Istri Wasiat Tuan Muda

Istri Wasiat Tuan Muda
Tom and Jerry


__ADS_3

Waktu berjalan dengan lambatnya, Litha jengah dengan kesehariannya, tidak seperri sebelumnya, ia bisa melewatinya dengan hati riang, bahkan kerepotan di pagi hari mulai dari menyiapkan baju, sarapan, menemani makan sampai mengantarkan suaminya berangkat kerja dilakoninya dengan suka cita.


Tapi sekarang, segalanya menjadi suram. Setiap pagi Litha masuk ke kamar suaminya hanya untuk menyiapkan keperluan ke kantor, ia akan menundukkan kepalanya setiap melewati suaminya, begitu pun ketika menemani sarapan atau mengantar ke mobil, ia akan menundukkan wajahnya. Kurang lebih seperti patung atau jongos.


Rayyendra juga sama, keras kepalanya makin menjadi dan gengsinya makin terpompa kala mendapati Litha tidak mau melihatnya, meski setelahnya dia akan marah-marah sendiri di ruangan kantornya setiap pagi. Sedikit saja ada kesalahan dari pekerjaan karyawan di di gedung kantornya, siapapun dia, bahkan Asisten Yan sekalipun, emosi Ray akan terpantik bagaikan gunung berapi yang meletus.


"Ray ... please bantu aku! Sampaikan ke istrimu aku ingin bertemu dan bicara dengan Ninda," pinta Bona yang datang mendadak tanpa janji terlebih dahulu.


Ray hanya melihat Bona sekilas lalu sibuk dengan tumpukan dokumen di mejanya. Tidak peduli.


"Yan, bilang ke Tuan Muda, kali ini dengarkanlah pintaku." Sangat manis terdengar di kuping bujukan Bona ini. Abyan hanya mengkode lewat mata tapi Bona tidak paham.


"Ray ... ap-- "


Pletakkkhhh ...


Belum selesai Bona menyelesaikan rayuannya, hiasan meja miniatur bola dunia yang terbuat dari kombinasi kayu dan besi hampir mengenai kepala Bona.


"Ray ... "


Abyan membelalakkan matanya, menyuruhnya menutup mulut. Bona akhirnya mengerti Ray benar-benar dalam keadaan sensitif.


"Maaf, Ray. Aku mengganggu waktumu. Aku permisi." Bona langsung pamit keluar tidak mau memperpanjang masalah.


"Sha, ada apa dengan Tuan Muda? apa ada masalah di perusahaan?" Bona mencari tahu penyebab amarah Ray yang berapi-api.


Sasha menggeleng, "Tidak tahu juga, Tuan. Sudah sebulan ini Tuan uring-uringan. Kami harus menyesuaikan diri dengan mood Tuan Muda."


"Hhhhhhhh ... apa masalahnya yang kemarin itu belum selesai?" gumam Bona.


Bona akhirnya memutuskan menghubungi Evan kembali, kali ini ia akan lebih hati-hati agar tidak dibodohi lagi.


...🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀...


"Tumben, Tha. Kamu mampir kesini. Dianterin Pak Sas ya?" Ninda celingukan mencari sosok yang akrab disapa Pak Sas.


Litha mengangguk, "Iya, mana bisa aku jalan sendiri, tapi kuminta diturunkan di depan minimarket."


"Aku senang banget lho, Nyonya Pradip--"


Mulut Ninda langsung dibekap Litha, "Jangan menyebut-nyebut nama itu. Aku L-I-T-H-A."


"I ... iya, Tha. Ihh, sensitif banget sih. Lagi mens ya?"


"Enggak. Tapi gak suka aja. Bentar lagi juga aku bukan Nyonya di rumah itu lagi kok."


"Emang semuanya sudah selesai?"


"Belum, sedikit lagi mungkin. Eh, iya, Nin, kalau nanti aku keluar dari rumah utama aku numpang disini lagi ya? Aku mau menyelesaikan skripsiku yang tertunda."


"Boleh saja. Kau mau datang, tidur, nginap atau tinggal terserah, kan ini juga kamar kostmu."


"Makasih lho, Nin. Kau memang sahabat terbaikku." Litha memeluk erat Ninda.


"Tha, Evan nanyain kamu mulu, padahal udah dibilangin kamu itu udah nikah. Dia gak peduli sebelum dia lihat suamimu, malah dikatainnya aku penyebar hoaks lagi. Hissshhh .... "


"Makanya carikanlah dia pacar, Nin, biar tidak mengingatku terus."


"Mana bisa kupaksa kalau dia tidak mau."


Ting Tung ...


Notifikasi chat masuk di ponsel Ninda.

__ADS_1


'Sepupuku sayang, aku mau ke kost-mu sore ini. Pastikan kau berdandan yang cantik ya'


"Dih, aneh nih orang!" sungut Ninda.


"Kenapa Nin?"


Ninda menjawab dengan menunjukkan chat Evan barusan.


Litha tertawa, "Kayak kalian mau kencan aja disuruh dandan yang cantik."


"Makanya kubilang aneh!"


"Kau mau kencan, Nin? Aku akan mengenalkanmu pada seseorang, dia orang yang baik. Aku sangat mengenalnya, bahkan ayahku menganggapnya anak sendiri karena kami sering bersama."


"Sering bersama?"


"Namanya Leon, kakak kelasku satu tingkat. Kami sering bersama karena selalu diikutkan banyak lomba sewaktu kami SMA. Paling tidak kau pasti senang bicara dengannya, dia selalu nyambung kalau diajak ngomong."


"Tapi .... "


"Sudah ada laki-laki yang kau sukai?"


"Tidak-- Tidak, bukan begitu maksudku! Tapi--"


"Tapi apa, hah?" Litha menggoda Ninda, hingga Ninda bingung mau menjawab apa.


Litha sangat senang sekali bisa ngobrol dengan sahabatnya, setelah kurang lebih sebulan ia terkungkung dalam kesedihan. Tawanya yang hilang terdengar kembali kendati Litha tidak menceritakan 'malam pertama'-nya ke Ninda. Baginya itu adalah aib yang akan ia simpan rapat selamanya.


Sepasang mata memperhatikan Litha, melihatnya tertawa senang, hatinya bagai disayat sembilu, karenanya lah Litha kehilangan tawanya. Kepolosannya berceloteh dan sikapnya yang diluar dugaan bahkan mampu menghangatkan dinginnya hati penghuni rumah Keluarga Pradipta sudah tidak ada, hilang berganti dengan kesenduan.


"Nin, sudah sore, aku pamit ya. Aku senaaang sekali ngobrol denganmu."


"Ah, Tha, cepet banget mau pulang padahal lagi senang-senangnya juga ngoceh sama kamu."


"Jangan sampai aku ketemu Evan. Gak bisa lepas nanti akunya, Nin."


"Litha?!?" teriak suara dari belakang mereka.


"Evan!" sahut Litha dan Ninda barengan.


"Kau sih, masih saja mengoceh, jadinya aku gak pulang-pulang, sekarang ketemu Evan, kan." bisik Litha pelan.


"Hai Lith, setelah sekian lama aku senang sekali bertemu denganmu. Kau makin cantik dan bersinar, lihat ada cahaya di belakangmu!" Evan menggombal Litha.


Litha dan Ninda terperangah heran dengan sikap Evan. Evan menjadi lebih berani dan terang-terangan menggoda Litha. Litha akhirnya buru-buru pamit dan segera pergi meninggalkan Evan.


"Lith, biar kuantar kau pulang." Evan menarik tangan Litha, mencegahnya pulang. Ia masih ingin melihat wajah gadis yang disukainya sejak pertama bertemu yang entah kenapa makin cantik dipandang.


Sepasang mata yang sedari tadi memperhatikan nampak tidak suka Evan memegang tangan Nyonya Mudanya. Ia sudah ingin bergerak karena Litha terlihat tidak nyaman, tapi langkahnya berhenti karena Litha menggelengkan kepalanya dengan samar tanda agar ia tetap berada di tempatnya.


"Tidak perlu, Van, tapi aku berterima kasih untuk itu. Kau tahu aku sudah menikah kan? Tidak elok kau memegang tangan wanita yang sudah bersuami." Litha melepaskan tangannya perlahan.


"Kenapa Evan justru makin berani setelah ia tahu aku sudah menikah?" bathin Litha bingung.


Dulu Evan hanya berani menggoda tanpa menyentuhnya, tapi lihat sekarang, dia berani menggenggam erat lengan Litha.


"Aku tahu, tapi aku tidak akan berhenti mengejarmu sebelum aku bertemu langsung dengan suamimu. Aku ingin lihat, bagaimana seleramu hingga kau lebih memilihnya daripada aku yang keren begini."


"Keren apanya! Peminum sepertimu tidak cocok untuk sahabatku yang sempurna ini," tampik Ninda menarik lengan Evan menjauh dari Litha.


"Biarkan Litha pulang sendiri. Jangan menahannya, tadi kau bilang ada perlu denganku." Ninda mengalihkan fokus Evan yang terus melihat Litha.


"Lith, kamu pulang kemana?" tanya Evan tidak menggubris Ninda.

__ADS_1


"Sudahlah, ayo Van. Litha saja yang kau urusi." Ninda menarik kuat Evan dan memberi isyarat agar Litha segera pergi.


"Litha, akan kutunggu jandamu!!!"


Ninda langsung membekap mulut Evan, teriakan nyaringnya menarik perhatian orang-orang sekitar. Litha sempat terhenti mendengarnya, tapi kemudian ia berjalan cepat dari situ.


"Evan, apaan sih! Jangan membuat keributan di kost-ku!"


"Mimpi apa aku semalam bisa bertemu Litha disini. Nin, dia makin cantik, bagaimana aku bisa melupakannya? Siapa sih suaminya? Aku penasaran sekali, kenapa juga kau tidak mau memberitahuku? padahal antara kita kan tidak ada rahasia."


"Kalau ku bilang suaminya Tuan Muda Pradipta, apa kau percaya?"


"Hahahahahahahahaha .... bercanda itu juga ada batasannya, Nin." Evan tergelak keras.


"Ya sudah kalau tidak percaya. Terus ada perlu apa kau menemuiku?"


"Nin, untuk sekali ini, aku memohon dengan sangat." Evan berlutut mengatupkan kedua tangannya di atas kepala.


"Cih, selalu ada maunya kalau kayak begini modelnya.*


"Nin, temuilah Tuan Bona, ia ingin membicarakan sesuatu denganmu."


"Hah!!! Sejak kapan kalian saling mengenal? Dan apa yang ia berikan sampai kau memohon begini, hah!"


Ninda marah, merasa dimanfaatkan Evan, diambilnya sapu di pojok ruangan, ingin menghajar sepupunya. Evan mengambil ancang-ancang lari, sedetik kemudian mereka sudah mirip seperti Tom and Jerry yang berputar-putar mengelilingi meja.


Dari jauh, Bona yang baru saja turun dari mobilnya, terbahak-bahak melihat tingkah mereka seperti salah satu adegan kartun favorit anak-anak.


"Awas kau, Evan! Sudah kubilang aku sudah tidak ada urusan dengan pemilik bar itu! Aku tidak mau bertemu dengannya!" teriak Ninda, ia sudah tidak peduli dengan penghuni kost yang ramai menonton mereka berdua.


"Kenapa kau tidak mau bertemu denganku?" Sebuah suara muncul, semuanya yang ada disitu mencari arah sumber suara, tidak terkecuali Ninda dan Evan.


Degh ....


Jantung Ninda berdegup keras melihat Bona dengan setelan kasualnya, begitu kuat memancarkan aura flamboyan. Ketampanannya paripurna dimata lawan jenis. Semua penghuni kost yang menyaksikan sore itu terpukau dengan kehadiran Bona. Seperti biasa bisik-bisik ramai terdengar, menanyakan siapa gerangan pria tampan itu dan apa yang membuatnya datang kemari.


...-------...


Sisipan


Litha membuka pintu mobil yang parkir di dekat minimarket jalan masuk ke kost Ninda.


"Apa laki-laki itu mengganggu Nyonya?" tanya Pak Sas begitu Litha duduk.


Litha kaget, mengapa Pak Sas tahu? Berarti Pak Sas melihatnya.


"Sedikit, tapi tidak apa-apa, Pak Sas. Ia teman sekampusku, dia agak aneh tapi sebenarnya baik."


"Aku tahu dia, Nyonya, sepupu Nona Ninda yang menyukaimu sejak semester pertama. Tapi dia sudah berani menyentuh Anda, Nyonya."


"Jangan berbuat apapun padanya, Pak Sas. Saya juga sebentar lagi bukan Nyonya Pradipta, Pak."


"Apa hubungan Nyonya Muda dengan Tuan Muda sedang ada masalah?"


Litha diam, hanya tersenyum dan berkata, "Tidak ada masalah Pak Sas, hanya kami berada pada situasi yang tidak seharusnya dan itu membuat kami harus menjaga jarak satu sama lain."


Kali ini Pak Sas yang diam, ia mengerti yang dimaksud Nyonya Mudanya, ia merasa bersalah, ia sudah menganggap Litha putrinya sendiri, tapi di satu sisi ia juga harus melakukan sumpah setianya demi masa depan Keluarga Pradipta yang dititipkan Nyonya Besar padanya.


"Nyonya, apapun yang terjadi nanti, meski pada akhirnya Nyonya tidak di rumah itu lagi, saya akan tetap berada di samping Nyonya, menjaga Nyonya dengan nyawa saya."


Litha tertegun mendengarnya, "Kenapa?"


"Karena hanya Anda yang diakui satu-satunya sebagai cucu menantu Nyonya Besar."

__ADS_1


Pak Sas kemudian menjalankan kemudinya pulang ke rumah utama yang berselisihan dengan mobil Bona menuju kost Ninda.


- Bersambung -


__ADS_2