu malu ha!?!" kata Ninda senang melihat mereka yang diam tidak berkutik.


"Mampus kau Gayatri! Tuan Muda mendengar sendiri kau mengatai anaknya anak haram. Kau sudah ditandai olehnya. Buat apa IPK tinggi tapi nyatanya menjadi Sarjana Tak Berpendidikan, hahahaha ... " Ninda tertawa sangat puas menguliti Gayatri yang wajahnya semakin pias mengingat perkataannya pada Litha sebelumnya dan posisi duduk mereka berdekatan dengan Tuan Muda. Gayatri sudah kepalang malu dan kehilangan muka di depan Litha, ia langsung berbalik dan keluar auditorium dengan kesal.


"Dan kau, Nad. Hahahahahah ... Baru kutahu kalau lelaki tua bertenaga kuda itu adalah Tuan Muda. Ternyata kau salah! Setidaknya katakanlah lelaki muda bertenaga kuda hahahahaha ...."


"Ha ... lelaki muda bertenaga kuda?!? Kau benar Ninda, hahahahahaha ... Semoga kau selamat dari rasa malu Tuan Muda hahahahaha ... " kata Abyan dalam hati tapi tawanya nyata terdengar.


Ninda tidak sadar ada Ray yang bisa mendengar celotehannya saking senangnya ia bisa membalas semua tudingan mereka terhadap Litha selama ini.


"Ninda, kau bilang apa tadi? Lelaki muda bertenaga kuda? Apa aku yang kau maksud?" Ray melirik Ninda dengan tajam, ia masih mendekap istrinya.


"A-- Ampun Tuan. Bukan begitu maksudku, ta-- tapi nyatanya demikian," gagap Ninda menunduk, "Maaf Tuan, keluarga saya sudah menunggu dari tadi. Saya permisi dulu." Setelah mengucapkan permisi ia langsung berbalik dan lari sebelum namanya disebut Tuan Muda lagi.


Kikikikikik ....

__ADS_1


Litha tertawa di dada suaminya, "Mas tidak perlu marah, karena memang benar kok."


"Hahahahaha ... Bon ... Bon ... kekasihmu ini sebelas dua belas polosnya seperti Nyonya hahahahaha ... Lucu juga ya punya wanita yang polos-polos bawel begitu hahahaha ..." Abyan bermonolog dalam hati dan berlalu keluar auditorium mengecek untuk jamuan makan para tamu undangan VIP di gedung rektorat.


Ray tersenyum, istrinya tidak lagi bersedih. Lalu ia mengurai pelukannya dan mengambil sesuatu dari bawah kursi Litha. Sebuah paperbag berisi dress dengan warna pastel kesukaan istrinya lengkap dengan flatshoes favoritnya.


"Nanti kau akan ditemani Ana berganti baju di ruangan Rektor lalu ikut bersamaku makan siang di ruang rapat gedung rektorat bersama Pak Rektor dan tamu-tamu undangan VIP. Setelah itu aku akan membawamu ke suatu tempat," kata Ray seraya memberikan paperbag ke Litha.


"Ta-- tapi-- "


"Tidak ada tapi. Ikuti saja perintahku. Aku tidak suka perintahku ditolak. Paman, Bibi dan adikmu ada Pak Sas yang mengurusnya." Ray berdiri, "Ayo!" ajaknya mengulurkan tangan.


"Mas, terimakasih."


Ray hanya menjawabnya dengan senyum hangat, hatinya bahagia telah menjadi pelindung sekaligus penyembuh luka Litha yang satu ini. Tinggal satu lagi luka yang harus ia beresi, luka tragedi masa lalu kakaknya.


"Kakak ... !!!" Vania berlari dan memeluk Litha diikuti Paman Tino dan Bibi Rima.


"Kakak Ipar, kau keren sekali, sangat-sangat keren. Aku terharu, Kak. Tapi aku iri, aku ingin kelak punya suami seperti Kakak Ipar," kicau Vania setelah melepas pelukan kakaknya.


"Bodoh! Hanya itu saja yang kau pikirkan dari tadi. Kau tidak usah ikut tes seleksi beasiswa kalau begitu, Bibi akan nikahkan kau begitu lulus SMA." Bibi Rima menjitak kepala Vania jengkel.


"Ha ... Tidakkk ... Tidak Bi, beasiswa itu mimpiku."


"Kau mau punya suami sepertiku, Nia? Jelas tidak ada, aku ini unik dan satu-satunya, ya kan, Lith," ucapnya melirik istrinya yang tersenyum jengah, "Tapi aku kenal seseorang yang lebih baik dariku. karena aku selalu meminta pendapat dan nasehatnya."


"Siapa? Siapa? Kenalkan aku Kak," rengek Vania menarik-narik jas kakak iparnya.


Bibi Rima menjewer kupingnya dan menariknya menjauh, "Maaf, maaf Nak Rayyendra, kami permisi dulu."


"Iya Bi, kalian jangan lupa makan," sahut Ray.


"Kakak Ipar, katakan siapa? Siapa orangnya?"


"Tuh."


Mata Ray menunjuk Abyan yang tengah berjalan ke arah mereka, hendak melaporkan kesiapan di gedung rektorat.


"Aiihhh ... Kalau Asisten Yan seumuran denganku mungkin aku masih bisa mempertimbangkannya."


"Mempertimbangkan apa?" sahut Abyan dari belakang Vania.


"Apaan sih Nia! Bicaramu ngelantur karena lapar. Bi, cepat ajak dia makan sebelum mengoceh yang lebih aneh." pinta Litha ke Bibi Rima agar menyingkirkan adiknya segera.


"Iya, Tha." Bibi Rima akhirnya menarik paksa sekali lagi tanpa berhenti sampai ke luar dari auditorium.


"Jangan aneh-aneh, Nia! Fokus dengan ujian dan tesmu dua minggu lagi," hardik Bibi Rima yang akhirnya membuat Vania diam.


Sambil berjalan ke gedung rektorat, Abyan yang masih penasaran bertanya, "Mempertimbangkan apa Ray? Kenapa namaku disebut-sebut?"


"Mempertimbangkan menjadi iparku."


"Ha ...?!?"


"Mas!"

__ADS_1


"Hahahahahahaha ..."


- Bersambung -


__ADS_2