Istri Wasiat Tuan Muda

Istri Wasiat Tuan Muda
Surat Wasiat


__ADS_3

Suasana duka menyelimuti rumah duka Keluarga Pradipta. Terbujur kaku jasad Nyonya Besar dalam peti untuk memberikan kesempatan bagi keluarga, kerabat maupun kolega memberikan penghormatan terakhir padanya sebelum dikebumikan.


Dari sekian banyak yang hadir disitu, tidak nampak Rayyendra disana, hanya Firza yang sibuk menerima ucapan belasungkawa. Sejak Ray berteriak histeris di rumah sakit dan menghajar siapapun yang menahannya, ia seakan menarik diri dari dunia. Tidak ada yang tahu dimana dia berada sekarang.


Bahkan saat pemakaman, Rayyendra menjadi sosok yang paling dicari, ketidakhadirannya mencuri perhatian. Dimana sang pewaris Pradipta berada? Mengapa tidak hadir untuk melepas Nyonya Besar untuk terakhir kalinya?


"Nona, istirahatlah," ujar Pak Is melihat Litha yang nampak kelelahan dengan mata sembab.


"Tidak apa-apa, Pak Is. Apa Tuan Rayyendra masih disana?"


Pak Is mengangguk pelan. Ia masih mengingat dengan jelas ketakutan, kemarahan, keputusasaan dan penyesalan Tuan Muda Rayyendra bercampur jadi satu menghasilkan teriakan panjang nan memilukan ketika dr. Baskoro memberikan keterangan secara resmi bahwa Nyonya Besar Pradipta telah wafat.


Penyesalan tiada akhir membawa Rayyendra makin tenggelam bersama kenangan masa kecilnya, seakan ia ingin tinggal selamanya disitu. Dimana ia bisa merasakan kehangatan pelukan neneknya, seperti sekarang, ia berada di pembaringan Nyonya Besar, meringkuk bagai orang yang kedinginan.


Untuk terakhir kalinya Litha menginjakkan kakinya di rumah ini, setelah Nyonya Besar wafat tentu tidak ada tempat baginya, dan Litha cukup tahu diri. Ia akan berpamitan dengan seluruh pelayan yang bekerja disini yang sudah dianggapnya teman dan saudara.


Litha memandangi foto Nyonya Besar di dinding ruang keluarga dan berkata pelan,


"Nenek sudah tidak menahan rindu lagi kepada Tuan Besar. Nenek pasti bahagia disana. Walaupun kami mengalami kesulitan tanpa Nenek disini tapi kami akan mencoba bertahan dan mengatasinya, Nek. Istirahatlah dengan tenang, jangan khawatirkan kami."


Litha ragu mengetuk pintu kamar dimana Rayyendra mengurung diri, ia ingin berpamitan. Diberanikan tangannya mengetuk pintu, tidak ada suara balasan. Pelan dibukanya pintu dan masuk ke dalam.


"Maaf Tuan jika saya mengganggu, saya hanya ingin berpamitan."


Litha mendekati tempat tidur, terlihat sosok rapuh diatasnya, tidak lagi meringkuk tapi duduk memeluk kedua lutut dengan kepala terbenam, menangis tanpa suara. Litha terenyuh melihatnya, Tuan Muda yang disegani dan ditakuti oleh orang-orang ternyata hanya seorang manusia biasa, yang akan bisa merasakan kehilangan.


Litha duduk dihadapan Rayyendra, mata yang penuh air mata menatapnya, Litha yang ingin berpamitan tidak jadi mengucapkannya.


"Kau benar, Litha. Penyesalan adalah neraka terdalam di bumi dan kini aku berada di dalamnya. Aku tak pernah memedulikan Nenek di masa tuanya, kukira ia pasti senang kalau aku menjalankan perusahaan dengan baik."


"Tuan, dengan Tuan menjalankan Pradipta Corp dengan baik dan semakin berkembang bagi Nyonya Besar itu adalah bentuk kepedulian Tuan padanya. Pradipta Corp adalah maha karya Nyonya Besar. Tuan sudah menjaganya dengan sangat baik. Bahkan Nyonya Besar sangat berterimakasih pada Anda dan Tuan Firza."


Demi mendengar apa yang Litha katakan, air mata Rayyendra jatuh. Tiba-tiba ia meraih tubuh Litha dan memeluknya erat. Litha yang kaget hanya bisa pasrah Ray memeluknya. Begitu tangan Litha balas memeluknya dan mengusap punggungnya, tanpa sadar suara Ray tersedu-sedu di pundak Litha, ia menumpahkan semua kesedihannya pada Litha.


Setelah Litha merasa tangis Ray sedikit mereda, ia lepaskan pelukannya, ia kembali ke niat awalnya untuk berpamitan.


"Terima kasih Litha, kau sudah menemani Nenekku selama ini, kau membuat hari-harinya senang. Aku bahagia untuk itu."


Litha hanya tersenyum mendengarnya, ternyata Tuan Muda Congkak ini bisa bersikap hangat juga.


Litha keluar dari rumah Keluarga Pradipta. Rumah yang memiliki kenangan dengannya. Menuju gerbang utama ia bertemu dengan Partono, ia pun pamit dan mengembalikan passcardnya.


"Kami mendapat pesan bahwa kami tidak diperkenankan menerima pengembalian Passcard Nona." tolak Partono.


"Tapi kenapa, Pak?"

__ADS_1


"Kami hanya diperintahkan demikian, Nona. Anda bisa kapan saja kesini."


"Hah?!? untuk apa saya kesini lagi."


"Saya hanya diperintahkan seperti itu, Nona."


Litha kebingungan, instruksi siapa yang diikuti mereka. Pak Is lah yang bertanggung jawab atas semua pelayan dan penjaga rumah ini. Tapi Pak Is masih memberlakukan passcard-nya, kenapa?


...🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀...


Benar kan, Litha balik lagi ke rumah Keluarga Pradipta seminggu kemudian. Secara khusus ia dipanggil untuk mendengar Pak Prasojo, kuasa hukum Keluarga Pradipta membacakan surat wasiat yang dituliskan Nyonya Besar sebelum wafat.


Litha datang terlambat karena harus menunggu dosen untuk konsultasi skripsinya. Semua sudah hadir disana, keterlambatannya sangat menarik perhatian karena ia yang ditunggu. Di ruang kerja rumah ini sudah duduk Firza, Rayyendra dan Ramona. Pak Prasojo, Asisten Yan, Pak Sas dan Pak Is dalam posisi berdiri.


"Kau ini! Kenapa baru datang sekarang? Semua sudah menunggumu!" bentak Ray begitu Litha memamerkan senyumnya. Seketika Litha langsung menarik senyumnya lagi.


"Kenapa juga aku ditunggu untuk mendengar wasiat Nenek. Apa ada jatah warisan buatku? Oh.... Nenek, kau sangat baik hati sekali."


"Sudahlah Ray, tahan amarahmu biar Pak Prasojo bisa segera membacakan wasiat Nenek," sahut Firza.


Pak Prasojo berdehem dua kali, mengisyaratkan semua berhenti bicara. Ramona yang duduk rapat di samping Ray semakin mengeratkan tangannya menggandeng lengan Ray.


"Kepada Tuan Rayyendra, Tuan Firza, dan Nona Litha dan bagi yang tidak saya sebutkan namanya, mohon untuk menunggu di ruangan lain," ujarnya memulai pembacaan wasiat.


Sontak wajah Ramona pias, dia diusir.


"Pak Prasojo, Ramona disini saja, dia bukan orang lain. Dia kekasihku."


Mona sangat senang mendengarnya, tapi kembali kecewa ketika pengacara berkacamata itu mengelak berkata,


"Maaf Tuan, saya hanya mengikuti apa yang Nyonya sampaikan kepada saya sebelum beliau wafat. Nyonya Besar hanya ingin wasiatnya didengar oleh nama-nama yang saya sebutkan barusan,"


"Aaaarrggghhhhh.... si nenek tua itu sudah mati masih saja menyusahkan. Semoga ini kali terakhir Ray menuruti perintahmu." Ramona menggerutu dalam hatinya.


Ramona dengan kesal melangkah keluar tanpa bicara, ia menunggu di ruang tamu. Kekesalannya bertambah karena ada Asisten Yan, Pak Is dan Pak Sas di sana.


Tiga orang yang disebutkan namanya bertanya-tanya dalam hati, kenapa Pak Prasojo menyebut nama Litha dalam pembacaan wasiat, ada hubungan apa?


Kepada kedua cucuku tersayang Rayyendra dan Firza juga gadis yang sudah kuanggap cucuku, Litha.


Aku sangat bahagia kalian hadir dalam hidupku. Aku tahu kalian bertiga sangat menyayangiku, jadi aku ingin kalian bertiga melakukan permintaan terakhirku.


Untuk Firza, dukunglah permintaan Nenek yang terakhir untuk Rayyendra dan jagalah dia beserta keluarganya kelak meski ia tidak menginginkannya.


Rayyendra, kau cucu Nenek, satu-satunya penerus darah Pradipta. Kuharap kau akan menikahi seorang gadis yang berbudi luhur tanpa melihat siapa nama belakangmu. Menikahlah dengan Navia Litha Sarasvati.

__ADS_1


Sampai disini ketiga anak manusia itu membelalak kaget.


Menikah .... ?!? (Ray)


Menikah .... ?!? (Litha)


Menikah .... Ray dan Litha .... ?!? (Firza)


Wasiat macam apa ini yang mengatur jodoh dan takdir orang. Ray, Firza dan Litha pun memprotesnya dalam hati.


Pak Prasojo meneruskan wasiat Nyonya Besar.


Tidak ada cucu menantu lain yang kuakui sebagai Nyonya Pradipta selain Litha. Semua aset, property maupun perusahaan milik Keluarga Pradipta akan dilimpahkan pada Firza sepenuhnya jika Rayyendra menolak pernikahan tersebut. Hal itu tidak akan terjadi kecuali Litha sendiri yang memutuskan untuk tidak menikah dengan Rayyendra.


***Wasiat ini kubuat tanpa paksaan dari siapapun dan dalam keadaan sadar.


Tertanda, Dayyu Amarga Pradipta***.


Langit benar-benar runtuh di kepala Ray, Firza dan Litha. Sekonyong-konyong wasiat Nyonya Besar bukan pembagian harta warisan tetapi membuat garis perjodohan antara Ray dan Litha.


Mata Litha sudah berair, ia menutup wajahnya dan menggeleng-gelengkan kepala tidak percaya. Firza yang disampingnya hanya bisa menundukkan kepala dalam tumpuan kedua tangannya. Rayyendra sendiri bagaikan patung tak bergerak.


"Pak Prasojo, apa Bapak yakin itu wasiat Nenek?" tanya Firza untuk meyakinkan.


"Tentu saja. Nyonya Besar sendiri yang datang ke kantor, dan menulisnya langsung di hadapanku didampingi Tuan Sasmita," jawab Pak Prasojo.


Luruh sudah airmata Litha mengaliri pipinya, hatinya tidak bisa menerima dengan apa yang ia dengar.


"Dari wasiat ini kita semua tahu bahwa, keputusan Nona Litha lah sebagai penentunya. Apakah Nona bersedia menikah dengan Tuan Muda Rayyendra atau tidak. Nyonya Besar berpesan pada saya untuk menjawab surat wasiat ini, diberikan waktu tiga hari setelah dibacakannya surat ini kepada Tuan-Tuan dan Nona. Jika Nona Litha bersedia, maka pernikahan akan dilaksanakan satu minggu setelah Nona Litha menyetujuinya. Jika tidak, maka surat wasiat ini dianggap tidak pernah ada dan akan dilakukan sebagaimana seperti biasa untuk kepengurusan harta warisan," pungkas pengacara senior itu.


"Namun sebelumnya, Nyonya Besar juga menitipkan surat secara pribadi hanya untuk Tuan Muda Firza dan Nona Litha, sedangkan untuk Tuan Muda Rayyendra Nyonya hanya memberikan rekaman suara ini," sambungnya lagi.


Pak Prasojo menyerahkan tape recorder pada Ray dan surat kepada Firza dan Litha. Semua menerima tanpa banyak bicara dan protes, masih terlihat sangat shock.


"Apa ini Nek?!? Nenek menyuruhku menikah dengan wanita itu padahal Nenek jelas tahu aku tidak ingin menikah sekarang ini, dan aku juga sudah punya Ramona."


"Nenek ... inikah maksud perkataanmu saat kau meminta aku berjanji dengan nyawaku? Nenek, andai saja kau tahu aku mencintai Litha ... Kenapa bukan aku yang kau titahkan untuk menikah dengannya?"


"Nenek ... oh ... Nenek ... Apa maksudmu dengan semua ini?!? Litha tidak tahu apa yang harus Litha lakukan, kenapa menaruhku di ujung jurang, Nek? Huhuhuhuhhhu....."


- Bersambung -


❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️


Jangan lupa tinggalkan jejak like, komen, dan vote ya Kakak...

__ADS_1


Salam sehat buat kita semua....


__ADS_2