Istri Wasiat Tuan Muda

Istri Wasiat Tuan Muda
Kekacauan di Pernikahan (Part 1)


__ADS_3

Semua bersiap, terutama Pak Sas dan Abyan, memastikan hari ini, pernikahan dapat terlaksana lancar tanpa kendala. Mempelai pria pun sudah berada di kamar terpisah dengan mempelai wanita.


"Ray, akhirnya kau duluan yang menikah diantara kita bertiga," celetuk Bona menepuk pundak sahabatnya.


Ray tidak menjawab, ini bukan pernikahan yang dia inginkan sebenarnya.


"Anda sudah siap, Tuan?" tanya Abyan juga tidak mempedulikan celetukan Bona.


"Hemm ..."


Ray pun melangkahkan kaki menuju tempat yang telah disiapkan untuk mengucapkan ikrar suami istri.


Di lain ruangan, Litha terlihat sangat anggun dan berkharisma. Riasan wajah yang tepat juga gaun pengantin yang pas dengan bentuk tubuhnya meski gaun itu hanya potongan model sederhana dilengkapi sebuket bunga white calla lily di tangan, Litha memancarkan aura seorang dewi.


"Tha, cantik bangettt," puji Ninda dengan mata berbinar. Ibu dan Bibi Rima yang ada disitu juga memandang takjub.


"Kamu juga cantik, Nin " ujar Litha membalas pujian.


Litha menuju aula, tempat dilangsungkan acara pernikahannya ditemani oleh Ibu dan Ninda yang berjalan di belakangnya, Bibi Rima membantu mendorong kursi roda Ibu.


Begitu Litha memasuki ruangan, semua hadirin yang tidak begitu banyak memusatkan perhatian pada mempelai wanita yang begitu memukau. Tidak terkecuali Rayyendra, tanpa sadar tersenyum melihat Litha berjalan ke arahnya.


Tapi tidak dengan pandangan dua orang yang tidak sengaja bertemu. Bona dan Ninda. Masing-masing tidak percaya dengan apa yang dilihat. Bona yang antara kaget dan terpesona dengan tampilan Ninda yang tidak pernah ia lihat sebelumnya, ia seperti menemukan harta karun yang selama ini dicari, sedangkan Ninda antara kaget dan tidak percaya, mengapa orang yang ia hindari beberapa hari terakhir ini malah kini jelas terlihat di hadapannya.


Tidak ada yang menyadari tatapan mereka, kecuali pria yang berdiri di samping Bona, ia paham mengapa kemarin ia merasa tidak asing dengan nama Ninda, ternyata Ninda yang dimaksud adalah sahabat dari calon istri tuannya. Ia hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala dengan bayangan cerita baru yang tidak kalah ruwet.


Akhirnya kini Litha resmi menjadi istri Tuan Muda Rayyendra Putra Pradipta. Entah ia harus merasa senang atau sedih, yang jelas babak baru kehidupannya telah ia masuki.


"Semangat Litha .... !!!"


Litha menyemangati dirinya sendiri. Ia menebar senyum ke kanan ke kiri layaknya wanita yang paling bahagia di dunia ini, seperti ini pernikahan impian yang sudah lama ia idam-idamkan.


"Kak Litha, aku senang Kakak terlihat sangat bahagia," ucap Vania, adik perempuan Litha memeluk erat kakaknya.


"Ahh... aktingku sudah meningkat rupanya, hihihihi...."


Disaat Litha dan Rayyendra sibuk dengan ucapan selamat dari para undangan, Ninda bak tikus yang bersembunyi dari kucing. Kucingnya tak lain adalah Bona yang sudah mengincarnya sejak ia masuk menjadi pengiring Litha.


"Aduuuuhhhh .... kenapa bisa ketemu dia disini sih?" kata Ninda bersembunyi di balik tirai besar yang mendekorasi ruangan aula.


"Kalau memang jodoh, biar kau ke ujung dunia juga kita bakal bertemu."


Glek, suara siapa itu?


"Mati aku!!!" pekik Ninda dalam hati, ditutup matanya, ia tidak mau melihat siapa yang menangkapnya, meski ia mengenal suara pria itu.


Tangan lelaki itu menarik lengan Ninda yang memegang tirai. Ninda yang tidak siap kehilangan keseimbangan, tubuhnya oleng hampir jatuh, dengan cepat lelaki itu mengambil tubuh Ninda dan memeluknya.


Mata Ninda terbuka, membola melihat siapa yang ada dihadapannya meski sudah ia duga sebelumnya. Wajah mereka hanya berjarak sekitar dua centimeter, menimbulkan tabuhan di jantung masing-masing.

__ADS_1


Bona tidak dapat menahan hasratnya melihat bibir Ninda yang setengah terbuka karena terkejut. Dirapatkan bibirnya ke bibir gadis imut itu, anehnya Ninda tidak menolak, ia bagai terhipnotis dengan wajah tampan Bona dalam jarak yang sangat dekat. Begitu bibir mereka bertemu, Ninda malah memejamkan matanya membiarkan hatinya terhanyut oleh pesona seorang Bona Santoso.


Tanpa mereka sadari, tirai yang awalnya digenggam erat, terlepas dan jatuh ke lantai karena tidak kuat menahan beban tarikan Ninda yang hampir jatuh tadi. Tentu saja pemandangan romantis yang harusnya milik Rayyendra dan Litha sebagai raja ratu sehari kini direbut oleh Bona dan Ninda, karena tirai itu ternyata penutup bagian dekorasi dari latar di atas panggung pelaminan.


Semua mata tertuju pada dua pengiring pengantin itu. Litha menutup mulutnya, ia sangat terkejut. Rayyendra hanya tertawa kecil melihat tingkah Bona yang memang dikenal flamboyan, namun berbeda dengan Abyan, ia berdecak kesal karena sebentar pasti ia yang akan direpotkan.


Ninda malu bukan kepalang ketika suara Litha meneriakkan namanya. Ia berlari keluar aula dengan wajah seperti kepiting rebus. Bona mengejarnya, Litha juga tidak mau kalah, tidak peduli dengan gaun pengantinnya yang panjang, ia juga ikut berlari, karena ia tahu Ninda tidak pernah mengalami hal yang memalukan seperti ini, Litha khawatir dengan Ninda.


"Yan, kau tahu apa yang harus kau lakukan, kan?" dengan kata lain Rayyendra menyuruh Abyan membereskan kekacauan ini.


"NINDA!" teriak Bona mengejar Ninda, tapi Ninda terus saja berlari menuju kamarnya, ia menangis, ia tidak pernah merasa malu seperti ini selama ia hidup di dunia. Dirinya selalu dimanja, disayang dan dilindungi oleh orangtua dan kedua kakak lelakinya.


Ninda masuk ke dalam lift dan segera menutup pintu. Bona terus mengejarnya dengan menaiki lift yang berbeda.


"Tunggu!"


Suara Litha ngos-ngosan menahan pintu lift Bona yang hampir tertutup. Bona kaget, tidak menyangka Litha juga mengejarnya.


"Bona!" suara Abyan memanggil namanya.


Litha terkejut, "Jadi ini yang namanya Bona, calon suami palsu Ninda. Ya Tuhan, mengapa dunia ini begitu sempit ... atau memang Tuhan sengaja memberikan kami lakon seperti ini."


Litha masih mengatur nafasnya, cukup lelah ia berlari kencang dengan high heels, belum lagi ia harus mengangkat kedua rok gaun pengantinnya agar bisa berlari.


Bona keluar dari lift, mengurungkan niatnya lanjut mengejar Ninda, lagian ia juga tidak tahu harus menekan angka lantai berapa di dalam lift tadi.


Kemarahan Abyan sudah diubun-ubun, Ray memang kadang bersikap kekanak-kanakan tapi sahabatnya yang satu ini lebih childish. Diantara mereka bertiga, Abyan selalu menjadi penengah, menjadi tempat curhat dan solusi.


"Maaf Nyonya, saya harap Anda kembali ke acara. Anda tidak bisa meninggalkan Tuan Muda begitu saja," kata Abyan ke Litha.


"15, tidak 10 menit saja aku minta waktu, Asisten Yan, aku tidak bisa meninggalkan Ninda dalam keadaan begini. Aku mohon sampaikan ke Tuan Muda, aku minta 10 menit saja, oke?"


Litha tidak menunggu persetujuan Abyan, dia langsung masuk ke dalam lift dan menekan angka lantai kamar Ninda.


"Yan, sorry, aku khilaf."


"Heh, kau jelaskan saja nanti di depan Ray setelah acara selesai."


Abyan langsung berbalik kembali ke aula menyampaikan pesan Litha pada Rayyendra.


...🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀...


Bona sudah duduk berhadapan dengan Ray dan Litha di sofa, Abyan berdiri di belakang tuannya.


"Jelaskan!" perintah Ray.


Hanya satu kata yang keluar dari mulut suaminya. Namun Litha bisa merasakan wibawa seorang Rayyendra Putra Pradipta. Diam-diam ada rasa bangga pertama kali untuk sang suami terselip di hatinya.


"Ray, aku tidak sengaja. Aku selama ini menghubunginya tapi tidak pernah ia angkat, makanya begitu aku melihatnya menjadi pengiring pengantin wanita. Aku tidak bisa kehilangannya lagi, namun ia terus bersembunyi. Hingga aku menemukannnya di belakang backdrop pelaminan," jelas Bona, ia nampak seperti pesakitan yang diadili dengan dua orang hakim.

__ADS_1


"Tapi kenapa kau menciumnya? Didepan semua orang lagi? Apa kau tahu perasaan malunya sebesar apa, hah?" geram Litha tidak bisa memelankan suaranya. Ray yang disampingnya pun kaget.


"Aku tidak sadar tirai itu terlepas dan Ninda juga tidak menolakku untuk menciumnya, wajar --"


"Wajar apanya!"


Litha memotong kalimat dan melemparkan bantal sofa tepat ke muka Bona. Ia sangat kesal pada calon suami palsunya Ninda, menganggap wajar mencium seorang gadis didepan orang. Dia saja dulu sewaktu dicium Ray dan dipergoki Firza rasanya mau menghilang saat itu juga. Nah, ini mencium Ninda dan disaksikan sekian banyak mata, dianggap wajar olehnya?


Ray dan Abyan takjub dengan keberanian Litha barusan. Ray tidak menyangka akan mendapat istri yang out of the box, selama ini ia kira Litha adalah adalah gadis pemalu, penakut dan gampang dikendalikan. Tapi sekarang kayaknya ia harus berpikir ulang.


"Kalian para lelaki tidak mengerti apa arti ciuman bagi seorang wanita, dengan seenaknya main nyosor. Kau tahu bagaimana Ninda sekarang? Dia tidak mau keluar kamar karena malu akibat ulahmu. Dia tidak pernah dipermalukan seperti itu sepanjang hidupnya," omel Litha masih berapi-api, sekalian juga menyindir kelakuan suaminya dahulu, tapi Ray tidak mengerti maksudnya, ia nampak biasa saja. Huh...


"Yang seharusnya giliran marah ada di aku, kenapa jadi dia yang mengambil alih?" hati Ray tergelitik membuat simpul senyum di wajahnya.


"Aduh!" pekik Bona menghindar dari lemparan bantal sofa Litha yang kedua kalinya.


"Tenanglah." Ray memegang lengan Litha.


"Ray, ada apa dengannya? Kenapa istrimu yang marah sampai melemparku dengan bantal. Kenapa kau bisa menikah dengan wanita seperti ini? Ramona tidak pernah begitu padaku." Bona mencari perlindungan dari Ray, baginya Litha lebih menakutkan kalau marah padanya daripada Ray.


"Kau bilang apa?!?" ujar Litha yang sudah ditenangkan Ray, naik pitam kembali. Ia berdiri dan menatap tajam Bona.


"Kenapa kalau Tuan Muda menikah dengan wanita sepertiku, hah? Kau siapa hingga berhak membandingkan aku dengan wanita lain? Ingat! Mau Ramona, Ramoni, Ramono atau siapapun dia, tidak bisa dibandingkan denganku. Dan aku marah padamu karena kau memperlakukan sahabat baikku seperti ia tidak punya harga diri. Paham!"


Litha mengatakannya dengan jelas, nyaring dan percaya diri. Bona pun sampai ciut mendengarnya. Abyan dan Ray saling berpandangan dan mengatakan dengan isyarat mata bahwa Litha luar biasa.


"Ckckckck .... Nyonya Muda memang titisan Nyonya Besar." (Abyan)


"Wah, apa ini benar istriku?" (Rayyendra)


"Raa ... ay," sahut Bona terbata, kali ini ia harus mengakui kehebatan Litha setara bahkan melebihi suaminya dalam hal memarahi orang secara verbal.


🙋 Hahahahahaha ...... Asal kau tahu Bona, hal yang paling tidak disukai wanita adalah dirinya dibandingkan dengan wanita lain.🙋


"Sayang, tenang. Duduklah dulu." Ray kembali menenangkan Litha.


"Hah! apa katanya tadi? Dia memanggilku Sayang didepan Asisten Yan dan si calon suami palsu."


Litha terkejut tidak percaya dengan apa yang barusan ia dengar. Abyan dan Bona juga sama, kaget.


- Bersambung -


❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️


Hai Kakak-Kakak Readers, maafkan jika Author tidak bisa memenuhi up banyak-banyak perhari karena kesibukan di dunia nyata, tapi diusahakan satu hari ada yang di update 🙏🙏🙏


Jangan lupa like, komentar, vote, dan semangatnya ya...


Salam sehat selalu buat kita semua 🤗

__ADS_1


__ADS_2