
Ray berjalan cepat memasuki pesawat pribadinya diikuti Abyan, ia ingin segera menemui istrinya di Kota A, menjemput dan membawanya kembali.
"Yan, katakan pada Sasha segala kewenanganku sebagai Presdir sementara dialihkan ke Firza."
"Baik, Tuan."
"Aku minta hilangkan mode asistenmu, aku butuh kamu sebagai teman bukan asisten sekarang."
Abyan mengangguk.
"Yan, menurutmu apa Litha nanti mau menemuiku atau malah menghindariku?"
"Menghindari."
Mendengar jawaban Abyan, mata Ray memicing.
"Kau mau jawaban apa? Yang jujur atau menyenangkanmu?"
Ray mendengus sebal. Abyan malah menyeletuk, "Kalau aku jadi Litha, aku pasti tidak ingin bertemu denganmu."
Kali ini Ray bukan memicing lagi tapi menginjak kaki Abyan.
"Hei! Aku mengatakan yang sebenarnya. Kau terbiasa mendapat jawaban yang menyenangkan sih dari pada jawaban jujur," pekik Abyan tidak terima.
"Yan, aku menyesalinya ... " lirih Ray pelan.
Abyan hanya diam, membiarkan Ray mengutarakan isi hatinya, hitung-hitung sebagai latihan di depan Litha nanti.
"Aku menyesal mengapa baru menyadarinya sekarang, kalau perasaanku padanya tidak biasa."
Ray menarik nafas panjang dan menghelanya, memberi ruang sempit dalam hatinya
"Aku tidak ingin hidup dalam penyesalan lagi, Yan, cukup saat Nenek meninggal yang menjadi penyesalan hidupku. Aku tidak ingin menyesal karena Litha akan pergi meninggalkanku juga. Apalagi ada anakku dalam kandungannya."
Abyan masih dengan diamnya, tidak membathin juga. Matanya menatap ke jendela, melihat birunya langit.
"Apa kau begini karena Firza? Apa kau merasa tersaingi dengan Firza?" Matanya tidak lepas dari pandangannya.
"Tidak, Yan. Aku memang menyukainya sejak aku mencicipi bubur polosnya, tapi aku tidak mengerti perasaanku sendiri. Dia bisa membuatku nyaman berada di dekatnya. Walaupun aku sangat marah tadi dengan Firza bisa-bisanya ia masih mencintai Litha padahal dia sudah menjadi istriku."
"Hah? Bubur polos apa maksudmu? Bubur buatannya?"
"Ah, sudahlah, tidak usah kau pikirkan. Hanya aku yang paham. Heheheheh ..." Ray tertawa sembari mengusap bibir bawahnya.
"Istrimu adalah pribadi yang luar biasa, Ray. Nenek sampai mewasiatkan kamu untuk menikah dengannya. Firza yang tidak pernah berhubungan secara pribadi dengan perempuan, jatuh hati setengah mati padanya, bahkan pamanku saja bisa berjanji setia dengan nyawanya untuk menjaga Litha dan anaknya meski kalian bercerai. Sekarang seorang Rayyendra Putra Pradipta bisa mengalahkan ego dan arogannya demi seorang Litha. Dia benar-benar penakluk manusia-manusia dingin, ckckckck ..."
"Jangan mengatai istriku begitu," sahut Ray melayangkan serbet makan yang di sedang ditata oleh pramugari.
Abyan tergelak, "Lah, emang benar kan?"
"Ray, kali ini usahamu akan sulit. Mengambil kembali hati wanita yang sudah kau sakiti tentu butuh usaha keras, belum lagi kau harus menyingkirkan pesaingmu," kata Abyan menikmati hidangan yang disajikan pramugari.
"Aku tidak pernah kalah."
"Hah! Lihat, watakmu memang sombong! Urusan perusahaan jelas beda dengan urusan hati perempuan. Coba, bisa tidak kau terjemahkan kata terserah atau tidak apa-apa yang keluar dari mulut mereka?"
"Tahu apa kau soal perempuan! Pacar pun kau tak punya."
"Itu juga, kan karenamu, waktuku habis hanya untukmu. Tapi mengenal wanita tidak selalu dari pacar, Ray. Ada Ibu dan adikku yang harus selalu aku pahami maunya apa agar mereka tidak kecewa."
"Ya ... ya .... aku harus belajar banyak darimu. Apa kau tak ingin pulang sekalian menengok mereka, sepertinya sudah lama kau tidak pulang, kampung halamanmu dekat dengan Kota A, kan?"
"Ya, hanya sekitar 65 km dari rumah Litha. Tapi aku tidak akan mampir kesana."
"Kenapa?"
"Ibuku selalu menanyakan mana calon istriku setiap pulang."
"Hah! apa?!? Hahahahahahahahahaha .... " Ray tergelak keras hingga hampir tersedak makanan di mulutnya.
"Jadi nasibmu sama dengan Bona hahahahaha ... Kalian bujang lapuk sampai harus dikejar-kejar calo istri oleh ibu kalian, hahahahaha ...." Sudah lama rasanya Ray tidak terbahak sepeninggal Litha dari rumah utama.
"Kau juga sama, beruntung Nenek mewasiatkan wanita hebat untukmu. Kalau kau tidak mau, aku bersedia menjadi ayah sambung anakmu."
"Tidak lucu!"
__ADS_1
"Oke ... oke ... aku tahu, kau mencintainya, tidak akan ada yang bisa merebutnya darimu termasuk Firza." Abyan menyenangkan hati Ray.
"Yan, katakan pada Firza dia akan menggantikanku selama seminggu."
"Seminggu? Bahkan kau cuti pun tidak pernah lebih dari sehari, dua hari itupun karena Nenek meninggal. Buat apa seminggu?" tanya Abyan keheranan. Seminggu? Sudah terbayang dalam otaknya tumpukan pekerjaan yang ujung-ujungnya dibebankan padanya.
"Kau sendiri yang bilang barusan, aku harus berusaha keras merebut hati istriku lagi, kupikir juga pasti membutuhkan waktu lama. Apa seminggu cukup atau kurang?"
"Aaaahhh aku hanya bercanda, Ray, maksudku kau pasti bisa dalam waktu singkat."
"Tidak ... Tidak, yang kau katakan itu tadi sangat tepat. Bagaimanapun caranya akan kubuat Litha berada disisiku lagi."
"Aku sudah salah bicara," bathin Abyan.
Pesawat mendarat di Kota A pukul 17.00 sore, mobil untuk ke rumah Litha sudah disiapkan. Ray heran, Abyan terburu-buru mengendarainya, bahkan ia tidak melewati jalan raya, tapi jalan-jalan perkampungan.
"Kau pernah bertanya kan, apa itu jalan tikus? Kurang lebih seperti ini." ujar Abyan yang tetap menyetir dengan pandangan ke depan.
"Heh, mau sombong kau rupanya. Jelas kau hafal jalanan disini, kan dekat dengan kota asalmu."
"Tidak, Ray. Aku bukan mau sombong padamu, buat apa aku sombong di depan orang sombong. Aku mencari jalan lain tercepat tanpa lampu merah karena sekarang jam pulang kantor, agar segera sampai di Rumah Sakit Medical Health."
"Rumah Sakit? Bukannya kita ke rumah Litha?"
"Buat apa ke rumahnya kalau orangnya ada di Rumah Sakit."
"Apa?!?" Ray berteriak kaget.
"Siapa yang sakit? Istriku?"
"Litha pingsan lagi di pemakaman."
"Ya Tuhan. Kenapa dia gampang sekali pingsan?"
"Hormon ibu hamil tidak stabil dan itu mempengaruhi emosinya. Apalagi yang meninggal ibunya, orang tua satu-satunya yang tersisa. Jiwanya pasti terguncang hebat."
Seketika Ray merasa kembali bersalah, ialah penyumbang terbesar ketidakstabilan hormon istrinya.
"Dan --"
"Dan apa?"
Seakan ada batu besar yang jatuh di kepala Ray mendengar kabar terkini istrinya.
"Apa ma-- maksudnya, Yan?" pikiran Ray sudah mulai kacau.
"Aku tidak tahu, tanya saja nanti sama dokter. Sekarang berdoalah agar istrimu dan janinnya dalam keadaan baik-baik saja."
"Yan, cepatlah ..," kata Ray pelan tapi hatinya diselimuti kekalutan. Rasanya ia ingin keluar dari mobil dan berlari sekencang-kencangnya menuju rumah sakit.
Bagaimana jika Litha dan Ray kehilangan satu-satunya perekat hubungan mereka? Bisa jadi jika Litha kehilangan janinnya, Litha akan semakin membencinya, menudingnya sebagai penyebab semua penderitaan dalam hidupnya?
"Aarrrgghh..... Yan, cepatlah ...," pintanya lagi.
Diacak-acak rambutnya sendiri dan menghempaskan dengan kasar, gelisah sudah mengungkung dirinya, ingin segera sampai di rumah sakit dan mengetahui kepastiannya.
"Tidak bisa ngebut kalau di jalan-jalan kampung, Ray, di arak orang satu desa nanti." bathin Abyan kesal.
#Rumah Sakit Medical Health Kota A#
Pak Sas tidak menunggu brankar sesampainya di rumah sakit. Ia sendiri yang membopong tubuh Nyonya Mudanya langsung menuju ke ruangan dokter spesialis kandungan, tidak melalui Instalasi Gawat Darurat.
Dokter kandungan yang sudah diberitahu ketika Nyonya Muda Pradipta dalam perjalanan langsung segera menangani kondisi Litha di dampingi direktur rumah sakit.
"Dokter, apapun yang terjadi, Keluarga Pradipta tidak ingin kehilangan janin di dalam kandungan Nyonya Muda. Jika itu terjadi, maka semua donasi, MoU atau apapun itu yang berhubungan dengan Pradipta Corp. akan kami cabut," kata Pak Sas memperingatkan Direktur Rumah Sakit
Glek.
"Ba-- Baik, Tuan Sasmita. Kami akan berusaha sebaik-baiknya, tapi semuanya tetap atas kuasa Tuhan."
"Ya, kami tahu Tuhan memiliki kuasa atas segalanya. Lakukanlah sebaik-baiknya, jika Anda tidak berhasil menyelamatkan janin Nyonya Muda, maka itu juga kuasa kami untuk menghentikan semua hubungan kerjasama dengan Pradipta Corp."
Walaupun sudah berumur, Pak Sas mampu mengintimidasi orang sekelas Direktur Rumah Sakit terbaik di Kota A hingga direktur itu gelagapan dan turun tangan langsung membantu dokter dan para suster.
Akhirnya Litha mendapatkan kesadarannya kembali, ia berada di ruang rawat inap VIP. Disana Bibi Rima, Ninda dan Vania melihatnya dengan raut wajah khawatir.
__ADS_1
"Bi, ke-- "
Litha meringis sakit ketika hendak bangun dari tidurnya. ada rasa nyeri yang menggigit bagian bawah perutnya. Spontan ia memegang perut bagian bawah dengan tangannya.
"Litha, jangan bergerak dulu. Kau hampir saja kehilangan janinmu, kamu harus istirahat total, apa tadi istilahnya, Nia yang dokter bilang?" tanya Bibi Rima ke Vania.
"Bedrest, Bi... "
"Ya, ya ... itu."
Litha tercengang mendengar hampir kehilangan janin dalam perutnya, ia langsung berbaring kembali, wajahnya terlihat murung.
"Tidak apa-apa. Sekarang sudah baik-baik saja, dokter sudah memberikan obat penguat kandungan. Tapi sekarang memang kamu tidak boleh banyak bergerak." Bibi Rima menenangkan Litha.
"Walaupun kelak aku akan susah payah membesarkan anak ini sendirian, aku tidak mau kehilangan anak ini."
Litha mengelap sudut matanya yang berair.
"Sudah, Tha, jangan mikir berlebihan. Janinmu tidak apa-apa, kau menjaganya cukup baik padahal kondisi jiwamu sedang tidak baik. Kuatlah demi anakmu ya, tapi--" Ninda menggantungkan kalimatnya.
Matanya melirik ke Bibi Rima dan Vania. Lalu ia menunduk berbisik di telinga sahabatnya, "Keterlaluan kamu, Tha. Kau bilang suamimu tidak menyentuhmu, tapi apa ini buktinya, masa kamu mblendung sendiri. Pokoknya kau berhutang cerita malam pertamamu padaku."
Litha yang dibisiki seperti itu, tertawa dengan suara tertahan, memegang perut bagian bawahnya, "Nin, kalau aku cerita, aku khawatir kamu tidak akan mau menikah, hahahaha ..."
Bibi Rima dan Vania bingung, tidak mengerti apa yang dimaksud Litha, tapi mereka senang kehadiran Ninda sedikit membawa keceriaan bagi hati Litha yang sedih.
Bibi Rima keluar dari ruangan rawat. Diluar ada Paman Tino yang baru saja datang.
"Bagaimana keadaan Litha, Bu? semua baik-baik saja kan?" tanya Paman Tino.
"Litha baik-baik, Pak, begitu juga janinnya masih terselamatkan."
"Syukurlah. Tapi aku tidak melihat Tuan Sasmita, Ninda dan Vania?"
"Ninda dan Vania ada di dalam menemani Litha. Kalau Tuan Sas, entahlah setelah memastikan Litha dalam keadaan baik-baik saja dia ijin keluar entah kemana, dia hanya berpesan kalau ada apa-apa agar segera menghubunginya."
"Ah, syukurlah ya Bu, masih ada orang dari pihak keluarga suami Litha yang masih peduli. Kasihan aku melihatnya Bu, kadang aku berpikir semua kekacauan hidup Litha karena aku." Suara Paman Tino memelan.
"Lho?"
"Coba saja dia tidak ke rumah utama nganterin semur jengkol buatan Ibu, pasti tidak akan bertemu Nyonya Besar dan berakhir begini."
"Wah, kalau itu yang mestinya disalahkan ya aku, Pak. Aku yang maksa Litha nganterin semur jengkol ke tempat kerja Bapak. Tapi ya sudahlah, sudah takdir itu namanya, jalan hidupnya Litha begitu. Selanjutnya dia harus kuat demi anaknya."
"Litha saja dulu sempat cerita kalau dia digosipkan jadi wanita simpanan om-om karena Tuan Sas selalu menjemputnya di kampus untuk ke rumah utama. Terus, baru saja kemarin dan tadi keluarga sendiri yang harusnya mengasihani malah menggunjing Litha. Bagaimana nanti kalau anaknya sudah lahir, pasti dalam tumbuh kembangnya kasihan Bu, akan lebih diomong-omongi kalau tidak ada ayahnya."
Paman Tino sangat mengkhawatirkan hidup keponakannya kelak.
"Ya kalau gitu, kita carikan ayah yang baik buat anaknya. Litha perempuan yang baik, masih muda dan cantik tentu tidak sulit mencarinya. Yang lalu biarlah berlalu," tandas Bibi Rima.
"Mau mencari ayah siapa? Dan siapa yang membicarakan istriku dibelakangnya, hah!"
Muncul suara berat di belakang Bibi Rima dan Paman Tino.
...-------...
Sisipan
Begitu Dokter menyatakan bahwa kondisi Litha stabil dan janinnya pun selamat meski dengan syarat dan kondisi yang Litha harus jalani, bedrest selama minimal lima hari di rumah sakit supaya dokter dan tim medis bisa memantau perkembangan kesehatan ibu dan bayi. Pak Sas menyerahkan Litha untuk dibawa ke ruang inap pada Bibi Rima, ia ijin keluar dan berpesan agar kalau ada sesuatu yang berkaitan dengan Nyonya Mudanya ia segera diberitahu.
"Yan, kau dimana?"
Pak Sas menyambung suara di telepon setelah keponakannya itu menelepon untuk memberitahu pesawat pribadi Keluarga Pradipta baru saja mendarat di Kota A.
"Baru landing, Paman. Kami akan segera ke rumah Nyonya Muda."
"Disana kosong, tidak ada orang. Semuanya ada di Rumah Sakit Medical Health, kalian langsung saja kesini."
"Siapa yang sakit?"
"Nyonya Muda pingsan ketiga kalinya saat pemakaman. Dan juga Nyonya menunjukan gejala keguguran, untungnya segera ditangani oleh dokter disini jadi janin Nyonya Muda masih bisa diselamatkan. Tapi Nyonya harus bedrest disini selama lima hari."
"Syukurlah Paman, semuanya dalam keadaan baik. Saya dan Tuan Muda akan segera kesana secepatnya."
Sambungan telepon terputus, muncul ide jahil Abyan, "Kubuat kau tambah galau sepanjang perjalanan dengan kabar terbaru Litha, biar kapok, hehehehe ..."
__ADS_1
...-------...
- Bersambung -