
"Tatapan seperti apa itu? dan kenapa dia menolak tawaran nenek?'" ucap Ray penasaran dalam hati setelah membelokkan mobilnya ke arah rumah kost Litha.
"Berhenti di depan minimarket saja, Tuan." Litha menunjuk minimarket berlogo warna merah di pertigaan.
"Kau tinggal disitu?"
"Tentu saja tidak, Tuan. Rumah kost saya masih 200 meter setelah belok kiri."
"Lalu kenapa berhenti disitu?"
"Hehehe ... saya hanya tidak ingin menarik perhatian penghuni kost, Tuan, diantar pulang dengan mobil mewah."
Mobil berhenti di dekat minimarket. Tangan Litha berhenti sejenak sebelum membuka mobil, ia menolehkan kepalanya ke arah Rayyendra, menjawab pertanyaan Tuan Muda.
"Aku bukan orang yang serakah, Tuan. Nyonya Besar sudah sangat baik padaku, aku tulus menyayanginya, dan yang terpenting aku tahu dimana tempatku. Tuan tidak perlu khawatir."
Litha tersenyum, lalu ia membuka pintu mobil dan keluar.
"Terima kasih sudah mengantarkan aku, Tuan," sahutnya sebelum menutup pintu kembali, masih dengan senyumnya.
Ray tidak berkata apapun, ia hanya melihat gadis cantik itu berjalan menjauh dari mobilnya.
"Hah! Dia bilang tidak mau menarik perhatian! Apa dia berjalan di larut malam begini dengan gaun seperti itu tidak menarik perhatian?" gumam Ray memegang kemudinya.
Tanpa menunggu lama, ia keluar dari mobilnya, mengejar Litha yang sedikit lagi menghilang berbelok ke jalan rumahnya.
"Tunggu! Pakailah ini. Kau sangat menarik perhatian, di malam hari berjalan sendirian dengan gaun seperti itu."
Ray melepas jasnya, dikenakannya ke Litha hingga bahunya yang terbuka dapat tertutupi.
"Ma-- makasih, Tu-- Tuan."
Suara Litha tercekat, dia sangat tidak menyangka Tuan Muda yang selalu mencelanya bisa memperlakukannya sebagai manusia, bahkan sebagai seorang wanita.
Litha mengeratkan jas Tuan Muda ke depan, ia berjalan dengan menundukkan wajah. Ray pun berbalik ke arah mobilnya.
Ketika Ray membuka pintu mobilnya, ia berpapasan dengan dua orang yang mengendarai satu motor, berbelok searah jalan pulang Litha ke rumah kostnya. Tanpa Ray sadari juga ada sepasang mata yang mengawasinya.
Rayyendra duduk di belakang kemudi, menggulung kemeja putihnya sampai ke siku, lalu ia menyalakan kunci mobilnya dan berlalu melewati pertigaan.
Ssssssshhhhhhhhh......
Hembusan angin terasa di wajahnya, sayup-sayup seperti mendengar suara seseorang, tidak begitu jelas. Rayyendra mengerem mobilnya, dan berlari cepat ke jalan yang dilalui Litha.
"Huaaaaaaaaa.... huhuhuhu.... ampuun.... jangaaaan...."
Litha berteriak histeris, dua lelaki mulai melucuti pakaiannya. Jas yang Ray berikan tadi sudah teronggok di aspal, kini Litha hanya mempertahankan gaunnya sebagai satu-satunya penutup tubuhnya.
"Wah, mulus sekali kulitnya, bro!!! Makan besar kita kali ini hahahahahaha......" Lelaki berambut gondrong diikat memegang kuat kedua tangan Litha.
"Biar gak dibayar sama Boss juga aku rela hahahahahaha........." Lelaki satunya siap-siap merobek gaun Litha.
"Tidak..... huhuhuhuhuhu...... tidak..... jangaaannnn....."
Litha memohon dengan suara tangisnya yang pilu.
Srreeeeeekkk........
Jahitan samping gaun Litha dirobek paksa, terlihat semburat bagian intim dadanya yang berisi. Litha memberontak dan melawan kedua lelaki yang nampaknya dipengaruhi alkohol dengan sekuat tenaga, ia kerahkan sekuat tenaga di kakinya menendang-nendang tangan yang ingin menyentuhnya.
"Tidakkk.....!!!!! jangaaaaan.....!!!!! "
Wajahnya basah dengan air mata, rambutnya sudah berantakan karena Litha menggeleng-gelengkan kuat kepalanya.
"Lihat Jhon! kakinya indah sekali!" seru salah satu lelaki itu mengekang betis Litha. Matanya berkilat penuh hasrat keji.
Bugghhhhh.....
Tiba-tiba pria yang memegang kaki Litha tersungkur. Rayyendra mendaratkan lagi pukulannya, dihantamnya tanpa ampun di wajah lelaki itu.
Bugghhhhh.....
Sekali lagi, buggggghhhhh.......
Melihat apa yang di depan matanya, teman lelaki itu, yang sedari tadi memegang tangan Litha melayangkan pukulan dari arah belakang Rayyendra. Namun, dengan insting dan kecepatan yang tepat, Rayyendra bisa melumpuhkan lelaki itu dengan tendangan berputarnya.
__ADS_1
Buffffhhhh.....
Pria itu meringis memegang perut kesakitan. Rayyendra masih ingin melanjutkan tendangannya, tapi suara rintihan Litha menghentikannya.
"Tu-- Tu-- an ...."
Rayyendra meraih jasnya di aspal, lalu disampirkan ke tubuh Litha. Litha menangis sejadi-jadinya. Ketakutan luar biasa merasuk ke dalam jiwanya. Tampilannya sangat kacau dan menyedihkan.
"Te-- te-- rima kasih, Tu-- an," sahut Litha terbata-bata diantara isak tangisnya.
Suara motor menderu, rupanya dua pria bajingan itu kabur dengan motornya. Ray ingin mengejarnya tapi ia urungkan melihat keadaan Litha saat ini lebih memprihatinkan.
"Apa kau terluka?" tanyanya.
Litha menggeleng lemah, ia masih sangat shock dengan kejadian yang baru saja ia alami. Dua orang pria yang tiba-tiba berhenti mencegatnya berjalan, tanpa bicara apapun langsung melecehkannya dan menyentuhnya paksa.
"Aku antar kau sampai ke rumah."
Ray membantu Litha berdiri, memapahnya berjalan menuju ke rumah kostnya. Suasana yang hampir tengah malam memang sangat berbahaya bagi seorang wanita muda berjalan sendirian.
"Ternyata jarak dari minimarket itu ke rumah kostmu lumayan ya? Kenapa kau minta diturunkan disana?" tanya Rayyendra setelah ia merasa belum sampai juga di tujuan. Litha hanya diam, sedikit terisak, masih shock.
Tok.... tok.... tok....
Pintu kamar Litha di paling depan deretan kostnya diketuk Ray. Pintu terbuka, Ninda yang masih mengantuk seketika langsung sadar sepenuhnya melihay kondisi sahabatnya berantakan, diliriknya pria disampingnya, mulutnya terbuka lebar melihat ada Tuan Muda Rayyendra di depan pintunya.
"Tha, kenapa?" tanyanya bingung. Ditelisiknya lagi kondisi sahabatnya itu dengan seksama.
"Astaga ... Litha .... Apa yang terjadi?"
Ninda menduga sesuatu yang tidak beres telah terjadi, ia memeluk sahabatnya. Litha yang dipeluk hanya sedikit terisak, jelas dia masih shock.
"Tolong tenangkan dia. Dia baru saja mengalami kejadian yang akan membuatnya trauma."
"Tapi -- apa yang sebenarnya terjadi?"
"Dia hampir diperkosa pria yang sepertinya mabuk di jalan pertigaaan minimarket sana."
"Hah!!! di depan jalan sana? Padahal selama kami tinggal disini semalam apapun kami pulang selalu aman. Kenapa bisa ada orang mabuk dan melakukan pemerkosaan? Wah, harus diberitahu pak RT nih."
"Entahlah, tapi itu yang baru saja menimpanya. Kuharap kau bisa menenangkannya."
"Permisi," sambung Rayyendra pamit.
"Terimakasih Tuan."
Ninda mengucapkan terima kasih, lalu pelan-pelam membawa Litha membersihkan diri dan menenangkannya. Ninda tidak akan menanyakan apapun, ia cukup membuatkan teh hangat dan menemaninya. Kalau Litha sudah merasa baik, baru akan ia tanyakan.
🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀
"Tuan, maaf kami gagal melaksanakan tugas, Tuan." Suara ditelepon melaporkan suatu kejadian.
"Tolol!!! Apa kau diketahui olehnya?"
"Tidak, Tuan. Kami langsung kabur begitu Tuan Muda menghampiri gadis itu. Jadi Tuan Muda tidak tahu siapa kami."
"Brengsek!!!" Sebastian memaki pemilik suara di seberang dan menutupnya langsung.
🍀 flashback on 🍀
Sebastian melengos pergi mendengar rengekan putrinya kepadanya. Ia sangat kesal dan marah. Diambilnya ponsel dari saku jasnya dan menekan sebuah nomor.
"Halo Boss! apa kabar?" Suara di seberang telepon menyahut.
"John, ada pekerjaan untukmu. Sekarang kau ikuti mobil Tuan Muda Rayyendra. Seorang gadis muda bersamanya, beri dia pelajaran yang tidak pernah dia lupakan seumur hidup. Dia sudah mengganggu rencana besarku."
*Bagaimana upahnya, Boss?"
"Kali ini aku membayarmu dua kali lipat dari biasanya, tapi pastikan kau berhasil tanpa ada yang mengetahuinya."
"Beres Boss! Kapan kami pernah mengecewakanmu."
Telepon ditutup Sebastian. Disebarang sana, John, preman bayaran berambut gondrong sedang menegak minuman alkohol yang dioplos.
"Bro, ada kerjaan bagus. Ayo!" John mengajak temannya yang setengah mabuk untuk mengikutinya.
__ADS_1
"Kerjaan apaan?"
"Kerjaan bersenang-senang yang juga dibayar."
"Ah.... ya ... ya ... aku tidak sabar. Ayo!" sahut preman satunya, temannya John.
🍀 flashback off 🍀
"Ray, kenapa lama sekali kau kembali?" tanya Ramona begitu Ray menghampirinya sekembalinya dari mengantar Litha.
"Ada kejadian darurat tadi."
"Kejadian apa?"
Ramona memperhatikan penampilan kekasihnya.
"Mana jasnya? Kenapa kemejanya tampak berantakan dan sedikit kotor?" Mona bertanya dalam hati. Ia tidak berani bertanya langsung.
"Sudahlah. Ayo segera kuantar pulang. Aku cukup lelah hari ini," pungkas Ray.
"Aku menunggumu karena aku ingin mengajakmu minum untuk menghibur hatiku yang sedih, tapi malah kau langsung ingin pulang. Ahhh ... kalau tahu begini, aku pulang saja dengan ayah dari tadi," bathin Mona kesal.
Ray melajukan mobilnya mengantar kekasihnya pulang. Sepanjang perjalanan tidak ada suara manusia yang menemani, hanya lagu yang sengaja diputar Ramona untuk membangkitkan suasana romantis, ia berharap di ujung pengantarannya nanti Ray akan memberikan ciuman padanya.
Tale as old as time
True as it can be
Barely even friends
Then somebody bends
Unexpectedly
Just a little change
Small, to say the least
Both a little scared
Neither one prepared
Beauty and the Beast ....
Lagu yang mengalun syahdu justru membawa pikirannya ke memori beberapa jam sebelumnya dan berakhir dengan rasa khawatir bagaimana keadaan gadis yang baru saja ia selamatkan kehidupannya.
Apa yang dia rasakan, bagaimana dia menenangkan dirinya, dan apa yang harus ia katakan pada neneknya jika gadis itu mengadu.
"Sudah sampai, turunlah," ujar Ray begitu sampai di depan gerbang rumah Ramona.
Mona hanya diam, tidak bergeming, ia menunggu ciuman dari Ray.
"Kau tidak ingin melakukan sesuatu?"
Akhirnya Mona memberi kode dengan menanyakannya karena kesal Ray tidak paham akan maunya.
"Apa?"
"Kau tidak ingin menciumku? Aku lalui hari ini berat karenamu, Ray." Mona menyodorkan bibirnya.
Cup.
Bibir Rayyendra mendarat di kening Ramona.
"Aku tidak ciuman di kening, Ray. Aku ingin kau mencium dan ******* bibirku. Ahhh ...."
Ramona hanya bisa menggigit bibirnya pasrah, dibukanya pintu mobil dan keluar.
"Hati-hati," sahut Ramona sebelum menutup pintu mobil.
"Hemmm ...."
Rayyendra hanya menjawab tanpa membuka mulutnya dan langsung melajukan mobil menuju apartemennya.
- Bersambung -
__ADS_1