
Ray kembali ke kamar inap istrinya. Ia mengalami hari yang baik sejak kemarin, hatinya pun terasa lebih lapang. Ah, memang istrinya ini adalah berkah untuknya.
Ia ingat saat tadi malam, tepatnya pukul 02.30 dini hari, ia dibangunkan suara Litha yang memanggil namanya.
"Mas, maaf aku mengganggu tidurmu, padahal pasti kau belum lama tidur. Apa pekerjaanmu banyak?"
"Tidak apa-apa. Memang banyak, karena Sasha bilang Firza tiba-tiba cuti. Tidak perlu risaukan aku, ada apa?" jawab Ray yamg sudah berada di samping istrinya yang berbaring.
"Mas, kenapa kamu membenci Kak Firza?"
"Ck, jadi kau bangunkan aku hanya untuk Firza?"
"Bukan. Jangan marah dulu. Tiba-tiba aku bermimpi kalian bertengkar di pinggir jurang, aku tidak tahu apa yang kalian pertengkarkan tapi pada akhirnya Mas mendorong Kak Firza ke jurang."
"Itu hanya mimpi. Sudah, ya, sekarang tidur lagi."
Ray hendak beranjak kembali ke sofa, tapi tangan Litha menahannya, "Aku tidak bisa tidur sebelum aku mendengar alasanmu."
Ray menghela nafasnya panjang, ia sama sekali tidak suka membahas Firza apalagi alasan membencinya. Tapi ia juga tidak bisa mengabaikan pertanyaan istrinya.
"Aku membencinya karena ia telah merebut Nenek dariku. Awalnya aku sangat senang, ia teman pertamaku yang dibawa Nenek ke rumah, dia mendapatkan segalanya sama seperti yang aku miliki saat itu. Kupikir tidak apa, tapi setelah Nenek mengangkatnya sebagai cucu angkat, aku tidak bisa menerimanya. Aku adalah satu-satunya cucu Nenek."
Litha mendengar suaminya dengan penuh perhatian. Bukankah itu sifat seperti anak-anak yang marah ketika mainan kesayangannya diambil anak lain? Mereka akan berkelahi sampai ada yang mendapatkannya atau ada yang memisahkan perkelahian mereka.
"Jika itu alasannya, apa Mas pernah melihat Kak Firza lebih diperhatikan Nenek ketimbang Mas sendiri?"
"Ya, tidak juga sih. Nenek tetap memperlakukan aku dan Firza sama seperti sebelum dia diangkat cucu oleh Nenek. Tidak ada yang berubah."
"Itu artinya prasangkamu tidak benar."
Ray tersenyum sinis, "Mengapa kau masih membela Firza di depanku sih?"
"Nenek mengangkat Kak Firza sebagai cucunya pasti ada alasannya, dan aku yakin itu semata-mata untuk kebaikanmu. Jangan terlalu berprasangka, Mas, apalagi kalau ternyata prasangka itu salah."
"Kau masih peduli padanya?"
Raut wajah Ray menunjukkan tidak suka istrinya membicarakan laki-laki lain di depannya. Tapi Litha hanya tersenyum saja.
"Justru aku peduli padamu. Aku tidak ingin sisa hidupmu dihabiskan dengan membenci seseorang. Aku tidak ingin anakku melihat ayahnya membenci pamannya sendiri karena hanya prasangka masa lalu yang tidak bisa dibuktikan."
Ray terdiam. Mencoba memikirkan perkataan istrinya.
"Tapi sekarang benciku bertambah, karena dia ternyata masih mencintaimu, apalagi kau juga berpihak padanya."
"Tidurlah, kau harus banyak istirahat, jangan memikirkan laki-laki lain selain suamimu. Aku juga lelah tadi memeriksa email yang dikirimkan Sasha, ingin tidur."
Litha mengangguk mengerti.
"Kemarilah," pinta Litha.
Ray mendekat. Ditangkupnya wajah suaminya dan diciumnya keningnya dan berkata lagi, "Sebenarnya suamiku ini berhati lembut. Dan kelak anakku akan bangga dengan pribadi ayahnya."
Ray tersenyum lalu mengangguk sebelum kembali ke sofa.
Ternyata apa yang dikatakan istrinya benar, setelah Firza merelakan Litha untuknya. Prasangkanya terlalu berlebihan dan selama ini ia telah hidup dalam kungkungan prasangka itu namun sekarang ia telah terbebas.
Baru saja Ray selesai berkonsultasi dengan dokter kandungan yang menangani istrinya. Ia langsung ingin kembali menemui Litha, ia sudah begitu rindu. Tapi Ray mendengus sebal ketika membuka pintu kamar, Ninda dan Vania sudah berada di samping istrinya.
"Hhhhhh ... hari belum siang sudah ada tawon," ujar Ray.
Litha hanya mengatakan 'hentikan' melalui pandangan matanya ke Ray.
"Tawon? Di kamar VIP ini ada tawon?" tanya Ninda bingung.
Vania cukup cerdas, ia paham yang dimaksud tawon adalah dirinya, "Adalah hal yang wajar jika ada tawon yang menjaga bunga yang memiliki nektar terbaik. Jangan sampai dipetik dengan serampangan oleh manusia berhati congkak."
"Nia ...! "
Litha jengah dengan sindir-menyindir antara adik dan suaminya. Ia tahu adiknya tidak ingin ia terluka lagi, tapi kan, suaminya sudah berubah.
"Manusia itu bisa dengan mudah menepuk tawon sampai mati, seharusnya tawon jangan terlalu berisik dan mengganggu manusia."
Vania dengan emosi remaja yang gampang terpantik langsung membalas, "Belum tahu saja, si tawon akan menyengatnya terlebih dulu."
"Heh, sengatan tawon tidak mampu mematikan manusia, tapi nyawa tawon itu sudah dipertaruhkan jika menyengat."
"Mas, hentikan! dia adik iparmu. Kau juga Nia, hormati kakak iparmu. Kalian berdua seperti bocah," sahut Litha.
__ADS_1
Ninda takjub dengan keberanian adik Litha yang tidak akan berhenti menyerang Tuan Muda jika tidak dihentikan Litha.
Ray menghela nafasnya, "Sayang, kenapa adikmu tidak semanis dirimu, sih?"
Ray lupa kalau tabiat Litha juga mirip dengan Vania, tidak akan kalah begitu saja berargumen. Ninda mengusap-usap telinganya, mungkin saja ia salah dengar, Litha menyebut Mas dan Ray menyebut Sayang.
"Kak Litha memanggil Kakak Ipar, Mas? Itu kan seperti Ibu memanggil Ayah," protes Vania tidak terima melihat kakaknya dan kakak iparnya terlihat mesra.
"Kan, memang Kakak Iparmu suami Kakak, Nia."
Jawaban Litha membuat Ray merasa menang melawan Vania, Litha memang istri terbaik, bathinnya, tahu kapan saat suaminya membutuhkan pembelaan darinya.
"Haiissshhh ... " sungut Vania kesal.
Ray duduk di sofa, diketikkan pesan teks untuk Abyan.
'Yan, sehabis dari bandara langsung jemput aku di rumah sakit. Cepatlah, telingaku bising mendengar tawon terus berdengung.'
Sambil melihat-lihat email yang baru saja dikirim Sasha, telinganya menangkap pembicaraan tiga wanita di ruangan itu.
"Bibi kok tumben gak ikut, Nia?" tanya Litha.
Vania diam saja, Ninda yang menjawab, "Tha, Bibi semalaman menangis hebat, terdengar sangat sedih sekali. Kami bingung Bibi kenapa, begitu melihat Paman keluar mengambilkan Bibi air minum di dapur, kami bertanya pada Paman. Awalnya Paman diam saja, tapi karena kami memaksa, Paman bilang Bibi sangat kehilangan ibumu."
Litha diam, mereka-reka masa lalunya. Semasa hidup Ibu dan Bibinya memang sangat dekat sekali, seperti saudara kandung, padahal yang bersaudara kandung adalah ayahnya dan Paman Tino. Apalagi setelah Ayah meninggal, Bibi lah yang bersikeras agar kami semua tinggal di rumah Paman dan Bibi dan ketika Ibu sakit, Bibi dengan telaten merawat dan menjaga Ibu. Namun, saat Ibu meninggal Bibi terlihat tegar, malah menguatkannya, tapi kenapa barusan Ninda bilang Bibi sangat terpukul dengan kepergian Ibu?
"Ada yang kamu ketahui?" Litha bertanya pada adiknya tapi adiknya hanya menggelengkan kepalanya.
"Ibu dan Bibi sama misteriusnya. Kita tidak pernah tahu keluarga Ibu dan Bibi, hanya keluarga besar Ayah dan Paman saja yang mulutnya juga besar," seloroh Vania.
"Hushhh ... Bagaimanapun hanya mereka yang kita kenal sebagai keluarga," sahut Litha.
"Kalau aku, mending gak punya keluarga daripada diomongin di belakang, mana pedes-pedes lagi. Coba saat pemakaman Kakak Ipar datang, mereka tidak mungkin bergunjing begitu, yang ada mereka akan cari muka di depan Kakak Ipar sama seperti waktu Kak Litha nikah."
"Nia ... gak usah diungkit-ungkit lagi yang kemaren. Mereka punya mulut untuk bicara dan kita gak bisa menutup mulut mereka, yang bisa kita lakukan menutup telinga kita sendiri." Litha menasehati adiknya.
"Pinter ngomong kamu, Tha, buktinya kamu juga sakit hati sama rumormu di kampus kan?" timpal Ninda.
"Aissshhh ... itu kan beda, Nin. Ah, sudahlah, tidak usah membahas mereka semua. Nia kapan kamu kembali ke asrama? Kamu juga Nin, kapan balik ke ibukota?" Litha mengalihkan topik pembicaraan.
"Sama," sahut Ninda.
Mata Ray memang ke tabletnya tapi telinganya awas mendengar percakapan mereka. Timbul banyak pertanyaan tentang istrinya. Keluarga ibu mertuanya yang misterius dan rumor yang menyakitkan di kampusnya, ditambah isi amplop yang Firza berikan sewaktu mereka kemarin bertengkar di kantor, tentang Tisha, Lucas, Sebastian sampai percobaan pemerkosaan yang ia gagalkan sepulang pesta ulang tahun neneknya. Ah, ternyata Rayyendra belum benar- benar belum mengenal siapa istrinya. Bagaimana bisa dikatakan ia suami yang akan menjaga dan melindungi istrinya kalau latar belakang istrinya saja masih dalam kegelapan?
Tok ... Tok ... Tok ...
Pintu kamar inap Litha dibuka oleh Abyan, dia memberi hormat pada Litha dan Ray. Kemudian Ray bangkit dan menghampiri pembaringan istrinya.
"Aku pergi dulu, ada yang harus ku urus. Istirahatlah dan makan yang banyak. Kalau tawon itu masih berisik dan mengganggu panggil saja Pak Sas yang berjaga di depan kamar untuk mengusirnya."
"Mas, jangan begitu!" protes Litha tapi sambil tersenyum.
Vania jengkel setengah mati, "Dasar Kakak Ipar sialan, awas kau, tunggu pembalasanku!"
"Jangan mengumpatku dalam hati, biasanya kan, kau berani mengatakannya langsung di depanku," ujar Ray berlalu tidak peduli reaksi Vania yang sudah sangat geregetan.
"Kak Litha ..." adu Vania.
"Lain kali kau jangan berkata dalam hati di dekatnya. Kuberi tahu satu rahasia, suami Kakak itu Alien. Kakak saja tidak berani mengumpatnya dalam hati." kekeh Litha.
Ppppffffftttttt ....
Ninda dan Abyan menahan tawa sedangkan Ray hanya tersenyum mendengarnya sebelum ia keluar.
# Di restoran hotel tempat Abyan dan Pak Sas menginap #
"Yan, kau selidiki lebih lanjut apa yang ada di dalam amplop kemarin."
"Lalu kau selidiki juga tabiat keluarga Litha dari pihak ayahnya, hubungan Bibi Rima dan almarhumah ibu mertuaku, dimana dan bagaimana keluarganya. Juga apapun itu tentang aktivitas kuliah Litha dari pertama kali ia menginjak kampus Z," sambung Ray lagi.
"Apa tujuanmu?" tanya Abyan tanpa memakai mode asistennya.
"Litha masih sebuah misteri bagiku. Aku ingin tahu semua tentangnya, sekecil apapun itu."
"Oke, akan aku lakukan."
"Satu lagi, belikan Litha rumah dan aku mobil."
__ADS_1
Abyan menghentikan seruputan lemon mojitonya, "Untuk apa? Bukankah kalian akan kembali ke Ibukota?"
"Tadi dokter mengatakan, beberapa bulan ini kandungan Litha harus dijaga, ia tidak boleh terlalu banyak beraktivitas apalagi bepergian jauh yang akan dilewati dengan goncangan atau kelelahan. Itu akan sangat beresiko. Dokter hanya mengizinkan jika kandungan Litha dalam keadaan sehat di atas lima bulan baru boleh kembali ke Ibukota dengan pesawat."
"Jadi, Litha akan tinggal disini?"
Ray mengangguk, "Termasuk aku. Makanya segera carikan rumah yang layak dan mobil untukku. Kau tahu seleraku kan?"
Seketika Abyan dilanda kepusingan. Bagaimana dengan pekerjaan Presdir? karena Firza tidak akan lama di Ibukota, dia akan segera kembali ke London. Kalau Ray tinggal di Kota A sampai Litha bisa dibawa terbang, apakah selama itu juga ia yang wira-wiri Ibukota-Kota A? Abyan menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi, membayangkannya saja begitu melelahkan.
"Setelah Litha diizinkan pulang dari rumah sakit. Rumah dan mobil yang kupinta harus sudah siap karena kami akan langsung menempatinya."
"Hei! Kau kira mencari dan membeli rumah seperti membeli kacang goreng apa?"
"Terserah maumu, mau kacang, pisang atau ubi yang jelas lakukan perintahku."
"Shitt!!"
"Oh ya, Yan."
"Apalagi?!?"
"Gak pake emosi dong. Aku kan cuman mau nanya."
"Ya, nanya apaan?"
"Kan kau dari kota sebelah, kurang lebih adat budaya daerahnya hampir sama dengan disini. Biasanya ada gak acara atau kegiatan tentang ibu hamil yang nantinya mengundang keluarga besar?"
"Setahuku ada, semacam syukuran."
"Jadwalkan syukuran itu setelah Litha pulang dari rumah sakit, dan yang terpenting undang semua keluarga yang menggunjing Litha saat pemakaman kemarin dan tutup mulut mereka."
Abyan semakin bingung dengan kemauan majikan sekaligus sahabatnya ini. Ia menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Apa lagi ini, Ya Tuhan. Begini kah orang yang sedang jatuh cinta? Sekarepmu lah Tuan Muda."
"Menutup mulut mereka dengan apa?" tanya Abyan sabar.
"Apapun itu yang membuat mereka tidak meremehkan istriku lagi. Apa mereka tidak tahu kalau Litha adalah Nyonya Pradipta? Seenaknya saja membicarakan orang dibelakangnya!"
"Hhhhhhhh ... salahmu juga gengsi kegedean, sudah kutawari untuk datang sejak awal, kau tidak mau." sungut Abyan kesal dalam hati.
"Aku tahu memang ini salahku, makanya aku ingin menebusnya," pungkas Ray seakan mendengar suara hati Abyan.
Tiba-tiba suara ponsel milik Ray berdering, istrinya yang menelepon.
"Mas, kapan balik ke sini?" Litha menyahut langsung setelah Ray menggeser button hijau di ponselnya.
"Kenapa? Kau sudah rindu aku ya, Sayang?" Mata Ray berbinar-binar. Abyan yang melihatnya serasa ingin memuntahkan kembali makanan yang sudah masuk di perutnya.
"Hehehehe, iya. Tapi aku mau nitip kalau mau balik kesini."
"Mau nitip apa?"
"Bakwan jagung di kantin Mak Sri. Beliin dalam jumlah ganjil ya tapi diatas 10 buah."
"Heh! Apa?!?" tanya Ray kebingungan.
Litha mengulangi lagi pintanya.
"Siapa Mak Sri? Belinya dimana?"
"Di kantin sekolah, di SMA XYZ. Mak Sri itu yang jualan, juga sekalian yang buat bakwan jagungnya. Aku tunggu ya, daaahhh."
Litha menutup teleponnya, Ray hanya termangu bingung.
"Istrimu minta apa?" tanya Abyan menahan tawanya.
"Bakwan jagung buatan Mak Sri di SMA XYZ berjumlah ganjil tapi diatas 10 buah." Ray lengkap menyebutnya.
"Istrimu ngidam. Selamat datang di dunia perngidaman, Bro. Hahahahaha ...... "
Apa itu? Ngidam? Seperti apa itu?
Ray diliputi dengan sejuta kebingungan.
- Bersambung -
__ADS_1