Istri Wasiat Tuan Muda

Istri Wasiat Tuan Muda
Risau (Litha)


__ADS_3

Dua hari sebelumnya, pagi hari setelah suaminya berangkat ke kantor, Litha menelepon Paman Tino di Kota A. Ia ingin menanyakan kabar keluarga di sana, terutama ibunya.


"Perawatan ibumu kini di Rumah Sakit Medical Health, Tha," sahut Paman Tino dari seberang telepon.


"Medical Health, Paman? Itu kan rumah sakit termahal di sana. Aku belum punya cukup uang kalau ibu menjalani perawatan dan kemoterapi di sana. Kenapa tidak di rumah sakit pemerintah daerah saja seperti biasa?"


Meski rumah sakit yang disebutkan pamannya barusan adalah rumah sakit terbaik untuk rujukan penyakit kanker di Kota A, tapi biayanya tiga kali lipat dari rumah sakit pemerintah. Litha belum mampu untuk membawa ibunya berobat disana, mungkin nanti setelah pernikahannya berakhir dan ia menerima kompensasi kontrak 5 Milyar dari suaminya, ia baru akan membawa ibunya ke sana, namun tidak sekarang, bagaimana ia bisa membayarnya kalau begitu.


"Ibumu mendapat fasilitas perawatan VIP dan dokter terbaik di sana."


"A-- apa?" Litha makin kaget dan kelabakan.


"Tuan Muda yang memberi perintah sehingga Ibumu dijemput oleh mobil rumah sakit untuk dirawat secara intensif di sana. Awalnya kami menolak, terutama Ibumu bersikeras tidak bersedia, namun malah pihak manajemen rumah sakit memohon agar Ibumu ikut dengan mereka, karena kalau tidak, kerjasama antara rumah sakit dan Pradipta Corp. akan segera dihentikan. Mau tidak mau Ibumu sekarang berada dalam perawatan mereka." Paman Tino menjelaskan panjang lebar pada keponakannya.


"Sejak kapan, Paman? Kenapa Paman tidak memberitahuku sebelumnya?" cecar Litha.


"Sejak kau naik pesawat kembali ke ibukota, Tha. Maaf, Paman tidak bisa memberitahumu karena Tuan Muda tidak mengizinkannya. Ia baru mengizinkan jika Ibumu menunjukkan progres kesembuhan. Tuan Muda tidak ingin keputusannya menjadi beban pikiranmu."


"Tapi, kenapa ia yang memutuskan?"


"Kalau Tuan Muda memberitahumu, pasti kau tidak akan mau. Tuan Muda merasa berhak memutuskan karena ia bagian dari keluarga ini, suamimu ingin menunjukkan baktinya pada ibu mertuanya. Itu yang dikatakan direktur rumah sakit yang menjemput Ibumu waktu itu."


Litha tidak bisa berkata apa-apa, air matanya luruh. Ia terharu dengan kalimat bahwa Ray adalah bagian dari keluarganya. Tapi ... hatinya sakit. Mengapa ia bisa berkata demikian padahal ia sendiri yang membuat perjanjian kontrak menikah ini?


"Adikmu juga sudah dimasukkan dalam penerima beasiswa eksklusif dari Pradipta Asa Foundation. Kau tidak perlu memikirkan biaya pendidikannya, Tha, sekarang yang Vania perlu lakukan hanya belajar sebaik mungkin agar dia bebas bersekolah dimanapun yang dia inginkan tanpa memikirkan biayanya."


Litha makin tergugu. Dia tidak percaya bahwa suaminya yang melakukan semua ini tanpa ia ketahui dan embel-embel apapun.


"Tha, Ibumu kini makin membaik. Kau tidak perlu khawatir. Paman akan mengirimkan fotonya agar kau bisa melihatnya sendiri."


"I ... iya, Paman. Terima kasih."


Litha segera mengakhiri sambungan teleponnya, ia tidak ingin Paman mendengar isak tangisnya.


"Rayyendra, kau sungguh jahat! Mengapa kau melakukannya padaku? Kau melambungkan hatiku, bagaimana kalau aku jatuh hati padamu? sedangkan aku tahu, kau bukan mimpi yang bisa kuraih," lirih Litha pilu di tempat tidur memeluk bantal.


Semakin hari, semakin ia mengenal dekat sosok suaminya ia menemukan hal-hal baik yang membuatnya tersihir. Ia bisa menikmati hari-harinya sebagai Nyonya Pradipta dengan hati senang. Ia bisa merasa tidak suka bahkan terancam dengan kehadiran Ramona. Ia bisa merasakan kebahagiaan saat suaminya memuji sarapan yang ia buatkan untuknya.


Litha, telah jatuh cinta pada Rayyendra, suaminya sendiri, yang sayangnya bukan suami sungguhan tetapi suami di atas kontrak perjanjian. Dan itu sangat menyedihkan, rasanya ia ingin segera meninggalkan rumah ini membawa hatinya.


Malamnya, ia ingin menanyakan langsung perihal yang ia dengar tadi pagi dari Paman Tino.


"Ray, apa kau yang memerintahkan pihak Rumah Sakit Medical Health di Kota A untuk membawa Ibu dirawat di sana?" tanya Litha pada suaminya setelah ia selesai mandi.


Ray hanya mengangguk dan menjawab sekenanya, "Kau sudah tahu rupanya? Dari pamanmu ya?"


"Kenapa?"


"Kenapa apanya?"

__ADS_1


"Kenapa kau bersikap baik pada kami?"


"Karena sudah seharusnya begitu, Istriku Sayang. Aku kan, Tuan Muda Suamimu," ucap Ray santai menyalakan remote TV di depan sofa yang sudah sekian lama menjadi tempat tidurnya.


Jawaban santai dari Ray yang tanpa beban justru membuat Litha makin nelangsa.


Istriku Sayang ....


Panggilan itu kelak akan ia rindukan ....


"Lith, aku lelah sekali, seharian ini aku duduk saja. Banyak dokumen dan proposal yang harus kutandatangani dan kuteliti terlebih dahulu. Kau bisa memijat?"


"Bisa, tapi ya pijat begitu-begitu saja, bukan ahlinya."


"Tidak penting sekarang ahlinya atau bukan. Pijat suamimu ini sekarang ya?"


Litha mematung, memijat yang berarti menyentuh badannya dengan intens dan apa katanya tadi, 'Pijat suamimu ini sekarang ya?' Mengapa Litha makin terbawa perasaan, ia menyukai perintah itu karena terdengar mesra baginya.


Litha tidak menjawab, iya atau tidak. Ia hanya berdiri mengambil minyak gosok untuk memijat Ray.


"Lith, aku pinjam ranjangmu ya? Hanya saat dipijat saja agar lebih leluasa."


"Heh, kau tidak perlu ijin, itu kan memang ranjangmu, aku yang meminjamnya." Ada getir samar di suaranya Litha, namun Ray tidak peka karena ia sangat lelah.


Ray membuka bajunya, Litha memalingkan wajahnya yang merah karena malu. Ray menyadari ada semburat merah di pipi Litha yang baru muncul. Niat jahilnya muncul. Ia malah sengaja mendekatkan tubuhnya yang atletis ke arah Litha dan menarik wajahnya untuk melihat tubuh bagian atas suaminya yang tak tertutupi sehelai benangpun.


Litha spontan menutup matanya, malunya bertambah-tambah. Ray yang melihatnya menjadi gemas sendiri, malah menyosor pelan bibir Litha dan memulai ciumannya. Litha yang awalnya sudah terbawa perasaan, kini makin terhanyut dalam setiap lu**t*n suaminya, kali ini ia menerima ciuman Rayyendra dengan sepenuh hati.


Litha malu bukan main, bukan hanya pipinya saja yang merah sekarang tapi seluruh wajahnya. Untuk menutupi rasa malunya, ia langsung melempar bantal sofa. Ray makin tergelak.


"Sekarang pijat aku!" perintah Ray langsung membaringkan tubuhnya tengkurap ke ranjang.


"Heeeemmmmmm ... aromamu di kasur yang kau tiduri ini membuatku nyaman Lith. Aku langsung mengantuk."


Litha tersenyum dan menghampiri, sesaat terpana dengan punggung suaminya yang lebar dan berkulit terang juga mulus. Ia ragu untuk menyentuhnya tanpa perantara kain.


"Ayo Lith, aku pegal sekali ... "


"Ba-- baik."


Litha membalurkan minyak gosok dan mulai memijat punggung Ray dengan hati-hati.


"Walaupun kau bukan ahlinya, tapi aku menyukai pijatanmu, tidak pelan dan juga tidak terlalu kuat. Pas buat badanku."


Litha makin mengembangkan senyumnya dan bergumam sendiri dalam hatinya.


"Ray, kalau saja dunia tahu bagaimana kau sebenarnya, aku yakin bukan hanya Ramona dan aku saja yang menyukaimu tapi seluruh wanita di dunia ini."


"Ray ... "

__ADS_1


"Hemmmm ... " sahut Ray pelan, setengah sadar.


"Terima kasih atas kebaikan yang telah kau berikan pada ibu dan adikku."


"Hemmmm ... "


"Aku tidak menyangka sama sekali kalau kau akan peduli pada ibu dan adikku."


"Hemmmm .... " suara hem-nya Ray makin kecil, pijatan Litha membuatnya terbang ke alam mimpi.


"Apa kau tahu jika perhatianmu selama ini membuatku kurang nyaman?"


"Hemmmm ... " suara Ray hanya bisa didengar olehnya sendiri tapi Litha tidak menyadari kalau suaminya sudah tertidur.


"Kurang nyaman karena aku jadi berharap bintang akan jatuh di pangkuanku."


Litha tersenyum kecut melihat punggung Ray, ia tidak lagi memijat tapi memainkan jari telunjuknya menulis-nulis di atas punggung.


'*b**intang itu adalah kau*'


Litha tidak sampai hati membangunkan Ray untuk pindah tidur ke sofanya, ia membiarkan dan menyelimuti tubuh Ray di ranjang. Malam ini Litha yang tidur di sofa, karena sering setiap malam dipakai tidur maka ada aroma khas di situ. Aroma maskulin yang sangat dikenali Litha sebagai aroma tubuh suaminya. Ia merebahkan badannya dan menyesap dalam aroma yang tercium, kelak aroma ini juga akan ia rindukan.


Besoknya Litha terkejut, ia bangun di atas ranjang, bukannya tadi malam ia sendiri yang menyelimuti Ray disini? Dilihatnya sofa di depan TV ada Ray yang berbaring disitu, kapan mereka bertukar tempat? Apa Ray yang memindahkannya?


Gawat!


Litha takut dengan perasaannya sendiri, jadi ia memutuskan bahwa ia harus segera menghentikan rasa yang kian bertumbuh, karena faktanya semua yang ia dapatkan di rumah ini seperti sihir dongeng Cinderella yang akan berakhir tepat pukul dua belas malam. Ia akan memastikan sampai dimana ia bisa mereguk bebas status Nyonya Muda Pradipta.


"Ray, apa ada kabar tentang proses balik nama? Sampai dimana progressnya? Berapa lama lagi aku menjadi istrimu?" tanya Litha ketika Ray sudah duduk santai di sofa kamar malam harinya.


Litha bertanya bukan tanpa alasan, dia hanya ingin pergi dari rumah utama Keluarga Pradipta, ia tidak ingin perasaannya semakin sulit ia kendalikan. Perasaan nyaman jika di samping Ray, meski hanya mengobrol dan saling mencela. Ia tidak ingin berharap karena sejak awal ia tahu, tempatnya bukan disini.


"Entahlah, nanti kutanyakan. Kau tidak betah disini ya?"


"Bisa jadi, aku lelah mengurusimu yang makin hari semakin manja. Kau kira aku ibumu apa?"


"Aku memang belum pernah merasakan punya ibu, apa punya ibu membuat kita jadi manja?"


Ah ... Litha salah berucap, ia meminta maaf karena bersalah telah membuka ruang hampa di hati suaminya. Kata Ibu sangat sensitif bagi Ray. Litha hanya bisa membalas kebaikan-kebaikan suaminya dengan sebuah pelukan hangat yang selama ini ia rindukan, pelukan seorang ibu.


- Bersambung -


❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️


Untuk menambah semangat di hari Senin, double up buat pembaca setia yang selalu menyemangati Author.


Terima kasih buat semua dukungannya, berupa like komentar, vote dan koin tipsnya 🙏🙏🙏


Jangan lupa yang belum masukkan ke dalam rak buku favoritnya, di tap favorit ya, biar gak ketinggalan update ☺️

__ADS_1


Salam sehat buat kita semua 🤗


__ADS_2