
Vania mendelik kesal melihat sofa kamar rawat inap kini tidak boleh disentuh karena tempat itu akan menjadi tempat tidur kakak iparnya selama kakaknya di rawat di rumah sakit.
"Kak, kenapa Kakak tidak suruh Kakak Ipar tidur di hotel saja? Pasti dia tidak biasa tidur di sofa," sungut Vania.
"Dia sudah terbiasa tidur di sofa sejak menikah, Nia, hehehehe ... "
"Aku tidak bisa melarangnya dia tidur disini. Kamu juga lebih baik tidur di rumah, beberapa hari ini kamu juga pasti tidak terlalu baik berisitirahat, kan," kata Litha.
"Ayo, Nia. Biarkan kakakmu beristirahat, jangan mengganggunya biar lekas pulih, kamu tidur di kamar almarhum ibumu, kamarmu dan Litha akan dipakai Ninda selama ia disini." Bibi Rima mengajak Vania pulang, tapi gadis berambut panjang lurus itu berkeras ingin menunggui Litha.
"Ayo, Nia. Disini ada Tuan Muda yang menjaga kakakmu, kau tidak perlu khawatir." Paman Tino ikut membujuk.
"Justru itu yang aku khawatirkan, kalau ada apa-apa tidak ada yang lihat." Vania sengaja mengeraskan suaranya, ekor matanya melirik suami kakaknya yang sedang duduk di sofa, niatnya memprovokasi.
Benar saja, Ray terpancing, matanya yang sedang melihat beberapa pekerjaan kantornya dengan Tab, membalas lirikan Vania.
"Ray, dia hanya bocil." Abyan disampingnya mengingatkan. Ray menghela nafas panjang tapi matanya tetap beradu dengan mata Vania.
"Ni anak, apa maunya? Dari tadi mau mencari masalah denganku, untung kamu adiknya Litha, kalau tidak sudah habis kau." (Ray)
"Kau bisa saja menipu semua orang disini. Bahkan Bibi yang awalnya tidak menyukaimu sekarang malah mendukungmu. Haiisshhhh .... Tapi itu tidak berlaku untukku wahai Tuan Muda! Awas kau buat Kak Litha menangis lagi!" (Vania)
"Mari saya antar, sekalian saya pamit Nyonya. Besok saya akan kembali lagi," sahut Pak Sas yang diangguki Litha.
"Ayok, ah! Paman dan Bibi lelah mau istirahat, ayo kita segera pulang." Bibi Rima menarik paksa tangan Vania.
"Bibiiiii !!!" jerit Vania.
"Ayo, Nin." Paman Tino mengajak Ninda pulang.
"Kakak, telepon aku kalau ada apa-apa!" Vania masih saja teriak di ambang pintu dan masih terdengar ocehannya ketika berlalu.
Litha tertawa kecil, namun Ray tidak menyukainya.
"Tawon itu berisik sekali."
"Tawon?!?" sahut Litha dan Abyan bersamaan.
Ray berjalan mendekati pembaringan istrinya.
"Dia lebih cerewet darimu, aku tidak suka. Dia berisik seperti tawon."
Litha dan Abyan yang mendengarnya terkekeh.
"Jangan diambil hati, Ray. Dia masih remaja, omongannya asal njeplak. Bagaimanapun juga dia adikku."
Ray mengambil tangan istrinya, dicium-ciumi dan digesek-gesekkan ke pipinya, "Untungnya dia adikmu. Hhhhhhh .... menyebalkan!"
"Ray, apa yang kau lakukan?" Litha kegelian tangannya dicium-ciumi.
"Apa kau tidak punya panggilan khusus untukku?" Ray tidak peduli dengan reaksi Litha yang kegelian
"Maksudmu?"
"Kau memanggil anak magang itu dan Firza, Kakak, terdengar manis di telinga?"
Mata Abyan mendelik, alisnya bertaut, "Ray, kenapa kamu jadi norak begini sih? Dan kenapa tangan Litha kau ciumi begitu?"
"Ya, karena umur mereka lebih tua dariku, jadi aku menganggapnya Kakak," jawab Litha heran.
"Aku juga lebih tua darimu, kenapa kau panggil namaku langsung?"
"Hei, Tuan Muda, kau sendiri yang bilang panggil namamu langsung karena kita berteman waktu itu. Kau lupa apa gimana? Ini lagi kenapa tanganku kau cium-ciumi, geli tahu!"
"Jadi kau mau aku memanggilmu Kakak juga?"
"Aku kan, bukan kakakmu atau menganggapku kakak. Aku suamimu."
"Ku panggil sayang ya?"
"Itu panggilanku untukmu, Istriku Sayang."
Litha tersenyum mendengarnya, panggilannya tidak berubah, yang berubah hanya 'rasa' ketika Ray menyebutnya sekarang. Ia bahagia sekali.
"Ya sudah, kembali seperti dulu, Tuan Muda Suamiku."
"Kepanjangan."
"Lah terus?"
__ADS_1
"Untung istrimu memahami tingkah bocahmu, Ray. Hhhhhhhh .... " gumam Abyan dalam hatinya sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Ia sudah jengah dengan sikap Ray yang tidak pernah dia lakukan, menciumi dan menggesek-gesekkan pipinya ke tangan istrinya seperti kucing.
"Pikirkanlah, sebutan yang membuatku merasa kalau kau mencintaiku juga."
"Hahhh?!?"
Litha tidak habis pikir, kenapa tingkah suaminya kini berubah drastis, dari yang dingin karena tidak menyukai berisiknya Vania menjadi manja seperti anak kecil.
Abyan jengah melihat tuan mudanya seperti itu, ia berdiri dan menuju pintu.
"Nyonya, saya ijin keluar dulu. Sabarlah menghadapi tingkahnya. Kalau ada apa-apa--"
"Berisik! Kalau mau keluar, cepatlah keluar!" ujar Ray mengusir Abyan.
"Sialan kau, Ray! Kemarin-kemarin saja kau mencariku, begitu Litha di depanmu, kau mengusirku. Benar kata Paman, di matamu hanya ada Litha." sungutnya berlalu.
"Yan, kau kembali saja besok. Jangan menggangguku malam ini." titahnya sebelum Abyan membuka pintu, tapi ia masih saja menciumi tangan istrinya.
Abyan tidak menjawab, ia menekan handle pintu, membuka pintu, begitu badannya sudah di luar, ia membantingnya dengan keras.
Litha kaget, ia tidak pernah melihat Asisten Yan seperti itu pada suaminya.
"Ray, Asisten Yan kayaknya marah karena kau mengusirnya."
"Tidak usah pedulikan dia. Sesekali dia membangkang tidak apa, karena moodku lagi bagus sekarang. Sekarang kau pikirkan saja kau akan memanggilku apa?"
"Ya ampun ... nih orang!"
Litha menarik tangannya, tapi diprotes suaminya, "Kau tidak suka?"
"Bukan. Hanya saja aku geli."
Ray melepaskan tangan Litha dengan cemberut. Litha tersenyum gemas.
"Mas ... "
Ray tidak ngeh kalau Litha sedang memanggilnya.
"Mas ... " ulangnya lagi.
"Kau memanggilku?"
Ikan Mas Koki ....
Spontan saja Litha tertawa, ia baru tahu ada sisi kanak-kanak dalam diri suaminya yang selama ini belum keluar.
"Bukan, masa pria setampan dirimu disamakan Ikan Mas Koki?"
Ray senang mendengar dipuji tampan istrinya, padahal beribu-ribu kali ia disebut tampan bahkan media memberitakannya sebagai CEO muda yang tampan dan berbakat, ia biasa saja.
"Ibuku memanggil ayahku dengan sebutan Mas. Di kota ini, sebenarnya panggilan itu panggilan yang sangat umum untuk laki-laki yang lebih tua usianya. Tapi anehnya di keluarga kami menyebut laki-laki yang lebih tua itu Kakak. Kecuali Ibu yang menyebut Mas ke Ayah, tidak pernah ke orang lain karena Ibu berasal dari luar kota pulau ini dan saat Ibu memanggil Ayah dengan sebutan itu, kami merasa Ibu sangat mencintai Ayah."
Ray diam, berpikir sebentar, "Coba kau panggil aku dengan sebutan itu."
"Mas ... "
Litha memanggilnya dengan halus, Ray yang mendengarnya serasa melayang di antara awan cinta dan kasih sayang. Ia tersenyum senang.
"Aku suka. Panggil aku dengan sebutan itu. Tapi jangan sampai aku dengar kau memanggil orang lain sebutan yang sama."
Litha tersenyum sembari mengangguk.
"Sekarang tidurlah. Istirahat yang cukup dan makan yang banyak, biar janin di perutmu ini tumbuh baik."
Sekali lagi Litha mengangguk, perasaannya diliputi kebahagiaan. Ray menaikkan selimut, mengecup kening istrinya lalu mengusap pipinya. Dia masih melanjutkan pekerjaannya, karena Firza yang diberi delegasi kewenangan malah tiba-tiba mengajukan cuti alasan penting. Tapi Ray tidak ambil pusing, hatinya tengah berbahagia toh ia tetap bisa melakukan pekerjaannya secara jarak jauh.
...🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀...
Keesokan paginya, Ray bersikeras membersihkan tubuh Litha yang seharusnya dilakukan perawat.
"Biar aku saja, kau keluarlah. Jaga di depan, aku tidak mau ada yang melihat tubuh istriku selain suaminya sendiri."
Si Perawat tidak berani membantah, ia menuruti apa yang dikatakan Tuan Muda dari ibukota ini, sedangkan Litha menatap Ray dengan tatapan aneh dan heran.
"Kalau begitu, saya lepas infus Nyonya dulu. Tadi dokter mengatakan keadaan Nyonya sudah jauh lebih baik, obat dan vitamin berikutnya diberikan untuk diminum, tidak lewat infus lagi. Tapi Nyonya tetap tidak boleh banyak bergerak dulu."
Setelah Si Perawat melepas infus dan keluar dari kamar, Ray mengunci pintu dan mulai mengambil perlengkapan untuk mengelap badan istrinya yang tadi dibawa oleh perawat.
Begitu Ray ingin menyibak selimut, Litha menolak, "Apa yang mau kau lakukan?"
__ADS_1
"Aku akan membersihkan tubuhmu."
"Biar suster tadi saja yang melakukannya."
"Aku tidak mengizinkannya."
"Haaaa?!?"
"Jangan menolak, apa yang mau kau tutupi dariku. Aku sudah puas melihat dan menyentuhmu malam itu."
Raut wajah Litha berubah, ia menerima suaminya kembali bukan berarti ia menerima perlakuan Ray malam itu. Untungnya suaminya menyadari dan segera meralat ucapannya.
"Maksudku, kau tidak perlu sungkan dan malu, aku kan, suamimu, tiap inci tubuhmu yang berhak melihat dan menyentuhnya ya aku, bukan orang lain sekalipun sesama perempuan."
Raut wajah Litha membaik, Ray sudah pintar membujuk istrinya.
"Aku boleh kan, membersihkan badanmu?"
Litha mengangguk. Kemudian ia dibantu Ray perlahan untuk duduk dan bersandar di kepala pembaringan. Dibukanya kimono - baju pasien - Litha, dengan hati-hati mengelap setiap bagian tubuh Litha.
"Kenapa badanmu kurus begini? Apa hamil membuatmu tidak bisa makan?"
"Aku tidak bisa makan karena pikiranku penuh."
"Mulai sekarang, makanlah yang banyak. Bagaimana kau bisa melindungi bayi dalam perutmu kalau tubuhmu tidak kuat?"
"Tumben waras ... "
"Ngomongnya jangan di dalam hati. Telingaku ini bisa mendengar suara bathinmu," kata Ray lempeng, tanpa mengalihkan pandangan, tangannya tetap telaten mengelap tubuh istrinya.
"Ah, aku lupa kalau aku menikahi Alien."
"Kan sudah pernah kubilang kalau aku ini Alien. Apa kau lupa? Makanya tidak akan ada orang yang akan menyamaiku karena aku Alien."
Huaaaaa ......
Litha sudah tidak berani bermonolog dalam hatinya, suaminya ini punya indra ketujuh ternyata, bahaya kalau ketahuan mengumpat.
"Tutup matamu."
"Bu-- buat apa?" Pikiran Litha sudah kemana-mana.
"Mau kubersihkan wajahmu."
"Oh."
"Kau berpikir apa?"
"Tidak, hehehe ... "
"Apa kau pikir ini ... " Ray mengecup lembut bibir istrinya, sedikit lebih lama dari kemarin.
"Sudah kubilang, aku bisa membaca pikiranmu hahahahahaha .... " gelak Ray. Wajah Litha terus saja dibuat memerah oleh suaminya.
Setelah seluruh badan Litha dibersihkan, kemudian mengganti dengan kimono yang baru, Ray menyisir rambut Litha.
"Aku tidak menyangka seorang Tuan Muda begitu apik merawat seseorang," kata Litha takjub setelah Ray menyelesaikan semuanya.
"Kau kira aku semanja itu apa? Nenek sengaja mengirimku sekolah di luar negeri sendirian agar aku mandiri bahkan mempelajari hal-hal lainnya. Aku pernah dua minggu menjadi relawan di panti jompo bersama Abyan."
"Oh ya?"
Ray senang melihat mata istrinya yang membulat.
"Ya, waktu itu aku berharap akan punya bekal untuk merawat Nenek di masa tuanya. Tapi ternyata harapan tak sesuai kenyataan, aku disibukkan dengan perusahaan hingga aku lupa niatku."
Litha jadi tidak enak membuat Ray mengenang penyesalannya. Ia pun menggenggam erat tangan suaminya, "Mas, Nenek pasti sangat bahagia disana karena wasiatnya dijalankan dengan sangat baik oleh cucu kesayangannya."
Ray tersenyum menatap Litha, hatinya sangat bersyukur Nenek memaksa dirinya menikah dengan wanita sebaik ini. Lagi sendu-sendunya menatap wajah istrinya yang juga tersenyum, pintu kamar diketuk berulang-ulang.
"Siapa yang berani mengangguku? Apa Abyan tidak bisa menunggu, hah?"
Litha tersenyum kecil, "Sudah tidak apa-apa. Mungkin ada yang penting."
Ray merapikan Litha sekali lagi dan dibereskan semua perlengkapan yang tadi dipakainya. Lalu ia menuju pintu untuk membukanya.
"Awas saja kau, Abyan."
Begitu daun pintu terbuka, air muka Rayyendra terkejut melihat sosok yang mengetuk pintu berulang-ulang dengan tidak sabar.
__ADS_1
- Bersambung -